Ibu dan Tokyo Tower


Air mata ini mengalir begitu deras.. mengalir dan mengalir, membawa segenap memoriku bersama sosok paling berharga dalam hidupku,, Ibu…

pemicunya satu, ini karena aku menonton film Tokyo Tower yang kata orang bisa membuat menangis.. dan benar sekali, film ini berhasil membuatku mengeluarkan air mata bahkan dari episode pertama..

Apa pasal?? pesan yang dibawa film ini yang mengingatkanku pada Ibu dengan segala kebaikannya telah menyihir kelenjar air mata beserta ikutan emosi yang membuatku merasa begitu sangat mengagumi Ibu.. ahh.. tidak bisakah kuingat segala kebaikannya setiap saat tanpa harus ada pemicu tertentu, aku menyesalkan diriku yang merasa begitu dangkalnya sayangku kepada Ibuku..

Sinopsis cerita film jepang ini mungkin sudah banyak dibahas, aku hanya ingin mengungkapkan apa yang aku terima menjadi sebuah dokumentasi tulisan yang bisa membuatku terus mengingat apa yang kudapat ini seumur hidupku.

Dari sebuah keluarga sederhana Ma-kun (sang anak) dan Okan (sang Ibu: kependekan dari Okasan:Ibu dalam bahasa Jepang) hidup dengan penuh perjuangan. Sang Ibu yang berjuang menghidupi keluarga dan menyekolahkan anaknya, harus ikhlas melepaskan sang anak untuk meraih cita-cita di kota besar. Perasaan ingin bersama yang dibalut perasaan untuk membiarkan sang anak berkembang dengan jelas tersurat dalam kisah ini. Bagaimana sang Ibu setiap saat mengingat Sang Anak dengan segenap kasih sayangnya, berjuang tak kenal lelah untuk dapat memberikan uang kepada Sang Anak yang hidup di kota…ini semua mengingatkanku akan kisahku ketika melepas masa SMU dulu. Ketika aku bersikeras ingin pergi berjuang ke Bandung, seorang diri meninggalkan Ibu dan segenap keluargaku dan mencoba hidup sendiri dan mandiri mengejar impianku..kuingat betapa setiap hari Ibuku tak lupa mengingatkanku untuk tidak lupa makan dan berhati-hati…meskipun alur ceritaku tidak sama seperti Ma-Kun yang sempat mengalami persimpangan jalan ketika tahun pertamanya kuliah, tapi aku tetap bisa merasakan betapa besarnya rasa kawatir Ibu padaku ketika itu..

Pun ketika lulus kuliah aku tak segera kembali ke rumah, hanya sesekali pulang menjenguk rumah ketika selang waktu yang ada.. ahh kupikir betapa tidak berbaktinya aku. Dalam memilih pekerjaan pun, Ibu memintaku tidak pergi ke luar dari Jawa Barat. Hanya Jakarta, Bogor, dan Bandung serta daerah sekitarnya yang diizinkan menjadi sasaran tempatku bekerja. Bukan apa2,, ini supaya aku bisa mudah pulang..

Akhirnya Jakarta-lah yang menjadi tempatku berlabuh, mencari kesempatan untuk bisa mengamalkan ilmu yang kupunya dan menjadikanku sebagai salah satu rahmat bagi alam,,ahh..meskipun sampai sekarang aku belum merasa seperti itu.

Yang kuingat dari kata-kata Ibu ketika mengetahui keputusanku untuk hijrah ke Jakarta adalah.. “dan bahwa iin akan hidup terpisah dari Ibu..”..bukan aku tak ingin bersamamu,, bukan ku ingin jauh darimu, hanya saja aku merasa, untuk tinggal di kampung halaman, aku merasa aku tidak bisa berbuat banyak, tidak bisa berbuat maksimal…dan kuingat bahwa Ibu mengizinkanku dengan isak air mata.. isak tangis yang penuh kasih sayang dan kekawatiran akan nasib anaknya.. kuingat yang bisa kujanjikan saat itu adalah bahwa aku akan bisa menjaga diri, bahwa aku akan dilindungi Allah, da dengan doa tulus Ibu, aku akan bisa mewujudkan cita-citaku…

Sampai sekarang, aku masih bisa bertahan,, entah sampai kapan,,, aku tak tahu, hanya saja, kurasakan bahkan hingga kini, aku belum bisa memberikan kebahagiaan yang sesungguhnya untuk Ibu, malah hanya memberikan kekawatiran dan kecemasan..segala bentuk kerepotan mengurusiku yang nakal ini..Ibu, maaf jika selama ini baktiku padamu hanya msih seujung kuku..

klimaks dari film Tokyo Tower yang membuatku sampai tersedu adalah ketika Sang Ibu terkena penyakit kanker dan meninggal. Suatu perasaan yang menyesak di dalam dada yang membuatku berpikir, waktu yang kumiliki bersama Ibu sangat terbatas, ntah itu aku yang dijemput terlebih dahulu atau ntah beliau yang terlebih dulu..namanya kematian, tidak bisa diprediksikan.. hanya saja begitu menyesakkan ketika aku secara otomatis terbawa emosi ketika membayangkan bahwa jika nanti aku harus menghadapi kematian Ibu,, ahh.. aku tidak tahu akan seperti apa nanti, hanya saja membayangkannya saja aku tidak berani. Menghadapi sosok yang membesarkanku dan memberikan segenap kasih dan sayangnya kepadaku dengan sepenuh jiwa raganya dalam kondisi tidak bernyawa,, aku tidak tahu apakah aku bisa menghadapinya nanti?? tapi yang jelas, sekarang saja membayangkannya saja, seruak kesedihan yang meluap kian tampak,, aku takut.. aku takut kehilangan Ibu,,

Allah, aku mungkin egois, yang mengharapkan aku bisa hidup bersama Ibu dalam waktu yang lama. Sampai aku menikah, mempunyai anak atau cucu,, namun kusadari bahwa baik aku maupun Ibuku adalah makhluk ciptaanMU yang bisa Kau cabut kehidupannya sewaktu-waktu,, aku tidak tahu berapa lama waktu yang Kau berikan untukku bersama Ibuku. Namun yang kuminta kini adalah bahwa semoga di sisa waktu yang tersedia aku bisa membahagiakannya, menjadi anak kebanggaannya di dunia juga di akhirat. Sungguh tiada daya dan tiada upaya, hanya Allah-lah yang berkehendak..

love you mom… love you so much

Allah, allow me to give happiness to my mom..

Advertisements

About iinparlina

Seorang Insan manusia yang diciptakan Allah dengan segala kekurangan dan kelebihannya, yang mencoba menjadi seorang yang dicintaiNya, dan salah satu cara yang dilakukannya adalah dengan menulis, membagi sedikit sekali ilmu yang dimilikinya. Meskipun sedikit, dia berharap dari yang sedikit itu, ilmu itu bisa bermanfaat untuk orang lain sebagaimana dia pun membutuhkan Ilmu untuk membuatnya bisa menjejakan kakinya di surga.

Posted on May 18, 2011, in riak-riak jiwa and tagged , , . Bookmark the permalink. 2 Comments.

  1. Haha, akhirnya nonton juga. :p
    Aku suka episode awal2 doang teh, hmm 1-3. Kalau akhir-akhir, boleh lah, tapi nggak se-wah 1-3.

    Coba sinetron indonesia kek gitu, pasti banyak yang nonton. 🙂 #Sayangsekali

    • hehe.. iya, yang awal2 itu memang bikin nangis banget,, tengahnya kurang gimanaa gitu, akhir2 bikin nangis juga sih,, soalnya ga ngebayangin kalo “ibu kita” meninggal,, heuheu..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: