Cerita Gadis Kecil dan Semangat Cita Cita


Bismillahirrahmanirrahim

Izinkanlah di sini kuceritakan sebuah kisah tentang seorang gadis kecil. Gadis kecil yang dibesarkan dengan cinta dan kasih sayang yang berlimpah dalam kondisi keterbatasan yang membuatnya memiliki semangat untuk berbuat lebih dan berbuat banyak, sebagai bukti bahwa keterbatasan yang dimilikinya tak menjadi penghalang dalam upayanya mengejar cita-cita.

Gadis kecil ini hidup di lingkungan desa dengan kualitas udara yang masih sangat bersih. Dibesarkan di bawah kicauan burung  yang mengiringi riang kehidupannya, tumbuh di bawah langit biru yang berkenan menaungi wilayahnya yang subur, sehingga tak heran pertanian merupakan mata pencaharian utama di tempatnya.

Dengan kondisi yang serba terbatas, dia berhasil mengenyam pendidikan bahkan hingga SLTA dengan prestasi yang cukup terbilang bagus. Ada dorongan internal yang menggebu dalam dirinya dengan segala yang hanya dia punya, menggebrak dan membuktikan kepada dunia bahwa anak petani yang kurang berada seperti dirinya mampu mengenyam pendidikan yang bisa meningkatkan kualitas kehidupan dirinya dan keluarganya. Ada kekuatan yang sangat besar dalam dirinya hingga dia bisa menaklukan semua halang rintang yang menghalanginya dari cita-citanya.

Namun sayang, ada satu kesalahan fatal yang dilakukannya yang mempengaruhi kehidupannya selanjutnya, yang membuatnya kehilangan kekuatan yang sampai tahap SLTA masih dimilikinya. Dia salah mendefinisikan cita-citanya. Apa yang salah?? Salahkah dia ingin sekedar menjadi guru? Orang yang berguna bagi bangsa dan negaranya? Mengenyam pendidikan tinggi –sebutlah Itb?? Nampaknya mungkin tidak ada yang salah, namun pada kenyataannya, kesalahannya mendefinisikan cita-cita pada tahap menjadi guru, berguna bagi bangsa dan Negara, dan mengenyam pendidikan yang tinggi adalah sesuatu yang abstrak dan tak menyimpan kekuatan yang membuatnya bahkan bisa menjadi lebih dari sekedar itu. Jika ditelusuri sebenarnya sih agak wajar karena gadis desa yang jauh dari hiruk pikuk obsesi tinggi yang layaknya ditemukan diperkotaan sama sekali tak mengisi kepalanya dengan obsesi obsesi yang jauh lebih tinggi. Meskipun disadarinya masyarakat di sekitarnya adalah golongan menengah ke bawah, sejauh dia melihat bahwa mereka bahagia, maka tidak menjadi satu masalah berarti yang harus dicari solusinya. Hanya perkara bahwa dia adalah salah satu dari golongan menengah ke bawah itu yang membuat dia terus maju dan melangkah mencapai perguruan terbaik yang diimpikannya, ITB. Soal nilai-nilai Islam, yang dia tahu hanya sedikit, terlalu hanya sedikit, meskipun Alhamdulillah keluarganya meskipun tak berada, memiliki kesadaran yang sangat tinggi untuk melaksanakan kewajiban seperti shalat dan kewajiban ibadah mahdhah lainnya. Namun kamu tahu?? Tentu ini saja sangat tidak cukup. Mana nilai2 ukhrawi yang membuatnya mau mengejar surga?? Konsep yang selama itu terbenam di kepalanya adalah bahwa melaksanakan kewajiban ibadah saja bisa membuat masuk surge. That’s it.

Jadi, ketika waktu terdekatnya untuk mencapai cita-citanya itu kemudian sampai, maka kekuatan yang dimilikinya menjadi semakin berlipat dan semakin berlipat. Sedemikian besar sedemikain besar hingga dia mampu mampu menelan berbagai buku soal. Bahkan buku merah terbitan epsilon grup bandung yang berisikan soal soal UM, UMPTN, SIPENMARU, SPMB dari tahun 1972 bahkan sampai 2003 telah habis dibantainya. Jangan Tanya soal rumus kaidah loncat trigonometri, jurus dodet limit tak hingga, atau bahkan siklus hidup cacing pita, cacing hati, bahkan plasmodium bisa dengan baik dihapalnya bahkan hingga kini setelah 7 tahun berlalu.

Dalam penantian hasil, peningkatan keimanannya luar biasa, dan di sanalah sebuah titik balik kesadaran beragama yang berhasil ditemukannya sendiri dengan hidayah Allah. Di sanalah pertama kali dalam hidupnya merasa sedemikian dekat dengan Al Quran, meskipun sehari-harinya, dia terbiasa mengaji. Di sanalah pertama kali disadarinya bahwa Al Quran yang dibacanya memiliki makna yang sedemikian luar biasanya yang membuatnya tergugah untuk mengetahui lebih dalam, sehingga terucap harapan kepada Rabb-nya. “ya Allah izinkan aku masuk ITB, karena bisa jadi dengan kombinasi keilmuan yang mendalam dipadu dengan pemahaman Islam yang kuat, maka aku bisa menjadi orang yang lebih baik. Izinkan aku hijrah ke sana ya Rabb..”. begitulah doanya, apalagi ketika kesempatan untuk mengunjungi masjid Salman ITB berpadu dengan hati kecilnya, jadilah ia semakin bersemangat untuk bisa masuk menjadi bagian dari orang-orang di masjid itu.

Saying sungguh disayang. Cita-cita nya tercapai sudah untuk masuk ITB dan menjadi bagian dari masjid Salman. Sesudah itu? Dia kemuadian harus mendefinisikan impian barunya. Reorientasi kembali dan menggali kembali kekuatan dalam dirinya yang membuatnya bisa mencapai cita-cita barunya. Salah?? Tidak salah? Ada berbagai factor yang menyebabkan hal itu terjadi, dan itu tak bisa dihindari, meskipun jika dia bisa lebih mencari, sebenarnya dulu dia bisa saja mendefinisikan cita-cita yang tak sekedar. Terwujud dan sudah, sungguh cita-cita yang sangat pendek.

Kehidupan barunya yang sama sekali berbeda dengan kehidupannya sebelumnya. Jauh dari orang tua, hidup sendiri, namun jauh lebih mudah dari segi pemenuhan kebutuhan. Apa pasal?? Pasalnya adalah Allah berkenan memberikannya kemudahan kemudahan yang bahkan tidak akan bisa dia bayar. Allah memberikannya beasiswa dari alumni ITB, dan untuk tempat tinggal, Allah memberikannya tempat tinggal terbaik, asrama putri salman ITB.

Dinamika kehidupannya yang baru terkadang membuat kepalanya ricuh. Terlalu ricuh bahkan, dengan reorientasi cita-cita baru yang diiringi oleh berbagai kemudahan yang Allah berikan sekaligus rutinitas aktifitas yang baru dan berbeda dengan kadar yang berbeda, dan  ditambah dengan pertambahan pemahaman keislaman yang baru diperolehnya. Jujur, itu membuatnya sedikit tak terkendali.

Perubahan ekstrim?? Hmmm.. dari segi penampilan sih tidak, karena dari dulunya sudah menyukai baju besar kedombrangan yang tidak memperlihatkan lekuk tubuh, Cuma ya ditambah memperlebar ukuran kerudung plus rok, manset, dan kaos kaki. Namun soal sikap! Ini yang mantap. Kehidupan di asrama yang menuntut banyak hal, soal kebersihan, keterampilan memasak, kerapihan, jadwal yang padat, ditambah dengan pemahaman yang diperolehnya di majelis ta’lim salman tentang jaga hijab, jaga pergaulan.. hmm… membuatnya agak ekstrim di awal. Ekstrim banget kali ya sampai dia tidak bisa masuk sama sekali ke dalam pergaulan teman-temannya di prodi teknik kimia. Heu…

Jadi masa kuliahnya itulah yang menjadi masa pencarian jati dirinya. Cita-cita baru pun muncul dan jauuuuh lebih baik konsepnya dari ketika dulu di smu yang jangkanya benar-benar pendek, namun,… ntah kenapa kekuatan untuk mencapai cita-cita itu yang tidak keluar secara optimal dibandingkan dengan ketika dia SMU dahulu dan sangat kesulitan dengan kondisi ekonominya.

Hal ini dia sadari, dan bahkan telah dia diskusikan dalam sebuah forum usrah bersama walinya di Salman yaitu Mas Hermawan KD, yang saat itu menjabat sebagai ketua YPM Salman. Dia bertanya, “apakah kemudahan yang saya terima ini membuat saya justru tenggelam dalam kelalaian? Karena saya merasa saya sebenarnya bisa memilki semangat yang lebih baik dari ini? Bagaimana seharusnya.” Mas Her menjawab saat itu, “kita tak bisa menyalahkan keadaan, perkenan Allah-lah kita diberi kemudahan atau kesulitan. Dan bukan di sana masalah utamanya, ketika kita merasa justru hidup terasa mudah, bukankah seharusnya rasa syukur yang mendominasi jiwa kita? Sehingga kita terdorong dan memiliki semangat untuk memanfaatkan karunia kemudahan tersebut dengan sebaik-baiknya?”. Jawaban yang membuat dia terhenyak namun dapat dia pahami. Artinya dia harus menemukan arti dan nilai2 dari konsep sabar dan syukur.

Namun, 5 tahun yang dia jalani di Salman belum memunculkan semangat yang hilang itu. Dia masih merasa semangatnya yang sebenarnya kata orang sudah menyala-nyala, di benaknya masih terasa kurang, masih terasa belum optimal. Memang ada semangat lain yang muncul dalam dirinya, ada semnangat baru yang jenisnya berbeda, seiring dengan bertambahnya pemahaman dan pengertiannya tntang kehidupan. Semangat semangat lain tumbuh akibat beribu alasan yang tidak dia temukan di kampung halamannya yang telah mengisi bagian bagian syarafnya. Dan dia pun kini harus hijrah kembali ke daerah lain, Jakarta, ibu kota, yang kompleksitasnya jauuuuuuuh berkali lipat dari Bandung apalagi Cianjur.

Sampai saat ini, gadis kecil yang sudah beranjak semakin dewasa semakin dewasa, atau juga semakin tua ini masih berusaha mencari semangat itu, tanpa mengenyampingkan pertumbuhan semangat yang lainya. Karena dirasakannya, kehadiran jenis semangat yang hilang itu sangat sangat dan sangat dibutuhkannya untuk bisa mencapai cita-citanya………………

 

About iinparlina

Seorang Insan manusia yang diciptakan Allah dengan segala kekurangan dan kelebihannya, yang mencoba menjadi seorang yang dicintaiNya, dan salah satu cara yang dilakukannya adalah dengan menulis, membagi sedikit sekali ilmu yang dimilikinya. Meskipun sedikit, dia berharap dari yang sedikit itu, ilmu itu bisa bermanfaat untuk orang lain sebagaimana dia pun membutuhkan Ilmu untuk membuatnya bisa menjejakan kakinya di surga.

Posted on March 22, 2012, in riak-riak jiwa and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: