Monthly Archives: February 2018

Sistem Pembelajaran Orang tua dan Bagaimana Pengaruhnya

Setelah sebelumnya melakukan analisis kecil-kecilan untuk melihat how kekuatan fitrah seorang Ibu menjadi penting dalam dunia pendidikan dan pengasuhan anak-anaknya. Di sini akan coba dilihat bagaimana kekuatan fitrah itu diejawantahkan menjadi sebuah bentuk sistem pembelajaran. Dan si tulisan kecil ini hanyalah sebuah pemikiran yang mungkin agak dangkal juga sih.. tapi paling tidak sudah mampir di kepala dan kalo buat saya layak ditulis biar ga lupa hehe.

Ketika sepasang orang tua terutama Ibu mendapat gelar ibu mulai dari adanya janin dalam kandungannya, maka saya  yakin Allah mengaruniakan kepadanya kemampuan dan fitrah untuk menjadi Ibu.. dalam hal ini kemampuanmenjadi seorang ibu seems to be a fitrah for me. Well yes sih.. wong dulu ketika zaman purba ga ada dokumentasi ilmu parenting secanggih sekarang, tapi buktinya bapak ibu zaman dulu mampu mendidik dan membina putera puterinya dengan sebaik mungkin. Maka saya katakan itu adalah natural skill aka fitrah yang Allah titipkan bersama lahirnya calon manusia baru ke dunia. Namun…. nah ada namunnya. Natural skill ini akan semakin terasah dan teroptimalkan ketika ada sistem pembelajaran yang dilakukan si orang tua.

Recent research tells us that parenting is not necessarily a natural skill and most parents would benefit from some degree of instruction. Begitu katanya.. well yes.. di Kanada nih, ada program-program parenting khusus yang memang didedikasikan untuk membekali para calon orang tua untuk membantu  mereka belajar dan membangun style parenting positif, skill, dan tingkah laku.

Misalnya dari pembelajaran ini bisa membantu orang tua membangun kemampuan kecerdasan emosional anak,  juga kecerdasan sosial dan kognitif mereka, dan bagaimana praktek parenting yang efektif itu.

Parenting sendiri dapat didefinisikan secara sederhana menjadi 2 dimensi penting yaitu,

  1. Responsiveness: bagaimana orang tua mangasuh dan mendidik anak, kemampuan mereka menanggapi kebutuhan dan interest si anak
  2. Kontrol: bagaimana orang tua bisa men-supervisi dan mendisiplinkan sang anak.

Tapi memang pada kenyataannya bisa tak semudah mengakomodasi 2 hal tersebut, karena ada banyak sekali komponen yang terlibat. Di sinilah letak pembelajaran juga mengambil peran.

Bagi saya sendiri, sistem pembelajaran untuk parenting pun pada dasarnya akan mengikuti pola yang biasa saya terapkan untukbelajar ilmu pada umumnya. Namun memang, karena halnya ini menyangkut sebuah kehidupan dan makhluk Allah yang mungil lucu luar biasa, ada pendekatan pendekatan lain yang disesuaikan (mungkin juga mengikuti si “natural skill” atau pun menerapkan hasil belajar menjadi orang tua). Dan biasanya tahapan yang saya tempuh terdiri dari:

  1. Pengumpulan informasi
  2. Implementasi
  3. Evaluasi

Pengumpulan informasi dilakukan misalnya dengan mengumpulkan referensi yang terpercaya berupa buku, artikel, dan juga hasil diskusi dengan praktisi yang lebih berpengalaman. Implementasi adalah bagaimana si saya mengeksekusi ke dalam bentuk interaksi terhadap objek yang bersangkutan dan evaluasi adalah untuk melihat bagaimana sistem informasi yang telah saya kumpulkan bekerja secara baik dan melihat dari sisi mana hal halimplementasi atau dasar ilmu yang saya tahu harus diimprov lagi.

Untuk case yang saya hadapi sekarang, berhubung Naya juga masih 6 bulan maka timeline pembelajaran yang saya set adalah kurang lebih sbb:

  1. mengumpulkan referensi terbaik, misalnya mengikuti perkembangan Naya “what to expect for the first year”, dilanjutkan “what to expect for the second year”. membekali diri dengan pengetahuan parenting berbasis nubuwah dengan membaca “prophetic parenting” dan sejenisnya
  2. menggunakan fasilitas online course yang tersedia misalnya: https://www.coursera.org/learn/everyday-parenting

tentunya timeline dari bahan-bahan ini harus diatur sedemikian rupa sehingga pada implementasinya bisa optimal yang mengarah pada kemajuan perkembangan naya secara motorik, sensorik, kognitif, sosial secara efektif.

Referensi:

Anynomous (2008). Parenting styles, behaviour and skills and their impact on young children      , Early Childhood Learning Knowledge Centre, Kanada

Mendidik dengan kekuatan fitrah

Ada yang menarik dari diskusi yang selalu mewarnai obrolan saya dengan suami ketika saya pada masa hamil dulu. Hal itu adalah tentang betapa intens saya belajar dari berbagai sumber referensi yang sebenarnya reliable mengenai kehamilan saya. Tulisan ini pernah diupload sih hehe,, tapi akan saya mentioned dikit karena ada kaitannya dengan apa yang ingin dituliskan di sini. Perbandingan orang dulu dengan orang sekarang dalam menghadapi dunia salah satunya adalah penggunaan referensi (dalam hal ini internet) untuk menghadapi dunia mereka. Sementara orang tua zaman dulu, mana ada gawai dengan segala isinya yang terkadang overwhelming yang membuat mereka membina dan mendidik anak-anaknya dengan kekuatan fitrah yang mereka miliki yang disesuaikan dengan fitrah si anak. Suami sering mencontohkan mamah mertua yang mampu mendidik ke-12 anaknya hingga seperti sekarang, sementara saya pun ga jauh-jauh melihat bagaimana ummi dan Bapak saya membesarkan saya sekarang. Semuanya tanpa gawai. Ada campur tangan Allah tentunya dalam setiap detik yang mereka jalani dalam membimbing kami. Oleh karena itulah mengapa keshalihan orang tua teh begitu penting, karena itu modal terbesar dalam bagaimana melibatkan Allah dalam mendidik anak-anak.

Dengan peran sebagai Ibu yang menjadi amanah dan kodrat terbesar, tentu bekal ilmu pengetahuan tentang hal tersebut di universitas kehidupan ini menjadi hal yang paling utama. Usaha untuk memperkaya diri dengan diskusi dengan Ummi ataupun mamah (seminggu sekali) ataupun para senior moms yang mempunyai pengalaman yang lebih banyak adalah hal yang saat ini rutin mengisi hari-hari saya, selain tentunya referensi-referensi dari sumber terpercaya (acuan primer dan sekunder wkkwkw).  Peran saya sebagai Ibu dan istri ini menjadi sedemikian pentingnya bagi saya mengingat mendidik Naya berarti mendidik calon ibu, mendidik satu generasi. Sementara mendampingi suami (meskipun dalam status ldm) berarti si saya mensupport peran utama beliau sebagai seorang imam juga untuk pencapaian tujuan ukhrawinya yang berada dalam bentuk profesionalisme pekerjaannya sebagai dosen dan peneliti. Namun di samping peran tersebut, peran saya ke luar sebagai seseorang yang menyadari pentingnya aktualisasi ilmu untuk kebangkitan ummat (dalam hal ini mengerucut kepada ilmu kemurgi dan energy baru terbarukan) juga saya rasakan masih tetap harus dijaga semangatnya… well yes meskipun menjadi prioritas sekian.. bagaimana saya menyeimbangkannya itu yang selalu menjadi PR setiap saat baik dalam tataran pemikiran maupun eksekusi pelaksanaan.

