Makanya Jangan Su’udzon


Kisah 1

Seorang Ibu di sebuah masjid memarahi seorang remaja yang tidak mau menggeser shaf ke arah sang Ibu. Alasannya adalah bahwa sang remaja tahu bahwa shaf sholat dimulai dari tengah bukan dari pinggir. Ia yang mencoba melaksanakan apa yang diketahuinya itu meminta  Sang Ibu yang bergeser ke arah dirinya sehubungan lebih mudah menggeser Ibu ke tengah dari pada menggeser beberapa orang Ibu lain yang sudah rapi berderet di tengah dengan rapi. Ibu2 yang lain di sampingnya juga meminta Ibu yang cuma satu itu yang bergeser. Ternyata  Sang Ibu malah marah dan menarik paksa lengan sang remaja sembari mengucapkan kata-kata yang ga kasar sih tapi keras sampai membuat para jamaah pria di depan sontak menengok ke belakang. sang remaja malu bercampur kesal, namun akhirnya mengalah. Mengalah tapi kesal.. karena merasa tidak bersalah.

Kesal? manusiawi sih,, tapi coba dipikir dengan jernih dan bijak. Ibu tersebut mungkin berpikir bahwa shaf shalat harus rapat, dan yang ia tahu adalah mulai shaf dari pinggir. dan itu yang dilakukannya sekuat tenaga sampai akhirnya keluarlah amarah dan perlakuan kasarnya kepada sang remaja. Mengontrol emosinya yang kurang itu mungkin yang salah,, sang Ibu yang cacat bungkuk tersebut mungkin hanya tahu itu saja. Sang remaja yang punya pengetahuan lebih harusnya lebih bijak.. ya sudahlah.. ikhlaskan..mungkin ada hal yang sangat mendasar yang dimiliki sang Ibu sampai beliau berbuat demikian.

Kisah 2

Tiga menit sebelum ashar berkumandang, seorang remaja menghentikan tilawahnya dan bermaksud mendengarkan adzan ashar. Dia meletakan Al Quran-nya di bantalan kaki hijab yang lebih tinggi posisinya dari lantai.  tak dilihatnya kacamata yang diletakkan seorang Ibu di lantai di bawah bantalan kaki tersebut. Sang Ibu dengan nada agak tinggi “itu kacamata saya!!!!”, sembari mengusap2 kaca matanya dan memindahkannya ke sisi yang lain. Sang remaja dengan nada yang coba direndahkan menjawab “tidak saya timpah kacamatanya, Bu. saya letakan Quran saya di sini sementara kacamata ibu di bawah. Lagipula ini quran kok Bu”  tapi nampaknya sang Ibu tidak mendengar. sang remaja pun mengelus dada.

Coba pikirkan, bisa jadi bagi sang Ibu tersebut, kaca mata itu dibeli dengan harta berharganya. karena tidak semua orang diberikan kelebihan harta bukan? Bisa jadi kalau itu rusak, sang Ibu tidak akan mampu membeli kaca mata yang sama, padahal kaca mata tersebut sangat dibutuhkannya untuk bekerja.

Tidak ada alasan lagi untuk berburuk sangka bukan?? dan Allah Maha Terbaik, termasuk dalam Memberikan Pelajaran

 

About iinparlina

Seorang Insan manusia yang diciptakan Allah dengan segala kekurangan dan kelebihannya, yang mencoba menjadi seorang yang dicintaiNya, dan salah satu cara yang dilakukannya adalah dengan menulis, membagi sedikit sekali ilmu yang dimilikinya. Meskipun sedikit, dia berharap dari yang sedikit itu, ilmu itu bisa bermanfaat untuk orang lain sebagaimana dia pun membutuhkan Ilmu untuk membuatnya bisa menjejakan kakinya di surga.

Posted on November 3, 2011, in riak-riak jiwa. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: