Dinamika Keimanan is Inevitable, but Effort for keeping it right is something that has to be put


Okay, si saya sudah lama ga nulis. Too long, I would say that. And this content of my brain is too tempting to be written. Another objective is to maintain this spirit inside my heart, my brain, and my soul. I don’t want to lose it again. Hidayah ini, akan saya gigit dengan geraham sampai akhir hidup saya. Saya janji. Y Allah bantulah saya memenuhi janji ini. Ini sambil nulis, sambil bergejolak banget dadanya..

Well. I know really well that this way is an utterly long way. The way I mean is jalan perjuangan untuk menegakan agama Allah. Kita semua hidup untuk melakukan hal tersebut bukan? It is the most obvious reason why Allah gives us life, are you agree with me?

Dalam perjalanan ini, dinamika keimanan yang sesuai fitrah adalah sesuatu yang natural terjadi. Bertambah dan berkurang. Yang menjadi masalah yang harus menjadi concern kita adalah sejauh mana pertambahannya dan seberapa besar pengurangannya. Mampukan kita bisa menjaga sustainabilitas gradient keimanan kita? Ataukah malah kita besar pasak daripada tiang? Besar pengurangan daripada pertambahan?

Manusia tempatnya salah, manusia itu lemah, kebanyakan tidak bersyukur, dan masih banyak lagi karakter-karakter negative lainnya yang dimiliki manusia yang disebutkan dalam Al Quran. Tapi bukan berarti manusia tidak mampu melepaskan diri dari sifat2 negatif itu. Allah memberikan amanah kepada manusia sebagai khalifah fil ardh tentu dengan alasan2 yang tidak bisa kita bayangkan, tapi kepercayaan Allah kepada manusia terutama manusia yang bisa menjaga sisi-sisi rububiyahnya yang membuatnya bahkan lebih mulia dari malaikat, merupakan sebuah kepercayaan yang tidak bisa dianggap remeh. Allah tidak butuh manusia. Itu fakta! Manusia yang butuh Allah! Maka selayaknya manusia menggunakan setiap kesempatan yang diberikan Allah untuk kebaikan yang membuat derajatnya semakin baik, dan bukan sebaliknya. Namun apa yang terjadi? Kembali ke kelemahan manusia tadi, banyak manusia yang menyerah kepada tuntutan-tuntutan hawa nafsunya, menyerah kepada ajakan syetan yang mendorongnya untuk meninggalkan kebaikan dan mengerjakan maksiyat.

Tapi manusia punya akal. Dia bisa kembali dari jalannya yang salah dan kembali ke jalan yang benar. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penerima Taubat. Kedua factor ini yang sebenarnya jadi modal yang sangat penting. I don’t say that human can always do mistakes and then ask for Allah’s forgiveness. What I mean is that human might unwillingly do mistakes, but they could return to the right pathway. They can learn their mistakes and make commitment not to repeat it again. Not to be trapped in the same holes.

Sebenarnya, sederhananya, amal bisa menjadi parameter yang menunjukan ukuran keimanan seseorang. Bagaimanapun bagi saya, amal adalah buah dan aktualisasi keimanan. Contoh simplenya: apa yang lagi sering dibaca sekarang? Apakah Novel? Cerpen? Isinya apa? Tentang islam? atau tentang hal-hal duniawi yang justru tidak berefek pada pertambahan keimanan melainkan sebaliknya? Apa yang lagi sering nongol di playlist winamp? Nasyid? Murratal? Ataukah nyanyian2 yang bisa membekukan hati dan justru melupakan Allah.

Tubuh kita sudah sangat keren dibuat Allah atas kepekaannya terhadap input2 yang masuk ke dalamnya. Well, mungkin penelitian kontroversial Robert T Kiyosaki bisa jadi contoh. tapi sebenarnya kita bisa pake teori2 dasar yang lain yang bisa menjelaskan bagaimana tubuh kita merespon segala input yang masuk melalui panca indera kita; mata, hidung, telinga, kulit, dll. Bisa jadi ada frekuensi2 yang menjadi karakteristik perubahan diri terhadap input2 tersebut. Buat saya, ini menjelaskan mengapa kadang kita bisa jadi tiba2 melo denger lagu2 tertentu, atau bagaimana kita  bisa tiba2 nyaman dengerin tilawah muratal. Jadi kalo yang pd kalo dia ga bakal kepengaruh sama bacaan dan tontonan yang mubah, for me I hesitate that his/her body wouldn’t be affected. I am sure it will be, and depends on the intensity and the frequency. Faktanya ya coba liat diri sendiri. Saya ga bilang orang lain, contohnya saya sendiri. Well I know, it might not be generalized, but I see it from the basic theory. So please correct me if I am wrong.

Okay, here I want to show you another fact about it:

Heightened connectivity was also seen in the central sulcus of the brain, the primary sensory motor region of the brain. Neurons of this region have been associated with making representations of sensation for the body, a phenomenon known as grounded cognition. Just thinking about running, for instance, can activate the neurons associated with the physical act of running.

“The neural changes that we found associated with physical sensation and movement systems suggest that reading a novel can transport you into the body of the protagonist,” Berns says. “We already knew that good stories can put you in someone else’s shoes in a figurative sense. Now we’re seeing that something may also be happening biologically.”

The neural changes were not just immediate reactions, Berns says, since they persisted the morning after the readings, and for the five days after the participants completed the novel.

“It remains an open question how long these neural changes might last,” Berns says. “But the fact that we’re detecting them over a few days for a randomly assigned novel suggests that your favorite novels could certainly have a bigger and longer-lasting effect on the biology of your brain.” (http://esciencecommons.blogspot.com/2013/12/a-novel-look-at-how-stories-may-change.html?m=1)

Bukankah hati itu mudah dibulak-balik. Dinamika keimanan seperti yang saya sebutkan di awal. Itu adalah sebuah keniscayaan yang tak bisa dihindari. Tapi jelas, ada usaha-usaha yang bisa dilakukan untuk menjaga keimanan itu tetap pada gradient positif.

Nih, liat haditsnya: Dari Abu Hurairah ra bahwa Rosululloh saw bersabda “Berhati hatilah dengan perbuatan perbuatan fitnah, seperti bagian malam yang gelap gulita, seorang beriman pada pagi hari dan kafir pada sore hari, lalu beriman pada sore hari dan kafir pada pagi hari. Salah seorang dari kalian menjual agamanya dengan luasnya dunia.” (HR Turmudzi)

Maka sudah sepentasnya bagi kita berharap atas ketetapan hati kita di jalan Allah………………………………

‘Yaa Muqallibal Quluub, Tsabbit Qalbi ‘Ala Diinik’ “Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkan hati kami di atas agama-Mu.”

‘Rabbana la tuzigh quloobana ba’da idh hadaytana wa hab lana milladunka rahmah innaka antal wahhab’ “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia).”

Tapi tentu syetan tidak akan tinggal diam. Mereka akan menggoda terus dari kanan, kiri, depan, belakang, atas , dan bawah, hingga kita mau menuruti ajakan2 mereka. Dan cukuplah Allah sebaik-baik pelindung.

Melihat fakta-fakta ini kita bisa simpulkan bahwa basically, dinamika keimanan ini nampak seperti lingkaran yang tak berujung, kala amal adalah aktualisasi keimanan, tapi keimanan pun bisa dipengaruhi oleh input2 dari amal itu sendiri. artinya, ketika kita melakukan sebuah kebaikan, maka akan menarik kebaikan-kebaikan lain, sama halnya dengan maksiyat. satu maksiyat akan menarik maksiyat2 yang lainnya. Well, tapi taubat bisa mengembalikan siklus maksiat, demikian halnya dosa, yang bisa menjadikan seorang beriman yang sibuk dalam siklus kebaikannya berubah menjadi siklus maksiat.. simple tapi rumit yaa

Well tulisan ini ditulis pun dengan latar belakang yang bagi saya juga cukup membuat saya mengurut dada. saya hanya ingin tulisan ini bisa mengingatkan saya sendiri, memperkuat komitmen saya kepada Allah untuk bisa menjadi lebih baik setiap saat.

Wallahu a’lam bis showab

Advertisements

About iinparlina

Seorang Insan manusia yang diciptakan Allah dengan segala kekurangan dan kelebihannya, yang mencoba menjadi seorang yang dicintaiNya, dan salah satu cara yang dilakukannya adalah dengan menulis, membagi sedikit sekali ilmu yang dimilikinya. Meskipun sedikit, dia berharap dari yang sedikit itu, ilmu itu bisa bermanfaat untuk orang lain sebagaimana dia pun membutuhkan Ilmu untuk membuatnya bisa menjejakan kakinya di surga.

Posted on December 31, 2013, in my soul and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: