Mendidik dengan kekuatan fitrah


Ada yang menarik dari diskusi yang selalu mewarnai obrolan saya dengan suami ketika saya pada masa hamil dulu. Hal itu adalah tentang betapa intens saya belajar dari berbagai sumber referensi yang sebenarnya reliable mengenai kehamilan saya. Tulisan ini pernah diupload sih hehe,, tapi akan saya mentioned dikit karena ada kaitannya dengan apa yang ingin dituliskan di sini. Perbandingan orang dulu dengan orang sekarang dalam menghadapi dunia salah satunya adalah penggunaan referensi (dalam hal ini internet) untuk menghadapi dunia mereka. Sementara orang tua zaman dulu, mana ada gawai dengan segala isinya yang terkadang overwhelming yang membuat mereka membina dan mendidik anak-anaknya dengan kekuatan fitrah yang mereka miliki yang disesuaikan dengan fitrah si anak. Suami sering mencontohkan mamah mertua yang mampu mendidik ke-12 anaknya hingga seperti sekarang, sementara saya pun ga jauh-jauh melihat bagaimana ummi dan Bapak saya membesarkan saya sekarang. Semuanya tanpa gawai. Ada campur tangan Allah tentunya dalam setiap detik yang mereka jalani dalam membimbing kami. Oleh karena itulah mengapa keshalihan orang tua teh begitu penting, karena itu modal terbesar dalam bagaimana melibatkan Allah dalam mendidik anak-anak.

Dengan peran sebagai Ibu yang menjadi amanah dan kodrat terbesar, tentu bekal ilmu pengetahuan tentang hal tersebut di universitas kehidupan ini menjadi hal yang paling utama. Usaha untuk memperkaya diri dengan diskusi dengan Ummi ataupun mamah (seminggu sekali) ataupun para senior moms yang mempunyai pengalaman yang lebih banyak adalah hal yang saat ini rutin mengisi hari-hari saya, selain tentunya referensi-referensi dari sumber terpercaya (acuan primer dan sekunder wkkwkw).  Peran saya sebagai Ibu dan istri ini menjadi sedemikian pentingnya bagi saya mengingat mendidik Naya berarti mendidik calon ibu, mendidik satu generasi. Sementara mendampingi suami (meskipun dalam status ldm) berarti si saya mensupport peran utama beliau sebagai seorang imam juga untuk pencapaian tujuan ukhrawinya yang berada dalam bentuk profesionalisme pekerjaannya sebagai dosen dan peneliti. Namun di samping peran tersebut, peran saya ke luar sebagai seseorang yang menyadari pentingnya aktualisasi ilmu untuk kebangkitan ummat (dalam hal ini mengerucut kepada ilmu kemurgi dan energy baru terbarukan) juga saya rasakan masih tetap harus dijaga semangatnya… well yes meskipun menjadi prioritas sekian.. bagaimana saya menyeimbangkannya itu yang selalu menjadi PR setiap saat baik dalam tataran pemikiran maupun eksekusi pelaksanaan.

Terkait point 1 yang telah saya sampaikan di bagian pertama tentang how keshalihan menjadi factor yang sangat penting dalam pencapaian peran saya telah saya jelaskan di tulisan saya sebelumnya (tulisan “indicator profesionalisme Ibu) bagaiman kemudian itu diejawantahkan menjadi point-point amalan yaumian yang sebisa mungkin saya penuhi. Bagaimana pun itu adalah ruh dan bahan bakar yang coba saya jaga terus meskipun pada pelaksanaannya ada kendala yang menjadi dinamika. Selain point amalan yaumian, penekanan memisahkan mood antara pekerjaan di ranah public dengan di rumah tangga juga Alhamdulillah sejauh ini aman. Pemisahan ini tidak berarti tidak membicarakan sama sekali.. titik tekan diskusi saya dan suami ada pada pengaruh mood dan suasana kebatinan yang terjadi di 2 ranah untuk tidak saling bercampur dan saling mengacaukan. Juga pada peningkatan aktualisasi diri di kedua ranah,,, masih terus saya usahakan… it is really a learning process..

As mentioned before (see paragraph 2 wkkwkw—btw ini ala2 gini nulisnya deh haha).  peran terbesar saya sebagai seorang Ibu dan seorang istri adalah prioritas utama. Peran mendidik seorang Naya yang insyaallah juga sebagai calon ibu, calon mujahidah tangguh shalihah kesayangan Allah adalah hal yang jelas tidak bisa dianggap remeh yang selalu harus saya bisa perhatikan setiap saat. While, mendampingi pak suami dan mendorongnya mendukungnya dengan segala yang saya bisa lakukan juga adalah hal yang sangat krusial.. profesi ranah public yang diemban paksu adalah peran yang sangat krusial di dunia kebermanfaatan terhadap masyarakat. Dan menjadi orang yang selalu setia mendukung setiap aktifitasnya adalah hal yang tentunya besar. Dan tentunya peran ranah public yang saya emban sendiri untuk menjadi seroang peneliti/perekayasa yang bisa mengoptimalkan penggunaan otak tenaga dan pikiran untuk memikirkan bagaimana masyarakat (ummat muslim Indonesia) sejahtera dan optimal dalam pengelolaan sumber daya alam yang Allah karuniakan secara luar biasa.

Terkait dengan hal tersebut, tentunya ilmu-ilmu ini bisa dikerucutkan menjadi ilmu dasar pengelolaan keluarga dan rumah tangga berdasarkan quran sunnah, termasuk di dalamnya bagaimana menjadi ibu dan istri yang shalihah dan optimal dalam melakukan pendidikan di dalam keluarga. Juga managemen keuangan dst. Untuk pengembanan peran ranah public, masih dengan ilmu kemurgi dan energy baru terbarukan. Suami mendukung yess dan saya pun yakin mudah2an Allah selalu membimbing langkah si saya.

Adapun untuk mencapai ini semua, tahapan yang mungkin saya lakukan adalah sbb:

Tahun 1 :

  1. Mempelajari tahap dasar perkembangan anak tahun pertama (misalnya baca what to expect in the first year, dan sejenisnya)
  2. Memberikan asupan makanan terbaik (ASI dan MPASI tahun pertama)
  3. Melakukan pendampingan dan pengasuhan pembelajaran tahun pertama secara maksimal
  4. Memenuhi kebutuhan afeksi, emosi, dan optimalisasi perkembangan otak tahun pertama
  5. Semakin terampil dalam alokasi dan manajemen keuangan rumah tangga
  6. Untuk ranah public: siap2 mengencangkan ikat pinggang untuk persiapan beasiswa S3 ^_^, juga rajin menulis KTI untuk dipublikasikan melalui jurnal nasional terakreditasi dan juga seminar nasional

Tahun 2:

  1. Mempelajari tahap dasar perkembangan anak tahun kedua (misalnya baca what to expect in the second year, dan sejenisnya)
  2. Memberikan asupan makanan terbaik (ASI dan MPASI tahun kedua)
  3. Melakukan pendampingan dan pengasuhan pembelajaran tahun kedua secara maksimal
  4. Memenuhi kebutuhan afeksi, emosi, dan optimalisasi perkembangan otak tahun kedua
  5. Semakin terampil dalam alokasi dan manajemen keuangan rumah tangga
  6. Untuk ranah public: jika Allah mengizinkan udah bisa menyusul suami ke Inggris dalam status calon mahasiswa S3

Tahun 3

  1. Mempelajari tahap dasar perkembangan anak tahun ketiga dan seterusnya
  2. Memberikan asupan makanan terbaik
  3. Menyapih dengan cinta
  4. Melakukan pendampingan dan pengasuhan pembelajaran tahun ketiga secara maksimal
  5. Memenuhi kebutuhan afeksi, emosi, dan optimalisasi perkembangan otak tahun ketiga
  6. Semakin terampil dalam alokasi dan manajemen keuangan rumah tangga
  7. Untuk ranah public: jika Allah mengizinkan udah bisa jadi a phd mom

Tahun 4

  1. Mempelajari tahap dasar perkembangan anak tahun keempat dan seterusnya
  2. Memberikan asupan makanan terbaik
  3. Melakukan pendampingan dan pengasuhan pembelajaran tahun keempat secara maksimal
  4. Memenuhi kebutuhan afeksi, emosi, dan optimalisasi perkembangan otak tahun keempat
  5. Semakin terampil dalam alokasi dan manajemen keuangan rumah tangga
  6. Untuk ranah public: jika Allah mengizinkan, semoga bisa menjalankan peran sebagai a phd mom mendampingi suami yang hampir selesai studinya

Rencana adalah rencana… Allah lah sebaik-baik pembuat rencana dan yang BERKEHENDAK semuanya bisa dijalankan. Plus lagi manusia hidup dengan dinamika dan Allah adalah sebaik-baik pembuat scenario. Siapa tahu ada kejutan2 lain juga nanti hehe.. tapi so far ini yang bisa saya pikirkan sementara.. saya tuliskan untuk memperkuat tekad saya, semoga saja Allah meridhai.

Well… judul tulisannya adalah mendidik dengan kekuatan fitrah.. di sini saya menekankan pada penguatan fitrah saya sendiri sebagai ibu yang disesuaikan dengan fitrah Naya sebagai anak.. untuk pencapaiannya banyak belajar, banyak nimba ilmu,, sehingga pas pelaksanaan bisa maksimal…

 

Wallahu a’lam bis shawab

Advertisements

About iinparlina

Seorang Insan manusia yang diciptakan Allah dengan segala kekurangan dan kelebihannya, yang mencoba menjadi seorang yang dicintaiNya, dan salah satu cara yang dilakukannya adalah dengan menulis, membagi sedikit sekali ilmu yang dimilikinya. Meskipun sedikit, dia berharap dari yang sedikit itu, ilmu itu bisa bermanfaat untuk orang lain sebagaimana dia pun membutuhkan Ilmu untuk membuatnya bisa menjejakan kakinya di surga.

Posted on February 19, 2018, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: