Oleh oleh “pasar karbon” dari Hotel Sari Pan Pacific


Resume Materi “Workshop New Market Mechanism Possibilities For Climate Change Mitigation Beyond 2012 (Indonesia’s Perspective and Japan’s Experiences)”,

Hotel Sari Pan Pacific, Jakarta, 20-21 Juli 2011

Mekanisme Pembangunan Bersih atau Clean Development Mechanism (CDM) adalah salah satu aturan dasar yang ditetapkan oleh masyarakat internasional berkaitan dengan pengurangan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) yang menjadi permasalahan yang menjadi bahan pembicaraan dunia internasional yaitu pemanasan global (Global Warming) atau Perubahan Iklim (Climate Change). Sementara periode CDM akan berakhir pada tahun 2012 dan belum ada keputusan akankah mekanisme ini dilanjutkan atau tidak, namun demikian, Indonesia telah membuat sebuah komitmen dalam mengurangi emisi GRK sebanyak 20 % dengan usaha sendiri dan dengan bantuan internasional sebanyak 41% pada tahun 2020. Indonesia sebagai salah satu Negara berkembang yang tergabung dalam Negara non-Annex I yang meratifikasi Protokol Kyoto memiliki potensi yang sangat besar dalam memanfaatkan CDM ini. Sebesar apapun potensi Indonesia dalam CDM, jika Indonesia tidak tanggap dan mengetahui mekanisme pasar yang diakui internasional maka potensi tersebut tidak akan diakui secara global. Oleh karena itu adalah sebuah kebutuhan bagi Indonesia untuk mengetahui mekanisme pasar internasional mengenai pengurangan emisi tersebut secara komperhensif, baik itu keberlanjutan CDM atau mekanisme pasar karbon lain yang dibuat oleh internasional ataupun dibuat secara lokal seperti yang dicontohkan Jepang dengan J-VER dan J-VEST nya.

Dalam mengantisipasi ada atau tidaknya CDM setelah 2012, beberapa Negara di dunia melakukan analisis dan bahkan scenario dan antisipasi untuk menghadapi segala kemungkinan yang terjadi. Misalnya, adanya mitigasi yang berbasis market, dan berbasis non-market. Kegiatan mitigasi perubahan iklim yang berbasis marjet seperti kita ketahui ada yang berbentuk CDM, ada yang berbentuk Voluntary Market  atau VCM, dan yang masih terus didiskusikan adalah Pasar Karbon Ideal Masa Depan. Sementara itu, mitigasi berbasis non-market bisa berupa pendanaan nasional, investasi swasta, pendanaan dari luar negeri, kebijakan misalnya fiscal dan insentif, dan Philantropic Contribution  baik itu dari perusahaan maupun NGOs.

Adapun skenario yang telah dianalisis tentang perpanjangan CDM ini di antaranya adalah:

  1. Skenario ideal: yaitu perpanjangan CDM setelah 2012, serta adanya keterkaitan dan tidak adanya miss antara komitmen pertama dengan komitmen kedua dalam Protokol Kyoto
  2. Skenario tidak ideal: yaitu skenario LCA, di mana terdapat mekanisme baru seperti NAMA (Nationally Appropriate Mitigation Action), REDD (Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation).
  3. Skenario paling buruk: Tidak adanya komitmen dan kerjasama multilateral yang terjadi, Negara maju hanya akan menggunakan kerjasama bilateral dan regional untuk memenuhi target mereka.

Dan yang harus Indonesia lakukan adalah “strengthening carbon market fundamentals while participating in shaping the global market would best suit Indonesia”.

Dan mengenai hal ini, ada contoh yang cukup baik yang dimiliki Jepang yang bersedia membagi informasinya kepada Indonesia. Mekanisme pasar karbon yang dimiliki oleh Jepang tersebut adalah  Japan- Verified Emission Reduction (J-VER) dan Japan Voluntary Emission Trading Scheme (J-VETS).

Skema J-VER ditetapkan untuk mendorong proyek-proyek reduksi Gas Rumah Kaca melalui penjualan kredit Karbon yang dittapkan Menteri Lingkungan Jepang pada November 2008. Dalam memenuhi standar internasional, skema J-VER dirancang dengan proses verifikasi dan sertifikasi yang berdasarkan ISO14064-2, 14064-3, dan ISO14065.

Sementara J-VETS yang merupakan skema perdagangan yang diluncurkan oleh Menteri Lingkungan Jepang pada bulan Mei 2005 memiliki tujuan untuk melihat ukuran tertentu dan biaya efisien dari pengurangan emisi serta mengumpulkan pengetahuan dan pengalaman dalam dunia ETS domestic. J-VEST dilengkapi infrastruktur berupa: petunjuk monitoring, reporting dan Verifikasi (Sistem MRV), insentif sebesar sepertiga dari biaya aktifitas penurunan emisi GHG, system manajemen emisi, dan registrasi untuk tunjangan. Satu dari kontribusi yang diberikan J-VEST adalah terbangunnya infrastruktur dasar yang telah disebutkan sebelumnya yang sangat dibutuhkan untuk kelancaran operasi .

Berdasarkan pengalaman yang disharing Jepang tersebut, sudah seharusnya Indonesia juga mengambil tindakan atas kemungkinan kemungkinan yang akan terjadi di masa depan, termasuk di dalamnya mekanisme perpanjangan CDM atau justru membuat system pasar karbon domestic sendiri atau bisa juga melaksanakan kerjasama dengan pasar karbon domestic yang telah ada melalui mekanisme kerjasama bilateral atau regional. Diperlukan kordinasi dari berbagai stakehaolder yang berperan dalam hal tersebut untuk bisa menentukan langkah Indonesia ke depan.

About iinparlina

Seorang Insan manusia yang diciptakan Allah dengan segala kekurangan dan kelebihannya, yang mencoba menjadi seorang yang dicintaiNya, dan salah satu cara yang dilakukannya adalah dengan menulis, membagi sedikit sekali ilmu yang dimilikinya. Meskipun sedikit, dia berharap dari yang sedikit itu, ilmu itu bisa bermanfaat untuk orang lain sebagaimana dia pun membutuhkan Ilmu untuk membuatnya bisa menjejakan kakinya di surga.

Posted on July 23, 2011, in teknik kimia.... and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: