Sang Bintang


Setelah 3 purnama berlalu, sebuah kehidupan yang sama sekali berbeda memelukkan sayapnya mendekapku erat. Sebuah kehidupan yang penuh kejutan, penuh dinamika, penuh antisipasi, penuh harapan.. yang di dalamnya kuharapkan penetrasi kecintaan teramat dalam dariku untukNya dan dariNya untukku…

Setelah 3 purnama berlalu, kutahu satu yang kurindu dari malam-malam Pullman yang jernih adalah langitnya yang senantiasa berani mempertontonkan kelembutan cahaya-cahaya bintang berkilauan dari gugusan langit utara.

Setelah 3 purnama berlalu, ku bahkan tak berani menghayal bahwa sang bintang akan muncul lagi di hadapanku, berdiri gagah perkasa di langit cakrawala khatulistiwa. Gugusan bintang paling kekar berdiri tegar yang biasa kulihat menghiasi langit utara, kini mereka hinggap di langit gelap Indonesia.

Haru biru memenuhi jiwa yang sekejap saja lupa bahwa ada tetesan bening keluar dari sudut mata. Sungguh setengah percaya bisa melihat lagi Rigel dan Betelgeux mengerlingkan cahaya mereka ke arahku. Setengah percaya ku hingga ku merangkai cerita bahwa mereka menyeberang samudera Pasifik hanya untuk menemukanku di sini..Sungguh ku merasa terhibur akan hadirnya mereka yang seolah menyatakan “keindahan yang pernah kau saksikan di 24 purnama di langit utara bukanlah sekedar mimpi, melainkan sebuah kenyataan yang memang telah berlalu”.

Ah iya… aku sering mendengungkan kata-kata luar biasa dari Ustadz Hasan Al Bana yang juga kujadikan sebagai motoku untuk tidak pernah berhenti bermimpi… i”impian hari ini adalah kenyataan esok hari” tapi rasanya sempat jiwa ini mempertanyakan impian-impian indah yang sempat mengejawantah nyata itu apakah benar sejati terjadi atau dia benar menjadi hanya sebuah mimpi indah penghias masa lalu.

Manusia adalah makhluk lemah, tapi ketidakberdayaannya ini yang kemudian akan membawa jiwanya berlabuh kepada Dzat Yang Maha Kuat. Yang tanpa kekuatanNya manusia tak bisa apa-apa. Sebuah kekuatan teramat kompleks yang bahkan manusia tak bisa pahami sepenuhnya.

Dan lihatlah sang bintang dengan gagah menghias langit angkasa. Langit yang kukira terlalu kotornya tidak akan mampu menampakan betapa cantiknya Aldebaran, dan 3 bintang cantik penghias sabuk sang pemburu angkasa. Dan tetap Rigel dan Betelgeux adalah yang paling merona… mungkin mereka benar-benar mencariku karena merindu…

Namun sayang, belum ada yang mengalahkan perasaanku pada Polaris yang bahkan hingga kini belum dapat ku lihat. Tapi tak mengapa, kehadiran Orion saja telah berhasil mengguncang alam sadarku, mengembalikan kesadaranku bahwa keindahan-keindahan yang Allah berikan untukku di langit Amerika bukanlah sesuatu yang semu… mereka nyata dan berwujud…  demikian pun mungkin keindahan sulaman jaring harapan yang kuuntai sedikit demi sedikit saat ini.. aku yakin itu pun bukan mimpi meski terasa seperti mimpi.

About iinparlina

Seorang Insan manusia yang diciptakan Allah dengan segala kekurangan dan kelebihannya, yang mencoba menjadi seorang yang dicintaiNya, dan salah satu cara yang dilakukannya adalah dengan menulis, membagi sedikit sekali ilmu yang dimilikinya. Meskipun sedikit, dia berharap dari yang sedikit itu, ilmu itu bisa bermanfaat untuk orang lain sebagaimana dia pun membutuhkan Ilmu untuk membuatnya bisa menjejakan kakinya di surga.

Posted on August 30, 2016, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: