Allah Maha Adil


Allah Maha Adil….

Kau tahu… negeri Indonesia yang keindahannya sangat terkenal ke seluruh penjuru dunia, yang kekayaan alamnya membuat berbagai negara di jagad raya iri kepadanya. Bahkan negeri Singapura yang berada di dekatnya, akan merasa sesak nafas ketika hutan Indonesia terkena huru hara. Bahkan negara negara barat yang nun jauh di sana merasa begitu kawatir kondisi Indonesia sehingga mereka menerapkan berbagai strategi canggih untuk membuat Indonesia bisa tunduk kepada mereka. Skenario impor garam, skenario impor teknologi, spare part berbagai alat kendaraan bermotor, dan lain sebagainya. Betapa penting peran Indonesia di tataran dunia, Betapa luar biasa potensi yang dimilikinya ntah itu kekayaan alam maupun jumlah manusia Indonesia yang memang sangat melimpah yang menjadi potensi pasar yang akan sangat menguntungkan.

Negeri yang menjadi mahligai katulistiwa dengan segala keindahannya ternyata menyimpan banyak duka. Kekayaan alam tinggallah kekayaan saja, bahkan rakyat negeri sendiri tak bisa mengolah dan menikmatinya secara optimal. Rakyat Pulau Timpang yang harus mempertaruhkan nyawa untuk menyambung nyawa kadang hanya bisa meraih penghasilan Rp, 5000 setiap harinya, bahkan bisa sampai tidak makan sama sekali. Kekayaan alam yang ada kemudian dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan dan kepentingan sebagian orang-orang yang berkuasa.

Negeri yang menjadi ratna mutu manikam ini banyak menyimpan pilu. Sebagian orang memiliki penghasilan berpuluh-puluh juta, sementara di sisi lain, bahkan banyak yang sepeser pun tak bisa diraihnya. Oke-lah salah satu faktor yang menyebabkan hal tersebut adalah kualitas sumber daya manusia. Mungkin memang beda penghasilan seseorang yang mendapat gelar master dengan masyarakat kecil yang bahkan sekolah pun tidak pernah. Namun, ada faktor penting lain yang tak boleh dilupakan adalah faktor manajemen negara yang memang kalang kabut. Aku yang berbicara di sini memang bukan ahli politik, bukan ahli ekonomi, ataupun ahli ilmu pemerintahan, aku yang melihat dari sisi hati nurani, ntah merasa sedemikian sakit melihat banyaknya ketimpangan yang kurasakan di negeri ini. Ketika sebagian orang di negeri ini dengan sangat tega mengambil keuntungan di balik penderitaan rakyat yang lebih kecil.

Dulu dan bahkan sampai sekarang, aku terkadang berpikir betapa tidak adilnya. Betapa perih melihat bapak tukang becak, bapak tukang bajai, ibu penjual ketupat sayur, ibu tua penjual barang kelontong di tepi jalan, bapak dan Ibu petani, bapak dan ibu nelayan.. yang berjuang menyambung kehidupannya dan keluarganya, berlelah-lelah meskipun penghasilan yang didapat oleh mereka mungkin tidak cukup. Namun pikiran perih tersebut, selalu pupus dengan keyakinan bahwa Allah Maha Adil, Allah sudah menetapkan semua dengan porsi yang tepat. Mungkin aku melihat ketidakadilan dalam kaca mata manusia, tapi sungguh Allah Maha Adil dalam menilai setiap usaha yang diberikan oleh semua manusia, termasuk aku, mereka, atau bahkan orang-orang yang melakukan manipulasi manipulasi politik untuk memenangkan kepentingan mereka. Dan penglihatan manusia tidak sepenuhnya benar. Allah yang melihat segalanya. Yang jelas, Allah Maha Adil, dan di hari akhir semua akan diperhitungkan dengan sebaik baik perhitungan dan Allah sebaik-baik pemberi balasan. Bahkan diriku pun sendiri belum tentu lolos dari hukuman atas setiap kesalahan yang kuperbuat.

Hanya berharap, semoga kita semua warga Indonesia yang memiliki jabatanatau tidak, yang menjadi rakyat kecil atau rakyat besar, yang menjadi pemegang kekuasaan atau yang dikuasai, yang mendzalimi maupun yang didzalimi, diberikan Allah kesadaran sepenuhnya atas keadilan Allah yang tiada duanya sehingga akan timbul rasa enggan di dalam hati kita untuk melanggar setiap ketetapan yang telah diputuskanNya… dan semoga negeri Indonesia tercinta ini dijadikan Allah negeri yang diridhai sepenuhnya,

About iinparlina

Seorang Insan manusia yang diciptakan Allah dengan segala kekurangan dan kelebihannya, yang mencoba menjadi seorang yang dicintaiNya, dan salah satu cara yang dilakukannya adalah dengan menulis, membagi sedikit sekali ilmu yang dimilikinya. Meskipun sedikit, dia berharap dari yang sedikit itu, ilmu itu bisa bermanfaat untuk orang lain sebagaimana dia pun membutuhkan Ilmu untuk membuatnya bisa menjejakan kakinya di surga.

Posted on March 30, 2012, in Uncategorized and tagged , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: