Musibah atau Anugerah? Manusia Tidak Tahu Apa apa


Musibah atau anugerah? sebenarnya topik ini sudah lama menggantung di kepala. Masih menunggu waktu yang tepat rupanya untuk disalurkan. Dan hari ini saat ini, ketika perenungan sudah mencapai kasus kasus yang cukup banyak untuk dituangkan, maka di sela sela kesibukan mengerjakan proposal ICCTF aku coba tuk menggali isi benak ini.. Materi ini memang cukup menggelitik. Terbukti ketika aku pulang ke Bandung untuk mengikuti usroh, pemateri kultum bada shubuh (anak plano kalo ga salah) mencoba mengungkapkan ceritanya tentang ini dan ternyata sahabat baik saya Nden sangat menaruh attensi yang cukup signifikan terhadap isu itu sampai sampai, sorenya di lab Bu Ami, kita bahas ampe ga tuntas hahaha.

Musibah atau anugerah…Manusia tak tahu apa apa.. dan Allah Yang Maha Pintar dan Maha Tahu segalanya lah yang memiliki jawaban atas semua Tanya dan peristiwa yang ada.

Image

Ingat cerita asli yang menjadi kisah ilustrasi dari materi ini? Tentang kuda liar yang masuk ke wilayah seorang guru, ketika anak sang guru jatuh dari kuda itu, dan ketika kejatuhan sang anak guru mencegahnya dari berangkat perang.

Kalau dianalogikan dengan peristiwa yang terjadi akhir2 ini baik dalam diri kita maupun sekitar kita, missal isu terpilihnya Pak Jokowi jadi Gub DKI, Roy Suryo jadi Menpora, banjir Jakarta, penggusuran pedagang di sekitar kawasan kereta api, longsor, dan lain sebagainya… saya pikir tidak ada satu pun dari kita manusia yang memiliki hak untuk menjawab apakah itu musibah atau anugerah.. Allah satu satunya yang Maha Tahu..dan manusia yang bertugas untuk menyikapi itu semua dengan respon terbaiknya. Siapa tahu misalnya penggusuran pedagang di kawasan stasiun kereta api mengantarkan para pedaganya jadi makin sholeh, atau memiliki kehidupan yang jauh lebih baik? Kita ga tahu kan yang akan terjadi di masa depan? Ga tahu!!!! Cuma emang, miris pisan lah baca artikel tentang penggusuran itu. Ada niat baik yang tersembul dari kedua belah pihak. Banyak sisi positif dan sisi negative yang mungkin Nampak dengan sangat jelas di pelupuk mata. Saya pun baca artikel yang ditulis seorang mahasiswa UI 2009 juga terenyuh bukan main (bisa dicek di sini). Bertanya kok bisaaa!!!! Harusnya ada dialog komprehensif yang mampu mengakomodir kepentingan rakyat kecil juga!! Itu teriakkanku dalam hati. Tapi saya pun toh tak bisa menyalahkan niat PT KAI yang ingin menjaga ketertiban.. hanya saja, harusnya hal hal seperti ini ada jembatan terbaik yang bisa dilalui, sehingga hal2 macam kekerasan kayak yang terjadi bisa dihindarkan. Tapi yaaaaaaaaaaaa… itu kan Cuma pikiran seorang awam semata..seorang Iin Parlina yang memiliki pola pikir begini dan begitu, tapi di balik itu semua Allah Yang Maha Mengatur Segalanya. Ada banyak hal kompleks yang tidak saya ketahui secara komprehensif mengenai alasan, atau kemudian yang akan terjadi di masa depan. Satu hal yang pasti adalah peristiwa penggusuran ini saya percaya jika bisa disikapi dengan sikap terbaik oleh kita semua (para pedagang, PT KAI, saya, warga masyarakat, pemerintah, dan lain sebagainya) insyaallah peristiwa ini akan membawa pada better life, percaya atau tidak!!! Saya sih percaya, wong yang mengatur segala sesuatu di muka bumi ini sudah memiliki reputasi tak terkalahkan dalam hal pengaturan dunia dan segala isinya..

Termasuk pun soal banjir yang menimpa sana sini, ya Bandung ya Jakarta. di satu sisi sebagai warga yang tidak memiliki masalah banjir (rumah di Cianjur-yang notabene daerah dengan intensitas hujan yang cukup tinggi, kos di Kampung Bali-yang notabene berada di belakang kantor, sehingga tak merasakan macet ketika pulang atau berangkat) saya justru menganggap hujan sebagai kesempatan untuk menyampaikan doa sebanyak mungkin, berhubung dosa banyak tapi permintaan berlimpah. Seneng karena ngerasa Jakarta jadi lebih adem dan nyaman. Tentu di sini saya tidak merasakan penderitaan menjadi korban banjir, di mana pola pikirnya bisa diarahkan untuk berpikir negative terhadap hujan yang sudah jelas distate sebagai pembawa barakah. Tapi kalo mau diusut mah, yang bikin banjir kan bukan hujan… bukan hujan yang disalahkan kalau banjir terjadi, iya kan? Tapi y, kembali ke prisnsip awal tadi, mari kita berikan respon terbaik kita terhadap ujian ujian Allah ini.

Mungkin banyak lagi contoh yang lain yang bisa diambil untuk memperkuat argument ini. Dan saya pun juga bukan orang yang pandai berargumen. Karena siapa sih manusia? Seberapa jauh manusia mengenal dirinya sendiri? Bahkan ke urusan mitokondria yang udah jalan otomatis dalam tubuhnya dalam melakukan proses metabolism aja bisa jadi kita ga tahu? Atau pengembangan karakter yang ada dalam diri kita, prosesnya bagaimana, baiknya gimana? bisa jadi kita juga ga tahu. Saya ngerasa apa yang terjadi dalam hidup saya, saya aja ga tahu, apalagi mengetahui kehidupan yang lain. Kadang ngerasa hati, kepala, sama badan ini bergerak otomatis. Ada saat controllable ada kala ngerasa uncontrollable.

Tapi kalo kata Aa Gym mah, ga usah dibuat pusing, keep aja hubungan baiknya sama Allah, biar Allah yang mengatur semuanya. Tapi statement ini juga harus diartikan secara komprehensif. Menyerahkan kepada Allah seluruhnya bukan berarti diam tak melakukan apa apa. Menggunakan akal dan segenap panca indera untuk menghadapi kehidupan ini juga termasuk usaha dalam menjaga hubungan sama Allah, terlebih ini juga yang menjadi sensor2 kita dalam menanggapi kejadian2 yang Allah berikan sekaligus tools untuk memproses yang terjadi dan memberikan respon terbaik tea..

begitulah.. complicated, isn’t it? Tapi Allah sungguh luar biasa, yang complicated complicated ini diatur sendirian. Allah Yang Maha Keren mampu ngatur manusia yang bahkan mengenal dirinya secara komprehensif aja ga bisa ^_^. Jadi logis atuh, kenapa semua harus diserahin sama Allah.. didukung pula dengan apa yang ada di dalam Al Quran. Dan akhirnya sampe pada kesimpulan untuk ke depannya kalo ketemu apa apa teh, kita serahkan semua pada Allah sembari diiringi dengan usaha dan tawakal terbaik kita.

Tentang korban banjir dan penggusuran, salah satu respon terbaik yang bisa kita berikan meskipun itu adalah usaha terlemah yang dimiliki seseorang yang briman adalah mendoakan. Di sela hujan yang membawa barakah, baiknya kita ga pelit untuk mendoakan mereka ya…

Ini the ocehan si saya yang lagi nyari ide buat bikin proposal. Mudah2an kalopun agak ngaco, ada manfaatnya.. aaamiiin… Allah Yang Maha Tahu segalanya, tulisan ini pun tidak tahu apa2, hanya ngeliatin apa yang seorang Iin tahu dan simpan di kepalanya.

Beristigfar dari setiap salah, yakin da Allah mah selalu membimbing kita sadar atau ga sadar. Kitanya aja yang kadang terlalu nyebelin untuk sekedar menggugu bisikan kebenaran yang selalu menjadi radar kebenaran dalam diri,.. nah, moga we kitanya selalu bisa mengkondisikan diri yaaaa… istiqamah sampai maut menjemput.. aaamiiin

About iinparlina

Seorang Insan manusia yang diciptakan Allah dengan segala kekurangan dan kelebihannya, yang mencoba menjadi seorang yang dicintaiNya, dan salah satu cara yang dilakukannya adalah dengan menulis, membagi sedikit sekali ilmu yang dimilikinya. Meskipun sedikit, dia berharap dari yang sedikit itu, ilmu itu bisa bermanfaat untuk orang lain sebagaimana dia pun membutuhkan Ilmu untuk membuatnya bisa menjejakan kakinya di surga.

Posted on January 16, 2013, in Uncategorized and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: