Between Chemical Engineering and Biological Engineering

You will always be amused with how Allah gives surprises in your life. Really!!! As for me, once again, Allah grants my wish, although this wish had been proposed when I wanted to take undergraduate program in ITB. It was at 2005..

Image  vs  Image

At that time, I loved Biology more than Math, Chem, and Physics. That’s why I had intention to pursue my bachelor degree in biology. However, scholarship that had been offered to me (Sampoerna Foundation) at that time didn’t provide fund for science subject. They preferred engineering. That was why finally I chose Chemical Engineering that i thought was the best school that could accommodate my interest in biology.

Another fun story i experienced, that then, I failed to follow the re-registration for Sampoerna Foundation Scholarship. Instead, I obtained IA-ITB78.

Then, now. When I am trying to pursue my master degree through scholarship again, Allah changed my subject from Chem Eng to Bio Eng. IIE as an official institution to process our fulbright scholarship to universities recommended me to change my subject from Chem Eng to Bio Eng. For me the only problem for this was the difficulties to be a lecturer in public university in Indonesia that has been my dream since I had passion for Chem Eng. But overall, because of my research subject that has strong relationship with bacteria and biology, I don’t mind to spent my master time in biology though hahaha… i love it. and still love it until now.

Well lets see how fate will bring me

 

Regional Workshop on Climate Change Adaptation Technologies

Training yang dilaksanakan pada tanggal 9 hingga tanggal 12 April 2014 ini memiliki tujuan besar sebagai langkah awal kolaborasi regional Negara-negara Asia Pasifik dalam menghadapi Perubahan Iklim. Adapun peserta dari regional workshop ini adalah sebagai berikut: Indonesia, Vietnam, Laos, Filiphina, Myanmar, Thailand, Cambodia, Bhutan, Nepal, Bangladesh, Srilanka, Mongolia, Kazakhstan, Uzbekistan, dan Tajikistan.

Image

Sebagai region yang memiliki Negara-negara berkarakteristik sebagai Negara berkembang dengan vulnerabilitas yang cukup tinggi dikaitkan dengan geografis dan topografisnya, Asia Pasifik menjadi region yang harus melakukan banyak hal terkait teknologi adaptasi. Kenaikan muka air laut, perubahan cuaca secara global, kenaikan temperature lingkungan yang berakibat pada pemanasan global, merupakan sedikit dari sekian banyak isu yang harus bisa dihadapi dengan baik oleh masyarakat dari Negara-negara di Asia Pasifik tersebut. Apalagi dengan kondisi ekonomi masyarakat yang tidak terlalu mendukung untuk membangun berbagai infrastrukutur tambahan dan mengimplementasikan teknologi yang sesuai.

Indonesia pun demikian, sebagai salah satu Negara yang memiliki taraf vulnerabilitas yang sangat tinggi, Indonesia perlu melakukan banyak hal terkait adaptasi perubahan iklim. Selain karena bentuknya sebagai Negara kepulauan yang akan mengalami dampak secara langsung akibat kenaikan muka air laut, Indonesia juga memiliki kebergantungan yang cukup tinggi terhadap pertanian dan perikanan. Artinya perubahan iklim memiliki potensi dalam mempengaruhi kehidupan masyarakat (livelihood) juga sektor utama yang berkenaan langsung dengan keberlangsungan hidup berupa mata pencaharian yaitu sektor pertanian dan perikanan. Setelah diidentifikasi lebih lanjut, diketahui pula bahwa potensi dampak ini tidak hanya akan menyentuh kehidupan dalam sektor ekonomi, tapi juga kesehatan, penyediaan air, dan lain sebagainya.

Training yang berada di bawah koordinasi UNEP, ICCCAD, dan IIED-IUB ini memfasilitasi Negara-negara di Asia Pasifik untuk dapat saling berbaagi pengalaman dan informasi mengenai sejauh mana kegiatan adaptasi perubahan iklim dilaksanakan. Selain itu, dilksanakan juga analisis sektor dan analisis regional dilengkapi dengan analisis barrier dan enabling framework yang diperlukan untuk mengatasi barrier tersebut. Berbagai sesi diskusi dan presentasi serta kunjungan lapangan ke Bangladesh Rice Research Institute (BRRI) berusaha menunjukan secara komprehensif bagaimana kondisi konsep dan plan juga kenyataan di lapangan.

Training ini juga menunjukan bahwa terdapat banyak sekali kesamaan dari Negara-negara di Asia Pasifik dalam menganalisis sektor yang paling dipengaruhi perubahan iklim yang kemudian dijadikan sebagai aksi nasional untuk adaptasi, misalnya sektor pertanian, sektor ketersediaan air, juga sektor pantai (atau kelautan). Selain itu, barrier yang dihadapi juga kurang lebih hamper sama. Namun memang progress dari tiap Negara berbeda, ada yang sudah memeiliki perangkat implementasi aksi yang sudah jauh dan ada yang baru mulai. Ada yang maju di teknologi tertentu namun tertinggal di teknologi lainnya. Hal ini menyebabkan pertukaran informasi memiliki peran yang sangat signifikan karena masing-masing Negara dapat menjadikan informasi dari Negara lainnya sebagai bahan pelajaran dan juga bisa jadi infomasi yang dibutuhkan untuk program berikutnya.

Participants of UNEP Workshop, 2014

Adapun rincian kegiatan yang dijalankan selama kegiatan ini adalah sebagai berikut:

  1. Hari pertama, tanggal 9 April 2014

Hari pertama berisi kegiatan perkenalan juga presentasi pendahuluan dari penyelenggara tentang tujuan besar dari regional workshop ini, juga dari setiap Negara tentang salah satu jenis teknologi adaptasi yang dilaksanakan di Negara tersebut. Masing-masing Negara juga mengungkapkan secara singkat tentang kegiatan TNA dan progress kegiatan terkait perubahan iklim mereka, termasuk juga tentang kebijakan perubahan iklim yang sudah ada ataupun yang berada dalam tahap perencanaan.

Pasca presentasi dari setiap Negara, juga disajikan presentasi dari practical action Bangladesh mengenai floatening Gardening sebagai salah satu aksi adaptasi yang sejauh ini sudah diterapkan dan memiliki signifikansi menfaat bagi perekonomian para petani di Bangladesh. Adapun konsep dari floatening gardening ini adalah melakukan system pertanian di atas lahan tergenang sebagai salah satu simulasi ketika terjadi banjir.

  1. Hari Kedua, tanggal 10 April 2014

Kunjungan ke BRRI dilaksanakan pada hari kedua untuk menunjukan sudah sejauh mana kegiatan adaptasi d sector pertanian Bangladesh dilaksanakan. Para peserta diberikan penjelasan secara umum tentang prestasi-prestasi yang dibanggakan BRRI untuk mengatasi permasalahan pangan khususnya permasalahan varietas padi untuk perubahan iklim di Bangladesh. Kemudian kegiatan dilanjutkan dengan kunjungan ke fasilitas BRRI seperti laboratorium bioteknologi, pembibitan, bank gen, dan laboratorium uji eksperimen perubahan iklim. Secara umum, dari hasil kunjungan tersebut terlihat bahwa telah banyak yang dilakukan oleh Bangladesh dalam upaya mencari varietas padi yang tahan kekeringan, banjir, dan salinitas tinggi. Pada dasarnya ada atau tidak adanya isu perubahan iklim, kegiatan pengembangan varietas padi untuk masyarakat ini memang menjadi hal yang krusial di Bangladesh hanya saja dengan adanya isu perubahan iklim, encouragement untuk melanjutkan kegiatan-kegiatan penelitian padi bisa semakin tinggi.

  1. Hari ketiga, tanggal 11 April 2014

Hari ketiga diisi dengan kegiatan diskusi kelompok mengenai sector prioritas beserta teknologi unggulan dalam sector tersebut. Identifikasi sector prioritas dilanjutkan dengan identifikasi barrier dan enabling framework dari barrier yang ada.

Selain diskusi grup, juga disajikan presentasi dari BBC Media sebagai media yang menyorot kegiatan adaptasi perubahan iklim untuk diinformasikan melalui media internet ke seluruh dunia. Program broadcasting adaptasi perubahan iklim ini dinilai sangat efektif dalam memberikan gambaran kepada masyarakat seluruh dunia tentang pentingnya adaptasi perubahan iklim. Sala satu video yang ditampilkan sebagai contoh adalah kegiatan pembangunan rumah tahan banjir di pinggir pantai Bangladesh. Hal ini bisa menginspirasi semakin banyaknya kegiatan sejenis yang berusaha meningkatkan kesadaran masyarakat akan dampak perubahan iklim.

  1. Hari keempat tanggal 14 April 2014
    Pada hari terakhir training ini, kegiatan pertama yang dilakukan adalah kegiatan presentasi dari ICCCAD tentang program lost and damage sebagai salah satu kegiatan yang diharapkan dapat memberikan pengetahuan komprehensif mengenai perhitungan kerugian bencana. Karena pada dasarnya, kerugian bencana tidak bisa secara absolut dinilai dengan uang, ada pendekatan holistic dan integrative yang harus dilakukan untuk menghitung kerugian akibat bencana. Hal ini dinilai sebagai kemampuan yang harus dimiliki terutama untuk menganalisis kegiatan adaptasi secara komprehensif. Kegiatan adaptasi tidak seperti mitigasi yang memiliki parameter terkuantifikasi berupa penurunan emisi yang dinyatakan dengan sauna ton C02eqv/tahun, sehingga penentuan parameter measurement keberhasilan ataupun ketercapaian target lebih sulit daripada mitigasi. Selanjutnya kegiatan dilanjutkan dengan diskusi grup per area regional. Peserta dikelompokan berdasarkan kelompok Asia Tenggara, Asia Selatan, dan Asia Utara.

Selanjutnya masing-masing kelompok region melaksanakan analisis sebenarnya apa yang paling dibutuhkan di dalam regional mereka, teknologi apa yang bisa menjadi option, atau bagaimana kisah sukses implementasi yang sudah ada.

 

Peran serta Indonesia dalam forum regional Workshop Adaptasi Perubahan Iklim:

  1. Melakukan presentasi mengenai teknologi adaptasi yang diterapkan di Indonesia khususnya di sector pertanian, yaitu mengenai teknologi pemerolehan tanaman pangan (khususnya padi)
  2. Melakukan sharing informasi mengenai Technology Action Plans (TAPs ) untuk adaptasi perubahan iklim serta sharing informasi tentang adanya Rencana Aksi Nasional Adaptasi Perubahan Iklim (RAN-API)
  3. Di dalam working grup sesi pertama, bersama peserta dari Negara Kazakstan, Kamboja, Buthan melakukan analisis barrier dan enabling framework secara komprehensif dalam sector water resource khususnya teknologi rainwater harvesting dan irigasi. Dalam diskusi ini, Indonesia banyak memberikan pandangan mengenai hambatan yang terjadi serta solusi yang mungkin dilakukan untuk mengatasi hambatan. Serta memberika pendapat mengenai stakeholder yang terkait secara langsung dan memiliki pengaruh signifikan dalam proses implementasi teknologi adaptasi, misalnya lembaga riset seperti BPPT, juga NGO internasional seperti UNEP, GEF, sector swasta dan lainnya.
  4. Memberikan pandangan mengenai sector prioritas untuk adapatsi dalam ruang lingkup regional Asia Tenggara pada sesi diskusi kedua untuk menganalisis kasus regional. Pada sesi ini pembahasan lebih komprehensif lagi karena menyangkut semua sector yang mungkin termasuk pula sector Early Warning System (EWS). Misalnya Indonesia memiliki TEWS dan Buoy untuk system antisipasi bencana akibat perubahan iklim. Dalam sesi sharing dan pertukaran informasi ini, dirasakan banyak sekali manfaat karena ada informasi dari Indonesi yang dibutuhkan oleh Negara lain, demikian juga sebaliknya.
  5. Dalam diksusi informal, menjalin hubungan persahabatan dengan peserta dari Negara-negara lainnya, terutama Uzbekistan, Kazakhstan, Vietnam, Thailand, Cambodia, Buthan, Bangladesh, Srilangka dan Tajikistan.
  6. Memberikan informasi mengenai apa yang dilakukan di Indonesia, misalnya kaji implementasi teknologi RBCS. Informasi ini diminta oleh peserta dari Negara Buthan yang bermaksud menjalankan TAPs untuk waste heat recovery di industry tekstil
  7. Menjadi perwakilan peserta dalam acara resmi penutupan workshop di hadapan Duta Besar Vietnam dan Buthan untuk Bangladesh.

Memories in Dhaka (a Preview)

Banyak sekali hal yang ingin saya tuliskan tentang apa yang kudapatkan, apa yang dirasakan, dan apa yang kupikirkan tentang training di Bangladesh ini, tentang isi trainingnya, tentang bagaimana perasaan si saya, kesulitan apa yang ada, tentang bagaimana pertemanan di antara peserta, dan terutama adalah tentang kehidupan Negara Bangladesh yang memukau dan menyentuh, tentang sisi negatifnya, tentang bagaimana lafadz Allah bertebaran di mana-mana, tentang bagaiman kerja keras mereka, tentang bagaimana cerita jalan2 si saya, tentang bagaimana makanannya. Terlalu banyak yang ingin dituliskan hehhehe… well jadi inget Aigul, temen dari Kazakstan yang jadi patner perkenalan. Dia bercanda bilang sama semua peserta tentang keinginan si saya nulis buku tentang Bangladesh, saat itu sih si saya bilang “Aigul, you are kidding!!!!” but now, well,, lumayan nih kalo topic2 ini bisa jadi chapter buku, lumayan… atau ga buku deh gapapa hehhe… blog juga gapapa. I just hope I could write all of these. I don’t want to forget it and I want to share it.

Image

Jadi untuk awal tulisan ini, I will begin with some general review, although my mind actually protest because of so many things that I want to write now.. all and every detail about it.

Jadi si saya yang ga punya background apa2 tentang teknologi adaptasi ini tiba2 dipanggil ma si ibu di kantor. Awalnya udah pd pd aja, kalo yang berangkat adalah Pak Wid dan Pak Wie. Eh tahunya, si gue hahaha. Although at the beginning, si saya pengen. Tapi kalo ngeliat konten trainingnya yang tentang adaptasi, si saya takut kalo malu-maluin Indonesia, wong ga punya kapasitas memadai lah tentang teknologi adaptasi. Belum lagi ketika pembagian tugas bikin proposal NDE, si saya kebagian 2 teknologi mitigasi aka pencairan batubara sama pemanfaatan biomassa kelapa sawit. Sementara yang adaptasi aka KJA dan padi dipegang Pak Wie dan Bu Am. Cocok dong kalo mereka yang pergi ke Bangladesh ngewakilin Indonesia buat sharing experience tentang tekno, adaptasi.

Hal berikutnya yang jadi pertimbangan adalah hellow, gue kagak ikutan bikin TNA, how can I harness all of the knowledge about how TNA was synthetized. Kan lumayan kalo ikutan prosesnya. Si saya the bukan apa2 Cuma inget waktu dulu ke Jerman tanpa kapasitas memadai tentang ESCO hanya bermodal pengetahuan utulisasi cogen atau trigen atau CHP waktu kuliah dulu. Alhasil apa? Pengalaman pertama ke Jerman secara overall sih oke oke aja, cuman si awaknya niih yang ga puas.

Dan saya gamau hal itu terjadi lagi. Pas si ibu bilang akhir april ada training mitigasi di India, honestly si awak ngarepnya mitigasi aja. Lagian si awak juga gatahu Bangladesh the bakal kayak apa. I prefer Pakistan, yang jelas Negara Muslim. Minimal ga susah shalat. Hehehhe… tapi belakangan tahu deh kalo Bangladesh juga Negara Muslim, dan jauuuuuuuuh elbih aman daripada India. Akhirnya I decided to go dengan keterbatasan pengetahuan yang hmmm… mana sebelumnya full seminggu bahas laporan RBCS, ga ada waktu belajar huhuhuhu… sama sekali… wong lembur mulu tiap hari.. gmana mau baca TNA adaptasi atau baca dokumen2 tentang roadmap Kementan dll., pokonya weleh weleh deh buat persiapannya.

Akhirnya tanggal 8 berangkat juga, terbang pake Malaysia Airlines, hahaha.. di saat MH370 masih rame, dan dengan dijudge sama seseorang kalo si saya “tidak memperjuangkan Islam di parlemen dan di Negara Indonesia” akibat si awak ga mungkin nyoblos di pemilu 9 April 2014. Wow judgement yang sangat bikin hati terluka, apalagi yang bilang adalah orang yang uhuk uhuk.. udahlah ga usah bahas ini. Intinya sebagai klarifikasi, saya memang ga nyoblos, tapi bukan berarti saya tidk setuju adanya perjuangan islam. Aah.. males bahas ini, lanjut bahas berikutnya..

Transit di Kuala Lumpur 3 jam, trus baru nyadar kalo bangunannya ada 2. Dulu waktu ke Jerman transit di KL, si saya ke Gedung Satelit, tapi sekarang ngga. Dan susah banget cari wifi. Di KL, pasti lah sepesawat sama orang2 Bangla yang mau pulang. Dan apakah first impression si saya?? Orang2 Bangla agak mirip sama orang Indonesia kalo soal nyerobot antrian. Heheh. Tapi kayanya Indonesia jauh lebih tertib.

Nyampe di Bandara Zia International (ada sih nama aslinya, nama muslim booo, and I am very proud of that). Di awal kayanya petugas polisi imigrasinya agak garang-garang gmanaa gt, tapi dia cengengesan ngeliat identitas si saya. Apa coba? Kerudung!!! Yup. Identitas muslim yang jadi andalan si saya di sini ^___^ and again, I am proud of that. Si petugas nyoba nanya ramah (meskipun muka mah tetep serem hahah). Dan nanya “is it the newest Indonesia’s service Passport??” dia iseng kayanya nanyannya. Dan si saya jawab, “yup, the latest”.

Dijemput sama petugas hotel, dan amusing sama apa yang terjadi di belt conveyor di area “claimed baggage”. Cerita ga yaaa…. Di sini awalnya si saya amused banget. Tapi setelah tahu alasannya kenapa bisa kayak gt, yang ada malah simpati… “

Hotelnya oke. Enakeun, meskipun kayanya safety belum jadi prioritas utama banget. Heheheh.. malem pertama, tidur dengan sukses, ga sempet belajar. Yang persentasi sebenarnya Pak Yadi, antara tenang sama ga tenang sebenarnya, tapi yowes dah.. cape.. pengen tidur.

Trainingnya?? WONDERFUL!! INSPIRING!!! KEREEEEN!!!

Detail konten training saya sampaikan di postingan blog saya yang kedua. Bahasanya agak resmi, maklum, dijadikan bahan laporan buat atasan ^__^.

Tapi dari sini,, si saya bisa menyatakan “AKU JATUH CINTA SAMA TEKNOLOGI ADAPTASI”

heheheheh…

si saya punya banyak temen di sini, yang paling deket adalah Trang, dari Vietnam ^__^. Cantik, supel, energetic, ramah, dan baiiiiiiiiiik banget. Ciyus. Yang lainnya adalah Nadezdha, Aigul, Sayyora, dan Ghavkar. ^_______^

ini si saya nulis ini di bandara Zia lagi nungguin pesawat yang belum nongol2 ^__^

 

Pelajaran berharga yang mau ditulis di sini;

“EVERYTHING HAPPEN FOR A REASON!!!!” jadi ketika si awak ternyata yang gapunya bekal adaptasi ini ternyata bisa ngikutin juga kok trainingnya malah sedikit agak terkenal hahahha… dijadiin sama Miss Ina sebagai perwakilan peserta yang ngasih speech di depan Ambassador Bhutan ma Vietnam.. ahahhaha,,, intinya si awak ga malu maluin lah yaaa… Alhamdulillah.. meskipun English agak pas2an, dan sepulang dr sini bertekad lagi mau kursus bahasa inggris d EF sudirman, insyallah. Dan well, actually, ke sini the jadi ajang escape from kegalauan nunggu LOA. Astagfirullah, emang si awak banyak dosa kok, tau. Tapi ini udah deket banget sama 15 april… y rabb,, belum adakah kabar bagi awak?? Jiaaaah galau lagi deh ahahahhaha…

Udahan ah, kan namanya juga review yak, ga semuanya kebahas. Saya pengen banget bahas yang lainnya juga,..

Insyaallah ada postingan berikutnya ^___^

Regional Workshop on Adaptation climate change technologies, Dhaka-Bangladesh

image

image

image

Bangladesh Food

image

image

image

image

image

image

image

Galau Akut Seakut-Akutnya

Okay, i don’t have any other way to avoid my feelings now. Anxiety, hopeful, worry, aaahh… even my self cannot describe those.

danbo__s_graduation_day_by_bry5-d3c70sq

Jadi begini, si saya teh sedang menunggu LOA. Apakah itu LOA. LOA adalah Letter of Admission atau Letter of Acceptance. Sebuah bukti tertulis bagi orang-orang yang sedang melamar masuk ke program degree suatu universitas yang menyatakan bahwa mereka berhasil dalam proses seleksi penerimaan mahasiswa baru di universitas tersebut.

Si awak kenapa menggalau LOA? pertama, karena LOA ini adalah tahap utama paling akhir yang harus dilewati dalam proses aplikasi beasiswa sangat terkenal bernama beasiswa Fulbright. Kedua, karena proses menunggu ini sudah berlangsung cukup lama, sekitar 4 sd 5 bulan hingga sekarang. cuma bisa berdoa sebenarnya, tapi terkadang galaunya bisa mengarah ke aktifitas yang lain..Ketiga adalah karena dalam masa menunggu ini saya sudah ngorbanin kesempatan interview ADS (beasiswa yang pertama kali saya coba tahun 2011 dahulu), juga ngorbanin kesempatan-kesempatan training di luar karena alasannya adalah “iin mau sekolah”. Sebutlah  kesempatan training energy efficiency ke Copenhagen, dan Belanda.. oh welll okayyyy….. iin emang mau sekolah kok, insyaallah (tapi doain yak. hehehhe). Keempat adalah karena saat ini sudah banyak banget kandidat yang minimal sudah punya kabar tentang admisi mereka. ada yang kena shortfall, ada yang malah dapat double beasiswa lainnya, ada yang ga keterima. Oh Well… saya pengen banget dapat kabar, tapi tidak untuk kabar buruk alias rejection… Allah pleaaaseeeee…Kelima adalah karena ada banyak hal yang menggantung akibat proses ini, hahhaha… for this, i wont tell.

Iin tahu banget, dan udah mencamkan berkali kali bahwa si saya udah 27 tahun hidup di muka bumi, dan ga pernah Allah sekali pun memberikan takdir yang salah. Buktinya? SMUNSA, SPACSA, ITB Teknik Kimia, BPPT, PTL, jdi anak bimbingan Pak Tatang dan Pak Yazid, ngulang kompro, peristiwa patahnya syringe GC lab lantai 4, dan lain sebagainya… terlalu banyak untuk disebutkan.

Jadi, sebenarnya memang ga ada keraguan lagi buat si saya untuk berserah diri sepenuhnya sama takdir yang Allah pilihkan. sekolah ke US buat ngambil master, dan jadi fulbrighter memang sebenarnya tidak masuk list 101 impian yang iin tuliskan ketika kuliah dulu, tapiiiiiiii… setelah menjalani prosesnya, lama-lama jatuh hati juga sama pesona sistem pendidikan dan fasilitas yang dimiliki US buat bisa menghasilkan researcher dan leader bertebaran di muka bumi. Oh well, US memang negara liberalis, dan sudah cukup berita yang bilang begitu banyak tentang bagaimana US memperlakukan umat muslim. Awalnya si saya juga agak gentar buat masuk ke dalam ranah ini, wong US ga pernah masuk list juga, beda banget ma Netherland, Japan, and Germany, yang memang sudah jadi impian sejak kuliah…

Soal kualitas grantee? jangan tanya deh, udah cukup banyak artikel yang bahas bedanya grantee fulbright sama grantee beasiswa yang lainnya. maksudnya jangan tanya di sini adalah jangan tanya saya karena saya gabisa jelasin secara komprehensif wong biasanya juga subjektif orang liatnya. Tapi kita bisa liat lah, sekitar kita, kualitas grantee fulbright atau lulusan2 US kayak gmana sepak terjangnya… hehehehhe… Ups tapi kalo ada yang mau bilang “itu kan bergantung sama orangny” saya pun sepakat ma teori ini. Lingkungan bagus sekalipun bila ga bisa dioptimalkan ya ga akan jadi apa2…. Betul kan?

Okay… lanjut. si awak ini sampe deaktivasi FB karena Read the rest of this entry

My home made strawberry pancake

image

On my wall hahah

image

Workshop Green Public Procurement bareng giz sama negara Malaysia, Philippines dan Thailand

image

I want to have this kind of aquarium one day

image

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 93 other followers