Monthly Archives: October 2009

Khairun naas…..mari berbuat yang terbaik untuk saudara2 qta

Bismillahirrahmanirrahim, dengan menyebut Asma Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang..

Menjadi seorang khairun naas itu tidak mudah, ada banyak rintangan yang menghadang, ada banyak lintasan pikiran tentang perbuatan yang ingin dilakukan namun kadang daya tidak sanggup untuk memenuhinya…inilah sebuah perjalanan yang ingin aku share, supaya hatimu tergetar..betapa Allah menyayangimu lebih dari yang kau kira.

Sabtu, 24 Oktober, sebuah kebulatan hati yang menuntunku menjalani sebuah perjalanan seorang diri, meskipun di awal sempat ragu untuk melangkah karena rasa kekawatiran yang menyelinap dan dikuatkan oleh bisikan syetan yang menyuruhku mengurungkan niatku untuk melangkah ke sana.. ke Bumi Pangalengan, untuk ketiga kalinya.. kali ini, berangkat sendiri, karena tim yang sebelumnya berangkat pada hari Jumat pagi, sementara sebuah ujian penting hidupku harus kulalui jumat siang.. piuhh,,aku senang aku akhirnya berangkat.. pukul 9.30 menolakkan kaki menaiki bus damri, lalu turun di tegal lega dan lalu menaiki elf menuju Pangalengan..murah,,hanya Rp.12.000 untuk bisa melakukan sebuah ikhtiar yang kuharap bisa berarti banyak untuk mereka, saudara-saudaraku yang Allah uji dan Allah perlihatkan ujian mereka kepada manusia-manusia yang lainnya supaya eksistensi KeAgunganNya kembali menyala dalam rongga-rongga dada manusia.. jadi, tidak ada alasan lagi buat tidak bisa berbuat yang terbaik, hanya  berbekal 12.000 kita bisa berbuat banyak dsana… insyaallah

Pukul 13.00 tepat tiba di SMP Pasundan Pngalengan, segera memburu saudara2 yang sudah duluan disana, shalat dhuhur lalu bersiap untuk pemberangkatan ke CUKUL, sebuah desa yang katanya adalah para pekerja perkebunan teh yang menjadi korban gempa Jabar 2 September 2009.

Menginjakan kaki di Cukul, aku sudah disodorkan pemandangan yang cukup membuatku pilu.. sudah hampir 2 bulan gempa terjadi, beberapa warga hmm tidak, banyak warga yang masih belum memiliki rumahnya seperti sedia kala, terdapat sepuluh kepala keluarga yang diungsikan ke rumah sementara yang sangat sederhana yang hanya terdiri dari bilik2 bambu berukuran +4X4 m,,beberapa sedang “nongkrong” di depan rumahnya menghirup udara dan mungkin mencoba berkomunikasi dengan Sang Pencipta supaya mereka diberi kekuatan lebih untuk bersabar lebih lama atas derita panjang yang mereka alami. Aku ngobrol bersama beberapa orang di sana,, senangnyaaa..bisa menjadi bagian dari orang yang mereka bagi kisah pilu mereka..huff,, semoga aku bisa jadi salah satu solusinya..

Senja merah meronai angkasa Cukul, rasa dingin menelusuk ke dalam sendi-sendi tulangku, ditambah semilir angin yang menyapa dan membisikiku “LIHAT IN, orang2 itu begitu kuatnya, hanya berumah bambu, tapi mereka tak mengeluh kedinginan” aku Tanya mereka “Pak teu tiris??meni nyecep geuning di dieu mah”, Sang Bapak hanya tersenyum “dah biasa neng..sok atuh sini Bapak bawain air kanggo sadayana”,aku mengikuti sang Bapak menuju rumah bilik miliknya..belakangan aku baru tau kalo perjuangan buat bikin air panas ini GA GAMPANG.. dan mereka dengan ramahnya membagi airnya itu untuk kami..persaudaraan yang membuatku terharu,,di sela kesulitan mereka, mereka masih mau berbagi..sebagia info bahwa, rumah2 warga memang banyak yang terbuat dari bilik bamboo, tapi, beberapa bagian yang terbuat dari bahan permanen semen dan genteng rusak, dan yang parah adalah fasilitas WC yang mereka bangun dengan swadaya mereka akhirnyaharus mereka tinggalkan untuk membetulkan rumah mereka yang rusak, dan WC2 yang ada beberapa amblas.

Hari kedua di Bumi Cukul, aku dapat begitu banyak pelajaran..terutama yang berknaan dengan fakta bahwa 4WI menyayangi kita melebihi apa yang kita duga..bahwa hanya sekedar buang air kecil, berwudhu, mandi, buang air besar, dan mencuci di tempat yang selayaknya, menjadi nikmat yang tak layak dilewatkan untuk disyukuri..hanya sekedar mendapatkan air bersih dan suci tapi juga mendapatkan tempat yang layak untuk melakukan itu semua..kita mungkin bisa dengan mudah mandi, nyuci alat makan, nyuci baju dengan air yang bersih, tapi mereka… mereka tidak wahai sahabat..dan itu kami rasakan sendiri, betapa untuk berwudhu saja Sulitnya bukan main. Shubuh buta, kami sibuk mencari dimana kami bisa berwudhu dengan layak tanpa ada keraguan apakah air yang kami gunakan bersih atau tidak,, tapi itu sulit, wc2 yang warga masyarakt tidak satupun yang memberikan kami keyakinan tentang itu.. buat wudhu sulit, buang air kecil sulit, buang air besar sulit, mandi apalagi..nah terus bagaimana dengan warga?? Di antara 4 WC yang kami kunjungi (heu..buat nyari mana yang bisa dipake), kondisinya hampir rata, air menggenang di bagian bawah tempat cuci/pipis/dll sekitar 1 meter, tempat ini warga gunakan untuk mencuci baju mereka dan anak2 mereka, mereka gunakan untuk buang air kecil, buat mandi, buat wudhu. Kalo air kencingnya nyiprat ke air bagian bawahnya bagaimana??kesehatan mereka bagaimana?minum? kesucian ibadah mereka??hmm.. trus BAB gmana??harus berjalan cukup jauh buat itu.. aku sndiri buat buang air kecil mending berjalan kira-kira 15 menit ke sekolah,baru menemukan tempat yang sedikit layak.

Melihat kehidupan masyarakat yang seperti itu, aku berpikir BETAPA KEHIDUPANKU JAUH LEBIH MUDAH DARI APA YANG MEREKA JALANI,,BETAPA 4WI MEMBERIKANKU APA YANG JAUH LEBIH KUBUTUHKAN tanpa aku pernah minta 4WI berikan air bersih buat aku pakai mncuci pakaian, atau kemudahan untuk mendapatkannya dan mendapat tempat yang layak buat itu, betapa aku dengan mudah membuat air minum biasa maupun yang hangat tanpa harus mengeluarkan usaha untuk mencarai kayu bakar, mmotong-motongnya dan menghidupkan api, mencari air bersih lalu memasaknya…huff, jika warga menjalaninya dengan penuh kesabaran dan keikhlasan, lalu apalah diriku yang diberi-Nya kemudahan yang begitu melimpah sementara apa yang aku berikan tidak sebesar apa yang mereka bisa berikan dengan segala keterbatasan yang mereka miliki..satu pikiran lagi yang menelusup ke dalam syaraf otakku adalah “JIKA GEMPA JABAR SAJA BEGINI APA KABAR GEMPA SUMBAR?? APAKAH BANTUAN SAMPAI KE PELOSOK DESA??APA KABAR MEREKA??”

Sahabat, bahwa setetes air yang 4WI berikan mengiringi hari2 kita, ternyata merupakan benda berharga yang patut untuk disyukuri, yang ternyata menjadi keterbatasan bagi sebagian yang lain. FA BI AYYI ALAAA I RABBIKUMAA TUKADZIBAAN.. FA BI AYYI ALAAA I RABBIKUMAA TUKADZIBAAN.. NIKMAT MANA LAGI YANG KAMU DUSTAKAN????? Mari bersyukur..dan salah satu cara mensyukurinya adalah MEMBERI APA YANG KITA RASAKAN KEPADA MEREKA YANG BELUM DIBERIKAN KEMUDAHAN UNTUK ITU.. rasanya akan bahagia sekali jika kita bisa berbagi supaya mereka merasakan kemudahan yang kita miliki,, menjaga kesehatan mereka, menjaga kesucian shalat dan ibadah mereka,, ya minimal menyelipkan do’a untuk mereka di sela-sela do’a kita, atau yang lebih real-nya adalah mungkin Sahabat memiliki usulan atau teknologi yang pernah didapat di kuliah atau dmana saja tentang bagaimana menyediakan sarana MCK yang LAYAK untuk mereka?? Insyaallah usulan yang ada saya akan sampaikan ke pihak2 terkait, dalam hal ini mungkin PM KM ITB dan KORSA SALMAN.. sangat diharapkan do’a dan partsipasinya..

oleoresin dari dipterocarpaceae_ayo Indonesia!!

  1. A. Oleoresin

Oleoresin adalah salah satu produk non-kayu yang merupakan perpaduan antara resin yang terkandung dalam pohon dengan minyak esensial. Resin sendiri merupakan fluida atau semua zat yang berpotensi menjadi pelarut yang terdapat dalam pohon dan biasanya memiliki fungsi untuk melapisi kayu pohon ketika terluka serta mencegah predator yang mengkonsumsi kayu pohon. Oleoresin, karena merupakan percampuran antara resin dengan minyak, kekentalannya lebih rendah daripada resin tunggal sehingga lebih sulit mengeras. Karakteristiknya yang penting adalah kemampuannya untuk mengawetkan kayu, terutama dari pengaruh cuaca, sehingga dapat digunakan untuk pembuatan pernis (Ankarfjard 1998).

Salah satu jenis minyak yang didagangkan bernama minyak gurjan merupakan oleoresin yang dicampur dengan oleoresin yang diperoleh dari Dipterocarpus alatusD. costatus, dan D. macrocarpus.  Minyak esensial yang terkandung di dalamnya terdiri dari dua jenis sesquiterpen, yaitu alpha  dan  beta gurjunen, selain itu terdapat pula alpha-humulen dan allo-aromadendren. Oleoresin yang diperoleh dari Dipterocarpus alatus dikenal juga mengandung minyak esensial yang disebut sebagai minyak keruing. Yang dijual dan diekstrak dari oleoresin induknya hanya dengan penyaringan sederhana tanpa pelibatan hidrodistilasi. Resin mengandung sejenis asam yang dapat dikristalkan, yaitu asam gurjun (C22H34O4),  namun tidak memiliki karakteristik seperti asam sama sekali seperti yang terdapat pada copaiba, resin yang mengandung sejumlah kecil nafta, yang bisa dibuang dengan ammonia  dan  0.08% alkohol. Sifatnya yang lain adalah mampu larut secara parsial di dalam eter, benzol atau sulfide dari karbon. Bagian resin yang tidak dapat larut memiliki sifat yang tak dapat dikristalkan. Sifat fisik yang lain adalah minyak ini dapat berfasa gel ketika mencapai temperature 130oC  dan dalam proses pendingan tidak mampu mengembalikan sifat fluidanya.

Sumber lain Oleoresin

Spesies pohon lain penghasil oleoresin dari Asia Tenggara adalah Dipterocarpus alatus dan D. tuberculatus yang banyak terdapat di Chittagong (Bangladesh), Andamans (India) dan Burma. Dipterocarpus alatus menghasilkan oleoresin yang mengandung 71.6% minyak volatil yang dikenal sebagai minyak kanyin yang dapat digunakan sebagai pengganti copaiba dalam pengotan penyakit gonorrhoea.

  1. A. Dipterocarpaceae

Dipterocarpaceae (Di = dua; ptero = sayap) atau Dipterokarpa adalah marga (mengacu kepada family) pohon tingkat tinggi yang memiliki buah bersayap dua sampai lima helai. Beberapa genera (mengacu kepada genus) yang termasuk Dipterocarpaceae adalah Shorea, Dipterocarpus, Dryobalanops, Anisoptera, Vatica, Parashorea, Hopea dan Cotylelobium merupakan genera penghasil kayu komersial (Ashton, 1982) yang dikenal dalam nama lokal secara berturut-turut sebagai meranti dan balau, kruing, kapur, mersawa, merawan, tebalun dan resak. Jenis Dipterokarpa merupakan jenis yang mendominasi kanopi hutan tropika basah dengan tinggi batang yang menjulang. Pada saat anakan, jenis-jenis Dipterokarpa adalah jenis yang butuh naungan, namun ketika terbentuk celah, anakan Dipterokarpa akan tumbuh dengan cepat. Saat mencapai usia dewasa, jenis-jenis Dipterokarpa memiliki masa berbunga dan berbuah yang bervariasi antara satu hingga enam tahun. Beberapa jenis Shorea, dan Hopea odorata di Bogor dilaporkan berbunga setiap tahun, namun jenis S. leprosula berbunga setiap empat tahun bahkan lebih. Biji Dipterokarpa merupakan benih rekalsitran, yaitu benih yang cepat kehilangan viabilitasnya, atau daya kecambahnya menurun dengan cepat. Perbanyakan jenis-jenis Dipterokarpa umumnya dilakukan dari bijinya dan dari anakan alam. Karena keterbatasan musim berbuah, perbanyakan secara vegetatif atau stek pucuk dapat menjadi alternatif dalam penyediaan bibit Dipterokarpa.(Adnan, 2008)

Dipterocarpaceae merupakan salah satu kelas dari pohon terpenting penghasil resin.  Pohon-pohon dari kelas ini pada umumnya memiliki penampakan tinggi lurus dengan batang pohon yang relatif seragam dengan keliling yang cukup besar.  Kayunya memilki resin dalam saluran vertikal yang berada dalam lingkaran konsentris  yang akan meneteskan oleoresin cair atau resin ketika bagian tersebut dilukai. Semua pohon yang termasuk kelas Dipterocarpus mengandung oleoresin dengan  kandungan fraksi minyak esensial yang terdiri dari hidrokarbon seskuiterpen. Kayu Dipterocarpus merupakan kayu dengan tingkat kekerasan medium yang biasanya digunakan untuk bantalan rel kereta api dan bahan konstruksi, namun terlalu padat dan terlalu berminyak  untuk dijadikan kayu gergaji kelas pertama dan kayu gelondongan.

Produk NTFP (Non-Timber Forest Product) yang dihasilkan oleh dipterocarpaceae:

Seperti yang diperlihatkan pada Tabel 1 bahwa pohon kelas dipterocarp tersebar di berbagai belahan dunia. Produk yang dihasilkannya juga sangat beragam. Adapun produk dipterocaroaceae yang akan dibahas adalah produk-produk yang sering dihasilkan di area Asia Tenggara seperti  resin, damar, camphor dan butter fat atau lemak mentega.

Resins

Dipterocarp merupakan sumber resin yang sangat penting. Resin tersebut disekresikan dalam kanal atau saluran khusus dan secara normal keluar melalui kulit kayu pohon. Resin berdasarkan fasanya terbagi menjadi 2 yaitu cairan resin yang mengandung material bersifat resin dan minyak esensial (oleoresin) berfasa stabil dalam bentuk cair serta memiliki aroma yang khas. Bentuk sintesisnya diperoleh dengan reaksi sintesis buatan. Jenis resin yang lain adalah resin dalam fasa yang lebih keras yang disebut damar  yang merupakan bentuk padat dari resin dan bersifat lebih rapuh dari resin dan dihasilkan dari pengerasan tetesan  yang diikuti oleh penguapan sejumlah kecil minyak esensial. Namun pengklasifikasian resin ini tidak selalu dipakai karena pada dasarnya damar dan oleoresin adalah sama sehingga istilah damar juga menunjuk pada oleoresin itu sendiri.

Tumbuhan bermarga  Dipterocarpus merupakan sumber utama penghasil  oleoresins. Genus lain penghasil oleoresin misalnya ShoreaVatica, Dryobalanops, dan  Parashorea. Seluruh spesies bermarga Dipterocarpus menghasilkan oleoresin dalam jumlah yang cukup besar dan datang dengan nama yang berbeda di setiap daerah misalnya minyak gurjan (India), minyak kanyin (Burma), dan  minyak  keruing  (Malaysia bagian barat). Satu jenis oleoresin  yang berasal dari D.turbinatus merupakan sumber utama minyak kanyin di Burma dan minyak gurjan juga Bangladesh dan India. Spesies pohon terbaik Dipterocarpus cornutus, D. crinitus, D. hasseltii, D. kerrii, dan D. grandiflorus (Malaysia), D. turbinatus, dan D. tuberculatus (India, Bangladesh, Burma), D. alatus (Bangladesh, Andamans, Indochina) dan D. grandiflorus (Philipina).

Camphor

Perdagangan camphor (yang dikenal sebagai camphor Borneo atau Sumatra (bhimsaini-kapur, barus kapur) termasuk perdagangan kuno yang sudah sering dilakukan pada masa lampau. Camphor digunakan terutama di China dan sumbernya adalah hutan Dryobalanops  aromatica (kapur) di utara dan timur Sumatra  dan  Johor. Spesies lainnya seperti  D.beccarii, juga menghasilkan camphor namun dengan jumlah yang lebih kecil. Camphor ditemukan dalam saluran atau celah dalam kayu berbentuk padat atau berwujud cairan cerah yang disebut sebagai minyak camphor . pohon ditebang, kemudian dipotong menjadi balok-balok dan dipisah menjadi baji-baji untunk mengambil champor. Seratus pohon dapat menghasilkan lebih dari 8-10 kg camphor padat. Dalam bentuk padatannya, champor berbentuk Kristal jernih dengan kepingan tembus cahaya. Penghasilnya adalah Cinnamomum  camphora, namun karakteristiknya lebih berat dari air dan tidak dapat menguap pada temperature ruangan, dan memiliki bau yang sangat tajam dan seperti bau terbakar. Champor dapat digunakan  sebagai  obat,  bahan parfum, dan  sintesis senyawa organic. Camphor  Borneo memiliki kandungan d-borneol yang hampir murni (C10H17OH, M.P. 209oC) dan memiliki nilai yang sangat tinggi dalam dunia obat di India. Bangsa Cina dan Jepang juga menunjukan bahwa obat dari minyak esensial dari kayu Camphora  officinalis memiliki nilai yang amat tinggi. Minyak tersebut dikonversi menjadi champor biasa dengan memanaskannya dengan asam nitrat mendidih (Balfour 1985,  WOI  1989a).  Dryobalanops  aromatica juga merupakan penghasil champor yang sekarang berganti nama menjadi Cinnamomum camphora dan digunakan dalam industri kimia karena champor dapat disintesis lebih murah daripada pinen

Butter fat

Produk non-kayu dari Kalimantan yang lain adalah butter fat. Spesies Shorea (tipe Pinanga) menghasilkan biji illip yang disebut engkabang dan tengkawang di Malaysia dan  Indonesia, biji ini dikumpulkan di hutan dari nbeberapa spesies seperti S. macrophylla, S. stenoptera, S. mecistopteryx, S.aptera dan  dan spesies lain yang berkaitan yang berada di area Sarawak dan Kalimantan(Tantra 1979). Penduduk asli Kalimantan mengekstrak minyak dari biji-bijian tersebut untuk membuat minyak memasak(Anderson 1975). Inti bijinya diekspor keEropa, Jepang dan Malaysia Barat. Lemak illip, memiliki lemak dengan titik leleh yang cukup tinggi sehingga dapat digunakan di dalam industri permen, khusunya untuk pembuatan cokelat. Lemak illip yang memiliki titik leleh yang tinggi tersebut ketika dicampur dengan lemak cokelat akan menghasilkan fasa solid pada temperature ruangan. Lemak illip juga dicampur dalam pembuatan produk kosmetik seperti lipstick. Biji-bijian illip memiliki harga yang tinggi sekitar US $2300-2700 per ton pada tahun 1980-an (Anon. 1985b), dan selama tahun puncak pembuahan, Kalimantan dapat ,mengekspor mencapai 50.000 ton (Wong Soon 1988)

Tannin

Daun dan kulit kayu dari beberapa jenis dipterocarps merupakan sumber tannin. Kulit kayu Hopea parviflora dari India merupakan contoh material yang dilakukan penyamakan yang baik sehingga menghasilkan material yang berkualitas terutama sekali ketika digunakan dengan bahan penyamakan  kulit kayu myrobalan dengan rasio 2:1 akan  dihasilkan tannin dengan kualitas bagus berrwarna cokelat kemerahan dan resisten terhadap jamur. Kulit kayu mengandung 14-28% tannin dan ekstrak berfasa padat,sebuah astringent dengan laju difusi yang rendah dan mengandung 70% tannin(Anon 1985a).

Kandungan kulit kayu Dipterocarpus  tuberculatus adalah 24%, dengan bagian daun muda mencapai 10-12% dan dapat digunakandalam penyamakan ringan langsung. Kandungan tannin dalam kulit kayu 7%, daun muda 20%, ranting dan daun 22%, dan debu bubuk 12%.  Hasil ekstrak fasa cair dari kuli kayu berwarna kemerahan pucat dan tannin merupakan tipe pirogalol.  Ekstrak tersebut digunakan  secara local untuk penyamakan dengan harga rendah atau dicampur dengan bahan penyamakan lain. Daun kering H. odorata mengandung  10% tannin dan digunakan dalam pengulitan. Buah Vateria indica mengandung 25% tannin.

Lak

Beberapa dipterocarps  diketahui  menarik serangga jenis Lacifer  lacca yang merupakan sumber dari lak.  Shorea  roxburghii, spesies ditemukan di Burma dan India, merupakan sumber yang memiliki harga tinggi di India Selatan, dan menghasilkan hasil panen yang luar biasa terutama jika diinokulasikan dengan Deverbettakusum, sebuah varietas dari Karnataka. Shorea talura merupakan sumber lain yang tidak kalah penting dari Karnataka, India (Krishnamurthy 1993) dan Shorea obtusa, spesies yang ditemukan di Burma, merupakan penghasil lak yang disebut Kusumi.

  1. A. Metode penyadapan
  2. a. Penyadapan secara tradisional dengan menggunakan api sebagai penstimulus pengeluaran oleoresin

Pada dasarnya penyadapan oleoresin dari pohon kelas Dipterocarpaceae jenis apapun dan di mana pun memiliki kesamaan. Metode  penyadapan secara tradisional ini dilakukan dengan tahapan sebagai berikut:

  1. Satu bagian kayu pohon dengan diameter minimal 45 cm,  bagian tengahnya dibuat lubang seperti yang ditunjukkan Gambar 1 dengan lokasi 1 meter di atas batas akar.
  1. 1. Beberapa hari kemudian, penyadap datang kembali ke pohon yang disadap, oleoresin akan mulai menetes dari pembuluh kayu dan terkumpul dengan sendirinya di dalam lubang yang telah dibuat. Kemudian, oleoresin yang terkumpul di dalam lubang digunakan sebagai bahan bakar untuk membakar permukaan lubang selama 2-3 menit untuk menstimulasi aliran oleoresin. Panen kedua dilakukan seminggu setelah pembakaran lubang. Setelah satu minggu, lubang dibakar kembali untuk membuat oleoresin terkumpul dalam lubang.

Waktu pemanenan oleoresin dan pembakaran dipertimbangkan sebagai sebuah siklus penyadapan oleoresin dengan rentang waktu antara  1 sampai 2 minggu dan diulangi sampai resin telah habis. Setelah 2 atau 3 kali pengulangan siklus, permukaan lubang dapat dibersihkan dari arang yang terbentuk akibat dari pembakaran dengan cara membuat lubang yang lebih dalam. Arang seperti yang ditunjukkan Gambar tersebut dapat menghalangi aliran oleoresin.

Penyadap lokal  di Kamboja melakukan kebiasaan untuk membuang daun kering, ranting-ranting, dan komponen-komponen mudah terbakar sisa peninggalan penyadapan yang ditemukan di bawah atau dekat  dengan pohon untuk mencegah terjadinya kebakaran hutan. Para penyadap lokal menegaskan untuk tidak melakukan tindakan sekecil mungkin dalam penyadapan oleoresin yang dapat menyebabkan kebakaran hutan. Beberapa penyadap resin memiliki cara tersendiri untuk mencegah bercampurnya air hujan ketika musim hujan ke dalam oleoresin yang mereka sadap,

Waktu yang biasa digunakan untuk pengumpulan oleoresin adalah bulan November-Mei. Pada bulan-bulan tersebut, sebuah pohon  dengan ukuran keliling 2 m  dapat menghasilkan 9 kg resin dalam satu musim.

Setiap wilayah di Asia Tenggara yang menggunakan cara tradisional rata-rata memiliki tahapan yang mendasar sama, yang berbeda hanyalah teknik-teknik pembuatan lubang, penentuan lokasi penyadapan, siklus pengambilan dan pembakaran, teknik pembuangan arang, dan waktu pengambilan oleoresin yang telah diperoleh.

Perolehan rata-rata penyadapan  pohon terbaik menghasilkan  180 liter per musim. Pada interval 3 atau  4 minggu, bagian permukaan lubang yang sudah tua dipotong dan bagian yang terbakar  dibakar sekali lagi kemudian dibersihkan. Pada umumnya penyadapan  dilakukan dari bulan November sampai dengan Februari dan pohon-pohon bekas sadap yang sakit diistirahatkan selama 1 sampai dengan 2 tahun.

  1. a. Penyadapan tradisional dengan menggunakan zat kimia

Pada dasrnya, penyadapan oleoresin dengan menggunakan zat kimia memiliki teknik dasar yang sama dengan penyadapan tradisional. Adapun perbedaannya terletak pada penggunaan zat yang digunakan untuk menstimulan pengeluaran resin.

  1. i. Penyadapan dengan menggunakan opium.

Berdasarkan informasi yang diperoleh dari para penyadap dari Pahmungan dan Gunung Kemala, opium pernah digunakan untuk merangsang pengeluaran oleoresin. Namun metode dan jumlah penggunaan opium sendiri tidak diketahui secara pasti, yang diketahui hanyalah sejumlah kecil opium dimasukan ke dalam sayatan sadapan satu minggu sebelum aliran oleoresin dimulai. Penggunaan opium memerlukan penanganan yang tidak mudah. Terjadinya overdosis opium yang ditambahkan dapat menyebabkan tetesan resin yang berlebihan yang disertai dengan bergugurannya daun sehingga berakibat pada kematian sang pohon.

  1. ii.            Penyadapan dengan menggunakan CEPA (2-Chlorosethylphosponic Acid)

Metode penyadapan untuk Shorea javanica dilakukan dengan bentuk lubang  segitiga atau semilingkaran yang diklasifikasikan sebagai ”boxsistem”. Seperti pohon bergetah yang lain, misalnya lateks Hevea, teknik untuk meningkatkan produksi resin dari Shorea javanica diharapkan memiliki pengaruh ekonomi yang signifikan. Penggunaan CEPA untuk diberikan ke dalam luka sadapan, atau melalui larutan yang disemprotkan ke daun-daunan, ditujukan untuk merangsang produksi oleoresin. Dalam kondisi dasar, CEPA terhidrolisis menghasilkan etilen yang diketahui dapat mempengaruhi kondisi psikologis tanaman. Sebagaimana diketahui bahwa etilen dapat menstimulus proses terbentuknya buah. Penanganan kimiawi dengan CEPA telah dibuktikan dapat meningkatkan produksi lateks Hevea, atau resin opium dari Papaver somniferum L. dan resin Pinus resinosa. Berdasarkan pengalaman tersebut, penggunaan CEPA untuk menstimulus oleoresin dari dipeterocarpaceae tidak ada salahnya digunakan.

Pohon yang naiv tidak meneteskan resin. Baik pengendalian maupun pengolahan luka sadapan ketika kering dalam setiap pohon naiv. Produksi pohon menunjukan secara statistic pertambahan signifikan 110% (P<0.031) dalam produksi tetesan resin dalam hasil dari penanganan secara kimia. Luka sadap yang tidak ditangani menghasilkan 5.3+ 5.9 gram resin, sedangkan sadapan yang diolah secara kimia menggunakan CEPA menghasilkan 11.2+ 10.2 gram resin.

Perbandingan kedua luka sadap tanpa CEPA baik itu kiri maupun kanan tidak menunjukan perbedaan berarti. Luka sadap sebelah kanan dan sebelah kiri menghasilkan resin sebanyak 3.6+ 3.8 gram dan 4.9+4.7 gram. Jika dibandingkan dengan perolehan resin yang disadap dengan bantuan CEPA, perbedaan secara signifikan tidak ditemukan, karena perolehan resin dengan bantuan tambahan zat kimia CEPA yang menghasilkan rata-rata 5.3+ 5.9 gram resin, tidak berbeda jauh dengan hasil tanpa CEPA yang rata-ratanya 4.2+ 4.2 gram resin.

  1. i.            Penyadapan dengan menggunakan asam sulfat

Asam sulfat yang digunakan untuk merangsang pengeluaran  resin memiliki rentang 0- 50%. Adapun teknis penggunaannya sama dengan zat kimia lain seperti CEPA dan opium.

  1. A. Metode pengumpulan oleoresin

Oleoresin yang disadap dari pohon dikumpulkan secara berkala berdasarkan siklus pembakaran (jika menggunakan cara tradisional dengan api sebagai stimulannya). Kemudian sebelum dijual ke pasar, oleoresin tersebut disaring dahulu dari pengotor, untuk kemudian dijual sebagai oleoresin atau diproses lebih lanjut untuk mendapatkan minyak esensial yang diinginkan. Adapun untuk mendapatkan minyak esensial, oleoresin dilarutkan dengan petroleum ether dan disentrifugasi. Lapisan supernatan dievaporasi akan menghasilkan minyak berwarna. Ketika dibiarkan dalam temperatur  kamar selama beberapa hari, minyak tersebut akan berubah menjadi cokelat. Purifikasi minyak dengan hidro-distilasi menghasilkan minyak kuning jernih dengan perolehan 80% dari minyak mentahnya.

Jika diinginkan komponen murni dari minyak esensialnya, lapisan minyak yang tadi diperoleh dikeringkan dengan menggunakan sodium sulfate anhidrat semalam dengan kondisi d25: 0.926, a25°: -241 (metanol), rentang temperature didih: 230° – 260°C. sebanyak 4 gram minyak dikromatografi dengan menggunakan silika gel yang dibalut dengan perak nitrat dan dielusikan dengan petroleum ether. Kolom dipersiapkan dengan melarutkan 10 g perak nitrat dalam sejumlah kecil dan ditambahkan 100 g silika gel (230-400 mesh) dan sejumlah air sehingga terbentuk pasta cair. Elusi dengan petroleum ether (40°- 60°) menghasilkan 2.85 g (71.3%) dari volum (minyak jernih tak berwarna), 0.12g (3%) of II (jernih tak berwarna), dan 0.63 g (15.8%) minyak kuning jernih.