Monthly Archives: August 2017

18 Agustus 2013

Pagi itu jam 6 pagi saya masih cekikian baca cerpen sampai kemudian ada telepon berdering. Belum berangkat ke kantor karena emang biasa siap-siap mulai jam 7 (maklum kosan kan deket kantor). Teh Nia adalah nama yang tampil di layar HP. Segera saya angkat. Dengan suara yang sedikit parau Teh Nia menyampaikan bahwa rumah di Cipanas kebakaran tadi malam.

Setengah tidak percaya akhirnya saya pun beres-beres pulang ke Cipanas setelah sebelumnya mengontak kantor tentang apa yang terjadi. Janjian di Stasiun Parungpanjang untuk bersama pulang dengan keluarga Teh Haji. Ga ayal lagi, di dalam mobil akhirnya nangis.

10624563_803019353051984_2014103739910854422_n

Sampai di rumah sekitar jam 10an dan hal yang pertama yang saya lakukan adalah ketemu Ummi dan Aa memastikan mereka baik-baik saja dan tidak kurang suatu apa. Tangisan kembali pecah. Euma yang memeluk erat Teh Haji menyiratkan berbagai kepiluan yang teramat sangat.

Aku beranjak melihat puing-puing rumah. Tangis pecah bukan karena melihat puing rumah yang sudah jelas akan menyisakan banyak PR setelahnya, melainkan karena melihat sisa buku yang terbakar. 3 karung buku dalam kondisi yang menghitam dan basah. Buku sekolah dari mulai TK sampai SD, SMP, SMU, kuliah dan buku-buku tarbiyah yang kukumpulkan dengan susah payah dari sisa uang beasiswa.

Proses pemulihan trauma dan juga biaya pembangunan kembali menjadi PR yang sangat besar dalam musibah ini. Trauma dari Ummi, Aa, Euma dan Bapak yang masih tersisa dan bahkan ada kala2 sekarang yang masih suka mengungkit luka di musibah tersebut. Juga PR membangun 3 rumah yang rasanya ga sanggup dilakukan kalo pake logika manusia. Hanya Allah yang Maha Berkuasa yang bisa mengembalikan rumah kami dengan kebesaran dan pertolonganNya yang luar biasa.

Well… sebulan setelah kesedihan yang devastating tersebut, Allah mengirim kabar yang sangat indah… “saya lulus beasiswa fulbright ke Amerika”. Fa bi ayyi aa laa i rabbikumaa tukadzibaan…

Advertisements

17 Agustus 2016

Tahun yang saya tuliskan ini tidak salah.. saya memang mau menulis tentang apa yang terjadi pada tanggal 17 Agustus 2016 setahun yang lalu di mana itu adalah kali pertama saya berkenalan dengan sebuah keluarga luar biasa yang berdomisili di Cilegon sana. Well yes.. keluarga suami saya alias mertua dan ipars.. Hari itu memang sukses (kayanya) berkenalan dengan Mamah, Abah, Emak, Zuron, Irma, Ofa, Rina, Rini, Nisa, Amrin, Isma dan Susi… dan menyusul kemudian Nurul via wa.

Saya ingat bahwa pada saat itu saya yang BARU mulai kembali bekerja lagi di PTL-BPPT bawel banget nanyain apakah tanggal 17 agustus harus masuk bekerja atau tidak. Bukan apa2… dari proses pembicaraan di taaruf, tanggal itu teh tanggal yang disepakati bahwa si saya melakukan kunjungan pertama kali ke keluarga aimam.

Beliau di awal menjadikan keluarga sebagai salah satu bentuk kondisi yang saya harus maklumi. Fakta bahwa beliau adalah anak pertama dari 12 bersaudara menjadi faktor yang teramat sangat penting (belakangan dari mamah saya juga mendengar hal yang sama). si saya menyatakan tidak keberatan dengan kondisi tersebut dengan pertimbangan bahwa itu bukan hal yang teramat sangat signifikan untuk terhambatnya sebuah jalinan hubungan (well yes iya ada tanggung jawab dll, tapi kan ga papa toh hihi). Lagipula saya udah biasa ngurusin adik2 selama beraktifitas di kampus (asrama, mata, etos, dll).

Pertama kali ke Cilegon dengan menggunakan jasa angkutan bus, akhirnya ketemu lah saya dengan keluarga calon suami saat itu. Si saya pikir menjadi bagian keluarga besar adalah hal yang akan membahagiakan… faktanya jauuuuh lebih besar dan membahagiakan (udah pernah cerita ini di tulisan sebelumnya).

pembicaraan berkutat di sekitar perkenalan, aktifitas di kampus dulu, proses perkenalan, sampai ke curhat perkuliahan..

ada hal lucu yang saya ga pernah lupa.. the way he was introducing me to his abah
“abah ini temen imam dulu di kampus yang pernah imam ceritakan.. udah PNS 3 tahun lebih dulu daripada imam” seolah menekankan how being PNS is something big hihi… (belakangan tahu juga ceritanya kenapa hihhi).

Malu-malu tapi alhamdulillah perkenalan berjalan dengan lancar (I guess),, grogi of course but I was just trying to be myself (la mau gimana kan calon mantu wkwkkw, gabisa pura2 pasang tampang manis juga toh?). Belakangan saya denger dr Irma kalo kesan pertama mamah ke saya adalah “iin itu orangnya rame ya.. mudah2an cocok buat mengimbangi imam yang serius” hihihi

Diskusi dilanjut dengan makan siang bersama. Makan makanan andalan mamah. dan melihat how this family interacted each other made me wondering so many things in my own life. Ya mau gamau wondering kan “si saya sanggup ga fit in dengan segala hal baru ini” (la di rumah kan cuma ada iin ma iis doang yang kalo berantem kadang suka kebangetan wkwkwkwk).

Begitulah… hihi

jadi yang mau melakukan kunjungan keluarga pertama kali.. jangan tegang yaa… santai aja… and be yourself. Gantungkan setinggi mungkin harapan sama Allah aja.. kalo jodoh ya ga ke mana ^_^

 

Evaluasi setahun kembali bekerja

Ga kerasa 1 tahun sudah si saya kembali ke bumi BPPT mencoba mengaktualisasikan diri dengan kapasitas yang dimiliki dan dibina selama tahun2 sebelumnya dan terutama pembentukan pengetahuan dan skill sebagai seorang researcher yang didapat di tanah Obama. Ada banyak hal yang terjadi tentu. Suka duka, kesibukan dan waktu luang.. plus menyandang status baru sebagai seorang istri dan calon ibu yang tentunya memiliki pengaruh yang teramat sangat berbeda jika dibandingkan dengan periode tahun 2011-2014 di mana saya mulai melebarkan sayap dulu.

Hal yang paling utama yang saya soroti dari apa yang terjadi selama 1 tahun ini adalah bahwa jujur memang semangat saya bekerja tidak sebesar ketika sebelum saya berangkat ke US. Harusnya kan kebalik ya? Pulang dr US harusnya boosting semangat lebih besar lagi untuk bisa berkiprah lebih besar kepada negara. Kenyataannya ternyata tidak. Reverse culture shock yang cukup menghentak alam sadar dengan bentuk segala ketidakidealan di dunia bernama “kepemerintahan”. Well..  mau gamau saya juga termasuk ke dalam bagian pemerintah bukan… dan ketidakidealan itu bikin kepala puyeng pisan. Hal kedua adalah adanya ketidaksesuaian bidang yang saya dalami selama ini dengan tugas yang diberikan sekarang. Kalo tidak sesuainya sedikit mah ya gapapa.. tapi karena terlalu jauh jadi ada efek males untuk catching up materi2 yang emang saya ga punya solid background di sana. Plus kerjaan ke-PTL-an yang memang tidak membutuhkan banyak proses pengurasan otak tapi cukup membosankan hehehe… well saya tidak bermaksud mengeluhkan kondisi saya saat ini. Tapi perbedaan iin dulu dan iin sekarang memang beneran signifikan. Ini mungkin juga akibat manajemen si saya yang harus ditingkatkan kualitasnya. Tapi emang jujur passion nya juga mulai melemah nih.. harus ditingkatkan lagi.. apalagi passion ke-biogas-an di PTL juga seperti seolah dipudarkan perlahan secara struktural.. karena si saya juga ga lagi di grup biogas bu menik.

Untuk masalah biogas di kantor memang simalakama sih.. si saya juga gatau apakah saya sanggup mengikuti pace nya si Ibu yang memang terkenal wah sejak dulunya. La dulu sampe bisa gadang sampe jam 3 pagi d rumah atau jam 12 malam di kantor ya sebagian besar kerjaan dari beliau. Dan well itu yang ngeentuk saya sih saya nyadar… tapi emang dari awal menginjakan kaki di sini lagi seolah si saya juga udah beneran dihalangi ke sana,,, dan emang saat itu si saya nya juga masih ragu apakah bisa mengikuti grup tsb. Jadi kaya kebuka kesempatan gt.. ujung2nya sempet post power syndrome.. (pernah ditulis di blog juga).

Selain itu.. penyadaran diri terhadap amanah sejati saya sebagai seorang wanita yaitu menjadi istri dan ibu saya kira juga turut ambil peran hehehe.. kan emang sejatinya amanah saya yang utama adalah di rumah. Jadi kalo udah pulang udah deh gabisa nyentuh kerjaan lagi kecuali kepaksa banget. Well saya juga enjoy being a housewife, masak dan bikin kue wkwkwkw… apalagi kalo udah weekend udah deh hihihi…

Nah.. setahun berlalu harus ada perubahan yang makin baik atuh ya. Insyaallah. (tapi sekarang siap2 cuti malah wkwkkw). Ada PR Besar yang harus dituntaskan di periode september 2017-september 2018. Apa coba? Ngejar aim sampe ke Eropa haha… ntah nanti gmana tapi since it has become my life now, I will try my best to play my roles. Mudah2an aja semuanya lancar, ada dede bayik harusnya makiiiin semangaaaat nantinya J

Pentingnya Pengolahan Sampah di Darat untuk Mencegah Timbulan Sampah di Laut

Permasalahan lingkungan adalah masalah polemik yang membutuhkan solusi. Sampah laut menjadi satu masalah yang sangat besar terkait ancaman terhadap kehidupan biota laut yang akan memberikan dampak juga terhadap kehidupan di darat. Penyelesaian permasalahan sampah laut menjadi krusial.

Untuk melakukan pencegahan terhadap sampah laut, kita perlu tahu sumber utama kontributor. Berdasarkan data yang diperoleh dari http://www.projectaware.org, 80% sampah laut berasal dari sampah yang dihasilkan di daratan. Yang berasal dari kegiatan antropogenik manusia. Hanya 20% yang merupakan asli sampah yang dihasilkan dari aktifitas laut itu sendiri. Seperti dilansir dari www.projectaware.org, , sebagian besar sampah laut berwujud plastik. Hal ini telah menyebabkan kematian berbagai biota laut dan juga plankton yang berperan juga dalam produksi produk perikanan.

learn-1

picture source: Google

Perilaku yang tidak bertanggungjawab atas pembuangan sampah ke perairan menjadi faktor yang berperan dalam timbulan sampah. Dari perairan, sampah secara natural mengalir terbawa ke lautan, kemudian menumpuk dan menimbulkan pencemaran dan permasalahan untuk sistem biota laut.

Memang sudah ada beberapa upaya yang dilakukan untuk mengatasi timbulan sampah yang ada. Misalnya penggunaan floating boom yang berfungsi untuk mengumpulkan sampah di lokasi tertentu dan mencegahnya tersebar ke area laut yang lebih luas. Di collecting point ini kemudian dilakukan pengangkatan dan pengangkutan ke TPA atau unit pengolahan/pemilahan sampah. Alat lain yang bisa digunakan adalah screen bar terapung yang dikombinasikan dengan crane penciduk.

BPPT sebagai salah satu lembaga pemerintah untuk implementasi teknologi Read the rest of this entry