Terkait point 1 yang telah saya sampaikan di bagian pertama tentang how keshalihan menjadi factor yang sangat penting dalam pencapaian peran saya telah saya jelaskan di tulisan saya sebelumnya (tulisan “indicator profesionalisme Ibu) bagaiman kemudian itu diejawantahkan menjadi point-point amalan yaumian yang sebisa mungkin saya penuhi. Bagaimana pun itu adalah ruh dan bahan bakar yang coba saya jaga terus meskipun pada pelaksanaannya ada kendala yang menjadi dinamika. Selain point amalan yaumian, penekanan memisahkan mood antara pekerjaan di ranah public dengan di rumah tangga juga Alhamdulillah sejauh ini aman. Pemisahan ini tidak berarti tidak membicarakan sama sekali.. titik tekan diskusi saya dan suami ada pada pengaruh mood dan suasana kebatinan yang terjadi di 2 ranah untuk tidak saling bercampur dan saling mengacaukan. Juga pada peningkatan aktualisasi diri di kedua ranah,,, masih terus saya usahakan… it is really a learning process..

As mentioned before (see paragraph 2 wkkwkw—btw ini ala2 gini nulisnya deh haha).  peran terbesar saya sebagai seorang Ibu dan seorang istri adalah prioritas utama. Peran mendidik seorang Naya yang insyaallah juga sebagai calon ibu, calon mujahidah tangguh shalihah kesayangan Allah adalah hal yang jelas tidak bisa dianggap remeh yang selalu harus saya bisa perhatikan setiap saat. While, mendampingi pak suami dan mendorongnya mendukungnya dengan segala yang saya bisa lakukan juga adalah hal yang sangat krusial.. profesi ranah public yang diemban paksu adalah peran yang sangat krusial di dunia kebermanfaatan terhadap masyarakat. Dan menjadi orang yang selalu setia mendukung setiap aktifitasnya adalah hal yang tentunya besar. Dan tentunya peran ranah public yang saya emban sendiri untuk menjadi seroang peneliti/perekayasa yang bisa mengoptimalkan penggunaan otak tenaga dan pikiran untuk memikirkan bagaimana masyarakat (ummat muslim Indonesia) sejahtera dan optimal dalam pengelolaan sumber daya alam yang Allah karuniakan secara luar biasa.

Terkait dengan hal tersebut, tentunya ilmu-ilmu ini bisa dikerucutkan menjadi ilmu dasar pengelolaan keluarga dan rumah tangga berdasarkan quran sunnah, termasuk di dalamnya bagaimana menjadi ibu dan istri yang shalihah dan optimal dalam melakukan pendidikan di dalam keluarga. Juga managemen keuangan dst. Untuk pengembanan peran ranah public, masih dengan ilmu kemurgi dan energy baru terbarukan. Suami mendukung yess dan saya pun yakin mudah2an Allah selalu membimbing langkah si saya.

Adapun untuk mencapai ini semua, tahapan yang mungkin saya lakukan adalah sbb:

Tahun 1 :

  1. Mempelajari tahap dasar perkembangan anak tahun pertama (misalnya baca what to expect in the first year, dan sejenisnya)
  2. Memberikan asupan makanan terbaik (ASI dan MPASI tahun pertama)
  3. Melakukan pendampingan dan pengasuhan pembelajaran tahun pertama secara maksimal
  4. Memenuhi kebutuhan afeksi, emosi, dan optimalisasi perkembangan otak tahun pertama
  5. Semakin terampil dalam alokasi dan manajemen keuangan rumah tangga
  6. Untuk ranah public: siap2 mengencangkan ikat pinggang untuk persiapan beasiswa S3 ^_^, juga rajin menulis KTI untuk dipublikasikan melalui jurnal nasional terakreditasi dan juga seminar nasional

Tahun 2:

  1. Mempelajari tahap dasar perkembangan anak tahun kedua (misalnya baca what to expect in the second year, dan sejenisnya)
  2. Memberikan asupan makanan terbaik (ASI dan MPASI tahun kedua)
  3. Melakukan pendampingan dan pengasuhan pembelajaran tahun kedua secara maksimal
  4. Memenuhi kebutuhan afeksi, emosi, dan optimalisasi perkembangan otak tahun kedua
  5. Semakin terampil dalam alokasi dan manajemen keuangan rumah tangga
  6. Untuk ranah public: jika Allah mengizinkan udah bisa menyusul suami ke Inggris dalam status calon mahasiswa S3

Tahun 3

  1. Mempelajari tahap dasar perkembangan anak tahun ketiga dan seterusnya
  2. Memberikan asupan makanan terbaik
  3. Menyapih dengan cinta
  4. Melakukan pendampingan dan pengasuhan pembelajaran tahun ketiga secara maksimal
  5. Memenuhi kebutuhan afeksi, emosi, dan optimalisasi perkembangan otak tahun ketiga
  6. Semakin terampil dalam alokasi dan manajemen keuangan rumah tangga
  7. Untuk ranah public: jika Allah mengizinkan udah bisa jadi a phd mom

Tahun 4

  1. Mempelajari tahap dasar perkembangan anak tahun keempat dan seterusnya
  2. Memberikan asupan makanan terbaik
  3. Melakukan pendampingan dan pengasuhan pembelajaran tahun keempat secara maksimal
  4. Memenuhi kebutuhan afeksi, emosi, dan optimalisasi perkembangan otak tahun keempat
  5. Semakin terampil dalam alokasi dan manajemen keuangan rumah tangga
  6. Untuk ranah public: jika Allah mengizinkan, semoga bisa menjalankan peran sebagai a phd mom mendampingi suami yang hampir selesai studinya

Rencana adalah rencana… Allah lah sebaik-baik pembuat rencana dan yang BERKEHENDAK semuanya bisa dijalankan. Plus lagi manusia hidup dengan dinamika dan Allah adalah sebaik-baik pembuat scenario. Siapa tahu ada kejutan2 lain juga nanti hehe.. tapi so far ini yang bisa saya pikirkan sementara.. saya tuliskan untuk memperkuat tekad saya, semoga saja Allah meridhai.

Well… judul tulisannya adalah mendidik dengan kekuatan fitrah.. di sini saya menekankan pada penguatan fitrah saya sendiri sebagai ibu yang disesuaikan dengan fitrah Naya sebagai anak.. untuk pencapaiannya banyak belajar, banyak nimba ilmu,, sehingga pas pelaksanaan bisa maksimal…

 

Wallahu a’lam bis shawab

Membangun Peradaban dari dalam Rumah

Peradaban.. adalah salah satu kata yang sebenarnya muncul di biodata taaruf saya. Maksud menikah yang saya utarakan di dalam berkasi tersebut salah satunya adalah membangun peradaban yang dimulai dari saya yang dibimbing suami dan juga anak2.. begitulah cita-cita saya dulu yang mungkin sambil membayangkan bagaimana real langkahnya. Kenyataannya setelah menikah,the real challenge and effort keluarga kecil saya is really something.. tak semudah diucapkan tapi tak lantas dilupakan. Ada nafas-nafas perjuangan yang keluar dalam dinamika peran kami di keluarga dan di ranah luar yang harus coba kami sinergiskan. Belum lagi 2 karakter dengan latar belakang keluarga dan budaya yang berbeda menjadi satu warna menarik yang menjadikan kisah yang kami rasakan menjadi satu rasa tersendiri yang saya yakini sebagai takdir Allah yang selalu harus disyukuri.

Tim pembangun peradaban dari keluarga yang Allah takdirkan dibentuk sejak akad 29 september 2016 lalu pada awalnya terdiri dari suami dan si saya, yang kemudian Allah mengaruniakan si kecil Naya yang kini sedang bersiap mengawali langkahnya untuk MPASI,,, another milestone for her. Berbekal potensi, kurang dan lebih masing-masing dari kami, harapannya peradaban itu benar-benar bisa kami bangun…

The leader dari tim ini, siapa lagi kalo pak suami yang ganteng dan sholeh, dengan segala karisma dan outstanding knowledge beliau di bidang agama yang jauuuuuh melebihi saya, plus kekuatan kepemimpinan yang beliau punya secara alami (karena menjadi kakak tertua dari 12 bersaudara) juga yang merupakan hasil bentukan organisasi menjadi satu rangkaian potensi yang begitu saya syukuri akan kehadirannya. Dia yang selalu mengusahakan yang terbaik, membersamai dalam lintas ruang dan waktu meski terbentang jarak samudera dan benua di antara kami… yang pas bikin surat (malu kalo disebut surat cinta) bikin degdegan dan ada rasa takut menyelinap haha…yang dikangeni dan dirindui tapi terasa tak sedetik pun meninggalkan perannya sebagai imam besar di tim ini.

Ada si kecil Naya juga yang sudah mulai menapaki satu per satu milestones nya. Yang udah keliatan suka warna apa dan hobinya apa (haha dont say these are menyusu, tidur, dan maen wkwkwk). Si kecil yang di masa depan diharapkan akan menjadi seorang muslimah shalihah tangguh yang bisa membawa cahaya untuk kegelapan hati-hati manusia…menjadi pertolongan yang membahagiakan bagi saya, suami, keluarga besar, sahabat2nya nanti dan juga umat dalam arti luas.

Dan tentu timnya ada si saya yang lagi nulis ini sambil mikir keras ini gimana realisasinya hihi… seorang wanita biasa yang dibesarkan dalam lingkungan biasa namun sebenarnya punya daya juang yang oke punya hahaha… (mampu membuktikan bahwa anak seroang buruh bangunan bisa kuliah S2 di Amerika wkkww), penyemangat, jago banget dah kalo udah ngomongin ngumpulin bahan (meski bisa jadi ga semua bahan kepake wkkww), ramah, ekspresif dan mau belajar…

Dan alhamdulillah ada faktor luar yang juga mendukung perjuangan kami. Pak suami yang berkutat di bidang penelitian dan akademis universitas, while si saya yang juga seorang abdi negara di lingkungan litbang pemerintah menjadi satu faktor kemiripan yang alhamdulillah mendukung aktifitas profesi kami yang betapa diingini menjadi ladang aktualisasi pertanggungjawaban atas akal, jiwa, dan jasad yang Allah titipkan untuk kami bisa kontribusi. Selain itu keluarga pun mendukung. Background keluarga suami yang alhamdulillah masyaAllah, dan keluarga saya yang hanif juga. Plus kesamaan kemiripan aliran diantara 2 keluarga yang juga kami rasakan sedemikian supportif atas perjuangan kami.

Ketiga anggota tim ini tentunya harus sinkron dan sinergis luar dalam bukan? Hope so. Makana mohon doa selalu ya

Indikator Ibu Profesional

Siapa di antara kita yang ketika masa kecilnya ditanya tentang cita-citanya, maka jawabannya adalah menjadi seorang ibu? Adakah? Kalo ada berapa persen di antara anak-anak Indonesia yang perempuan yang menjadikan “ibu” sebagai profesi yang dicita-citakan? Saya pun ingat bahwa saya bukan menjadi bagian tersebut. Saya ingat saya menjawab cita-cita saya adalah guru.

Menurut saya, jawaban dari pertanyaan ini bisa mngindikasikan 2 hal. Pertama adalah tidak dianggapnya profesi ibu sebagai profesi yang sejajar dengan “dokter”, “guru”, “insinyur, pilot dan sederetan cita-cita lainnya. Kedua, profesi Ibu dianggap sebagai suatu fitrah yang memang akan ditempuh setiap wanita sehingga tidak masuk kategori sebuah profesi. Lalu memang profesi itu apa? Pekerjaan yang mendatangkan uang? Luas pisan ya bahasannya… saya aja mikir ini bukan main complicated ternyata wkwkkww.

Well, saya coba persempit dulu bahasannya kali ya. Pembahasan ibu sebagai profesi yang “melangit dan membumi” yang dari beberapa hari ini bersarang di kepala harus saya tunda dulu haha… saya fokuskan dulu k PR saya yang juga mentrigger diskusi menarik antara saya dan suami. Yaitu tentang indikator ibu profesional.  Dan di sini saya tidak akan membahas lagi peran dan kewajiban individu secara vertikal kepada Allah sebagai faktor yang mendasari semuanya. Karena saya sadari menjadi ibu dan istri ini adalah bagian yang sangat besar dari upaya saya untuk mencapai Ridho-Nya.

Jadi asumsi nya adalah bahwa jabatan ibu adalah sebuah profesi yang harus diemban secara profesional layaknya pekerjaan lain seperti dokter, guru, PNS dan lain sebagainya. Lalu di sini yang sedang saya renungkan adalah bagaimana sebuah jabatan ibu dapat diemban secara profesional.. apa parameternya? Apa buktinya? Jika dibandingkan dengan jabatan lain, guru misalnya.. parameter keberhasilan seorang guru apa? Persentase murid naik kelas atau sukses di kehidupannya? Gaji nya? Jenjang karirnya? Nah kalo jadi seorang ibu? Apa parameternya? (btw ini keren banget topiknya hahaa)

Dan di sini saya tidak akan menulis indikator secara universal yang akan berlaku untuk semua ibu di jagat raya. Hanya parameter yang saya sepakati bersama suami saya saja, berhubung Naya juga masih bayi jadi parameter nya kami yang tentukan haha..

Diskusi indikator ibu profesional yang menjadi bahasan saya dan suami ada 2 saja sebenarnya hehe.. hal itu juga yang sebenarnya pernah disepakati ketika diskusi awal pernikahan. Pertama adalah bahwa profesional artinya mampu mengemban amanah dan peran sebagai “ibu” secara maksimal (masih umum banget ya? Haha). Nah, di sini kami berdua mengerucutkan khusus pada kemampuan untuk bisa memisahkan urusan yang lain dengan urusan sebagai ibu. Maksudnya adalah, berhubung saya adalah seorang ibu yang juga memiliki amanah lain berupa pekerjaan di sebuah institusi litbang pemerintah (BPPT), maka peran ini harus disinkronkan dengan peran saya sebagai ibu ((which is actually coming later hehe.. kerja dulu baru nikah soalnya). Dengan kodrat dan takdir saya sebagai seorang wanita yang dengan kuasaNya, Allah takdirkan menjadi Ibu, saya menjadikan profesi ibu ini di atas semua peran yang saya jalani. Jadi peran saya sebagai abdi negara sebisa mungkin tidak saya bawa ke rumah. Pengaruh mood yang diciptakan di suasana kerja di kantor sebisa mungkin tidak akan pernah mempengaruhi mood saya untuk mengasuh Naya atau melayani suami.

Hal kedua yang menjadi titik tekan dari indikator Ibu profesional adalah bahwa segala sesuatu yang bersifat profesi haruslah punya kode etik, jenjang karir, amanah yang harus dipenuhi, dan ada hasil berupa pengembangan kapabilitas dan kapasitas yang terjadi akibat mengemban amanah tersebut. Parameternya apa? Artinya si saya harus tahu benar tentang segala sesuatu yang menjadi kewajiban saya. Well.. it is true that this job is a learning-by-doing job.. tapi at least ada usaha maksimal yang saya lakukan untuk melakukan apapun yang menjalankan amanah sebagai ibu tersebut. Harus tahu kode etiknya kayak gimana, jenjang karir nya gimana (nah di sinilah edisi melangit dan membumi yang butuh tulisan berikutnya hehe). Dan juga hasil pengembangan kapabilitas dan kapasitas yang berdampak juga pada aktualisasi diri yang tak hanya dirasakan oleh diri sendiri tapi juga orang lain. Nah point yang ketiga ini luas ciiiin (berharap ada tulisan detail lainnya setelah ini). Kalo kasarnya, point ketiga ini dijelaskan sbb: bahwa menjadi seorang ibu tidak akan pernah menutup kreatifitas, intelegensi, atau segala potensi yang saya miliki. (well.. mungkin ada yang ketutupan satu atau dua,, tapi ga akan menutup semuanya). Malahan harusnya berkembang secara utuh dan maksimal. Soalnya begini.. ada anggapan nih di masyarakat kita bahwa memutuskan untuk menjadi seorang ibu rumah tangga itu membatasi kreatifitas menutup kesempatan beraktualisasi diri, cenderung terkurung pada rutinitas kegiatan domestik dan mengurus anak, mengecilnya kesempatan untuk bersosialisasi, daaan segambreng anggapan-anggapan lainnya… apalagi kalo kemudian si wanita yang menjadi ibu ini pernah berkuliah di universitas mentereng di Indonesia atau luar negeri dan atau memiliki pekerjaan yang bergengsi.

Kedua point spesifik tapi umum ini bagi kami bertiga sebenarnya sudah cukup menggambarkan apa yang harus saya lakukan dan saya capai. Tapi detailing nya yang kemudian jadi PR besar karena terkait eksekusi. Sebagai seorang yang berlatarbelakang science, pun dengan suami.. maka jelas bahwa detailing kedua parameter ini akan terkait dengan parameter-parameter yang terukur dan terlihat yang bisa dinilai perkembangannya waktu demi waktu untuk kemudian dievaluasi bagaimana kelanjutannya hehe.

Point penting lainnya dalam penentuan indikator ini adalah kondisi eksisting keluarga saya. Dan tentu karena ini judulnya “Ibu” maka fokus utamanya adalah ke Naya. Karena dengan menjalani fungsi “ibu” ini fungsi saya sebagai “istri” juga akan berdampak. Hal ini karena katanya menurut kebanyakan orang, kalo sudah punya anak, prioritas seorang istri akan berubah dari suami ke anak.. pun dengan suami akan berubah priortasnya ke istri menjadi ke anak.. tentu yang namanya berubah prioritas bukan berarti tidak memedulikan.. hanya prioritas saja yang berganti. Jadi kalo saya bisa maksimal menjadi ibu, nah suami juga akan bahagia kan? hehehe.. kasarnya mah begitu lah. Selain itu, kondisi yang harus diperhatikan adalah fakta bahwa saat ini saya sedang menjalani LDM alias Long Distance Marriage seperti yang saya jelaskan di postingan sebelumnya. Suami sedang mengejar impian profesinya untuk menjalani S3 di Inggris, dan saya di sini masih kena ikatan dinas (akibat baru pulang menjalankan S2 di Amerika). Faktor lainnya adalah perkembangan Naya. Detail eksekusi peran saya sebagai seorang ibu Naya saat 3 bulan akan berbeda dengan Naya yang 6 bulan. Oiya.. faktor2 rutin yang dijalani perannya masing-masing (sebagai hamba Allah dll) ada yang dikaitkan ke peran ini ada yang ngga. tapi membahas ini saya menekankan bahwa apa yang terjadi pada diri saya secara pribadi (misalnya kaitannya dengan Allah) akan sangat sangat mempengaruhi kemampuan saya berperan sebagai Ibu.

Nah karena ini juga learning by doing untuk tahapan awal coba saya detailkan (tentunya nanti akan butuh revisi dan pengembangan) ke dalam point-point. Tapi point-point ini lebih banyak ke pengembangan indikator kedua yang saya sebut di atas. (indikator no 1 jelas lah ya.. memisahkan urusan profesi lain dengan profesi Ibu)

  1. Dalam kondisi Naya sebentar lagi mencapai usianya yang ke 6, maka yang harus saya lakukan adalah mempersiapkan segala sesuatunya: pengetahuan MPASI, peralatan MPASI, bagaimana mengatur pemenuhan kebutuhan ASIP dan MPASI Naya
  2. Memberikan pengasuhan dan pendidikan sesuai dengan perkembangan Naya, misalnya memberikan permainan untuk pengembangan sensor penciuman dan indra peraba. Menceritakan satu kisah Nabi minimal sehari, mengajaknya ngobrol dan permainan sejenisnya.
  3. Tetap bisa menjalankan aktifitas tarbiyah pekanan, menimba ilmu tentang islam yang kemudian efeknya harusya berdampak pada pertambahan keimanan dan keislaman
  4. Tetap bisa menjalankan amalan yaumian dengan maksimal dengan target yang bisa menyesuaikan namun tetap bisa maksimal di pengembangan ruhiyah karena ini yang akan menjadi bahan bakar energi saya untuk mengasuh Naya. Misalnya target pekanan saya adalah sbb
    1. Tilawah minimal 10 halaman (0.5 juz) per hari
    2. Tahajjud 2 rakaat (5 kali seminggu)
    3. Dhuha 2 rakaat(5 kali seminggu)
    4. Infaq 1 kali
    5. Olahraga 1 kali
    6. Ma’tsurat 10 kali (ini sih sering soalnya kaya ngajakin naya ngobrol pagi sore hehe)
    7. Baca buku 5 halaman

 

Segitu dulu kayanya yang bisa saya jelaskan pada tulisan ini. Pembahasan lainnya mudah2an bisa saya tulis lagi di next postingan.

Teknologi Lingkungan yang Paling Dibutuhkan Indonesia Saat Ini

Berawal dari diskusi antara E-Kansai (konsorsium environmental technology provider di Kansai) dengan PTL BPPT pagi ini di Geostech, berikut adalah beberapa teknologi lingkungan yang menjadi kebutuhan di Indonesia, misalnya:

  1. Kebutuhan teknologi pengelolaan limbah domestik rumah tangga yang menyumbang sekitar 80% dari limbah cair yang ada di Jakarta. Sedangkan industri pada umumnya banyak yang sudah aware dengan baku mutu yang harus mereka capai dalam pembuangan air limbah mereka sehingga tak sedikit dari pelaku industri yang bahkan memiliki IPAL sendiri. Masalah di Jakarta sendiri adalah belum adanya sistem terpusat yang mengakomodasi proses pengolahan limbah cair rumah tangga karena adanya kesulitan mengumpulkan dan mengalirkannya ke satu atau beberapa tempat secara terpusat untuk diolah. Meski saat ini Jakarta memiliki rencana dan sedang on going untuk proses pemetaan di beberapa lokasi, namun rencana ini dinilai mungkin akan membutuhkan waktu lama terkait kebutuhan pembangunan infrastruktur. Sehingga tanggapan dari pihak Jepang adalah apakah ada teknologi yang bersifat dan berskala rumahan untuk pengolahan limbah cair dari rumah tangga. Misalnya: advanced septic tank atau sejenisnya.. namun ditanggapi balik oleh PTL adalah terdapat banyak kesulitan terkait perekonomian, lahan, cara pikir, biaya operasi yang menjadi faktor yang selama ini menyulitkan proses implementasi teknologi. Terkait concern saja, masyarakat Indonesia banyak yang tidak terlalu memikirkan kebersihan (mungkin karena kebutuhan ekonomi yang jauh lebih prioritas dari memikirkan kebersihan lingkungan). Sludge dari septik tank sendiri di Jakarta sudah ada upaya pengolahan di beberapa lokasi, namanya instalasi pengolahan air tinja Selain itu, pemerintah juga mengupayakan sistem sedot tinja untuk septik tank RT yang overflow. Kapasitas instalasi pengolah air tinja ini selama ini mencukupi karena tidak semua overflow septik tank RT dibawa ke sana, sebagian masih dibuang ke sungai.
  2. Terkait dengan PERMEN LH yang baru tentang adanya parameter baru dalam air bersih yaitu kandungan Ecoli yang tidak boleh melebihi 3000 mg/l. Yang dibutuhkan adalah teknologi untuk mengurangi Ecoli hingga memenuhi standar dan juga proses pengukurannya yang cepat dan bisa diterapkan secara praktis mudah dan luas. Selama ini ada proses Klorinasi, namun tknologi ini masih membutuhkan dana yang besar terkaid penyediaan bahan kimia klorin juga instalasi pengolahan limbah yang belum mengakomodasi penambahan klorin.
  3. Penyediaan air bersih dengan teknologi daur ulang. Pembangunan di Jakarta yang semakin pesat tidak diiringi dengan pemenuhan kebutuhan air bersih yang memadai. Air PAM dengan harga 13000/m3 dan air sumur yang berharga 2 kali air PAM tidak mampu memenuhi kebutuhan yang ada. Sementara itu, sebenarnya ada potensi air daur ulang yang bisa digunakan untuk pemenuhan kebutuhan yang tidak krusial yang membutuhkan standar yang sangat tinggi (air minum), misalnya air untuk penyiraman taman, flushing toilet, dll. Nantinya sistem perpipaan air PAM dengan air daur ulang bisa dibedakan.. Tanggapan dari Jepang adalah bahwa penentuan standar adalah hal yang penting yang akan menentukan jenis teknologi yang akan diterapkan untuk mengolah air hingga mencapai batas ambang.
  4. Selain industri makanan dan minuman yang lebih bersifat organik (yang merupakan concern E-Kansai dengan GAPMI), yang menjadi permasalahan perairan Indonesia adalah air limbah tekstil yang bersifat bandel karena membutuhkan pengolahan yang lebih kompleks.