Monthly Archives: July 2017

Timing Allah selalu Tepat

Pekan lalu ntah dimulai dari mana tapi yang jelas si saya lagi kecapean dan pengen goler-goler aja di kasur. Ngobrol panjang lebar lagi ma misua dengan topik yang bermacam ragam hahaha.. dan ntah kemudian nyampe ke obrolan soal jodoh.

Ada banyak hal menarik yang ternyata menjadi kesamaan saya ma misua.. termasyuk permintaan dari kedua orang tua kami yang timing nya ternyata barengan. Mungkin si saya sudah sering banget cerita di blog kalo trigger utama si saya serius nyari calon adalah permintaan khusus dan eksplisit Ummi yang menginginkan si saya nikah sebelum melaksanakan S3. Timing dr Allah tentang offer dari Professor Chen tentang kelanjutan S3 saya dan the way I told this news to my parents. Followed by their responses yang menyatakan keberatannya tentang si saya untuk bisa memperpanjang masa belajar saya di Amerika sebelum si saya nikah.

Sebelumnya mungkin hanya satu kali kedua orang tua mengemukakan secara eksplisit keinginan mereka kepada saya yaitu pas si saya mau daftar TK UGM taun 2005 dulu. Mereka menyatakan keberatan dan saya mengajukan “baik, asal saya diperbolehkan dan didoakan masuk ITB”. yang berujung pada saya yang alhamdulillah ditakdirkan Allah masuk Teknik Kimia ITB dan pernah sekelas dengannya…

selain itu, mereka tidak pernah minta apapun secara eksplist. segala keputusan pemilihan hidup biasanya diserahkan sepenuhnya kepada saya,, keputusan ke BPPT, S2, dan lain sebagainya.

Ternyata, suami juga mengalami hal yang sama. setelah diangkat menjadi PNS tetap di Untirta, beliau menerima titah untuk menikah sebelum usia 30 tahun dan ketika kondisi mapan ^__^. Timing ini yang menjadi krusial karena ternyata sebelumnya beliau banyak menolak tawaran nikah. Dan katanya sambil ntah serius atau gurauan.. “mungkin kalo timing tawaran dari Nden untuk taaruf saat itu datang lebih awal, bisa jadi kita ga nikah sekarang hahahha”.

Dari sana si saya mikir. Allahu Qadir, Allah Yang Maha Berkehendak Yang Menguasai segala dimensi.. memang sudah jalannya titah itu datang dan tawaran itu sampai tepat waktunya.. hingga kemudian si saya kini juga sedang kondisi mengandung dengan HPL yang agak mepet dengan jadwal keberangkatan beliau ke UK. Mungkin kalo telat dikit, beliau tidak akan berkesempatan mendampingi si saya ngelahirin atau megang anaknya nanti hehehe..

Jadi kalau misalnya ada keinginan kita yang belum terkabul, percaya aja Allah akan memberikannya di saat yang tepat di kondisi yang tepat saat memang semua aspek terkondisikan secara tepat..

Subhanallah walhamdulillah wa laa ilaaha illallah wallahu akbar

Advertisements

Keluarga Besar

Before I met and knew you I have never known what does it mean to be a part of a big family. Secara keluarga si saya hanya terdiri dari Ummi, Aa, Iis, dan saya sendiri. Meski harusnya ada 8 orang (4 orang kakak), saya anak ke 5 dari 6 bersaudara. Tapi rumah kami sebenarnya tidak sepi karena kalo digabung dengan keluarga Euma-Bapak serasa makin ramai. Ummi dan Euma adalah kakak beradik dari 6 bersaudara. Euma punya 6 orang anak, yang hidup hanya 4 karena anak ke 5 dan ke 6 wafat, sementara Ummi punya 6 orang anak dengan yang hidup hanya saya dan iis. Jadilah keluarga kami yang juga tinggalnya berdekatan ini menjadi saling melengkapi satu sama lain. Kang Agus, Teh Tinah, Teh Ipong, dan Teh Nia sudah seperti kakak bagi saya dan Iis.

 

myfams

Ekspansi keluarga Euma dengan menikahnya semua anaknya dan sampai lahir cucu-cucu menggemaskan membuat semarak ramai rumah. Maka saya yang status aslinya sepupu menjadi adik hingga kemudian menjadi bibi dari cucu-cucu nya Euma. Tapi ya itu sebatas di sana keramaian yang menghinggapi hidup saya hingga kemudian saya nikah takdir Allah dengan seorang ikhwan yang memiliki 11 orang adik.

Di awal proses taaruf, beliau sudah menyampaikan kondisinya bahwa beliau punya 11 orang adik yang akan menjadi tanggung jawabnya. Dan si saya mengiyakan tanda bahwa saya sama sekali tidak keberatan punya 11 orang adik ipar karena sejak kuliah saya sudah terbiasa mengurusi adik-adik junior di asrama (Salman dan lalu Etos).

Pertama kali bertemu dengan keluarga suami adalah pada tanggal 17 Agustus 2016. Saat itu yang ketemu hanya Mamah, Abah, Irma (adik ke2), Ofa (adik ke 4), dan yang kecil2 yang memang ga ikut forum perbincangan. Well sebelum ketemu udah stalking dulu sih di FB. Ketemu FB abah (yang mungkin dibikinin sama anak2nya) dan melihat foto2 keluarga calon suami saat itu. Well.. rame… itu saja yang kemudian muncul di benak..

Kejutan tentang definisi keluarga besar yang pertama kali saya alami adalah pas nikah tanggal 29 September 2016. Pernikahan disepakati hanya akan melibatkan keluarga dari saya dan suamidan ternyata itu pun yang datang udah buanyaaaakk. Dan saat itu juga ketemu keluarga suami dalam porsi lengkap Mamah Abah dan ke12 orang anaknya.

Saat itu sempet dites nama2 adik suami  untung hafal, tapi lalu tak mampu mengingat dengan baik keluarga dari abah atau keluarga dari mamah yang unexpectedly anak2nya juga buaanyaaak. Saya inget saat itu, teh Hol (gatau bener atau ngga nulis nama panggilannya) juga dibilang punya 13 orang anak. Salah satu anaknya seumur dengan suami dan ternyata satu angkatan di ITB.. anak IF05 hehehe…

Pengalaman hidup bareng keluarga besar kemudian saya alami untuk pertama kalinya nginep di rumah mamah di Cilegon. Kebayang kan ngurus anak sebegitu banyaknya dan mamah menjalankannya dengan sangat luar biasa. Rumah rame luar biasa. Pas malem pada bergelimpangan di ruangan tengah dengan aktifitasnya masing2. Ada yang bareng belajar ada yang maen bareng slime dll.. rame dan si saya ga pernah berada dalam kondisi seperti itu.

Puncak keterkejutan si saya tentang definisi keluarga besar adalah ketika ramadhan-syawal 1438H kemarin saya habiskan di rumah mamah. Yang kondisinya saat itu adalah full member.. anak2 nya ada semua di rumah. Complete 12 orang plus si saya nambah2in jadi 1 ma si dede janin tentu hihihi.. daaan luar biasa itu saur ma buka puasa bareng2 beneran berkesan banget… berbeda susananya dengan apa yang pernah dialami pas di asrama apalagi kalo dibandingkan dengan kondisi rumah di Cipanas. Kontras abis.

Dan lebaran iedul fitri yang menguak definisi keluarga besar yang sebenarnya. Salam2an ma tetangga yang datang sampe lebih dari 210 orang kali ya..(keitung dari jumlah bingkisan yang dibuat). Juga kedatangan saudara2 dari abah (yang dari mamah katanya ga datang semua hihihi) daaaaan buanyaaaaaak… ketemu dengan anak2 teh hol, teh evi, abah uwa, dan masih banyak lagii… Abah sendiri adalah anak ke 10. Dan baik kakak maupun adiknya abah juga anaknya buanyak.. hihi… kebayang kan amazed nya si saya saat itu. Berkali2 saya ceritain ini ke mamah, emak, suami, sampe sekarang kesannya masih membekas hihihi..

Dan yang saya bayangkan nanti adalah ketika dede bayi saya sudah besar dan ketemu tante2nya om2nya dan juga anak2 mereka.. akan ramai seperti itu atau mungkin lebih.. sungguh sesuatu yang sangat indah untuk dibayangkan hihihi…

Jadi intinya si saya nikah sama aimam itu jadi merenovasi definisi keluarga besar yang selama ini pernah nyangkut di kepala… hihi… seruuuu pokonya maaaah…

I am so grateful Allah chose you and your family to be a part in my life a…. belum lagi yang 11 ini karakternya juga bikin2 gemesh gimanaaa gt hihihi.. seru abis..

PP No 11 th 2017, Obrolan Kita dan Mengejarmu

Pagi itu, 2 hari pasca Iedul Fitri 1438H, kau datang ke kamar Irma di mana aku sedang membaca buku elok yang kau tugaskan untuk kutuntaskan sebelum kita kembali ke rumah dan dunia nyata kita.

Berawal dari obrolan ringan yang kubuka dengan cerita bahwa tadi malam aku dan adiknya membicarakan bukaan CPNS di website yang ternyata hoax yang membawaku membuka peraturan baru mengenai ASN yang tercantum dalam PP No. 11 tahun 2017 yang memang baru dikeluarkan bulan April yang lalu. Peraturan yang sama yang membuat salah dua dari senior ku di BPPT terancam pensiun mendadak. (peraturan lama untuk peneliti madya pensiun pada usia 65 tahun, sementara di peraturan ini bilangnya 60 tahun).

Dan kau bertanya tentang apakah ada perubahan peraturan tentang cuti. Dan aku bilang g ada. So far, isi peraturan cuti masih sama dengan PP lama tahun 1974 yang sampe sekarang masih dipakai. hanya beberapa point yang mungkin ada tambahan misalnya di bagian Cuti di Luar Tanggungan Negara (CLTN) yang aku pantau terus perkembangannya. di PP sebelumnya tidak ada pernyataan tentang kosongnya formasi, tapi di PP ini ada.

Obrolan menjadi bertambah serius dengan ditandai ekspresi raut mukanya yang berubah.

“dan atasannya iin masih belum ngasih lampu hijau atau tanda-tanda mau ngasih CLTN?” dan aku mengangguk pelan.

“udah diskusi sama Bapak Kabagpro juga sama. Adanya kesulitan kembali pasca CLTN apalagi ketika formasi memang benar-benar diisi orang lain”

“resikonya terlalu tinggi. udah fokus nyari sekolah aja.”

“tapi tetep ga boleh LPDP kan? haha”

“iya cari yang lain”

“tapi UK mah ga banyak beasiswa nya. Chevening cuma buat master aja. paling grant proyek dari prof aja”

“tapi ga mustahil kan?”

“ngga…  meski artinya harus kerja keras. Tapi sebenarnya ada opsi ketiga sih a. yang belum pernah kita diskusikan”

“apaan?eh tapi opsi 2 nya apa?”

“mengingat terbatas bisa dapat bsw ke UK, kebayangnya mampir ke negara tetangga. itu opsi ketiga. Opsi keduanya kan udah pernah dibahas, nyari k univ sekitar Bath”

“negara apa emang?”

“Jerman, pake DAAD. at least chance nya bs dari univ bs dari govt”

“Boleh itu juga dikejar, paling ngga masih bs ketemu 3 bln sekali di banding ketemu setahun sekali”

(kok berat bangeeet yaaa hiks)

Di satu sisi lega dapat approval, di satu sisi ada semangat baru menggelora mengejar cita-cita yang pernah lama terkubur. Jerman adalah negara state of the art nya biogas bahkan mengalahkan US sekalipun. Dan fakta bahwa kalo aku bisa masuk ke sana bisa memperkecil peluang LDR yang super lama.

kesimpulannya si aku harus dapat sekolah, S3 ke Eropa dengan status yang baru yang juga ada tantangannya yang bukan berarti aku gabisa, wong kamu aja percaya ma aku.

Si aku pun mulai ngelist dan mulai serius lagi supaya bisa sekolah lagi. Meskipun masih tahu depan kan harus disiapin dari sekarang, apalagi nanti mungkin ada dede kecil barengan pasti seru.. di sini ku ngerasa barengan sama kamu teh memang ngerasa kepicu terus buat maju…

dan 2 hari yang lalu dikasih petunjuk sama Allah, selain DAAD kalo mau ngejar opsi 1 dan 2 mungkin beasiswa IDB ini bisa juga dipake.. who knows,, kamu kan dapat nya dari IDB juga meski pake mekanisme universitas-Kemenristekdikti

siapa tahu si aku juga bisa 🙂

Semangaaaaaat

idb

Gosong

Well.. tidak semua resep yang tersedia di internet bisa dieksekusi dengan sekali mulus. kasusnya si saya, seingat iin memang kebanyakan mah mulus, edible, dan enak.. nah giliran dapat yang ga lancar jadi pembelajaran juga.

si saya ngidam bikin martabak. udah 3 hari belum kesampaian. Giliran weekend datang dan bahan lengkap si saya emang maen rahasia2an sama misua haha.. I said “it’s a surprise”..mungkin gara2 ini juga jadi gagal wkwkkw…

well memang dari dulunya si saya jarang sih pake takaran gram karena emang ga punya timbangan (kayanya emang harus maksain beli kalo gini mah hahahha). tapi si saya biasanya fine fine aja… giliran bikin martabak yang satu ini pas gagal kok nyesek banget padahal rasanya mah enak cuma gosong doang hahahha..

wp-1499844539513.jpg

Resep martabak nya sebenarnya mudah. Saya dapatkan dari instagram yang memang berisikan resep2 yang gampang buat dieksekusi.

semuanya sih oke sampe kemudian si saya nuangin adonan ke wajan kecil dan voila gosong…. padahal api kompor sudah diatur sedemikian rupa sehingga  harusnya mah ga gosong. Tapi emang sih kalo nginget lagi mamang2 tukang martabak kan biasanya wajannya tebel banget.

Nah salahnya si saya harusnya dari sana saya ngeh satu parameter yaitu kekentalan adonan. Saat itu saya cuma ngeh sama kontrol api hingga kemudian saya fokus ngeganti wajan yang lebih luas dan tebal. Hasilnya sama sodara2 padahal udah ngontrol api kompor sebaik mungkin.

Di akhir cerita, bagian bawah emang gosong tapi bagian di atasnya sebenarnya enak banget dan sayang kalo dibuang, akhirnya saya makan juga. Misua sih makan dua potong (mungkin karena ngerasa ga tega udah susah-susah bikin wkkwkw).

Sambil nganalisis apa yang sebenarnya terjadi pikiran saya barulah ngeh sama si adonan yang mungkin memang terlalu kentel alias kurang air. kayanya ini penyebab utama. Oleh karena itu kayanya si saya bakal nyoba lagi kali lain dengan kekentalan yang lebih rendah dari yang pernah saya buat ini haha… ga kapok ceritanya habis martabaknya sebenarnya enak…