Menggagas Pembangunan Integratif Sosial Ekonomi dalam Konteks Penguatan Pembangunan Lingkungan Hidup Indonesia


Hasil diskusi “Menggagas Pembangunan Integratif Sosial Ekonomi dalam Konteks Penguatan Pembangunan Lingkungan Hidup Indonesia”

(sebuah review MP3EI dilihat dari aspek lingkungan dan sosial)

Hotel Borobudur, Kamis, 31 Mei 2012

Bersama: Prof. Dr Emil Salim, Dr. M. Hasroel Thayeb, APU., Prof. Ir. Surna Tjahja Djajadiningrat

Indonesia adalah Negara berkembang yang membutuhkan pembangunan di berbagai aspek kehidupan. Pembangunan yang telah dimulai sejak masa kemerdekaan hingga kini terus mengalami perubahan dari segi konsep maupun output, mulai dari konsep repelita hingga kini MP3EI (Master Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia). Namun, pembangunan yang telah ada masih banyak menyisakan PR karena masih banyak masalah yang dihadapi bangsa Indonesia, termasuk di dalamnya adalah aspek lingkungan dan social yang masih belum jadi perhatian sehingga terjadi kerusakan alam di mana-mana sementara pembangunan social masyarakat juga tidak imbang dengan adanya pembangunan fisik. Selain itu masalah yang lain adalah adanya kesenjangan pembangunan antara satu wilayah dengan wilayah di seluruh bagian Indonesia, terutama Indonesia Timur. Hal ini menjadi titik evaluasi bagi konsep pembangunan yang sekarang sedang dicanangkan, termasuk konsep MP3EI yang mulai dicanangkan pada masa pemerintahan Presiden SBY.

Kebutuhan pembangunan yang berkelanjutan (mampan/sustainable) dan memperhatikan aspek pembangunan social masyarakat tanpa destruksi lingkungan kini telah disadari oleh banyak pihak. Oleh karena itu menjadi hal yang sangat penting evaluasi MP3EI ditinjau dari 3 sudut pandang yakni social dan lingkungan. Lagipula kini telah terjadi pergeseran pemahaman bahwa indicator kemajuan suatu bangsa tidak lagi dilihat dari GDP melainkan well-being indicator yang tak hanya menekankan aspek ekonomi semata melainkan juga aspek perhatian terhadap lingkungan dan social masyarakat.

Karakteristik Indonesia yang luar biasa tidak ada duanya telah menjadikan Indonesia sebagai negeri yang memiliki potensi yang sangat banyak, ntah itu dilihat dari segi sumber daya alam baik darat maupun lautan, sumber daya manusia yang melimpah yang menjadi modal dalam industri padat karya, dan masih banyak lagi potensi yang lainnya. (ketiga pembicara menyampaikan dengan sangat baik dan inspiratif bagaimana istimewanya Indonesia)

Bapak Prof Dr Emil Salim menyatakan konsep pembangunan nusantara dengan nama “jembatan nusantara” yang disadari akibat kondisi geografis Indonesia yang berupa Kepulauan. Konsep yang diusung beliau sangat komperhensif, di mana pembangunan Indonesia ke depan harus menyatukan dengan aksesibilitas konektifitas, sarana edukasi, perbangkan, dan fasilitas pengembangan MDG (Millenium Development Goals) –HDI (Human Development Index). Sehingga diharapkan kedepannya terdapat pemerataan pembangunan yang menyejahterakan rakyat. Karena disadari bahwa banyak dampak pembangunan yang justru berdampak negative bagi masyarakat. Dengan kata lain, pilar ekonomi, social dan lingkungan dibangun serentak bersama dalam satu kesatuan pembangunan. Jabaran detail mengenai konsep jembatan nusantara dan bagaimana hubungannya dengan ketiga pilar pembangunan dijelaskan lebih jauh bahwa dalam ekonomi, pembangunan harus memiliki diferensiasi insentif, finansial, kredit, dan kebijakan afirmatif ala konsep Herman De Soto dan Greemen Bank. Sementara konsep social mencakup konsep peta tematik indicator kemiskinan, pendidikan, dan pendekatan untuk prioritas kabupaten/kota. Dan untuk pilar lingkungan, pembangunan harus berfokus pada diversifikasi pangan dan energi, biodiversitas dengan nilai tambah oleh sains-teknologo yang ditopang dengan infrastruktur kabupaten miskin.

Menindaklanjuti paparan dari Pak Emil Salim, Pak Hasroel memperkuat dengan konsep-konsep mencengangkan yang meyakinkan konsep yang dibawa Pak Emil Salim. Salah satunya adalah fakta bahwa ternyata makanan pokok Indonesia sebenarnya adalah sagu bukan padi. Karena basis Negara Indonesia adalah kehutanan bukan praire sebagaimana padi ditanam di awal. Sagu yang merupakan makanan pokok masyarakat Indonesia Timur memiliki banyak keunggulan dibandingkan dengan padi. Karena tanpa irigasi dan relative lebih rentan kondisi lingkungan. Selain itu, beliau menyampaikan bahwa sagu yang ditanam pada tanah ukuran 150 X 150 meter dalam waktu dengan kepadatan 625 batang pohon/hektar (jarak tanam antar pohon = 4 x 4 meter) dapat menghasilkan 41 juta ton sagu. Kalau 100 kilo sagu ditetapkan sebagai angka konsumsi tahunan/kapita, maka perkebunan sagu itu sudah dapat menghidupi 410 juta jiwa terus menerus. Bahkan sagu ini bisa dikonversi menjadi beras buatan seperti beras Rojolele dan beras Cianjur dengan harga yang cukup layak. Banyak yang dibahas oleh Pak Hasroel yang cukup mencengangkan para peserta, misalnya adalah bagaiman konsep Pembangkit Listrik tenaga surya yang bisa diperoleh dari sekam padi dan tepung gandum yang bisa disubstitusi dengan sukun. Penelitian Indonesia ke depannya harus lebih ditingkatkan agar selaras dengan pembangunan berkelanjutan yang diharapkan.

Bapak Surna, meninjau aspek MP3EI secara to the point, bahwa ketiga guru besar Indonesia tersebut sepakat bahwa konsep MP3EI belum merupakan solusi terbaik akibat masih banyaknya kelemahan signifikan yang dimiliki oleh konsep tersebut. Misalnya:

  1. Konsep MP3EI tidak berwawasan social dan lingkungan, hanya focus pada pilar ekonomi tanpa memperhatikan keberlangsungan pembangunan itu sendiri
  2. MP3EI masih berpihak kepada swasta, sementara sebagian besar swasta tidak memperhatikan aspek social dan lingkungan
  3. MP3EI masih belum bicara tentang kepentingan masyarakat
  4. MP3EI masih bersifat resource extractive.

Berdasarkan tinjauan ini, terlihat bahwa konsep MP3EI masih belum merupakan konsep pembangunan yang utuh dan integrative melainkan masih parsial. Apalagi masalah politik yang terkesan menjadi masalah utama karena pembahasan-pembahasan masalah teknis, teknologi dan teman-temannya masih banyak yang terkendala pembahasan politis. Jadi perlu adanya dukungan politik untuk bisa mewujudkan konsep pembangunan integrative Indonesia yang berkelanjutan, sementara masalah perpolitikan Indonesia sangat pelik.

Di balik berbagai permaslahan Indonesia yang bertumpuk dan semrawut, ketiga pembicara mengajak para peserta untuk mencoba menjadi solusi dan bukan justru menjadi bagian permasalahan itu sendiri. Mari menengok hati nurani dan menjalani peran kita semua dengan usaha terbaik yang dilandasi niat yang ikhlas untuk memajukan bangsa ini.

Demikia disampaikan sedikit bahasan yang saya peroleh dari acara hari Kamis, 31 Mei kemarin di Hotel Borobudur. Materi aslinya lebih banyak, dan cukup menginspirasi, meski di beberapa aspek cukup provokatif terhadap konsep konsep yang telah ada sebelumnya, misalnya konsep pemanasan global dan kenaikan air laut. Tapi apapun itu, diskusi kemarin cukup memberikan saya semangat yang besar untuk terus berupaya memberikan karya terbaik. Senang bisa ikut dalam forum diskusi seperti itu.

About iinparlina

Seorang Insan manusia yang diciptakan Allah dengan segala kekurangan dan kelebihannya, yang mencoba menjadi seorang yang dicintaiNya, dan salah satu cara yang dilakukannya adalah dengan menulis, membagi sedikit sekali ilmu yang dimilikinya. Meskipun sedikit, dia berharap dari yang sedikit itu, ilmu itu bisa bermanfaat untuk orang lain sebagaimana dia pun membutuhkan Ilmu untuk membuatnya bisa menjejakan kakinya di surga.

Posted on June 1, 2012, in cahaya pelangi and tagged , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: