A Complex Feeling of a Mom to be


Tulisan ini akan dibuka dengan 3 pernyataan

“Tidak ada yang bisa memikirkan seorang anak melebihi ibunya”

“Masyarakat modern memiliki konsekuensi pertanggungjawaban atas pengetahuan-pengetahuan baru yang diterimanya lebih dari masyarakat dari generasi sebelumnya. Generasi masyarakat masa lalu mungkin banyak tidak tahu tapi ketidaktahuannya tidak lantas menghambat kehidupannya”

“jika pengen anak yang shaleh shalehah sabar kuat pinter ya harus bisa dididik bahkan sejak dalam kandungan”

Ketiga pernyataan tersebut berada dalam satu ruang lingkup diskusi yang sama, kegalauan saya puasa. Seminggu terakhir ini memang pikirannya ya tentang itu terus, puasa ga puasa. Kebingungan kebingungan yang takut asalnya dari kelemahan diri ini yang mengakibatkan si saya belum terlalu optimal dalam mengemban amanah mengandung ini. Maksudnya ada terlalu banyak factor yang mengiringi langkah kecil ini termasuk aspek yang disadari maupun aspek2 yang mungkin hanya Allah yang punya priviledge penuh di sana. Dan mudah-mudahan si saya selalu berada dalam kondisi menggantungkan semuanya sama Allah saja.

Kondisi iin sebenarnya iin anggap memungkinkan untuk puasa. Tapi pertanyaan yang muncul dr saya maupun paksu adalah apakah kemudian kalo saya menganggap saya kuat, debay yang di dalam kandungan juga kuat? Sebagai seorang FTM (first time mom), si saya belum paham sinyal-sinyal yang memang harus saya awasi sebagai bentuk warning apakah saya boleh puasa atau ngga.

Adapun di pemeriksaan UK24w, bu dokter bilang “air ketubannya cukup” dan “asal nutrisi, air, dan kondisi bisa tetap dijaga diperbolehkan saja puasa, kalo ga kuat ya buka” menjadi 2 pernyataan yang menjadi bekal saya untuk memperkirakan bahwa saya dan debay mungkin akan kuat puasa. Meski tetap ada pertanyaan “iya debay nya kuat?” dan si saya pun browsing dan nanya2 pertimbangan orang2 yang akhirnya membawa pada kesepakatan saya dan suami untuk puasa sehari buka sehari, alias puasa selang sehari ala ala puasa daud untuk tetap menjamin nutrisi debay tetep terpenuhi.

Kenyataannya minggu pertama bisa dapat 3 hari Alhamdulillah, tapi kemudian dievaluasi lagi karena sempet lemes dll dan wa dengan bu dokter bahwa sebaiknya memang kondisi terbaik itu bumil dalam ukuran hamil iin ga puasa. Understandable, karena target pertambahan debay bulan ke 6 menuju 7 adalah sekitar 600gram.

wp-1496731152509.jpg

Dan ternyata sodara si saya kemarin pas nimbang malah turun bbnya dibandingkan dengan UK 24 yang lalu. Turunnya sekilo padahal puasanya juga cm 4 hari. Diskusi ma paksu dan juga ngobrol ma ummi dan mamah mertua. Dapatnya malah galau. Akhirnya tadi malam pas buka dilanjut pas sahur diskusi agak panjang sama paksu yang ngelihat si saya udah cirembay air mata.

Apa yang dibilang mamah mertua adalah hal yang wajar. Ditambahi dengan apa yang dibilang abah tentang “kalo mau anak sholeh ya harus bisa dididik dr sejak dalam kandungan” make sense though tapi da kumaha geuning ada aja was was dr saya atau juga malah si paksu tentang kondisi debay dalam kandungan si saya.

“orang zaman dulu itu, USG juga paling Cuma sekali 2 kali, ga minum susu atau supplemen vitamin seperti yang iin jalanin sekarang. Tahu sungsang, placenta di mana, cewek atau cowok juga mungkin di akhir saja. Beda sama generasi sekarang yang kadang banyak tahu tapi kemudian malah menimbulkan kekawatiran-kekawatitran yang lain. Mamah itu seperti yang a bilang, 12 anaknya semua puasa dan lancar2 saja. Ga minum susu, ga ngitung pergerakan bayi dst”

“trus a im, tapi ngebiarin iin minum susu sama suplemen”

“itu karena ada tanggung jawab atas pengetahuan yang diberikan yang akan mengandung konsekuensi ketika kita tahu tapi avoid”

Dan keluarlah pernyataan yang kira-kira saya interpretasikan seperti yang saya tulis di kalimat pembuka tulisan ini bahwa terkadang pengetahuan akan memberikan efek pertanggungjawaban dan kekawatiran. Ketidaktahuan terkadang membawa pada situasi yang lebih tenang, tapi tho harus diikuti juga kan, karena fakta bahwa perkembangan zaman itu benar-benar terjadi. Pola yang saya jalani untuk pemeriksaan per bulan, tahu ini tahu itu mengakibatkan adanya keharusan penyikapan dengan sebaik-baiknya karena itu juga adalah tantangan generasi yang kita jalani sekarang.

Yang jelas, tidak ada yang memikirkan seorang anak seperti ibunya. TIDAK ADA. Ini yang mungkin terjadi pada si saya saat ini. Mulai dari asupan makan, posisi tidur dll yang diatur sedemikian rupa sehingga debay dalam kandungan stays safe and comfortable. Bahkan nenek ataupun ayahnya juga ga akan mikirin the way a mother is thinking her child. Beda. Dan yang tahu kondisi badan kita ya kita sendiri ga ada yang lain, even kita jelasin se jelas2nya ke dokter atau suami, da ga akan sama persis seperti apa yang dirasakan. Jika emang harus menempuh jalan ngambil rukhshah ya udah kan diperbolehkan,, niat menjalani yang terbaik menjadi ibu terbaik bagi sang anak..

Well, in Cuma takut bahwa kenyataan bahwa kekuatan ruhiyah iin ga sama menggelora seperti ketika dulu kuliah di mana ghirah keislaman kuat banget, kekuatan kedekatan sama Allah juga. Well I feel that muraqabah yang in rasakan memang punya bentuk yang berbeda tapi semuanya bermuara sama Allah.. apalagi iin mengharap Al Mushawwir memberikan anugerah dan penjagaan terbaiknya for my little one. In Cuma takut kelemahan in yang in punya sekarang akan punya pengaruh dan membuat in ga peka sama petunjuk2 yang Allah kasih. Siapa tahu malah sebenarnya debaynya seneng2 aja diajak puasa.

Kekawatiran ini wajar in rasakan meski efeknya bikin jiwa kaya roler coaster. Tetep semuanya akan kembali pada keputusan Allah.. penetap Takdir terbaik bagi semua hamba2Nya termasuk saya, aim, dan our little one. Just wish and hope the best…

 

Advertisements

About iinparlina

Seorang Insan manusia yang diciptakan Allah dengan segala kekurangan dan kelebihannya, yang mencoba menjadi seorang yang dicintaiNya, dan salah satu cara yang dilakukannya adalah dengan menulis, membagi sedikit sekali ilmu yang dimilikinya. Meskipun sedikit, dia berharap dari yang sedikit itu, ilmu itu bisa bermanfaat untuk orang lain sebagaimana dia pun membutuhkan Ilmu untuk membuatnya bisa menjejakan kakinya di surga.

Posted on June 6, 2017, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: