Belajar dari Bangsa Jepang


Sejak kembali bekerja ke BPPT, salah satu proyek utama yang menjadi tanggung jawab si saya adalah kerjasama antara BPPT dengan Pemerintah Hiroshima-Jepang untuk implementasi teknologi lingkungan. Pekan ini, Alhamdulillah berkesempatan berinteraksi langsung dengan mereka di dunia nyata dan mengambil banyak pelajaran berharga dari apa yang bisa si saya observasi.

wp-1473463013954.jpgwp-1473463013964.jpg

I think I have mentioned in my other post some significances Japan’s presence in my life. Hehehe.. berinteraksi dengan orang Jepang langsung juga udah pernah saya lakoni dengan seorang student S3 yang juga kuliah di WSU. Tapi Cuma 1 orang dan dalam kadar yang berbeda kondisi, lebih informal. Nah, kali ini kedatangan Tomishige san dan rengrengannya dari Hiroshima memberikan pendangan baru mengenai how Japanese interact and communicate in a business life.

Dorama dan anime yang saya tonton mungkin tidak banyak, tapi cukup ngasih gambaran tentang orang jepang dan malah menjadi daya tarik si saya pengen ke Jepang. Tapi again, it feels a little bit different in the real life.

Oiya, tulisan ini bukan untuk menggeneralisasi orang Jepang. Ini mah hanya membahas hikmah yang saya dapat aja ^_^. Pertama, it seems mereka cukup struggle buat berbahasa Inggris. Makanya selalu membawa penerjemah. Tahu sih, lebih enak pake bahasa sendiri sehingga mereka bisa lebih leluasa menyampaikan detail maksud yang mereka pengen bilang tanpa kesulitan berkutat dengan vocab bahasa Inggris. Ini juga tanda kalo mereka love their language so much :).

wp-1473463013955.jpg

Kedua, betapa mereka menjunjung tinggi etika berinterakasi dengan orang lain. Berkali kali mengucapkan terima kasih atas a single bit “kemudahan” yang mereka rasakan. Setiap kali meeting di awal selalu menyampaikan terima kasih atas waktu yang diberikan, terima kasih atas kesempatan yang dikasih  ke mereka, dan terima kasih sudah bisa berkunjung ke sini bla bla. Intinya grateful banget. Always arigatou and yoroshiku onegaishimasu.. don’t mention kalo mereka banget banget dalam menghormati waktu. Rapat jam 1.30 udah siap duduk manis di ruang rapat sejak 1.15…

Ketiga. risk taker. Ini yang mungkin banyak orang Indonesia termasuk si saya yang masih suka ga berani ngambil resiko dalam memperjuangkan apa yang lagi dicari. Jadi Bapak-Bapak Jepang itu  sebenarnya memiliki maksud to make a business in Indonesia. Ada sekitar 6 perusahaan yang tergabung dalam proyek MOU ini, salah satunya yang udah duluan jalan adalah Hinomaru Shangyo yang punya Chelate Marine yang diklaim sebegai water purifier untuk limbah tambak udang. Nah, secara Indonesia adalah Negara dengan garis pantai terpanjang di dunia, of course harusnya perikanan dan pertambakannya banyak lah ya. Jadi emang potensial. Sehingga, untuk start business beliau di Indonesia, perusahaan ini bikin percobaan dulu di Serang buat nunjukin bahwa si CM ini efektif banget buat ngolah tambak udang sehingga ga perlu ada penggantian air di setiap panen. Jadi mereka ga ragu mengeluarkan dana x juta yen (yang si saya gatau nominal pastinya) buat nge-run kolam percobaan ini. Kalau berhasil kan bagus, nah kalo ndak? Mereka PD banget tapi kalo bakal berhasil, yakin banget sama apa yang mereka punya sampe mereka berani ngambil resiko juga. PD dan risk taker ini yang kayanya masih harus banget dipupuk dalam jiwa saya yang masih ada kesempatan bergejolak hehehe.

Itu tiga hal utama yang nyantol di kepala saya dengan baik. Mudah2an beneran bisa jadi sesuatu yang bisa membuat saya makin baik dan makin cinta sama Allah. Oh well.. si saya belum berjodoh sama Jepang. Dan masih bermimpi menginjak tanah Jepang properly. Transit pas berangkat ke US, saya hanya numpang lari-lari di koridor bandara Narita, sementara transit pas pulang ke Indonesia dari US, Cuma bisa muter-muter nyari jalan ketemu nono yang akhirnya itu juga gabisa. Mudah-mudahan ada kesempatan si saya ke Jepang dengan serius dan spending time properly there. Ga akan berhenti berharap karena impian hari ini adalah kenyataan esok hari, right?

Advertisements

About iinparlina

Seorang Insan manusia yang diciptakan Allah dengan segala kekurangan dan kelebihannya, yang mencoba menjadi seorang yang dicintaiNya, dan salah satu cara yang dilakukannya adalah dengan menulis, membagi sedikit sekali ilmu yang dimilikinya. Meskipun sedikit, dia berharap dari yang sedikit itu, ilmu itu bisa bermanfaat untuk orang lain sebagaimana dia pun membutuhkan Ilmu untuk membuatnya bisa menjejakan kakinya di surga.

Posted on September 10, 2016, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: