sekali lagi belajar tentang cinta Allah


Bismillahirrahmanirrahim

Alhamdulillah, hanya Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang, yang menggerakan kaki dan menyentuh hati, yang memberikan petunjuk, yang menurunkan hidayah, dan mengingatkan hikmah yang terpancang dalam setiap kejadian.

Hari ini diberikan Allah kekuatan dan kehendak untuk mengikuti shalat dhuhur di Masjid Iqra BPPT, sebenarnya sudah biasa, tapi ada aja yang namanya kejadian yang tak disangka yang terkadang mengharuskanku cukup untuk melaksanakan shalat di mushala lantai 19, tapi hari ini, Alhamdulillah Allah SWT memberikanku kesempatan untuk melangkahkan kaki ke sana.

Pemandangan pertama yang membuatku takjub adalah baru pertama kali ini melihat jamaah shalat dhuhur masjid Iqra yang sebanyak itu. ^_^, seingatku itulah jumlah jamaah paling banyak yang bisa kusaksikan. Alhamdulillah, hanya Allah yang memiliki kehendak menggerakkan kaki kaki kami menuju masjid yang penuh barakah ini.

Setelah menjalankan shalat berjamaah shalat dhuhur, ternyata ada ceramah ramadhan oleh Bapak Wakil menteri Agama, Ustadz Nazarudin Umar. Ceramahnya diawali dengan konsep takwa yang lebih menekankan pada hakekat hubungan manusia dengan Allah SWT. Subhanallah… ceramahnya bagus.

Intinya, takwa adalah sebuah proses menjalin hubungan yang sebenar-benarnya dengan Allah, menjaga hubungan yang sebenarnya dengan Allah. Takwa yang didekatkan dengan makna takut sebenarnya kurang tepat sepenuhnya. Allah memiliki sifat yang dominan pada kelembutan, lebih dekat kepada kesan cinta dibandingkan dengan sifat-sifat maskulin yang membuat seorang hamba takut kepada tuhannya. Di dalam Al Quran disebutkan berulang-ulang lebih banyak sifat2 Allah yang Maha Pemurah, Maha Penyayang, Maha Mulia, Maha Pengampun, Maha Pemaaf dan lain sebagainya, misalnya dibandingkan dengan sifat Maha Pendendam dan Maha Angkuh yang hanya disebut satu kali di dalam Al Quran.

Memahami konsep hubungan ini akan menciptakan pensuasanaan batin yang sama sekali berbeda. Di mana panggilan hati yang menjiwai seluruh aktifitas ibadah hanya akan didasari oleh rasa cinta, bukan beban. Di mana rasa takut yang ada bukanlah rasa takut seperti rasa takut manusia pada makhluk yang membuatnya menjadi jauh dengan hal yang ditakutinya, melainkan rasa khasyaa yang berarti takut namun takut yang didasari cinta, di mana manusia takut untuk kehilangan cinta dan kehilangan kasih sayang Penciptanya.

Pada dasarnya, secara kasar hubungan kita dengan Allah mirip dengan hubungan kita dengan kedua orang tua, antara mencintai dan menakuti dalam konteks yang wajar, yang merawat kita, tapi tanpa pernah pamrih meminta balasan, yang sepenuh hati memberikan perhatian dan kasih sayang, yang memberikan segenap cinta kasih, mengajari hikmah, dan memberikan fasilitas pendidikan…makanya tidak heran jika banyak ayat al quran dan hadits yang menceritakan tentang bagaimana ketinggian akhlak kepada kedua orang tua dan bagaimana status mereka yang sampai bisa menentukan ridha Allah untuk kita.

Hubungan kecintaan terhadap Allah yang harus mendasari semua gerak-gerik kita, dan Alhamdulillah bulan ramadhan hadir menghadirkan segenap perasaan yang membangkitkan kelembutan hati lebih baik daripada bulan biasanya. Karena pada dasarnya Allah ingin melatih kita, Allah tidak makan tapi memberi segenap makhluknya makan, dan di bulan ramadhan ini, kita tidak makan dan dianjurkan memberi makan… sebuah simulasi untuk bagaimana memiliki kelembutan yang bisa mengantarkan kita semakin dekat dan semakin dekat dengan Allah SWT.

Oleh karena itu, alangkah ruginya jika kualitas puasa kita hanya berhenti di tahap awwam yang berpuasa dari makan dan minum saja, tapi belum mampu membebaskan segenap indra dari ikatan hawa nafsu, syahwat, dan segala yang dilarang oleh Allah SWT.

Wahai manusia hamba Allah, harusnya kita malu, Allah memberikan anugerah yang bertubi-tubi bahkan yang tidak kita minta sekalipun, sekalinya kita kesusahan kita ingat Allah, tapi sisa di masa kebahagiaan yang kita alami aapakah Allah senantiasa bersemayam di dalam dada kita? Ataukah nafsu justru menjadi tuhan kita? Dan Allah Maha Pemaaf dan Pengampun atas hamba-hambaNya, masih diberikannya kesempatan bagi kita untuk bertaubat, masih diberikan kesehatan, kehadiran orang2 yang kita sayang dan lain sebagainya? Di ramadhan yang suci ini ketika harusnya kita menjaga untuk khusyu beribadah, kita jangan menyiakannya dengan tawa sesaat yang disediakan media, kita jangan membiarkannya berlalu tanpa ada jejak keimanan yang terekam dalam dada…

Dan ketika berdoa, Allah Yang Maha Baik masih selalu berkenan mengabulkan keinginan2 kita meskipun kita menyampaikannya secara tidak etis, menyampaikannya bahkan tanpa kita sadari mungkin permintaan tersebut adalah sebuah dikte, permintaan yang  muncul seperti menunutut, seolah-olah tidak percaya akan takdir Allah.. ddduuuhh,, maluuu.. disadari bahwa Allah yang sedemikian baik masih juga berkenan mendengar meski kitanya belingsatan, masih suka menduakan Allah dengan yang lain (disadari ataupun tak disadari), maka beristigfarlah, mari memperbaiki diri kita, mari memperbaiki cara berdoa kita, cara kita bermunajat, dan terutama di antara semuanya adalah mari memperbaiki cara kita mencintai Allah yang saat ini masih serabutan, masih amburadul, masih setengah-setengah, pengen ini pengen itu, padahal cukuplah Allah di atas segalanya…Allah Maha Lembut dan berkasih sayang, Rasulullah juga memiliki kepribadian yang lembut dan penuh kasih sayang, dan Al Quran mengajarkan kita, hamba Allah dengan cara yang juga lembut. maka apakah kita para hamba Allah tidak bisa lembut? melembutkan hati dan menerima segenap petunjuknya dengan hati yang suci, jernih yang dengan kejernihan dan kesucian hati tersebut, kita berharap suatu hari nanti Allah berkenan bertemu dengan kita tanpa hijab, di surgaNya yang Agung, dan Dialah yang kita rindukan dan kita cintai sepenuh hati. Bisakah kita seperti itu??

Aah, manusia, dan manusia itu juga termasuk diriku.. tercabik rasanya melihat jiwa keimanan diri yang sedemikian bobroknya..sedemikian kecilnya, aah.. maluu… saatnya berubah,, dan berkata untuk berubah saja tidak cukup, mari buktikan, pertahankan keimanan ini, rabbanaa laa tuzi’ quluubanaa ba’da idz hadaytanaa wa hab lanaa min ladunka rahmah, innaka antal wahhaab.. aamiin ya Rabbal ‘aalamiin.

About iinparlina

Seorang Insan manusia yang diciptakan Allah dengan segala kekurangan dan kelebihannya, yang mencoba menjadi seorang yang dicintaiNya, dan salah satu cara yang dilakukannya adalah dengan menulis, membagi sedikit sekali ilmu yang dimilikinya. Meskipun sedikit, dia berharap dari yang sedikit itu, ilmu itu bisa bermanfaat untuk orang lain sebagaimana dia pun membutuhkan Ilmu untuk membuatnya bisa menjejakan kakinya di surga.

Posted on July 23, 2012, in riak-riak jiwa and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: