Kredibilitas Sumber Berita Online

iinparlina:

ini yang saya maksud dari tulisan sebelumnya

Originally posted on Padepokan Budi Rahardjo:

Kualitas dari sebuah karya ilmiah (makalah, artikel, atau tulisan secara umum) bergantung kepada referensi yang digunakan. Salah satu cara yang lazim digunakan oleh reviewer adalah melihat daftar referensinya. Jika referensinya dari sumber-sumber yang terpercaya dan pakar di bidangnya, maka karya ilmiah tersebut memiliki potensi untuk mendapat nilai baik. Jika sumbernya tidak terpercaya, lemah, meragukan, atau tidak dapat ditelusuri kebenarannya maka karya ilmiah tersebut diragukan untuk mendapat penilaian yang baik.

Salah satu masalah yang dihadapi saat ini adalah kredibilitas dari sumber online. Banyak jurnal dan bahkan institusi pendidikan yang tidak memperkenankan mahasiswa menggunakan Wikipedia sebagai sumber rujukan. Bahkan dapat digeneralisir, penggunaan sumber online tidak disarankan. (Frowned upon.) Salah satu alasan yang digunakan adalah ketidakjelasan orang (sumber) yang mengisi data di Wikipedia. Hal berikutnya adalah sumber di Wikipedia sering berubah. Akan menjadi masalah jika pada saat ini fakta yang ditulis adalah A dan kemudian pada saat yang lain faktanya adalag…

View original 185 more words

Cuma pendapat pribadi

ini pendapat pribadi dan bisa diabaikan, dan ini juga mungkin tanda dangkalnya kepahaman saya tentang politik indonesia. 

Tapi sungguh, saya sangat mengharapkan isi timeline saya dipenuhi pembicaraan kebaikan2 yang bisa membangkitkan optimisme terhadap kebangkitan Indonesia dan bukan sebaliknya. Saya sangat mengharapkan media2 yang dicuplik dan dishare adalah buah2 pikiran para pemuda bangsa Indonesia yang mampu membandingkan kedua kubu secara komprehensif namun positif.. maksudnya yang dibahas adalah visi misi ke depan, dibahas ampe detail bagaimana pendanaan riset, target ekonomi, prioritas kebijakan, pembangunan infrastruktur, komoditas ekspor, peningkatan kesehatan, dan lain sebagainya.. sehingga rakyat bisa diajak berpikir secara kritis tentang bagaimana membangun Indonesia ke depannya siapapun presiden yang ditakdirkan untuk Indonesia. (karena kita hanya mampu berikhtiar tapi Allah Yang Maha Berkehendak menentukan semua yang terjadi termasuk milihin presiden)
Saya menyaksikan saat ini ketika tulisan2 yang bertebaran di dunia maya menjadi piranti-piranti yang dijadikan rujukan, terlepas terbuktinya kebenaran dari tulisan2 tersebut. Semoga kita yang ga sengaja baca atau memang meniatkan baca diberikan kejernihan hati untuk bisa membedakan mana yang benar dan mana yang bohong. Dibukakan hati dan pikiran untuk menerima materi bacaan tersebut dan bisa secara komprehensif menyeleksi informasi2 yang ada menjadi asupan fikriyah kita. 

Bukan berarti saya menolak kebenaran (meskipun isinya pahit, karena manusia manapun ga ada yang lepas dari kekurangan). Tapi sungguh dampak hanya melihat judul2 link, kepala saya lebih kena energi negatifnya dibanding yang positifnya (sekali lagi ini mah saya nya aja yang ga bener), 

Mari kita sama2 berdoa dalam shalat2 kita semoga Allah memberikan kejernihan hati kepada kedua capres beserta rengrengannya, memberikan mereka kekuatan untuk bekerja secara ikhlas untuk membangun bangsa dan bermaslahat untuk orang banyak, memberikan mereka kekukuhan iman karena kesadaran bahwa amanah menjadi pemimpin adalah amanah yang sangat besar dan pertanggungjawabannya di akhirat juga sangat besar..

Laporan singkat studi banding teknologi ke Malaysia Palm Oil Board (MPOB)

Setelah melakukan kunjungan lapangan dan diskusi terkait dengan stakeholder mengenai perkembangan dan pengembangan teknologi konversi limbah biomassa batang kelapa sawit dan berbagai jenis limbah biomassa yang dihasilkan dari perkebunan dan industry kelapa sawit, diperlukan suatu studi banding komprehensif dengan lembaga yang muncul dalam diskusi tersebut yang selama ini dijadikan referensi tidak hanya dalam teknologi melainkan juga dari segi kelembagaan dalam perkelapasawitan di Indonesia. Lembaga tersebut adalah MPOB atau Malaysia Palm Oil Board atau Lembaga Sawit Malaysia.

MPOB adalah lembaga resmi pemerintah di bawah kementerian Perusahaan Perladangan dan Komoditi Malaysia yang memiliki kewenangan penuh mengenai perkelapasawitan secara kebijakan maupun teknologi. Lembaga ini memiliki beberapa divisi teknologi, salah satunya adalah divisi teknologi biomassa yang memiliki tugas untuk mengkaji teknologi konversi biomassa kelapa sawit menjadi produk-produk unggulan yang tidak hanya diharapkan dapat mengurangi beban lingkungan akibat limbah melainkan juga meningkatkan keuntungan ekonomi yang bisa diperoleh dari implementasi teknologi pada produk limbah tersebut. Hal ini bisa meningkatkan motivasi perusahaan untuk pengelolaan limbah yang berbasis keuntungan.

Pada dasarnya MPOB telah memiliki berbagai teknologi konversi limbah yang kini statusnya sudah banyak yang masuk ke dalam proses komersialisasi, misalnya produk medium Density Fireboard (MDF), kayu lapis, kayu kelapa sawit, komposit, dan lain sebagainya. Sebagai lembaga penelitian yang dianggap sangat maju, MPOB memang memiliki banyak kelebihan yang pembelajarannya dapat digunakan untuk meningkatkan daya saing perkelapasawitan Indonesia khususnya di bidang konversi limbah biomassa. 

Hutang tulisan

Si saya teh punya banyak banget hutang tulisan, hehehhe.. mulai dari tulisan tentang Bangladesh yang sampe sekarang ga kelar2 hehhe.. juga hutang tulisan nadzar kalo saya dapet loa tanpa shortfall buat bikin tulisan tentang fulbright di sini.. belum lagi mau bikin yulisan tentang pendapat saya yang tiba2 muncul tentang anime jepang dan pengaruhnya pada pendidikan.. juga tentang pengalaman pertama berurusan ma dokumen pribadi buat si dokumen kuning wkwk

Eh, dan sekarang malah bikin akun kompasiana hehehehehe

Mari kita liat bagaiman kaki ini akan melangkah, dan bagaimana tangan ini akan bergerak..

until i can’t count anymore

it has been so long..
so long that i can’t count anymore
but the feeling is still same, when i see the silhouette of yours
and the memories are still there
they stay strongly in the the deepest of my unconscious mind
and it is because your smiles never change
although the pathway is different
Let fate embraces us strongly.. and let us meet once again
if not in dunya, perhaps in the afterlife 
But still i gently expect that Allah will let us..and I know He will…

hey you.. 
just be the way you are..
because that way that i have known you
and that why you can inspire me for these loong.. so long until i can’t count anymore

The beauty of puterajaya, selangor-malaysia

image

image

image

image

image

image

image

Between Chemical Engineering and Biological Engineering

You will always be amused with how Allah gives surprises in your life. Really!!! As for me, once again, Allah grants my wish, although this wish had been proposed when I wanted to take undergraduate program in ITB. It was at 2005..

Image  vs  Image

At that time, I loved Biology more than Math, Chem, and Physics. That’s why I had intention to pursue my bachelor degree in biology. However, scholarship that had been offered to me (Sampoerna Foundation) at that time didn’t provide fund for science subject. They preferred engineering. That was why finally I chose Chemical Engineering that i thought was the best school that could accommodate my interest in biology.

Another fun story i experienced, that then, I failed to follow the re-registration for Sampoerna Foundation Scholarship. Instead, I obtained IA-ITB78.

Then, now. When I am trying to pursue my master degree through scholarship again, Allah changed my subject from Chem Eng to Bio Eng. IIE as an official institution to process our fulbright scholarship to universities recommended me to change my subject from Chem Eng to Bio Eng. For me the only problem for this was the difficulties to be a lecturer in public university in Indonesia that has been my dream since I had passion for Chem Eng. But overall, because of my research subject that has strong relationship with bacteria and biology, I don’t mind to spent my master time in biology though hahaha… i love it. and still love it until now.

Well lets see how fate will bring me

 

Regional Workshop on Climate Change Adaptation Technologies

Training yang dilaksanakan pada tanggal 9 hingga tanggal 12 April 2014 ini memiliki tujuan besar sebagai langkah awal kolaborasi regional Negara-negara Asia Pasifik dalam menghadapi Perubahan Iklim. Adapun peserta dari regional workshop ini adalah sebagai berikut: Indonesia, Vietnam, Laos, Filiphina, Myanmar, Thailand, Cambodia, Bhutan, Nepal, Bangladesh, Srilanka, Mongolia, Kazakhstan, Uzbekistan, dan Tajikistan.

Image

Sebagai region yang memiliki Negara-negara berkarakteristik sebagai Negara berkembang dengan vulnerabilitas yang cukup tinggi dikaitkan dengan geografis dan topografisnya, Asia Pasifik menjadi region yang harus melakukan banyak hal terkait teknologi adaptasi. Kenaikan muka air laut, perubahan cuaca secara global, kenaikan temperature lingkungan yang berakibat pada pemanasan global, merupakan sedikit dari sekian banyak isu yang harus bisa dihadapi dengan baik oleh masyarakat dari Negara-negara di Asia Pasifik tersebut. Apalagi dengan kondisi ekonomi masyarakat yang tidak terlalu mendukung untuk membangun berbagai infrastrukutur tambahan dan mengimplementasikan teknologi yang sesuai.

Indonesia pun demikian, sebagai salah satu Negara yang memiliki taraf vulnerabilitas yang sangat tinggi, Indonesia perlu melakukan banyak hal terkait adaptasi perubahan iklim. Selain karena bentuknya sebagai Negara kepulauan yang akan mengalami dampak secara langsung akibat kenaikan muka air laut, Indonesia juga memiliki kebergantungan yang cukup tinggi terhadap pertanian dan perikanan. Artinya perubahan iklim memiliki potensi dalam mempengaruhi kehidupan masyarakat (livelihood) juga sektor utama yang berkenaan langsung dengan keberlangsungan hidup berupa mata pencaharian yaitu sektor pertanian dan perikanan. Setelah diidentifikasi lebih lanjut, diketahui pula bahwa potensi dampak ini tidak hanya akan menyentuh kehidupan dalam sektor ekonomi, tapi juga kesehatan, penyediaan air, dan lain sebagainya.

Training yang berada di bawah koordinasi UNEP, ICCCAD, dan IIED-IUB ini memfasilitasi Negara-negara di Asia Pasifik untuk dapat saling berbaagi pengalaman dan informasi mengenai sejauh mana kegiatan adaptasi perubahan iklim dilaksanakan. Selain itu, dilksanakan juga analisis sektor dan analisis regional dilengkapi dengan analisis barrier dan enabling framework yang diperlukan untuk mengatasi barrier tersebut. Berbagai sesi diskusi dan presentasi serta kunjungan lapangan ke Bangladesh Rice Research Institute (BRRI) berusaha menunjukan secara komprehensif bagaimana kondisi konsep dan plan juga kenyataan di lapangan.

Training ini juga menunjukan bahwa terdapat banyak sekali kesamaan dari Negara-negara di Asia Pasifik dalam menganalisis sektor yang paling dipengaruhi perubahan iklim yang kemudian dijadikan sebagai aksi nasional untuk adaptasi, misalnya sektor pertanian, sektor ketersediaan air, juga sektor pantai (atau kelautan). Selain itu, barrier yang dihadapi juga kurang lebih hamper sama. Namun memang progress dari tiap Negara berbeda, ada yang sudah memeiliki perangkat implementasi aksi yang sudah jauh dan ada yang baru mulai. Ada yang maju di teknologi tertentu namun tertinggal di teknologi lainnya. Hal ini menyebabkan pertukaran informasi memiliki peran yang sangat signifikan karena masing-masing Negara dapat menjadikan informasi dari Negara lainnya sebagai bahan pelajaran dan juga bisa jadi infomasi yang dibutuhkan untuk program berikutnya.

Participants of UNEP Workshop, 2014

Adapun rincian kegiatan yang dijalankan selama kegiatan ini adalah sebagai berikut:

  1. Hari pertama, tanggal 9 April 2014

Hari pertama berisi kegiatan perkenalan juga presentasi pendahuluan dari penyelenggara tentang tujuan besar dari regional workshop ini, juga dari setiap Negara tentang salah satu jenis teknologi adaptasi yang dilaksanakan di Negara tersebut. Masing-masing Negara juga mengungkapkan secara singkat tentang kegiatan TNA dan progress kegiatan terkait perubahan iklim mereka, termasuk juga tentang kebijakan perubahan iklim yang sudah ada ataupun yang berada dalam tahap perencanaan.

Pasca presentasi dari setiap Negara, juga disajikan presentasi dari practical action Bangladesh mengenai floatening Gardening sebagai salah satu aksi adaptasi yang sejauh ini sudah diterapkan dan memiliki signifikansi menfaat bagi perekonomian para petani di Bangladesh. Adapun konsep dari floatening gardening ini adalah melakukan system pertanian di atas lahan tergenang sebagai salah satu simulasi ketika terjadi banjir.

  1. Hari Kedua, tanggal 10 April 2014

Kunjungan ke BRRI dilaksanakan pada hari kedua untuk menunjukan sudah sejauh mana kegiatan adaptasi d sector pertanian Bangladesh dilaksanakan. Para peserta diberikan penjelasan secara umum tentang prestasi-prestasi yang dibanggakan BRRI untuk mengatasi permasalahan pangan khususnya permasalahan varietas padi untuk perubahan iklim di Bangladesh. Kemudian kegiatan dilanjutkan dengan kunjungan ke fasilitas BRRI seperti laboratorium bioteknologi, pembibitan, bank gen, dan laboratorium uji eksperimen perubahan iklim. Secara umum, dari hasil kunjungan tersebut terlihat bahwa telah banyak yang dilakukan oleh Bangladesh dalam upaya mencari varietas padi yang tahan kekeringan, banjir, dan salinitas tinggi. Pada dasarnya ada atau tidak adanya isu perubahan iklim, kegiatan pengembangan varietas padi untuk masyarakat ini memang menjadi hal yang krusial di Bangladesh hanya saja dengan adanya isu perubahan iklim, encouragement untuk melanjutkan kegiatan-kegiatan penelitian padi bisa semakin tinggi.

  1. Hari ketiga, tanggal 11 April 2014

Hari ketiga diisi dengan kegiatan diskusi kelompok mengenai sector prioritas beserta teknologi unggulan dalam sector tersebut. Identifikasi sector prioritas dilanjutkan dengan identifikasi barrier dan enabling framework dari barrier yang ada.

Selain diskusi grup, juga disajikan presentasi dari BBC Media sebagai media yang menyorot kegiatan adaptasi perubahan iklim untuk diinformasikan melalui media internet ke seluruh dunia. Program broadcasting adaptasi perubahan iklim ini dinilai sangat efektif dalam memberikan gambaran kepada masyarakat seluruh dunia tentang pentingnya adaptasi perubahan iklim. Sala satu video yang ditampilkan sebagai contoh adalah kegiatan pembangunan rumah tahan banjir di pinggir pantai Bangladesh. Hal ini bisa menginspirasi semakin banyaknya kegiatan sejenis yang berusaha meningkatkan kesadaran masyarakat akan dampak perubahan iklim.

  1. Hari keempat tanggal 14 April 2014
    Pada hari terakhir training ini, kegiatan pertama yang dilakukan adalah kegiatan presentasi dari ICCCAD tentang program lost and damage sebagai salah satu kegiatan yang diharapkan dapat memberikan pengetahuan komprehensif mengenai perhitungan kerugian bencana. Karena pada dasarnya, kerugian bencana tidak bisa secara absolut dinilai dengan uang, ada pendekatan holistic dan integrative yang harus dilakukan untuk menghitung kerugian akibat bencana. Hal ini dinilai sebagai kemampuan yang harus dimiliki terutama untuk menganalisis kegiatan adaptasi secara komprehensif. Kegiatan adaptasi tidak seperti mitigasi yang memiliki parameter terkuantifikasi berupa penurunan emisi yang dinyatakan dengan sauna ton C02eqv/tahun, sehingga penentuan parameter measurement keberhasilan ataupun ketercapaian target lebih sulit daripada mitigasi. Selanjutnya kegiatan dilanjutkan dengan diskusi grup per area regional. Peserta dikelompokan berdasarkan kelompok Asia Tenggara, Asia Selatan, dan Asia Utara.

Selanjutnya masing-masing kelompok region melaksanakan analisis sebenarnya apa yang paling dibutuhkan di dalam regional mereka, teknologi apa yang bisa menjadi option, atau bagaimana kisah sukses implementasi yang sudah ada.

 

Peran serta Indonesia dalam forum regional Workshop Adaptasi Perubahan Iklim:

  1. Melakukan presentasi mengenai teknologi adaptasi yang diterapkan di Indonesia khususnya di sector pertanian, yaitu mengenai teknologi pemerolehan tanaman pangan (khususnya padi)
  2. Melakukan sharing informasi mengenai Technology Action Plans (TAPs ) untuk adaptasi perubahan iklim serta sharing informasi tentang adanya Rencana Aksi Nasional Adaptasi Perubahan Iklim (RAN-API)
  3. Di dalam working grup sesi pertama, bersama peserta dari Negara Kazakstan, Kamboja, Buthan melakukan analisis barrier dan enabling framework secara komprehensif dalam sector water resource khususnya teknologi rainwater harvesting dan irigasi. Dalam diskusi ini, Indonesia banyak memberikan pandangan mengenai hambatan yang terjadi serta solusi yang mungkin dilakukan untuk mengatasi hambatan. Serta memberika pendapat mengenai stakeholder yang terkait secara langsung dan memiliki pengaruh signifikan dalam proses implementasi teknologi adaptasi, misalnya lembaga riset seperti BPPT, juga NGO internasional seperti UNEP, GEF, sector swasta dan lainnya.
  4. Memberikan pandangan mengenai sector prioritas untuk adapatsi dalam ruang lingkup regional Asia Tenggara pada sesi diskusi kedua untuk menganalisis kasus regional. Pada sesi ini pembahasan lebih komprehensif lagi karena menyangkut semua sector yang mungkin termasuk pula sector Early Warning System (EWS). Misalnya Indonesia memiliki TEWS dan Buoy untuk system antisipasi bencana akibat perubahan iklim. Dalam sesi sharing dan pertukaran informasi ini, dirasakan banyak sekali manfaat karena ada informasi dari Indonesi yang dibutuhkan oleh Negara lain, demikian juga sebaliknya.
  5. Dalam diksusi informal, menjalin hubungan persahabatan dengan peserta dari Negara-negara lainnya, terutama Uzbekistan, Kazakhstan, Vietnam, Thailand, Cambodia, Buthan, Bangladesh, Srilangka dan Tajikistan.
  6. Memberikan informasi mengenai apa yang dilakukan di Indonesia, misalnya kaji implementasi teknologi RBCS. Informasi ini diminta oleh peserta dari Negara Buthan yang bermaksud menjalankan TAPs untuk waste heat recovery di industry tekstil
  7. Menjadi perwakilan peserta dalam acara resmi penutupan workshop di hadapan Duta Besar Vietnam dan Buthan untuk Bangladesh.

Memories in Dhaka (a Preview)

Banyak sekali hal yang ingin saya tuliskan tentang apa yang kudapatkan, apa yang dirasakan, dan apa yang kupikirkan tentang training di Bangladesh ini, tentang isi trainingnya, tentang bagaimana perasaan si saya, kesulitan apa yang ada, tentang bagaimana pertemanan di antara peserta, dan terutama adalah tentang kehidupan Negara Bangladesh yang memukau dan menyentuh, tentang sisi negatifnya, tentang bagaimana lafadz Allah bertebaran di mana-mana, tentang bagaiman kerja keras mereka, tentang bagaimana cerita jalan2 si saya, tentang bagaimana makanannya. Terlalu banyak yang ingin dituliskan hehhehe… well jadi inget Aigul, temen dari Kazakstan yang jadi patner perkenalan. Dia bercanda bilang sama semua peserta tentang keinginan si saya nulis buku tentang Bangladesh, saat itu sih si saya bilang “Aigul, you are kidding!!!!” but now, well,, lumayan nih kalo topic2 ini bisa jadi chapter buku, lumayan… atau ga buku deh gapapa hehhe… blog juga gapapa. I just hope I could write all of these. I don’t want to forget it and I want to share it.

Image

Jadi untuk awal tulisan ini, I will begin with some general review, although my mind actually protest because of so many things that I want to write now.. all and every detail about it.

Jadi si saya yang ga punya background apa2 tentang teknologi adaptasi ini tiba2 dipanggil ma si ibu di kantor. Awalnya udah pd pd aja, kalo yang berangkat adalah Pak Wid dan Pak Wie. Eh tahunya, si gue hahaha. Although at the beginning, si saya pengen. Tapi kalo ngeliat konten trainingnya yang tentang adaptasi, si saya takut kalo malu-maluin Indonesia, wong ga punya kapasitas memadai lah tentang teknologi adaptasi. Belum lagi ketika pembagian tugas bikin proposal NDE, si saya kebagian 2 teknologi mitigasi aka pencairan batubara sama pemanfaatan biomassa kelapa sawit. Sementara yang adaptasi aka KJA dan padi dipegang Pak Wie dan Bu Am. Cocok dong kalo mereka yang pergi ke Bangladesh ngewakilin Indonesia buat sharing experience tentang tekno, adaptasi.

Hal berikutnya yang jadi pertimbangan adalah hellow, gue kagak ikutan bikin TNA, how can I harness all of the knowledge about how TNA was synthetized. Kan lumayan kalo ikutan prosesnya. Si saya the bukan apa2 Cuma inget waktu dulu ke Jerman tanpa kapasitas memadai tentang ESCO hanya bermodal pengetahuan utulisasi cogen atau trigen atau CHP waktu kuliah dulu. Alhasil apa? Pengalaman pertama ke Jerman secara overall sih oke oke aja, cuman si awaknya niih yang ga puas.

Dan saya gamau hal itu terjadi lagi. Pas si ibu bilang akhir april ada training mitigasi di India, honestly si awak ngarepnya mitigasi aja. Lagian si awak juga gatahu Bangladesh the bakal kayak apa. I prefer Pakistan, yang jelas Negara Muslim. Minimal ga susah shalat. Hehehhe… tapi belakangan tahu deh kalo Bangladesh juga Negara Muslim, dan jauuuuuuuuh elbih aman daripada India. Akhirnya I decided to go dengan keterbatasan pengetahuan yang hmmm… mana sebelumnya full seminggu bahas laporan RBCS, ga ada waktu belajar huhuhuhu… sama sekali… wong lembur mulu tiap hari.. gmana mau baca TNA adaptasi atau baca dokumen2 tentang roadmap Kementan dll., pokonya weleh weleh deh buat persiapannya.

Akhirnya tanggal 8 berangkat juga, terbang pake Malaysia Airlines, hahaha.. di saat MH370 masih rame, dan dengan dijudge sama seseorang kalo si saya “tidak memperjuangkan Islam di parlemen dan di Negara Indonesia” akibat si awak ga mungkin nyoblos di pemilu 9 April 2014. Wow judgement yang sangat bikin hati terluka, apalagi yang bilang adalah orang yang uhuk uhuk.. udahlah ga usah bahas ini. Intinya sebagai klarifikasi, saya memang ga nyoblos, tapi bukan berarti saya tidk setuju adanya perjuangan islam. Aah.. males bahas ini, lanjut bahas berikutnya..

Transit di Kuala Lumpur 3 jam, trus baru nyadar kalo bangunannya ada 2. Dulu waktu ke Jerman transit di KL, si saya ke Gedung Satelit, tapi sekarang ngga. Dan susah banget cari wifi. Di KL, pasti lah sepesawat sama orang2 Bangla yang mau pulang. Dan apakah first impression si saya?? Orang2 Bangla agak mirip sama orang Indonesia kalo soal nyerobot antrian. Heheh. Tapi kayanya Indonesia jauh lebih tertib.

Nyampe di Bandara Zia International (ada sih nama aslinya, nama muslim booo, and I am very proud of that). Di awal kayanya petugas polisi imigrasinya agak garang-garang gmanaa gt, tapi dia cengengesan ngeliat identitas si saya. Apa coba? Kerudung!!! Yup. Identitas muslim yang jadi andalan si saya di sini ^___^ and again, I am proud of that. Si petugas nyoba nanya ramah (meskipun muka mah tetep serem hahah). Dan nanya “is it the newest Indonesia’s service Passport??” dia iseng kayanya nanyannya. Dan si saya jawab, “yup, the latest”.

Dijemput sama petugas hotel, dan amusing sama apa yang terjadi di belt conveyor di area “claimed baggage”. Cerita ga yaaa…. Di sini awalnya si saya amused banget. Tapi setelah tahu alasannya kenapa bisa kayak gt, yang ada malah simpati… “

Hotelnya oke. Enakeun, meskipun kayanya safety belum jadi prioritas utama banget. Heheheh.. malem pertama, tidur dengan sukses, ga sempet belajar. Yang persentasi sebenarnya Pak Yadi, antara tenang sama ga tenang sebenarnya, tapi yowes dah.. cape.. pengen tidur.

Trainingnya?? WONDERFUL!! INSPIRING!!! KEREEEEN!!!

Detail konten training saya sampaikan di postingan blog saya yang kedua. Bahasanya agak resmi, maklum, dijadikan bahan laporan buat atasan ^__^.

Tapi dari sini,, si saya bisa menyatakan “AKU JATUH CINTA SAMA TEKNOLOGI ADAPTASI”

heheheheh…

si saya punya banyak temen di sini, yang paling deket adalah Trang, dari Vietnam ^__^. Cantik, supel, energetic, ramah, dan baiiiiiiiiiik banget. Ciyus. Yang lainnya adalah Nadezdha, Aigul, Sayyora, dan Ghavkar. ^_______^

ini si saya nulis ini di bandara Zia lagi nungguin pesawat yang belum nongol2 ^__^

 

Pelajaran berharga yang mau ditulis di sini;

“EVERYTHING HAPPEN FOR A REASON!!!!” jadi ketika si awak ternyata yang gapunya bekal adaptasi ini ternyata bisa ngikutin juga kok trainingnya malah sedikit agak terkenal hahahha… dijadiin sama Miss Ina sebagai perwakilan peserta yang ngasih speech di depan Ambassador Bhutan ma Vietnam.. ahahhaha,,, intinya si awak ga malu maluin lah yaaa… Alhamdulillah.. meskipun English agak pas2an, dan sepulang dr sini bertekad lagi mau kursus bahasa inggris d EF sudirman, insyallah. Dan well, actually, ke sini the jadi ajang escape from kegalauan nunggu LOA. Astagfirullah, emang si awak banyak dosa kok, tau. Tapi ini udah deket banget sama 15 april… y rabb,, belum adakah kabar bagi awak?? Jiaaaah galau lagi deh ahahahhaha…

Udahan ah, kan namanya juga review yak, ga semuanya kebahas. Saya pengen banget bahas yang lainnya juga,..

Insyaallah ada postingan berikutnya ^___^

Regional Workshop on Adaptation climate change technologies, Dhaka-Bangladesh

image

image

image

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 99 other followers