Pentingnya Pengolahan Sampah di Darat untuk Mencegah Timbulan Sampah di Laut


Permasalahan lingkungan adalah masalah polemik yang membutuhkan solusi. Sampah laut menjadi satu masalah yang sangat besar terkait ancaman terhadap kehidupan biota laut yang akan memberikan dampak juga terhadap kehidupan di darat. Penyelesaian permasalahan sampah laut menjadi krusial.

Untuk melakukan pencegahan terhadap sampah laut, kita perlu tahu sumber utama kontributor. Berdasarkan data yang diperoleh dari http://www.projectaware.org, 80% sampah laut berasal dari sampah yang dihasilkan di daratan. Yang berasal dari kegiatan antropogenik manusia. Hanya 20% yang merupakan asli sampah yang dihasilkan dari aktifitas laut itu sendiri. Seperti dilansir dari www.projectaware.org, , sebagian besar sampah laut berwujud plastik. Hal ini telah menyebabkan kematian berbagai biota laut dan juga plankton yang berperan juga dalam produksi produk perikanan.

learn-1

picture source: Google

Perilaku yang tidak bertanggungjawab atas pembuangan sampah ke perairan menjadi faktor yang berperan dalam timbulan sampah. Dari perairan, sampah secara natural mengalir terbawa ke lautan, kemudian menumpuk dan menimbulkan pencemaran dan permasalahan untuk sistem biota laut.

Memang sudah ada beberapa upaya yang dilakukan untuk mengatasi timbulan sampah yang ada. Misalnya penggunaan floating boom yang berfungsi untuk mengumpulkan sampah di lokasi tertentu dan mencegahnya tersebar ke area laut yang lebih luas. Di collecting point ini kemudian dilakukan pengangkatan dan pengangkutan ke TPA atau unit pengolahan/pemilahan sampah. Alat lain yang bisa digunakan adalah screen bar terapung yang dikombinasikan dengan crane penciduk.

BPPT sebagai salah satu lembaga pemerintah untuk implementasi teknologi telah memulai mengembangkan solusi untuk mengatasi sampah padat yang ada di sistem perairan, yaitu sejenis alat penjebak sampah secara otomatis yang dilengkapi dengan alat penge-press. Alat ini merupakan sebuah inovasi di mana, dilakukan reduksi volume sampah yang ada. Pengurangan volume sampah menjadi signifikan jika dikaitkan dengan permasalahan transportasi sampah dan volume timbulan sampah di TPA.

Seperti yang dijelaskan sebelumnya, 80% sampah laut merupakan sampah dari darat yang terbawa sistem perairan menjadikan teknologi pengelolaan sampah di darat memegang peranan yang sangat penting. Selain itu, dengan besarnya populasi Indonesia, jumlah timbulan sampah bisa jadi akan bertambah terus. Saat ini, sekitar 69% sampah di darat ditampung dan diolah di tempat penampungan sampah yang ada. Hanya saja, 90% TPA bukan merupakan tempat penampungan sanitary landfill atau controlled landfill. Selain itu, laju pengumpulan juga rendah dan laju recycle hanya bisa optimal di 7.5% kota metropolitan di Indonesia. Data-data tersebut menambah keyakinan akan pentingnya pengolahan sampah padat di darat untuk mencegah sampah tersebut ikut sistem pengairan ke laut. Sampai bisa dikatakan bahwa laut akan bisa menjadi lebih bersih ketika manajemen sampah di darat bisa dilakukan secara optimal.

Adapun manajemen sampah di darat sendiri bisa dilakukan pada 3 skala yang berbeda. Yaitu skala rumah tangga, skala komunal, serta skala besar dengan sistem sentralisasi. Pada skala rumah tangga, manajemen sampah bisa dilakukan dengan cara penerapan teknologi komposter dan biogas juga 3R dengan melakukan pengumpulan sampah (waste bank) dan kemudian me-recycle material sampah yang masih memiliki daya jual. Biasanya pada skala ini, untuk penerapan teknologi, dapat diutamakan teknologi yang bersifat murah dan mudah dilaksanakan. Adapun skala komunal merupakan peningkatan skala penerapan teknologi dan manajemen dengan ruang lingkup yang lebih besar dan jumlah sampah yang lebih banyak. Sifatnya bisa dilakukan secara paralel dengan pengolahan sampah skala rumah tangga. Adapun skala besar pada dasarnya juga sama, yaitu penerapan teknologi dana manajemen, hanya skalanya yang dibuat lebih besar yang tentu mempunyai kompleksitas yang lebih rumit.

Penerapan teknologi dan manajemen sampah di skala rumah tangga memiliki signifikansi dalam pengurangan volume sampah yang harus diangkut dan diolah di TPA. Juga mengurangi jumlah sampah yang dibuang ke perairan yang akhirnya bisa menumpuk di laut. Selain itu, pada skala ini, terdapat peningkatan aktifitas ekonomi warga yang akan berdampak pada perbaikan peningkatan kesejahteraan ketika hasil dari proses recycle benar-benar dapat dioptimalkan untuk dipasarkan secara komersial.

Pengolahan sampah pada skala komunal merupakan sistem desentralisasi yang juga akan mengurangi beban pengangkutan dan pengolahan sampah di TPA yang berdampak pada pertambahan umur penggunaan TPA. Selain itu, pada skala ini, terjadi peningkatan kapasitas teknologi. Misalnya komposter pada rumah tangga menjadi teknologi windrow untuk mengolah sampah dengan kapasitas yang lebih besar. Teknologi pyrolisis yang merupakan salah satu opsi teknologi termal untuk pengurangan volume sampah juga bisa dilakukan pada skala ini. Pentingnya skala ini juga dapat dikaitkan dengan adanya peningkatan partisipasi masyarakat yang akan meningkatkan kualitas tingkah laku penanganan sampah. Juga, merupakan solusi untuk pengolahan sampah yang sedekat mungkin dengan sumber penghasil sampah dan sesuai untuk diterapkan di kota dengan jumlah populasi kecil.

Pengolahan sampah pada skala besar misalnya di kota metropolitan tentu memiliki kompleksitas yang berbeda yang memerlukan implementasi teknologi terbaik karena ini adalah tumpuan terakhir pengolahan sampah. Di sinilah kemudian teknologi pengolahan sampah pada level advance bisa diterapkan misalnya insinerasi dan teknologi termal lainnya untuk bisa menghasilkan energi (waste to energy) atau biogas yang dihasilkan dari fermentasi anaerobik yang bisa digunakan kembali sebagai sumber energi terbarukan.

BPPT misalnya, memiliki sistem teknologi pengolahan sampah yang cukup efektif yaitu sistem sanitary landfill tipe basah, di mana leachate yang dihasilkan dikembalikan ke dalam sistem pengolahan sampah untuk mempercepat proses pembusukan dan degradasi yang menyebabkan volume sampah cepat susut.

Untuk mengatasi timbulan sampah di laut, penanganan sampah di darat sebagai kontributor terbesar memiliki peranan yang signifikan. Penanganan dengan menggunakan teknologi yang tepat dan optimal akan bisa mencegah timbulan sampah bahkan bisa menghasilkan produk lainnya seperti peningkatan daya jual sampah hasil recycle, peningkatan kualitas perilaku masyarakat, dan bahkan energi yang bisa digunakan untuk menggantikan bahan bakar fosil. Di antara itu semua, fungsi utama pengolahan sampah ini adalah pencegahan kerusakan lingkungan akibat timbulan sampah. Dan untuk ini, BPPT telah memulai langkah inovasi teknologi, melakukan berbagai kajian teknologi yang memiliki manfaat dalam proses pengolahan sampah di darat yang akan berdampak pada pencegahan timbulan sampah di laut.  BPPT juga berkomitmen untuk terus melakukan inovasi dan membuka peluang kerja sama dengan segenap stakeholder (dalam dan luar negri) dalam upaya pencapaian implementasi teknologi yang lebih optimal

 

Advertisements

About iinparlina

Seorang Insan manusia yang diciptakan Allah dengan segala kekurangan dan kelebihannya, yang mencoba menjadi seorang yang dicintaiNya, dan salah satu cara yang dilakukannya adalah dengan menulis, membagi sedikit sekali ilmu yang dimilikinya. Meskipun sedikit, dia berharap dari yang sedikit itu, ilmu itu bisa bermanfaat untuk orang lain sebagaimana dia pun membutuhkan Ilmu untuk membuatnya bisa menjejakan kakinya di surga.

Posted on August 7, 2017, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: