wanita muslimah… ada apakah dengan dirinya??


Mentari bersinar terik, menggeliat-geliat resah  mengiringi detik-detik dunia yang semakin lama semakin panas dengan begitu banyak pergeseran nilai terjadi di masyarakat. Termasuk di dalamnya pergeseran moralitas para calon ibu yang notabene mempunyai tugas sebagai rahim peradaban.

Saat konsumsi para penentu generasi itu kini berubah  menjadi semakin tidak jelas. Saat  media yang bertebaran di masyarakat adalah informasi yang bisa dinilai jauh dari nilai-nilai Islam.  Mau bagaimana, konsumsi para gadis dan Ibu zaman sekarang ini didominasi oleh rangsangan syahwat, gosip-gosip yang pada dasarnya adalah sebuah dosa bernama ghibah, dan tampilan-tampilan yang makin menyuburkan pola pikir berbasis penampilan fisik belaka. Bagaimanapun mata ini tak dapat ditipu saat kenyataan di lapangan begitu asyik menampilkan fenomena-fenomena yang sangat mengerikan. Betapa banyak perempuan yang dengan rela menampilkan bagian-bagian tubuhnya yang sebenarnya terlalu berharga untuk diumbar murahan seperti itu kepada setiap orang. Tak ayal lagi, para laki-laki pun yang pada fitrahnya mempunyai kesenangan terhadap lawan jenis seakn-akan terangsang. Akhirnya mata tak terjaga, hati terabaikan dan akhirnya rela berbuat dosa memenuhi kepuasan hawa nafsunya. Lupa mereka pada Allah Swt yang sudah memperingatkan seluruh manusia dari berbagai kemungkinan yang ada. Kesalahan-kesalahan fatal pun  terjadi saat ruh memutuskan untuk memilih hawa nafsu dan syetan sebagai kawan.

Apa yang menjadi awal mula pergeseran nilai yang pengaruhnya luar biasa ini? Jawabannya sangat sederhana, yaitu pada saat manusia tak lagi menghiraukan apa yang dikatakan oleh Rabbnya. Saat wanita-wanita zaman skarang yang lebih disibukkan oleh pekerjaan menghias diri dan mencari penghasilan tanpa tahu tugas hakikinya adalah sebagai penentu peradaban dan pembentuk generasi harapan. Mau dibawa ke mana dunia ini saat wanita-wanita yang akan menjadi calon ibu, tidak mempunyai perbekalan memadai untuknya, anaknya, dan keluarganya mengahadapi dunia yang semakin kejam ini?

Sedih saat menyadari bahwa justru sebagian besar  penghuni neraka adalah wanita. Padahal Allah dengan sangat teliti mengingatkan manusia terutama wanita tentang segala kemungkinan yang ada. Termasuk pula pada saat wanita bisa menjadi sumber malapetaka dunia. Dengan kelebihan yang Allah anugerahkan kepada wanita, dan fitrah bagi seorang laki-laki yang senang dengan lawan jenis. Perpaduan keduanya menentukan akan seperti apa dunia setelah masa ini? Pada saat keduanya tak dapat menahan diri dari belenggu hawa nafsunya, maka saat itulah dunia akan hancur.

Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baiknya perhiasan adalah wanita shalehah. Begitulah bunyi sebuah hadits yang diriwayatkan Muslim. Hadits ini mengungkapkan seberapa berharganya seorang perempuan dengan keshalehannya. Seorang wanita dengan tangannya, dengan hati dan fikirannya dan potensi kefahaman yang didasarkan pada aqidah yang kuat kepada Sang Mushawwir, bisa mengubah dunia. Pemuda-pemuda yang kelak dilahirkannya dengan pendidikan berbasis keislaman yang Haq bisa menjadi para mujahid-mujahidah, para ruhul jadid yang siap mengorbankan jiwa dan raganya untuk kejayaan Islam.  Dan sebaliknya, saat wanita tidak berada pada jalan yang di dalamnya terdapat pembinaan keislaman, para pemuda yang dilahirkannya bisa jadi malah menjadi generasi sampah yang justru menjadi musuh Islam karena pikiran-pikiran sekularisme yang begitu melekat dalam diri mereka, sehingga mereka tidak rela Islam tegak karena akan menghalangi hawa nafsu mereka terlampiaskan.

Menjadi seorang muslimah yang Allah cintai adalah pilihan satu-satunya bagi para wanita untuk bisa menembus segala yang terjadi sekarang dan di masa depan dan menyongsong kehidupan abadi di akhirat. Sebuah kehidupan kekal yang hanya Dia janjikan kepada hamba-Nya baik laki-laki maupun perempuan yang sungguh-sungguh berjuang di jalan-Nya, memenuhi segala perintah-Nya dan menjadi salah seorang tentara pilihan-Nya dalam upaya penegakan  Islam di hati seluruh manusia. Lalu apa sebenarnya yang harus dilakukan sementara dunia semakin kejam, hedonisme merajalela di mana-mana, kompetisi yang semakin menjadi dengan kapitalis sebagai biang keroknya. Selain itu, feminisme semakin merebak di masyarakat, dan ditambah lagi dengan keadaan ekonomi yang mencekik leher. Semuanya merupakan tantangan tersendiri bagi seorang perempuan muslimah dalam perjalanannya menjemput jannah Rabb tercintanya.

Pembinaan dan penjagaan yang menjadi bekal kekuatan para wanita muslimah menjalankan fungsinya sebagai rahim peradaban. Tentunya peradaban Islam yang agung dan berkeimananlah yang diusung oleh para calon Ibu ini. Kekuatan dari pembinaan dan penjagaan ini adalah milik Allah semata, dan Allah pula yang akan menentukan kekuatan-Nya akan diberikan kepada siapa. Selama para wanita berada pada koridor-koridor yang Allah tentukan, misalnya kepatuhan dalam melaksanakan ayat–ayat Al-Quran dan menjauhi larangan-larangan yang sudah ditentukan. Allah juga yang akan menilai keteguhan para muslimah dalam memegang prinsip yang haq dan dengan mudahnya Dia akan memberikan kekuatan-Nya kepada sosok Sang Pembentuk Peradaban ini.

Banyak hal yang harus diperhatikan seorang wanita muslimah, lihat saja betapa banyak ayat Al-Quran yang Allah siapkan khusus untuk wanita. Betapa Islam begitu menghargai para wanita, sangat berbeda dengan pola pikir yang dijalankan umat Yahudi. Betapa Allah menjaga kesucian wanita dengan memerintahkan wanita untuk menutup aurat, menundukan pandangan, dan menjaga hijab. Aturan-aturan yang Allah buat tidak malah mengekang kebebasan wanita dalam mengembangkan potensi diri, malahan dengan peraturan-peraturan itu, wanita terjaga fitrah kewanitaannya.

Sudah banyak contoh yang disebutkan Allah. Lihatlah  Siti Khadijah, ibu kaum muslimin ini begitu mulia akhlaknya dan utama perilakunya, sampai-sampai Rasul begitu mencintainya walaupun beliau sudah tiada. Lihatlah begitu cerdasnya Aisyah Binti Abu Bakar, seorang istri yang begitu lembut dan setia menemani perjuangan Rasul dan berperan juga sebagai sumber hadits. Lihat pula kisah Asma Binti Abu Bakar, Fatimah Binti Muhammad, Ibnu Haritsah, Ummu Sulaim, Ummu Salamah, Ummu Athiyah, Rufaidah dan shahabiyah-shahabiyah lain yang begitu luar biasa keteguhannya dalam menjalankan syariat Islam dalam kehidupan di masanya sampai risalah itu datang kepada kita sekarang.

Bagaimanapun, sampainya risalah ini kepada kita sebagai orang-orang yang hidup di zaman sekarang, selain merupakan kehendak Allah Yang Maha Kuasa atas segalanya, juga karena adanya keinginan yang tersembul di hati para shahabiyah itu untuk meneruskan perjuangan mereka sampai zaman sekarang ini. Benar bahwa wanita adalah rahim peradaban. Peradaban akan terbentuk sesuai dengan karakter wanita yang ada pada zaman tersebut.

Sekarang, setelah pemaparan ini, adalah pilihan kita untuk meneruskan estafet perjuangan yang sudah dimulai Rasulullah beserta rengrengan sahabat dan shabiyah pada zaman pertama atau kita memutuskan untuk hanya menjadi sorang penonton saja?  Wanita, dengan kekuatan yang Allah berikan kepadanya bisa menjadi penentu peradaban dengan melahirkan putra-putri pengusung Islam atau justru menjadi sumber malapetaka pengundang kemurkaan  Allah. Dan jika para wanita sudah memutuskan untuk tergabung dengan barisan para mujahid perindu Surga, adalah kewajiban mereka untuk menjadi obat masyarakat kita yang sakit ini….

Ayo Ukhti, surga di depan kita. Sudah saatnya bergerak, mari jemput surga kita dengan menjadi pembentuk peradaban Islam sejati yang melahirkan  generasi-generasi pembaharu yang dalam dadanya tertancap kekuatan Iman dan semangat yang menyala-nyala dalam menegakkan Islam di hati manusia dan setiap jengkal tanah di muka bumi.

‘Isy kariman aumut syahidan

Wallahu’alam Bis Shawab, semoga Allah meridhai..

About iinparlina

Seorang Insan manusia yang diciptakan Allah dengan segala kekurangan dan kelebihannya, yang mencoba menjadi seorang yang dicintaiNya, dan salah satu cara yang dilakukannya adalah dengan menulis, membagi sedikit sekali ilmu yang dimilikinya. Meskipun sedikit, dia berharap dari yang sedikit itu, ilmu itu bisa bermanfaat untuk orang lain sebagaimana dia pun membutuhkan Ilmu untuk membuatnya bisa menjejakan kakinya di surga.

Posted on June 30, 2009, in riak-riak jiwa. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: