simulasi kematian


Thursday. 23 Oktober 2008, 07.00
Bismillahirrahmanirrahim
dengan menyebut Asma Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, Maha Menguasai Kematian, kegelapan, dan kehidupan

astagfirullahal’adzim
subhanallah walhamdulillah walaa ilaahaillallah wallahu akbar

saat terbangun dari simulasi kematian hari ini, begitu banyak pelajaran yang kupendam dalam syaraf-syaraf neuron alam sadar dan bawah sadarku.
hari ini Allah memberikan kembali pelajaran kematian kepadaku untuk membuatku semakin dapat mempersiapkan kedatangan waktu tersebut..
mungkin hanya mimpi, tapi mimpi ini begitu sangat nyata, emosi-emosi yang terlibat di dalamnya bahkan sampai dapat kurasakan sampai sekarang. apapun itu, pertandakah, atau hanya bunga tidurkah,atau hanya sekedar permainan alam bawah sadarkah, yang pasti gambaran kematian di depan mataku begitu tampak nyata, aku hanya berpikir Maha Besar Allah yang telah memberikan impian seperti ini kepadaku untuk membuatku lebih baik dan semoga aku dapat menjadi orang yang mendapat pelajaran dan dapat menindaklanjutinya dalam tindakan nyata dalam bentuk amalan ibadah yang semakin baik.
simulasi kematian yang kualami tidak berisi petualangan, kehidupan bersama keluargaku atau sejenisnya, tapi sebuah kematian massal, sebuah kematian pada banyak orang yang diakibatkan oleh bencana alam gunung meletus…
merasakan bagaimana takutnya tercekam dalam perasaan kawatir, cemas, dan TAKUT MATI, kematian yang ga hanya dialami oleh seseorang melainkan banyak orang.. sungguh perasaan ini belum pernah kurasakan.. bagaimana kematianku dan orang-orang di sekelilingku begitu sangat dekat dan hanya tinggal menunggu waktu, bagaimana ikhtiar untuk menyelamatkan diri kami lakukan sedemikian rupa.. ah aku jadi teringat berbagai bencana alam yang menimpa negeriku tercinta dan menghabiskan banyak nyawa disana. mungkinkah perasaan mereka sama seperti yang aku rasakan?? apakah aku telah berhasil merasakan perasaan orang-orang yang dulu Allah padamkan dengan gelombang Tsunami, Gempa Aceh, banjir, tanah longsor, gunung api meletus di saat-saat terakhir kehidupan mereka. di sana aku merasa kematian begitu mencekat leherku karena dia terasa sangat dekat, sementara di kehidupan nyataku, aku tak habis pikir mengapa aku bisa begitu santai saat kematian mengintaiku setiap saat.. ah bodohny aku Ya Rabb..padahal d saat2 sperti itupun bisa jadi aku berada di penghujung akhir kehidupanku..
perasaan takut mati mengumpul di kedua belahan otakku, meresap ke dalam lapisan seludang Mielin yang paling dalam, dan meloncat dengan sangat cepat dari satu Nodus Ranvier ke Nodus Ranvier lainnya..membuatku memiliki energi lebih untuk berusaha menyelamatkan diri, lari ke sana kemari mencari perlindungan dan tempat yang aman.
yang aku ingat dengan detail adalah perasaan egoisme yang begitu melanda hatiku. sampai aku tak ingat sama sekali adik kecil yang kugendong.. duh aku beristigfar, bagaimana jadinya kiamat al kubra, kiamat sugra saja sudah begini dahsyatnya. ngerii.
kemanapun aku pergi kini yang terdengar hanya raungan manusia yang menjerit ketakutan, menjerit dengan segenap perasaan mereka bahwa mereka belum siap mati dan mengharap pertolongan siapapun yang dapat menolong mereka.. Wahai Dzat Yang Maha Penolong, betapa tak kami rasakan pertolongan setiap saatMu dalam kehidupan kami. betapa naifnya kami para hambaMu yang banyak tak mensyukuri nikmat yang Kau beri.
perjuanganku menyelamatkan diri juga terbilang habis-habisan, dan aku ingat betul perasaan yang bercokol dalam dadaku adalah harapan, sebuah harapan kepada Sang Pengendali Kehidupan dan Kematian untuk menyudahi semua kejadian ini, mengakhiri setiap apa yang terjadi kini, dan membiarkan kami hidup, menghantikan getaran gunung dan membuatnya lelap kembali dalam peraduannya. mulutku komat-kamit sementara tanganku tertelungkup dalam dada demikian rapatnya, berharap semoga Allah mengabulkan doaku untuk menghentikan semua ini.
saat itu pula, mataku terbuka, aku dikembalikan ke dalam kehidupan nyata, kehidupan yang sebenarnya, kehidupan yang memberiku kesempatan untuk berbekal sebelum sang maut datang.
padahal Allah bisa saja tidak mengembalikan nyawaku, dan kehidupanku pun berakhir dengan kondisi yang Allah inginkan..
aku terpekur sekian lama saat aku dapat kembali merasakan nafas kehidupan, berusaha meresapi pelajaran yang Allah beri untukku.. Dahsyatnya Kuasa Allah, semoga aku jadi semakin bersemangat untuk beramal sholeh, dan tak lagi bermalas-malasan. karena aku tak tahu penghujung kehidupanku akan bagaimana, kapan dan dalam kondisi seperti apa…

About iinparlina

Seorang Insan manusia yang diciptakan Allah dengan segala kekurangan dan kelebihannya, yang mencoba menjadi seorang yang dicintaiNya, dan salah satu cara yang dilakukannya adalah dengan menulis, membagi sedikit sekali ilmu yang dimilikinya. Meskipun sedikit, dia berharap dari yang sedikit itu, ilmu itu bisa bermanfaat untuk orang lain sebagaimana dia pun membutuhkan Ilmu untuk membuatnya bisa menjejakan kakinya di surga.

Posted on October 23, 2008, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: