sebuah Pilihan


Kamis, 23 Desember 2010

berdebarnya hati ini menunggu saat-saat yang kian dekat. Saat-saat yang mengharuskanku berhijrah dari Bumi Parahyangan ke kota lain yang sudah Allah tetapkan. Aku merasakan betapa kerisauan itu muncul dan betapa kegelisahan ini semakin menjadi. Aku merasakan kesedihan yang kian hari kian bertambah pasti, meskipun di balik itu, aku mengharapkan penghidupan yang luar biasa di mana saatnya aku bergerak maju. Aku tidak bilang sekarang aku tidak maju, sama sekali tidak, takdir yang Allah pilihkan untukku kini juga menambah kekuatanku meskipun dari sisi kehidupanku yang lain. Takdir yang Allah pilihkan yang aku percayai kesempurnaaNya dalam mengatur hidup semua makhlukNya termasuk diriku. Meskipun kusadari aku belum sepenuhnya menjadi hambaNya yang luar biasa yang bisa menjelmakan keimanan dalam diriku menjadi sesuatu yang nyata dan signifikan.

Inilah pilihanku, dengan segala konsekuensi yang akan aku tanggung, termasuk berpisahnya dari komunitas yang selama ini menjadi bagian hidupku, yaitu asrama. Pilihanku kini mengharuskanku hidup sendiri tanpa dibersamai sosok-sosok lain yang biasanya selalu bisa membuatku merasa kuat. Pilihanku ini justru mengharuskanku meninggalkan lingkaran cahayaku di sini dan meninggalkan lingkaran cahaya adik-adikku yang sampai kini sudah begitu melekat di hati. Yang kurasakan dengan kehadiran mereka Allah menjadikanku lebih kuat. Pilihanku ini justru membuatku meninggalkan adik2 kecilku di asrama Etos, padahal sekarang sudah sepenuhnya aku bisa menelusuk ke dalam jiwa Etos itu sendiri. Aku akan menjadi bagian dari kenangan mereka yang menyusun artefak hidup mereka. Pilihanku ini justru membuatku juga meninggalkan adik2 di asrama Salman. Ah,, adek2ku yang satu ini, sudah lama tak kudengar detail cerita mereka, hanya satu dua saja yang masih sering mengirimkan sapa kabar. Tidak ada dalam ceritaku, memori bertahun-tahun bersama kalian terhapus, semuanya mengakar begitu kuat dan memberi arti tersendiri yang pasti memiliki harga yang tak ternilai, karena saking mahalnya.

Potongan-potongan kenangan bersama kalian kusimpan dengan sangat baik, dan akan kutitipkan pada Allah Sang Penjaga Kehidupan untuk membuat kalian semua tetap bersinar terang meskipun kakakmu ini akan menjadi bagian kehidupan yang lain, dan kalian juga akan diisi oleh bagian kehidupan yang lain.

Ahh,, kehidupan. Memang begitulah kodratnya berputar dan terus berputar. Mengisi relung sosok-sosok manusia yang menghuni bumi dengan segala kompleksitasnya. Dan putaran itu tak bisa berhenti, tak bisa diputar balik, yang menjadi tugas manusia adalah mengisinya dengan segala bentuk upaya terbaik serta memetik hikmah dari perputaran yang dialaminya menjadi potongan2 puzzle yang membuatnya semakin dewasa, semakin bijak, dan terutama semakin bertaqwa.

 

 

About iinparlina

Seorang Insan manusia yang diciptakan Allah dengan segala kekurangan dan kelebihannya, yang mencoba menjadi seorang yang dicintaiNya, dan salah satu cara yang dilakukannya adalah dengan menulis, membagi sedikit sekali ilmu yang dimilikinya. Meskipun sedikit, dia berharap dari yang sedikit itu, ilmu itu bisa bermanfaat untuk orang lain sebagaimana dia pun membutuhkan Ilmu untuk membuatnya bisa menjejakan kakinya di surga.

Posted on December 23, 2010, in riak-riak jiwa. Bookmark the permalink. 2 Comments.

  1. lhoh, teteh mau kemana????😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: