Author Archives: iinparlina

Kecemplung di Komunitas ODOP kecemplung bersama ibu2 keren seIndonesia

Saya tidak pernah menyangka bahwa pembicaraan saya dengan afina (ukhtifillah seperjuangan d kampus gajah dulu) akan membawa saya pada komunitas yang lebih serius. Saya memang hobi menulis meskipun kadang isinya ga jelas atau ga penting. Tapi emang nulis teh jadi trauma healing kalo lagi galau.

Well jadilah saya seriusan masuk komunitas odop atau one day one post yaitu komunitas ibu2 yang berkomitmen utk nulis satu hari satu postingan.. meskipun pada kenyataannya banyak yang ga bisa menuhin termasuk si saya. Heheheh… pertamanya masuk di grup FB aja, tapi ternyata pada bulan pertama saya berhasil diikutkan di kelas whatsapp nya.

Pertamanya ngerasa ga terlalu gimana banget sama kelas wa nya.. traffic dan aktifitasnya memang dikatakan aktif banget jika dibandingkan dengan wag yang lain. Dan not that interested at first. Dan ketika frekuensi saya menulis berkurang dan akhirnya didepak dari wag saya ga terlalu berpikir banyak.. ya udah.. sebisanya aja posting.. gitu pikir saya.

Tapi kemudian hal ini berubah. ntah kenapa saya semangat lagi nulis dan semangat nyetor yang berujung pada ditariknya kembali saya ke wag odop. dan jreng jreng jreng subhanallah banget deh sama ilmu yang dishare di sana. ada kulwap2 penuh makna yang menjadikan disuksi yang ada di grup menjadi sedemikian berkualitas (meskipun saya again adalah silent reader haha). dari 2 bulan ini saya seriusan dan meniatkan ikut 3 kulwap yang keren abis di mana anggota grupnya adalah ibu2 keren pembelajar dari berbagai area di seluruh Indonesia. Belum lagi narasumber yang berkualitas yang keren dan ga tanggung2 dalam sharing ilmu yang mereka miliki.

Adapun Kegiatan yang dilakukan di wag ini adalah:
Rabu : Rabu Berbagi Ilmu (sharing dari teman-teman kita di grup untuk saling mengenal lebih dekat)
Jumat : Bedah Buku bersama Penulis (kita akan mengundang penulis untuk berbagi di grup)

wag ini memang hanya diperuntukkan bagi mereka yang sudah rajin menyetor sepanjang sesi 1 dan 2 di grup #ODOPfor99days. Ada 4 deret  klasifikasi peserta wag
– deret pertama (yang setorannya 5 kali atau lebih per minggu),
– deret kedua (yang setorannya rata-rata 3-4 kali per minggu),
– deret ketiga (yang setorannya 1-2 kali per minggu), dan
– deret festival (yang setornya bolong-bolong).

dan bisa ketebak kan.. saya masuk deret ketiga hahahah…

Belakangan saya tahu bahwa ternyata ODOP ini adalah bagian dari IIP (Instititut Ibu Profesional) yang saya mulai tertarik untuk mengikutinya. Sayangnya udah daftar tapi gatahu sampe sekarang gmana kelanjutannya karena ga ada notifikasi apapun..

Advertisements

Pembelajaran pendidikan anak dari mamah dan 12 anaknya

Seperti yang pernah ditulis sebelumnya ke lahiran Naya di Serpong merubah rencana cuti yang asalnya akan full di cianjur saja menjadi cilegon dan cianjur. Hal ini menyebabkan si saya berkesempatan berguru kepada mamah mertua bagaimana caranya mengurus bayi. Tidak hanya itu mungkin ini juga menjadi kesempatan saya tinggal d rumah mamah dan abah  dalam waktu yang paling lama. Rekor sebelumnya 2 pekan pas ramadhan-lebaran kemarin. Dan kini sudah hampir 3 pekan di sini dan banyak sekali hikmah dan pelajaran yang saya dapatkan.

masjid tepat seberang rumah

jadi di sini saya menyimak mengobservasi dengan seksama bagaimana mertua saya dealing with all of their children. Mulai dari yang usianya paling muda yakni 3 tahun sampe kepada suami saya yang usianya 30 tahun. keterpautan ini menggambarkan saya tahapan dan milestone perkembangan anak karena saya kira 12 orang anak mamah cukup menggambarkan perwakilan usia dengan segala challenges nya.

Anak mamah-abah yang terdiri dari 12 orang ini terdiri dari 1 orang balita (3 tahun yo), 5 tahun (kelas 0 besar, tahun depan SD), 2 orang kembar SD kelas 3, 1 orang SMP kelas 2, 1 orang SMU kelas 1, 1 orang lulusan SMU yang mengabdi di pesantren (lagi nunggu program kuliah), 1 orang kuliah semester 5, 1 orang baru lulus kuliah, 3 orang sudah bekerja. Buat saya ini gambaran milestone perwakilan “masa usia” yang lengkap ^__^ di mana si saya bisa belajar bagaimana mertua saya menghandle semua anak dalam 1 masa dengan perwakilan period seperti itu. But kalo boleh jujur bilang si saya kagum dan amazed on how mamah handle semua anaknya.. kebayang ga sih 12 orang dengan kebutuhan yang berbeda..keberadaan mereka juga menggambarkan fasa2 yang tentu sudah saya lewati yang otomatis ngasih perbandingan on how I was at that age untuk melihat perkembangan zaman juga yang masih akan terus berkembang.

Misalnya bagaimana saya dulu waktu usia 3 tahun dan bagaimana Nisa di usia 3 tahun dan bagaimana mamah meng-handle Nisa yang usianya 3 tahun. begitulah mekanisme yang otomatis bekerja di otak saya. untuk yang ini saya ngeliat bahwa inilah fasa terdekat yang akan saya jalani bersama Naya. Naya yang imut dan lucu ini akan masih imut di usianya yang 3 tahun namun dengan kompleksitas yang lebih besar lagi tentunya… udah punya keinginan sendiri, wara-wiri ke sana kemari, sudah mulai terlihat kecerdasan yang cukup menonjol di mana yang tentunya akan berkembang lagi dan lagi..

Atau bagaimana saya melihat perkembangan anak SD, SMP, dan SMA zaman sekarang melalui 4 orang adik ipar saya. PR banget lah bagaimana digital era memiliki pengaruh yang teramat sangat signifikan dalam perkembangan anak dan bagaimana mengelolanya,.

Tentu akan banyak perbedaan signifikan antara bagaimana saya membesarkan Naya dan mungkin adik2nya dengan bagaimana mamah-abah manage to raise their children since satu fasa mereka mah levelnya ngadepin 12, hihi… gaya didik juga background perkembangan saya dan suami juga dll.. tapi atleast si saya bisa ngelihat bagaimana kemungkinan suami saya akan menerapkan pola pendidikan kepada anak2nya nanti dengan mungkin penyesuian2 yang ada (misal karena si saya bekerja juga) dan bagaimana pola pikir saya di-combine dengan pola pikir suami akan menjadi faktor yang jelas menentukan perkembangan Naya dan adik2nya ^__^

Tapi general conclusion saya adalah orang tua adalah manusia, tempat salah tempat lupa, tiada yang sempurna. Tapi menjadi orang tua adalah pembelajaran seumur hidup yang ngaruh pada perkembangan diri pribadi juga pada anak yang dididik. dan ini yang utama… semua adalah milik Allah, titipan Allah semata… harus dijaga sebaik mungkin tapi penjagaan terbaik selalu dari Allah… jadi jangan pernah lepas ikatan ini dari Allah… selalu berserah diri dan memohon yang terbaik.. memohon pilihan2 tindakan terbaik yang akan dilakukan terhadap anak.

intinya subhanallah, walhamdulillah wa laa ilaa ha illallah wallahu akbar… Maha Besar Allah yang memberikan gambaran2 dan petunjuk dan semoga si saya dan keluarga termasuk golongan orang shalih dan bersyukur, tawakkal dan berserah diri… serta selalu melakukan upaya terbaik atas titipan amanah yang diberikan..

 

Kelahiran Naya

Puji syukur ke hadirat Allah Yang Maha Kuasa bahwa kehamilan saya diberikan kelancaran. Tidak ada keluhan signifikan yang memerlukan perhatian khusus. Masih bisa ditinggal suami pulang pergi Serpong-Cilegon dan tidak mengidam yang aneh-aneh. Keluhan hanya berkisar antara pusing, mual, lemes, dan perubahan mood hehehe… tidak ada keluhan flek atau pendarahan atau sejenisnya meskipun pada bulan ke 6 didiagnosa placenta previa.

Saat pertama kali didiagnosa PP, si saya tertohok karena memang jujur ketakutan-ketakutan sejenis ini pernah mampir di kepala dan ternyata kejadian. Meskipun dokter saat itu menyatakan bahwa posibilitas bergeser masih ada tapi tetep harus menyiapkan diri buat operasi. Berderailah air mata habis periksa. Speerti biasa yang jadi korban adalah suami hehehe.. (kebingungan ini anak tiba2 nangis). Bulan ke7 periksa dan ternyata bergeser 2.4 cm. saat itu optimis bahwa masih bisa bergeser lagi karena seingat saya penambahan BBJ yang signifikan ada di perkembangan 3 bulan terakhir.

wp-1506105620439.jpg

Namun ternyata, periksa bulan ke 8, plasenta nya masih berada di sana. Kecewa luar biasa tapi masih optimis bisa geser sampe 5 cm (persyaratan minimal buat normal). Mengikhlaskan hati dan mencoba menkomunikasikan dengan keluarga baik keluarga saya maupun keluarga suami. Dari pihak keluarga saya shock berat karena g ada sejarahnya di keluarga kecil kami bahwa ada yang harus menjalani operasi besar sejenis sesar. Di keluarga suami yang inti, jelas belum ada tapi di keluarga besar ada teh Lina dan Teh Ison yang sudah pernah sesar, jadi shock nya ga separah di keluarga saya, meskipun tetap masih mengharap bisa lahiran normal. Meskipun didiagnosa PP (dari CPP/Complete Placenta Previa menjadi Low lying Placenta), Alhamdulillah saya masih bisa beraktifitas biasa, tidak ada pendarahan atau sejenisnya.

Bulan ke 8 sudah merencanakan akan lahiran di Cianjur dan berencana pulang akhir Agustus meskipun sempet ditentang karena dari pihak keluarga cianjur menghendaki pulang lebih awal. Namun kemudian mempertimbangkan bahwa 1 Sept teh iedul adha, pertimbangan dari dokter, dan fakta bahwa saya bisa menggabungkan cuti tahunan dan cuti bersalin akhirnya kami semua sepakat mau pulang k Cianjur tanggal 21 Agustus. Tapi sebelumnya kami akan melakukan periksa terakhir di Hermina Serpong pada tanggal 19 Agustus.

Yang terjadi adalah bahwa periksa terakhir itu meruntuhkan alam sadar bahwa si saya harus menjalani tindakan operasi sesar dalam waktu sesegera mungkin di Serpong. Sudah tidak ada kemungkinan bisa lahiran di Cianjur maupun Cilegon. Alasannya paling utama adalah bahwa saya terindikasi sudah mengalami PPROM yang bahasa keren nya “ketuban merembes”. Hal ini bermula dari laporan saya kepada dr. Nina bahwa hari senin di kantor saya seperti mengalami keluar cairan sedikit pasca pipis (ini terjadi 2 hari berturut-turut). Tapi da Cuma dikit makanya ga terlalu kawatir. Saya kira itu Cuma pipis aja karena pas hamil besar emang dikabarkan mudah banget air pipis keluar seperti itu, lagian katanya kalo itu ketuban pecah dini maka cairan akan keluar terus menerus. Namun ternyata bu dokter curiga itu ketuban dan akhirnya dilakukan periksa kertas lakmus. Dan bener lah itu ketuban. Kertas lakmus nya berubah dari pink menjadi ungu.

Saat itu juga dokter merekomendasikan saya masuk perawatan untuk dilakukan tindakan penyelamatan segera. Beliau kawatir bahwa rembesan ketuban  6 hari sejak senin akan berpengaruh tidak baik terhadap bayi di dalam kandungan saya. Ga ada opsi lahiran normal karena ternyata ada lilitan dan juga jarak ujung plasenta ke mulut  rahim (jalan lahir) hanya 3.3 cm.

Sang dokter bertanya apakah ada BPJS? Karena perawatan dll akan sangat mahal. Kami bilang kami g pake BPJS selama ini. Dan dokrternya menyarankan kami pake. Akhirnya ngurus dulu ke Klinik Rahma Medika sepulang dr Hermina, telpon kedua keluarga dan besoknya (hari ahad) ke IGD untuk menjalani perawatan.

Si saya juga suami degdegan karena usia kandungannya mepet banget dari preterm/premature ke full term. Menurut HPL, ini week ke 36 tapi semuanya ga tahu kondisi dede bayi apakah sudah siap sepenuhnya atau tidak.. (teringat kasus temen BPPT yang lahiran di UK37W dan paru2 dede bayinya belum mateng). Untuk memastikan dokter bilang akan dilakukan suntikan pematangan paru 2 atau 4 kali sebelum operasi.

Hari Minggu ke IGD dan ternyata hasil tes semuanya baik. Udah optimis bisa pulang tapi dr Nina kekeuh si saya harus masuk ruang rawat inap saat itu juga. Jam 2 siang bukannya mendapat info oke semua tes bagus saya bisa pulang, ternyata dokter bilangnya “besok dilakukan operasi jam 8 pagi ya”. Another surprise.. hahaha…

Mencoba ga galau, tapi ternyata sejam sebelum operasi galau akut. Suami yang menyemangati dan meyakinkan saya untuk dzikir terus kepada Allah.. berserah diri sepenuhnya…

Dan di hari ulang tahun BPPT itulah Allah memutuskan Naya lahir ke dunia. Saat itu mah belum ada namanya heheh.. suami pengen pemberian nama ada setelah beliau khatam Quran dan cukuran rambut.

Banyak pelajaran yang saya jalani di setiap saat hamil Naya maupun kini pas Naya sudah lahir. Allahu hafidz Allahu Waliy, Allahu Al Mushawwir… Allahu Sami’un Bashiir. Semua atas kehendak Allah. Sekali lagi yang namanya timing itu memang Allah selalu berikan yang pas. Karena lahir 4 pekan sebelum HPL (13 Sept), suami dan Naya memiliki waktu sebulan-an untuk bonding langsung sebelum suami harus berangkat ke Inggris. Dan karena posisi di tengah (serpong) kedua keluarga bisa dengan lebih mudah mengakses kami.. (2 jam dari Cilegon dan 2 jam dari Cipanas—kalo ga macet).

Yang lain yang juga utama adalah “HATI2 DENGAN LINTASAN PIKIRAN// SELALU LAH BERPIKIR POSITIF dan JAUHKAN DARI SEGALA MACAM PIKIRAN ATAU KEMUNGKINAN2 NEGATIF Yang mungkin terjadi pada diri kita”. Placenta previa dan ketuban merembes adalah 2 hal yang pernah mampir di kepala sebagai kemungkinan yang mungkin terjadi. Kalo bisa mah ga kelintas itu sebenarnya. But well, having said that doesn’t mean saya menyesali yang sudah ada. Memang takdirnya saya harus lahiran sesar..

Ibrah lain adalah terdapat kompleksitas yang luar biasa yang tak akan bisa dijelaskan secara logis oleh manusia bahwa kehadiran Naya adalah dari eksistensi saya dan suami yang juga merupakan eksistensi dari kekuasaan Allah atas orang-orang sebelum kami (leluhur dst). Allahu Akbar….

N A Y A

Saya sudah ngeh dengan fakta bahwa hamil dan punya anak adalah jenis keputusan-keputusan yang merubah hidup seseorang (life changing decision). Pun dengan segala konsekuensi yang ada itu adalah bentuk takdir yang kukejar sebagai sebuah upaya kesempurnaan posisi saya sebagai hamba Allah terutama. Juga sebagai sebuah anugerah yang merupakan bentuk investasi amal masa depan.. (lagi2 akan hubungannya sama Allah).

Jadi ketika Allah memutuskan bahwa Naya sepertinya harus dilahirkan lebih awal itu pun saya Terima sebagai sebuah keputusan yang mendebarkan yang akan berpengaruh secara jangka panjang bagi kehidupan saya dan suami.

Dan hadirnya Naya dalam hidup saya menjadi suatu anugerah yang teramat sangat saya syukuri.. meski pada pelaksanaannya ada tanggung jawab yang teramat sangat besar mengikuti kehadirannya. Dan mengenai tanggung jawab ini masih saya terus pelajari. Mungkin ini akan menjadi peran terbesar saya, seorang ibu, raising a generation…

Seperti halnya ketika hamil, ternyata setelah Naya lahir, begitu banyak kekawatiran-kekawatiran yang menhantui. Sensitifitas terhadap sekecil apapun perubahan yang terjadi pada Naya menjadi satu kelebihan yang mungkin saya rasakan tapi juga kadang ngasih efek samping kekawatiran. mengenai managemen kekawatiran ini memang si saya harus banyak belajar lagi.. well.. being a mother is a never-ending-learning process bukan?

sampai sekarang ga berhenti amazed bahwa sekitar 9 bulan (36w) Naya dalam kandungan ngasih efek ngidam, moody, gerak2 kini ada di hadapan saya. Pasang berbagai macam ekspresi lucu dan menggemaskan. dan dengan wajah lebih cantik dan cute dari apa yang pernah iin bayangkan… sungguh Allah Al Mushawwir.

Cerita kelahiran Naya puanjang dan mungkin akan saya tulis terpisah dari tulisan ini ^_^.

 

18 Agustus 2013

Pagi itu jam 6 pagi saya masih cekikian baca cerpen sampai kemudian ada telepon berdering. Belum berangkat ke kantor karena emang biasa siap-siap mulai jam 7 (maklum kosan kan deket kantor). Teh Nia adalah nama yang tampil di layar HP. Segera saya angkat. Dengan suara yang sedikit parau Teh Nia menyampaikan bahwa rumah di Cipanas kebakaran tadi malam.

Setengah tidak percaya akhirnya saya pun beres-beres pulang ke Cipanas setelah sebelumnya mengontak kantor tentang apa yang terjadi. Janjian di Stasiun Parungpanjang untuk bersama pulang dengan keluarga Teh Haji. Ga ayal lagi, di dalam mobil akhirnya nangis.

10624563_803019353051984_2014103739910854422_n

Sampai di rumah sekitar jam 10an dan hal yang pertama yang saya lakukan adalah ketemu Ummi dan Aa memastikan mereka baik-baik saja dan tidak kurang suatu apa. Tangisan kembali pecah. Euma yang memeluk erat Teh Haji menyiratkan berbagai kepiluan yang teramat sangat.

Aku beranjak melihat puing-puing rumah. Tangis pecah bukan karena melihat puing rumah yang sudah jelas akan menyisakan banyak PR setelahnya, melainkan karena melihat sisa buku yang terbakar. 3 karung buku dalam kondisi yang menghitam dan basah. Buku sekolah dari mulai TK sampai SD, SMP, SMU, kuliah dan buku-buku tarbiyah yang kukumpulkan dengan susah payah dari sisa uang beasiswa.

Proses pemulihan trauma dan juga biaya pembangunan kembali menjadi PR yang sangat besar dalam musibah ini. Trauma dari Ummi, Aa, Euma dan Bapak yang masih tersisa dan bahkan ada kala2 sekarang yang masih suka mengungkit luka di musibah tersebut. Juga PR membangun 3 rumah yang rasanya ga sanggup dilakukan kalo pake logika manusia. Hanya Allah yang Maha Berkuasa yang bisa mengembalikan rumah kami dengan kebesaran dan pertolonganNya yang luar biasa.

Well… sebulan setelah kesedihan yang devastating tersebut, Allah mengirim kabar yang sangat indah… “saya lulus beasiswa fulbright ke Amerika”. Fa bi ayyi aa laa i rabbikumaa tukadzibaan…

17 Agustus 2016

Tahun yang saya tuliskan ini tidak salah.. saya memang mau menulis tentang apa yang terjadi pada tanggal 17 Agustus 2016 setahun yang lalu di mana itu adalah kali pertama saya berkenalan dengan sebuah keluarga luar biasa yang berdomisili di Cilegon sana. Well yes.. keluarga suami saya alias mertua dan ipars.. Hari itu memang sukses (kayanya) berkenalan dengan Mamah, Abah, Emak, Zuron, Irma, Ofa, Rina, Rini, Nisa, Amrin, Isma dan Susi… dan menyusul kemudian Nurul via wa.

Saya ingat bahwa pada saat itu saya yang BARU mulai kembali bekerja lagi di PTL-BPPT bawel banget nanyain apakah tanggal 17 agustus harus masuk bekerja atau tidak. Bukan apa2… dari proses pembicaraan di taaruf, tanggal itu teh tanggal yang disepakati bahwa si saya melakukan kunjungan pertama kali ke keluarga aimam.

Beliau di awal menjadikan keluarga sebagai salah satu bentuk kondisi yang saya harus maklumi. Fakta bahwa beliau adalah anak pertama dari 12 bersaudara menjadi faktor yang teramat sangat penting (belakangan dari mamah saya juga mendengar hal yang sama). si saya menyatakan tidak keberatan dengan kondisi tersebut dengan pertimbangan bahwa itu bukan hal yang teramat sangat signifikan untuk terhambatnya sebuah jalinan hubungan (well yes iya ada tanggung jawab dll, tapi kan ga papa toh hihi). Lagipula saya udah biasa ngurusin adik2 selama beraktifitas di kampus (asrama, mata, etos, dll).

Pertama kali ke Cilegon dengan menggunakan jasa angkutan bus, akhirnya ketemu lah saya dengan keluarga calon suami saat itu. Si saya pikir menjadi bagian keluarga besar adalah hal yang akan membahagiakan… faktanya jauuuuh lebih besar dan membahagiakan (udah pernah cerita ini di tulisan sebelumnya).

pembicaraan berkutat di sekitar perkenalan, aktifitas di kampus dulu, proses perkenalan, sampai ke curhat perkuliahan..

ada hal lucu yang saya ga pernah lupa.. the way he was introducing me to his abah
“abah ini temen imam dulu di kampus yang pernah imam ceritakan.. udah PNS 3 tahun lebih dulu daripada imam” seolah menekankan how being PNS is something big hihi… (belakangan tahu juga ceritanya kenapa hihhi).

Malu-malu tapi alhamdulillah perkenalan berjalan dengan lancar (I guess),, grogi of course but I was just trying to be myself (la mau gimana kan calon mantu wkwkkw, gabisa pura2 pasang tampang manis juga toh?). Belakangan saya denger dr Irma kalo kesan pertama mamah ke saya adalah “iin itu orangnya rame ya.. mudah2an cocok buat mengimbangi imam yang serius” hihihi

Diskusi dilanjut dengan makan siang bersama. Makan makanan andalan mamah. dan melihat how this family interacted each other made me wondering so many things in my own life. Ya mau gamau wondering kan “si saya sanggup ga fit in dengan segala hal baru ini” (la di rumah kan cuma ada iin ma iis doang yang kalo berantem kadang suka kebangetan wkwkwkwk).

Begitulah… hihi

jadi yang mau melakukan kunjungan keluarga pertama kali.. jangan tegang yaa… santai aja… and be yourself. Gantungkan setinggi mungkin harapan sama Allah aja.. kalo jodoh ya ga ke mana ^_^

 

Evaluasi setahun kembali bekerja

Ga kerasa 1 tahun sudah si saya kembali ke bumi BPPT mencoba mengaktualisasikan diri dengan kapasitas yang dimiliki dan dibina selama tahun2 sebelumnya dan terutama pembentukan pengetahuan dan skill sebagai seorang researcher yang didapat di tanah Obama. Ada banyak hal yang terjadi tentu. Suka duka, kesibukan dan waktu luang.. plus menyandang status baru sebagai seorang istri dan calon ibu yang tentunya memiliki pengaruh yang teramat sangat berbeda jika dibandingkan dengan periode tahun 2011-2014 di mana saya mulai melebarkan sayap dulu.

Hal yang paling utama yang saya soroti dari apa yang terjadi selama 1 tahun ini adalah bahwa jujur memang semangat saya bekerja tidak sebesar ketika sebelum saya berangkat ke US. Harusnya kan kebalik ya? Pulang dr US harusnya boosting semangat lebih besar lagi untuk bisa berkiprah lebih besar kepada negara. Kenyataannya ternyata tidak. Reverse culture shock yang cukup menghentak alam sadar dengan bentuk segala ketidakidealan di dunia bernama “kepemerintahan”. Well..  mau gamau saya juga termasuk ke dalam bagian pemerintah bukan… dan ketidakidealan itu bikin kepala puyeng pisan. Hal kedua adalah adanya ketidaksesuaian bidang yang saya dalami selama ini dengan tugas yang diberikan sekarang. Kalo tidak sesuainya sedikit mah ya gapapa.. tapi karena terlalu jauh jadi ada efek males untuk catching up materi2 yang emang saya ga punya solid background di sana. Plus kerjaan ke-PTL-an yang memang tidak membutuhkan banyak proses pengurasan otak tapi cukup membosankan hehehe… well saya tidak bermaksud mengeluhkan kondisi saya saat ini. Tapi perbedaan iin dulu dan iin sekarang memang beneran signifikan. Ini mungkin juga akibat manajemen si saya yang harus ditingkatkan kualitasnya. Tapi emang jujur passion nya juga mulai melemah nih.. harus ditingkatkan lagi.. apalagi passion ke-biogas-an di PTL juga seperti seolah dipudarkan perlahan secara struktural.. karena si saya juga ga lagi di grup biogas bu menik.

Untuk masalah biogas di kantor memang simalakama sih.. si saya juga gatau apakah saya sanggup mengikuti pace nya si Ibu yang memang terkenal wah sejak dulunya. La dulu sampe bisa gadang sampe jam 3 pagi d rumah atau jam 12 malam di kantor ya sebagian besar kerjaan dari beliau. Dan well itu yang ngeentuk saya sih saya nyadar… tapi emang dari awal menginjakan kaki di sini lagi seolah si saya juga udah beneran dihalangi ke sana,,, dan emang saat itu si saya nya juga masih ragu apakah bisa mengikuti grup tsb. Jadi kaya kebuka kesempatan gt.. ujung2nya sempet post power syndrome.. (pernah ditulis di blog juga).

Selain itu.. penyadaran diri terhadap amanah sejati saya sebagai seorang wanita yaitu menjadi istri dan ibu saya kira juga turut ambil peran hehehe.. kan emang sejatinya amanah saya yang utama adalah di rumah. Jadi kalo udah pulang udah deh gabisa nyentuh kerjaan lagi kecuali kepaksa banget. Well saya juga enjoy being a housewife, masak dan bikin kue wkwkwkw… apalagi kalo udah weekend udah deh hihihi…

Nah.. setahun berlalu harus ada perubahan yang makin baik atuh ya. Insyaallah. (tapi sekarang siap2 cuti malah wkwkkw). Ada PR Besar yang harus dituntaskan di periode september 2017-september 2018. Apa coba? Ngejar aim sampe ke Eropa haha… ntah nanti gmana tapi since it has become my life now, I will try my best to play my roles. Mudah2an aja semuanya lancar, ada dede bayik harusnya makiiiin semangaaaat nantinya J

Pentingnya Pengolahan Sampah di Darat untuk Mencegah Timbulan Sampah di Laut

Permasalahan lingkungan adalah masalah polemik yang membutuhkan solusi. Sampah laut menjadi satu masalah yang sangat besar terkait ancaman terhadap kehidupan biota laut yang akan memberikan dampak juga terhadap kehidupan di darat. Penyelesaian permasalahan sampah laut menjadi krusial.

Untuk melakukan pencegahan terhadap sampah laut, kita perlu tahu sumber utama kontributor. Berdasarkan data yang diperoleh dari http://www.projectaware.org, 80% sampah laut berasal dari sampah yang dihasilkan di daratan. Yang berasal dari kegiatan antropogenik manusia. Hanya 20% yang merupakan asli sampah yang dihasilkan dari aktifitas laut itu sendiri. Seperti dilansir dari www.projectaware.org, , sebagian besar sampah laut berwujud plastik. Hal ini telah menyebabkan kematian berbagai biota laut dan juga plankton yang berperan juga dalam produksi produk perikanan.

learn-1

picture source: Google

Perilaku yang tidak bertanggungjawab atas pembuangan sampah ke perairan menjadi faktor yang berperan dalam timbulan sampah. Dari perairan, sampah secara natural mengalir terbawa ke lautan, kemudian menumpuk dan menimbulkan pencemaran dan permasalahan untuk sistem biota laut.

Memang sudah ada beberapa upaya yang dilakukan untuk mengatasi timbulan sampah yang ada. Misalnya penggunaan floating boom yang berfungsi untuk mengumpulkan sampah di lokasi tertentu dan mencegahnya tersebar ke area laut yang lebih luas. Di collecting point ini kemudian dilakukan pengangkatan dan pengangkutan ke TPA atau unit pengolahan/pemilahan sampah. Alat lain yang bisa digunakan adalah screen bar terapung yang dikombinasikan dengan crane penciduk.

BPPT sebagai salah satu lembaga pemerintah untuk implementasi teknologi Read the rest of this entry

Timing Allah selalu Tepat

Pekan lalu ntah dimulai dari mana tapi yang jelas si saya lagi kecapean dan pengen goler-goler aja di kasur. Ngobrol panjang lebar lagi ma misua dengan topik yang bermacam ragam hahaha.. dan ntah kemudian nyampe ke obrolan soal jodoh.

Ada banyak hal menarik yang ternyata menjadi kesamaan saya ma misua.. termasyuk permintaan dari kedua orang tua kami yang timing nya ternyata barengan. Mungkin si saya sudah sering banget cerita di blog kalo trigger utama si saya serius nyari calon adalah permintaan khusus dan eksplisit Ummi yang menginginkan si saya nikah sebelum melaksanakan S3. Timing dr Allah tentang offer dari Professor Chen tentang kelanjutan S3 saya dan the way I told this news to my parents. Followed by their responses yang menyatakan keberatannya tentang si saya untuk bisa memperpanjang masa belajar saya di Amerika sebelum si saya nikah.

Sebelumnya mungkin hanya satu kali kedua orang tua mengemukakan secara eksplisit keinginan mereka kepada saya yaitu pas si saya mau daftar TK UGM taun 2005 dulu. Mereka menyatakan keberatan dan saya mengajukan “baik, asal saya diperbolehkan dan didoakan masuk ITB”. yang berujung pada saya yang alhamdulillah ditakdirkan Allah masuk Teknik Kimia ITB dan pernah sekelas dengannya…

selain itu, mereka tidak pernah minta apapun secara eksplist. segala keputusan pemilihan hidup biasanya diserahkan sepenuhnya kepada saya,, keputusan ke BPPT, S2, dan lain sebagainya.

Ternyata, suami juga mengalami hal yang sama. setelah diangkat menjadi PNS tetap di Untirta, beliau menerima titah untuk menikah sebelum usia 30 tahun dan ketika kondisi mapan ^__^. Timing ini yang menjadi krusial karena ternyata sebelumnya beliau banyak menolak tawaran nikah. Dan katanya sambil ntah serius atau gurauan.. “mungkin kalo timing tawaran dari Nden untuk taaruf saat itu datang lebih awal, bisa jadi kita ga nikah sekarang hahahha”.

Dari sana si saya mikir. Allahu Qadir, Allah Yang Maha Berkehendak Yang Menguasai segala dimensi.. memang sudah jalannya titah itu datang dan tawaran itu sampai tepat waktunya.. hingga kemudian si saya kini juga sedang kondisi mengandung dengan HPL yang agak mepet dengan jadwal keberangkatan beliau ke UK. Mungkin kalo telat dikit, beliau tidak akan berkesempatan mendampingi si saya ngelahirin atau megang anaknya nanti hehehe..

Jadi kalau misalnya ada keinginan kita yang belum terkabul, percaya aja Allah akan memberikannya di saat yang tepat di kondisi yang tepat saat memang semua aspek terkondisikan secara tepat..

Subhanallah walhamdulillah wa laa ilaaha illallah wallahu akbar

Keluarga Besar

Before I met and knew you I have never known what does it mean to be a part of a big family. Secara keluarga si saya hanya terdiri dari Ummi, Aa, Iis, dan saya sendiri. Meski harusnya ada 8 orang (4 orang kakak), saya anak ke 5 dari 6 bersaudara. Tapi rumah kami sebenarnya tidak sepi karena kalo digabung dengan keluarga Euma-Bapak serasa makin ramai. Ummi dan Euma adalah kakak beradik dari 6 bersaudara. Euma punya 6 orang anak, yang hidup hanya 4 karena anak ke 5 dan ke 6 wafat, sementara Ummi punya 6 orang anak dengan yang hidup hanya saya dan iis. Jadilah keluarga kami yang juga tinggalnya berdekatan ini menjadi saling melengkapi satu sama lain. Kang Agus, Teh Tinah, Teh Ipong, dan Teh Nia sudah seperti kakak bagi saya dan Iis.

 

myfams

Ekspansi keluarga Euma dengan menikahnya semua anaknya dan sampai lahir cucu-cucu menggemaskan membuat semarak ramai rumah. Maka saya yang status aslinya sepupu menjadi adik hingga kemudian menjadi bibi dari cucu-cucu nya Euma. Tapi ya itu sebatas di sana keramaian yang menghinggapi hidup saya hingga kemudian saya nikah takdir Allah dengan seorang ikhwan yang memiliki 11 orang adik.

Di awal proses taaruf, beliau sudah menyampaikan kondisinya bahwa beliau punya 11 orang adik yang akan menjadi tanggung jawabnya. Dan si saya mengiyakan tanda bahwa saya sama sekali tidak keberatan punya 11 orang adik ipar karena sejak kuliah saya sudah terbiasa mengurusi adik-adik junior di asrama (Salman dan lalu Etos).

Pertama kali bertemu dengan keluarga suami adalah pada tanggal 17 Agustus 2016. Saat itu yang ketemu hanya Mamah, Abah, Irma (adik ke2), Ofa (adik ke 4), dan yang kecil2 yang memang ga ikut forum perbincangan. Well sebelum ketemu udah stalking dulu sih di FB. Ketemu FB abah (yang mungkin dibikinin sama anak2nya) dan melihat foto2 keluarga calon suami saat itu. Well.. rame… itu saja yang kemudian muncul di benak..

Kejutan tentang definisi keluarga besar yang pertama kali saya alami adalah pas nikah tanggal 29 September 2016. Pernikahan disepakati hanya akan melibatkan keluarga dari saya dan suamidan ternyata itu pun yang datang udah buanyaaaakk. Dan saat itu juga ketemu keluarga suami dalam porsi lengkap Mamah Abah dan ke12 orang anaknya.

Saat itu sempet dites nama2 adik suami  untung hafal, tapi lalu tak mampu mengingat dengan baik keluarga dari abah atau keluarga dari mamah yang unexpectedly anak2nya juga buaanyaaak. Saya inget saat itu, teh Hol (gatau bener atau ngga nulis nama panggilannya) juga dibilang punya 13 orang anak. Salah satu anaknya seumur dengan suami dan ternyata satu angkatan di ITB.. anak IF05 hehehe…

Pengalaman hidup bareng keluarga besar kemudian saya alami untuk pertama kalinya nginep di rumah mamah di Cilegon. Kebayang kan ngurus anak sebegitu banyaknya dan mamah menjalankannya dengan sangat luar biasa. Rumah rame luar biasa. Pas malem pada bergelimpangan di ruangan tengah dengan aktifitasnya masing2. Ada yang bareng belajar ada yang maen bareng slime dll.. rame dan si saya ga pernah berada dalam kondisi seperti itu.

Puncak keterkejutan si saya tentang definisi keluarga besar adalah ketika ramadhan-syawal 1438H kemarin saya habiskan di rumah mamah. Yang kondisinya saat itu adalah full member.. anak2 nya ada semua di rumah. Complete 12 orang plus si saya nambah2in jadi 1 ma si dede janin tentu hihihi.. daaan luar biasa itu saur ma buka puasa bareng2 beneran berkesan banget… berbeda susananya dengan apa yang pernah dialami pas di asrama apalagi kalo dibandingkan dengan kondisi rumah di Cipanas. Kontras abis.

Dan lebaran iedul fitri yang menguak definisi keluarga besar yang sebenarnya. Salam2an ma tetangga yang datang sampe lebih dari 210 orang kali ya..(keitung dari jumlah bingkisan yang dibuat). Juga kedatangan saudara2 dari abah (yang dari mamah katanya ga datang semua hihihi) daaaaan buanyaaaaaak… ketemu dengan anak2 teh hol, teh evi, abah uwa, dan masih banyak lagii… Abah sendiri adalah anak ke 10. Dan baik kakak maupun adiknya abah juga anaknya buanyak.. hihi… kebayang kan amazed nya si saya saat itu. Berkali2 saya ceritain ini ke mamah, emak, suami, sampe sekarang kesannya masih membekas hihihi..

Dan yang saya bayangkan nanti adalah ketika dede bayi saya sudah besar dan ketemu tante2nya om2nya dan juga anak2 mereka.. akan ramai seperti itu atau mungkin lebih.. sungguh sesuatu yang sangat indah untuk dibayangkan hihihi…

Jadi intinya si saya nikah sama aimam itu jadi merenovasi definisi keluarga besar yang selama ini pernah nyangkut di kepala… hihi… seruuuu pokonya maaaah…

I am so grateful Allah chose you and your family to be a part in my life a…. belum lagi yang 11 ini karakternya juga bikin2 gemesh gimanaaa gt hihihi.. seru abis..