Indikator Ibu Profesional


Siapa di antara kita yang ketika masa kecilnya ditanya tentang cita-citanya, maka jawabannya adalah menjadi seorang ibu? Adakah? Kalo ada berapa persen di antara anak-anak Indonesia yang perempuan yang menjadikan “ibu” sebagai profesi yang dicita-citakan? Saya pun ingat bahwa saya bukan menjadi bagian tersebut. Saya ingat saya menjawab cita-cita saya adalah guru.

Menurut saya, jawaban dari pertanyaan ini bisa mngindikasikan 2 hal. Pertama adalah tidak dianggapnya profesi ibu sebagai profesi yang sejajar dengan “dokter”, “guru”, “insinyur, pilot dan sederetan cita-cita lainnya. Kedua, profesi Ibu dianggap sebagai suatu fitrah yang memang akan ditempuh setiap wanita sehingga tidak masuk kategori sebuah profesi. Lalu memang profesi itu apa? Pekerjaan yang mendatangkan uang? Luas pisan ya bahasannya… saya aja mikir ini bukan main complicated ternyata wkwkkww.

Well, saya coba persempit dulu bahasannya kali ya. Pembahasan ibu sebagai profesi yang “melangit dan membumi” yang dari beberapa hari ini bersarang di kepala harus saya tunda dulu haha… saya fokuskan dulu k PR saya yang juga mentrigger diskusi menarik antara saya dan suami. Yaitu tentang indikator ibu profesional.  Dan di sini saya tidak akan membahas lagi peran dan kewajiban individu secara vertikal kepada Allah sebagai faktor yang mendasari semuanya. Karena saya sadari menjadi ibu dan istri ini adalah bagian yang sangat besar dari upaya saya untuk mencapai Ridho-Nya.

Jadi asumsi nya adalah bahwa jabatan ibu adalah sebuah profesi yang harus diemban secara profesional layaknya pekerjaan lain seperti dokter, guru, PNS dan lain sebagainya. Lalu di sini yang sedang saya renungkan adalah bagaimana sebuah jabatan ibu dapat diemban secara profesional.. apa parameternya? Apa buktinya? Jika dibandingkan dengan jabatan lain, guru misalnya.. parameter keberhasilan seorang guru apa? Persentase murid naik kelas atau sukses di kehidupannya? Gaji nya? Jenjang karirnya? Nah kalo jadi seorang ibu? Apa parameternya? (btw ini keren banget topiknya hahaa)

Dan di sini saya tidak akan menulis indikator secara universal yang akan berlaku untuk semua ibu di jagat raya. Hanya parameter yang saya sepakati bersama suami saya saja, berhubung Naya juga masih bayi jadi parameter nya kami yang tentukan haha..

Diskusi indikator ibu profesional yang menjadi bahasan saya dan suami ada 2 saja sebenarnya hehe.. hal itu juga yang sebenarnya pernah disepakati ketika diskusi awal pernikahan. Pertama adalah bahwa profesional artinya mampu mengemban amanah dan peran sebagai “ibu” secara maksimal (masih umum banget ya? Haha). Nah, di sini kami berdua mengerucutkan khusus pada kemampuan untuk bisa memisahkan urusan yang lain dengan urusan sebagai ibu. Maksudnya adalah, berhubung saya adalah seorang ibu yang juga memiliki amanah lain berupa pekerjaan di sebuah institusi litbang pemerintah (BPPT), maka peran ini harus disinkronkan dengan peran saya sebagai ibu ((which is actually coming later hehe.. kerja dulu baru nikah soalnya). Dengan kodrat dan takdir saya sebagai seorang wanita yang dengan kuasaNya, Allah takdirkan menjadi Ibu, saya menjadikan profesi ibu ini di atas semua peran yang saya jalani. Jadi peran saya sebagai abdi negara sebisa mungkin tidak saya bawa ke rumah. Pengaruh mood yang diciptakan di suasana kerja di kantor sebisa mungkin tidak akan pernah mempengaruhi mood saya untuk mengasuh Naya atau melayani suami.

Hal kedua yang menjadi titik tekan dari indikator Ibu profesional adalah bahwa segala sesuatu yang bersifat profesi haruslah punya kode etik, jenjang karir, amanah yang harus dipenuhi, dan ada hasil berupa pengembangan kapabilitas dan kapasitas yang terjadi akibat mengemban amanah tersebut. Parameternya apa? Artinya si saya harus tahu benar tentang segala sesuatu yang menjadi kewajiban saya. Well.. it is true that this job is a learning-by-doing job.. tapi at least ada usaha maksimal yang saya lakukan untuk melakukan apapun yang menjalankan amanah sebagai ibu tersebut. Harus tahu kode etiknya kayak gimana, jenjang karir nya gimana (nah di sinilah edisi melangit dan membumi yang butuh tulisan berikutnya hehe). Dan juga hasil pengembangan kapabilitas dan kapasitas yang berdampak juga pada aktualisasi diri yang tak hanya dirasakan oleh diri sendiri tapi juga orang lain. Nah point yang ketiga ini luas ciiiin (berharap ada tulisan detail lainnya setelah ini). Kalo kasarnya, point ketiga ini dijelaskan sbb: bahwa menjadi seorang ibu tidak akan pernah menutup kreatifitas, intelegensi, atau segala potensi yang saya miliki. (well.. mungkin ada yang ketutupan satu atau dua,, tapi ga akan menutup semuanya). Malahan harusnya berkembang secara utuh dan maksimal. Soalnya begini.. ada anggapan nih di masyarakat kita bahwa memutuskan untuk menjadi seorang ibu rumah tangga itu membatasi kreatifitas menutup kesempatan beraktualisasi diri, cenderung terkurung pada rutinitas kegiatan domestik dan mengurus anak, mengecilnya kesempatan untuk bersosialisasi, daaan segambreng anggapan-anggapan lainnya… apalagi kalo kemudian si wanita yang menjadi ibu ini pernah berkuliah di universitas mentereng di Indonesia atau luar negeri dan atau memiliki pekerjaan yang bergengsi.

Kedua point spesifik tapi umum ini bagi kami bertiga sebenarnya sudah cukup menggambarkan apa yang harus saya lakukan dan saya capai. Tapi detailing nya yang kemudian jadi PR besar karena terkait eksekusi. Sebagai seorang yang berlatarbelakang science, pun dengan suami.. maka jelas bahwa detailing kedua parameter ini akan terkait dengan parameter-parameter yang terukur dan terlihat yang bisa dinilai perkembangannya waktu demi waktu untuk kemudian dievaluasi bagaimana kelanjutannya hehe.

Point penting lainnya dalam penentuan indikator ini adalah kondisi eksisting keluarga saya. Dan tentu karena ini judulnya “Ibu” maka fokus utamanya adalah ke Naya. Karena dengan menjalani fungsi “ibu” ini fungsi saya sebagai “istri” juga akan berdampak. Hal ini karena katanya menurut kebanyakan orang, kalo sudah punya anak, prioritas seorang istri akan berubah dari suami ke anak.. pun dengan suami akan berubah priortasnya ke istri menjadi ke anak.. tentu yang namanya berubah prioritas bukan berarti tidak memedulikan.. hanya prioritas saja yang berganti. Jadi kalo saya bisa maksimal menjadi ibu, nah suami juga akan bahagia kan? hehehe.. kasarnya mah begitu lah. Selain itu, kondisi yang harus diperhatikan adalah fakta bahwa saat ini saya sedang menjalani LDM alias Long Distance Marriage seperti yang saya jelaskan di postingan sebelumnya. Suami sedang mengejar impian profesinya untuk menjalani S3 di Inggris, dan saya di sini masih kena ikatan dinas (akibat baru pulang menjalankan S2 di Amerika). Faktor lainnya adalah perkembangan Naya. Detail eksekusi peran saya sebagai seorang ibu Naya saat 3 bulan akan berbeda dengan Naya yang 6 bulan. Oiya.. faktor2 rutin yang dijalani perannya masing-masing (sebagai hamba Allah dll) ada yang dikaitkan ke peran ini ada yang ngga. tapi membahas ini saya menekankan bahwa apa yang terjadi pada diri saya secara pribadi (misalnya kaitannya dengan Allah) akan sangat sangat mempengaruhi kemampuan saya berperan sebagai Ibu.

Nah karena ini juga learning by doing untuk tahapan awal coba saya detailkan (tentunya nanti akan butuh revisi dan pengembangan) ke dalam point-point. Tapi point-point ini lebih banyak ke pengembangan indikator kedua yang saya sebut di atas. (indikator no 1 jelas lah ya.. memisahkan urusan profesi lain dengan profesi Ibu)

  1. Dalam kondisi Naya sebentar lagi mencapai usianya yang ke 6, maka yang harus saya lakukan adalah mempersiapkan segala sesuatunya: pengetahuan MPASI, peralatan MPASI, bagaimana mengatur pemenuhan kebutuhan ASIP dan MPASI Naya
  2. Memberikan pengasuhan dan pendidikan sesuai dengan perkembangan Naya, misalnya memberikan permainan untuk pengembangan sensor penciuman dan indra peraba. Menceritakan satu kisah Nabi minimal sehari, mengajaknya ngobrol dan permainan sejenisnya.
  3. Tetap bisa menjalankan aktifitas tarbiyah pekanan, menimba ilmu tentang islam yang kemudian efeknya harusya berdampak pada pertambahan keimanan dan keislaman
  4. Tetap bisa menjalankan amalan yaumian dengan maksimal dengan target yang bisa menyesuaikan namun tetap bisa maksimal di pengembangan ruhiyah karena ini yang akan menjadi bahan bakar energi saya untuk mengasuh Naya. Misalnya target pekanan saya adalah sbb
    1. Tilawah minimal 10 halaman (0.5 juz) per hari
    2. Tahajjud 2 rakaat (5 kali seminggu)
    3. Dhuha 2 rakaat(5 kali seminggu)
    4. Infaq 1 kali
    5. Olahraga 1 kali
    6. Ma’tsurat 10 kali (ini sih sering soalnya kaya ngajakin naya ngobrol pagi sore hehe)
    7. Baca buku 5 halaman

 

Segitu dulu kayanya yang bisa saya jelaskan pada tulisan ini. Pembahasan lainnya mudah2an bisa saya tulis lagi di next postingan.

Advertisements

About iinparlina

Seorang Insan manusia yang diciptakan Allah dengan segala kekurangan dan kelebihannya, yang mencoba menjadi seorang yang dicintaiNya, dan salah satu cara yang dilakukannya adalah dengan menulis, membagi sedikit sekali ilmu yang dimilikinya. Meskipun sedikit, dia berharap dari yang sedikit itu, ilmu itu bisa bermanfaat untuk orang lain sebagaimana dia pun membutuhkan Ilmu untuk membuatnya bisa menjejakan kakinya di surga.

Posted on February 5, 2018, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: