Daily Archives: May 27, 2017

Salman, Radikalisme, dan #tehsalmanmanis

Berawal dari artikel yang dimuat di media publikasi online yang menceritakan pernyataan seorang ketua PBNU Bapak Said Aqil Siradj tentang radikalisme yang mewabah ke banyak universitas terutama masjid Salman ITB. Lingkaran interaksi si saya yang kebanyakan memang mahasiswa S1 ITB dan aktifis masjid Salman atau yang pernah berinteraksi dengan Salman akhirnya kemudian bersuara, sebagian besar menolak langsung pernyataan radikal yang diungkapkan oleh Bapak Ketua PBNU tersebut.

Yang manis adalah, penyikapan dari ntah siapa pencetusnya yang menanggapi pernyataan tersebut tidak dengan hawa nafsu menggelora yang berupa penolakan. Instead, dari fanpage FB Masjid Salman, mengajak semua orang yang pernab berinteraksi dengan Salman menuliskan kisahnya dan memberi hastag #tehsalmanmanis pada tulisan tersebut.

Serentak banyak yang tergugah untuk menuliskan keping demi keping kenangan mereka di Salman yang kalo dibaca meni lucu-lucu dan luar biasa. Menjadi sebuah bentuk pembelaan bahwa Masjid Salman bukan tempat radikal seperti yang dituduhkan oleh Bapak SAS juga menjadi sebuah sarana penyaluran memori tentang bagaimana indah dan berkesannya Salman dalam hidup mereka. (definisi Radikal sendiri mungkin akan dibahas kemudian)

Dari tulisan-tulisan yang ada yang bisa saya baca, jelas tersirat dan tersurat bagaimana peran sebuah masjid kampus dalam menjadi bagian jati diri dari seorang mahasiswa. Bagaimana sebuah masjid kampus mengambil peran penting dalam pembentukan karakter seorang mahasiswa, dan bagaimana sebuah masjid kampus menjadi titik tolak pergerakan dan pergolakan perjuangan mahasiswa-mahasiswa tersebut selepasnya mereka keluar menuju medan nyata. Intinya saya berdecak kagum luar biasa akan kiprah yang diambil masjid Salman dan orang2 yang berjuang di dalamnya yang melanjutkan estafet dakwah dan perjuangan untuk melakukan fungsinya membentuk karakter muslim pada jiwa seorang mahasiswa.

Dan si saya…. merasa begitu sangat bersyukur alhamdulillah, telah diberikan kesempatan oleh Allah untuk jatuh cinta kepada Masjid Salman di awal pertemuan kami, hingga menjadi korban pembinaan dan akhirnya menjadi bagian dari pelaku pembinaan di Masjid Salman..

Well, interaksi super intensif saya selama 5 tahun sejak Februari 2005 hingga 2010 telah melekatkan pengaruh yang teramat signifikan dalam karakter yang saya miliki saat ini. Pun dengan kenyataan yang Allah takdirkan bahwa pasangan saya pun memiliki kisah perjalanan interaksi kesalmanan yang mirip dan bahkan beririsan.

Mungkin juga saya udah banyak membahas di artikel2 sebelumnya bagaimana pengaruh Salman (yang dalam hal ini diterjemahkan menjadi Mata’ dan Asrama) dalam diri saya. Dan saya bangga dan bersyukur atas itu. Bahkan Mata yang mungkin bisa jadi dianggap paling radikal adalah bagian yang sangat tak terpisahkan dari dalam jiwa saya, sampai kapanpun.. tidak akan bisa terlepas. (mau gimana lepas juga sih, ini yayang adalah salah satu masul divisi Mata’ wkkwkwkwk)

cropped-547436_3210153298821_1415881245_32249996_1974463566_n.jpg

Btw, kembali tentang radikal. Mungkin sudah banyak orang yang ter-frame tentang radikal dari media yang sekarang menggaungkan kata2 tersebut again dan again. Pemicu yang paling mungkin menurut saya adalah Pilkada DKI.. well.. panjang ini mah dan saya pernah nulis 1 artikel tentang ini sebelumnya. Intinya dari apa yang bisa ditangkap adalah radikal dan radikalisme memiliki konotasi yang sangat negatif, padahal, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Radikal adalah secara mendasar (sampai kpd hal yg prinsip): perubahan yg –; 2 Pol amat keras menuntut perubahan (undang-undang, pemerintahan); 3 maju dl berpikir atau bertindak; (tentu saya ga akan bahas definisi radikal menurut kamus kimia wkwkwkwk).

Untuk memantapkan, saya sertakan definisi radikal dari pemahaman internasional (diambil dari kamus Merriam Webster): Read the rest of this entry