Bapak tua….


Ternganga wajah itu. Menengadah ke langit biru seolah meminta kebesaran Sang Pencipta untuk membuatnya bisa memenuhi apa yang tersembul di asanya. Kerut wajahnya nampak sangat jelas, seolah menjadi ketegaran yang menjadi saksi atas bertahun-tahun perjuangan yang dilakukannya. Matanya menatap kosong, pilu karena merasa tak mampu, tak mampu menanggung beban lebih dari ini, dan ingin rasanya dia pergi dari sejuta masalah yang menimpa dia dan keluarganya… argh..lelah, sejuta lelah dia rasa..lelah yang terasa sedemikian menghimpit nalurinya yang ingin merasakan bahagia. Ingin merasakan kegembiraan yang biasa menghampiri manusia, kebahagiaan yang terasa direnggut sejumput kesombongan penguasa, kebahagiaan yang dirasakannya tak pernah menjadi bagian dari hidupnya.. iri dia, letih dia dalam menanggung beban hidupnya..

dengan wajah kuyu dan energi yang terasa terserap kekawatiran-kekawatiran yang muncul dan tak bisa dikendalikannya, dia mengayuh, memutar roda kehidupan yang dijalaninya. Bukan satu atau dua tahun melainkan berpuluh-puluh tahun dijalaninya kehidupan yang rasanya sulit ini. Tiada daya, tiada upaya.. hanya mengandalkan hasrat yang ada dalam jiwa untuk menjemput secercah kehidupan yang bisa dia berikan untuk anak dan istrinya. Meski peluh basah membuat kulitnya berkilat, meskipun dahaga menyerang jiwa dan raganya, dan meskipun getir perjuangan yang dilakukannya, namun dengan sangat sadar dia harus melakukannya, harus menjalaninya.. tapi,, apakah tiada kebaikan Tuhan menyapa dirinya,, begitu pikirnya. Betapa dia harus menjalani peran ini sementara orang lain menjalani peran yang lebih baik dari dirinya. Kepalanya dipenuhi tanda tanya kenapa dan ohh mengapa kemiskinan yang harus memilihnya menjadi bagian hidupnya? Kenapa bukan orang lain saja..

kehidupan sedemikian kejamnya, ketika setiap orang mencari celah untuk bisa mendapatkan kesempatan berharta dengan jalan apa saja, sementara di sisi lain banyak orang seperti dirinya yang merasakan akibat roda kehidupan yang ntah baginya tak pernah berubah posisinya.. selalu di bawah dan selalu di bawah..

tapii,, jauh di lubuk hatinya, ia sadar, betapa peluh dan lelah ini akan menjadi nilai yang bahkan orang berdasi pun bisa jadi tidak akan memilikinya. Meskipun kadang rasa iri menyapa, rasa letih yang kadang mengusik keikhlasan yang dia miliki selama ini. Hanya kadang rasa sebal menggeluti benaknya ketika dilihatnya para pemimpin bangsa yang kaya ini bersenang-senang dengan gelimang harta yang menjadi hak rakyatnya…

argh,, bangsa ini kapankah bisa gemilang seperti yang seharusnya?? batin si Bapak tukang becak itu..

wahai Bapak, sungguh ada dalam benak kami,, untuk menjadi bagian dari solusi permaslahan bangsa ini.. sehingga tiada rasa sakit menghimpit batin kalian lagi. Maka doakanlah kami agar istiqamah dengan prinsip kebenaran sejati dan benar2 membuat Indonessia gemilang seperti yang seharusnya.

About iinparlina

Seorang Insan manusia yang diciptakan Allah dengan segala kekurangan dan kelebihannya, yang mencoba menjadi seorang yang dicintaiNya, dan salah satu cara yang dilakukannya adalah dengan menulis, membagi sedikit sekali ilmu yang dimilikinya. Meskipun sedikit, dia berharap dari yang sedikit itu, ilmu itu bisa bermanfaat untuk orang lain sebagaimana dia pun membutuhkan Ilmu untuk membuatnya bisa menjejakan kakinya di surga.

Posted on January 22, 2011, in riak-riak jiwa. Bookmark the permalink. 3 Comments.

  1. Amiin..!!

    Gpp kan ngedoain, walo aku bukan bpk2..
    Heu

  2. kalo orang jawa bilang, “urip kuwi mung sawang sinawang”. Seorang tukang becak melihat begitu enaknya menjadi pedagang ato pejabat. Namun, tidak jarang juga orang yg berharta melimpah menginginkan hidup sederhana di desa, seperti tukang becak ato petani. Meski orang-orang kecil tersebut hidup seadanya, mereka bisa hidup dg ketenangan, makan dengan lahap dan nikmat. Bandingkan dgn sbagian orang2 kaya yang tidak bisa makan ini itu karena pantangan penyakitnya, terus dikejar nafsu menambah hartanya, smua serba duniawi. Hidup pun terasa kering tak bermakna.
    Beruntunglah bagi mereka yang miskin dan tetap bersyukur. Tidak larut dalam peliknya hidup. Yang ada hanya terus berusaha dan berdoa. Beruntunglah bagi mereka yang kaya dan ahli syukur. Hartanya yang banyak tidak lantas membuatnya lupa akan Sang Pemberi kekayaan itu. Justru semakin mendekatkan diri pada-Nya.

    *maaf, komennya kebanyakan, hehe…

    • a great comment Nur. benar, rumput tetangga memang selalu terlihat lebih hijau. kita mungkin selalu berpikir kehidupan orang lain lebih nyaman dari kita, padahal setiap manusia diberikan kehidupan terbaiknya, dmana satu dengan yang lainnya saling melengkapi. betapa tidak beruntung jika tidak ada tukang sampah di muka bumi ini, tidak ada pedagang, betapa aneh kehidupan jadinya jika semua orang tidak punya kekurangan..setiap orang punya kebahagiaan yang diperolehnya dengan cara masing-masing. dan benar bahwa hal itulah yang patut kita syukuri.

      yosh!!! be the best aja ah yaa.. toh klasifikasi manusia yang Allah lihat kan takwa-nya^___^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: