MaTa’ di mataku pada 21 Juli 2007

(Ini adalah tulisan saya tentang Mata yang ditulis pada tanggal 21 Juli 2007)

Berbicara tentang Mata sekarang dan Mata dulu, akan ada banyak hal yang menarik untuk dibahas. Perubahan adalah sesuatu yang menimbulkan “sense berbeda” dalam hati dan fikiran (ini adalah definisi yang ana buat sendiri—wallahu’alam). Ana merasa ana memang belum lama berkecimpung dalam dunia dakwah, ilmu  dan pengalaman ana sebenarnya belum cukup untuk mengungkapkan bahwa dakwah yang ana rasakan, secara umum, termasuk dakwah kampus mengalami perubahan yang cukup signifikan. Termasuk sebuah wajihah bernama MATA yang banyak orang menilainya mengalami perubahan cukup banyak sejak ia didirikan. Ana sendiri yang notabene tidak pernah merasakan bagaimana menjadi MATA I, MATA II, MATA V, MATA VII, MATA IX mungkin termasuk orang yang menyatakan bahwa MATA berubah. Mungkin ini terlalu subjektif, karena sebenarnya aksi MATA yang pernah ana saksikan secara langsung hanyalah MATA XII. Berdasarkan apa yang ana saksikan pada MATA XII dengan MATA XIII,  memang berbeda. Sayangnya pikiran ana terlalu nakal untuk memikirkan perbandingan antara MATA sekarang dengan MATA dulu yang didasarkan pada kenyataan bahwa kader ex-MATA (baik itu ex-AM, ex-pengurus, ex-MPO, dll) banyak yang memegang peranan-peranan penting di kampus, tampak seperti garda terdepan dalam barisan orang-orang yang menjunjung tinggi Islam dalam kehidupannya dan memimpikan kejayaan Islam dalam Negara dan masyarakatnya.

Tak ayal lagi, pikiran ini melayangkan pertanyaan apa yang dibuat MATA sehingga mampu melahirkan kader-kader hebat dan unggul seperti itu? Kader yang tak gentar melangkah  memimpikan surga yang diyakininya berada di bawah kilatan pedang? Banyak sekali cerita-cerita yang beredar di telinga ana yang memberikan informasi bahwa MATA begitu hebat, kekuatan untuk menjaga diri dan jiwa mereka begitu besar, bahwa pada saat futur dan mereka cukup masuk ke dalam sekre MATA maka semangat mereka akan kembali bangkit, dan cerita-cerita lainnya yang membuat ana menjadi begitu senang bisa lulus tes rekrutmen untuk menjadi seorang Anggota Muda Mata XII. Pencitraan seperti itu tak urung kadang menimbulkan ashabiyah juga, tapi ana begitu penasaran bekal seperti apa yang bisa diraih dari MATA? Akankah seorang ana juga bisa menjadi sesorang yang “hebat—memiliki militansi dan ruhul istijabah yang kuat, yang menjadikan Allah sebagai tujuan di atas segalanya ” ?  harapan untuk menjadi seseorang seperti ini memberikan semangat untuk menjalankan seluruh program pembinaan di MATA tanpa terkecuali.

“Pembinaan” itulah yang begitu kentara ana rasakan dari wajihah yang satu ini dengan posisi sebagai seorang anggota muda. dan ana berpikir bahwa kultur pembinaan yang seperti ini juga yang dulu ada pada MATA I, MATA II, MATA V, MATA VII, MATA IX, MATA XI, dst. Nilai “pembinaan sehingga seseorang bisa jadi begitu bangga menjadi seorang muslim yang ditindaklanjuti dengan kesiapan menjadi seorang penyeru, bagian dari barisan tentara pencinta Allah” yang diwariskan secara turun temurun itulah yang membuat MATA nampak sukses dengan pembinaannya. Ya, bukan menjadi hebat atau tidak hebat dalam penilaian orang yang ana pikir begitu penting, tapi warna Allah melalui program pembinaan MATA yang begitu MATA tekankan. Menurut pandangan ana, melihat fakta  bahwa penekanan MATA juga pada Al Quran. Pengkondisian fitrah manusia pada pedoman yang tepat menjadi salah satu kelebihan yang dimiliki MATA. Adanya PCPM-P2Q menjadi warna tersendiri. Sebelumnya afwan, mungkin ana terlalu subjektif atas apa yang ana rasakan secara pribadi.

Satu hal yang menarik adalah bahwa pada awalnya justru MATA didirikan sebagai “MAHAD KAMPUS”. Bukan sebagai wajihah yang menjalankan fungsi  “kaderisasi kampus”. Tetapi pada kenyataanya karena kondisi yang ada MATA justru dinilai sebagai “ dapur Aktifis Dakwah Kampus” dengan fungsi “pembinaan” yang tampak dominant daripada fungsi awalnya sebagai mahad. Nilai pembinaan yang terus diwariskan sampai MATA XII bahkan MATA XIII menjadi ciri khas tersendiri

Pengembalian fungsi MATA kepada fungsi awalnya sebagai mahad justru membuat para pengurus MATA XIII bingung. Dengan kultur pembinaan yang kental yang diwariskan dari generasi ke generasi ini tampaknya membuat para pengurus mengalami kesulitan dalam mensinergiskan antara pembinaan dan kemahadan. Sekilas mungkin memang tampak tidak bermasalah. Tapi pada realitanya, arahan yang kurang jelas, dan masalah-masalah internal MATA sendiri yang membuat impian mewujudkan mahad dan menjalankan pembinaan berbasis kemahadan dalam diri MATA menjadi nampak kurang optimal terealisasikan..

Adanya perubahan kondisi secara umum menjadi salah satu alasan perubahan arahan yang ada dalam MATA. Bahwa pada saat ini, setiap wajihah –GAMAIS, LDPS, KM, dll- sudah mempunyai system kaderisasi dan rekrutmen yang diagendakan secara matang oleh masing-masing wajihah tersebut. Ini merupakan sebuah perubahan yang meminta MATA melangkah dengan arahan yang sebenarnya tidak baru yaitu mahad secara professional karena itulah porsi MATA yang sebenarnya sedangkan posisi pembinaan adalah menjadi pembekalan kepada calon-calon pemegang mahad supaya dapat menjalankan fungsinya secara optimal. Yang harus dijelaskan dengan sangat rinci di sini adalah definisi istilah yang tekstual dan konseptual dari kemahadan dan pembinaan itu sendiri. Sepertinya memang ada kaitan secara langsung maupun tidak langsung antara pembinaan dan kemahadan itu sendiri. Karena jika dilihat sekilas dapat dikatakan bahwa tatsqif ataupun menjadi pengajar tahsin juga merupakan sebuah proses pembinaan untuk subjek dalam hal ini pengelola (pengurus MATA) maupun untuk objek (jamaah dan mahasiswa). Definisi yang mungkin kurang tersepakati ini menjadi salah satu sebab interpretasi pengelola MATA yang juga berbeda sehingga pada aplikasinya terjadi kekurangsinergisan pembinaan dan kemahadan . hal ini ternyata tak hanya dirasakan oleh pihak  internal MATA sendiri tetapi juga pihak eksternal MATA yang mempunyai perhatian akan keberjalanan MATA.

Menjadi sebuah ma’had bukanlah sebuah pekerjaan yang mudah, butuh loyalitas yang tinggi dibalik keterbatasan-keterbatasan pengurus yang juga merupakan seorang mahasiswa. Demikian pula dengan pembinaan, walaupun sudah ada bidang Pembinaan Anggota dan Pembinaan Pengajar Quran, tetap saja nilai-nilai pembinaan juga harus terinternalisasikan dalam kinerja bidang-bidang  mahad seperti Quantum Tarbiyah dan Tatsqif. Begitupun sebaliknya, PA dan P2Q juga harus menginternalisasikan nilai kemahadan dalam kinerjanya sebagai pusat pembinaan. Ini bukan berarti ladang kerja MATA menjadi tidak jelas, justru dengan adanya internalisasi di masing masing bidang ini, sinergisasi akan bias terwujudkan sehingga kinerja MATA menjadi optimal dan sesuai dengan fungsinya.

Pembinaan menjadi sesuatu yang wajib dalam kiprah sebuah wajihah apapun. tapi fungsi sebuah wajihah adalah arahan yang disesuaikan. Maksudnya dalam sebuah struktur, ada pos-pos yang dibentuk untuk menunjang kekuatan struktur tersebut. Dan dalam struktur dakwah kampus ini,  MATA menempati pos sebagai sebuah mahad yang juga bertindak adalah tarbiyah tsaqafiyah ADK, mungkin ananya sendiri saja yang kurang faham dengan ini semua.. MATA sebagai mahad adalah tujuan utama dan pembinaan sebagai bidang utama yang menyokong tujuan utama tersebut. Dan untuk mencapai tujuan utama tersebut, tentu saja pembinaan yang harus di-run adalah pembinaan yang berbasis kemahadan. Pembinaan berbasis kemahadan inilah yang selama ini kurang difahamkan dalam kepengurusan sehingga sector pembinaan dengan sector kemahadan  nampak tidak berjalan secara sinergis. Belum lagi keikutsertaan Lembaga Dakwah Salman menambah corak MATA XIII beserta kebingungannya. Karena kurangnya kordinasi dan komunikasi dalam tataran internal pengurus, beberapa orang pengurus sector MAHAD merasakan bahwa mereka tidak sedang berada dalam kepengurusan MATA melainkan dalam MAHAD yang dirasakan justru terpisah dari tubuh MATA itu sendiri. Dan banyak orang di luar menganggap MATA dan Mahad adalah dua tubuh yang berbeda, apalagi karena sama sekali tak ada logo MATA pada produk-produk mahad Salman. Bukan soal logonya, ini mengindikasikan kebingungan tadi. Aneh tapi nyata, ana ingat sebuah pernyataan yang berbunyi “dalam MDK disebutkan Salman (dengan MaTa’ di dalamnya)  berfungsi sebagai ma’had, jadi bukan hanya MaTa yang jadi ma’had”. Dan dari informasi seorang akhwat internal bahwa memang Salman-lah yang menjadi mahad, MATA yang merupakan salah satu unit Salman diharapkan mampu mengemban itu. Dan seandainya tidak ada MATA pun dalam hal ini Mahad Salman tidak apa-apa yang penting fungsi mahad itu terpenuhi. Jujur kedua pernyataan ini membuat dahi ana mengernyit karena tidak mengerti.

Yang jelas untuk mewujudkan fungsi sebagai mahad butuh effort yang besar dari segi sumber daya manusia komitmen yang tinggi dan system manajemen dan controlling yang baik. Hanya saja untuk menyokong ini tentu diperlukan kader-kader yang berkualitas tinggi yang memiliki criteria yang diharapkan karena fungsi kita adalah melaksanakan proses internalisasi Al-Quran dalam hati-hati manusia baik itu anggota muda maupun jamaah. Dan aktifitas seperti ini tentu tak bias ditanggung dan dilaksanakan oleh sembarang orang. Hanya kader yang tangguh, berkafaah, professional den tentu saja mempunyai kapasitas internal dan kekuatan ruhiyah yang tidak lemah yang mampu mengemban ini. Dan menjadi fungsi spesialisasi PA-lah untuk mensuplai orang-orang seperti ini. Satu hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa fungsi pembinaan untuk mengharapkan output yang diharapkan seperti ini adalah hal yang membutuhkan banyak energi,  dan tetesan keringat sehingga butuh dukungan dari seluruh bidang di MATA secara integral. Hanya saja karena pembinaan adalah satu aspek penting yang bukan merupakan fungsi utama MATA maka tinggal disesuaikan saja porsinya dengan kemahadan. Tapi satu yang ana rasakan sendiri, bahwa tak dipungkiri bahwa pembinaan MATA menjadi warna tersendiri dalam diri anggotanya walaupun nantinya dia tak meneruskan aktifitas di MATA, menjadi kader yang tangguh di tempat beraktifitasnya kemudian. Inilah yang selama ini terjadi di MATA. Fungsi utamanya yang sebagai mahad nampak berada di bawah dominasi pembinaan karena (mungkin) system pembinaan MATA yang sudah baik dan sebagian merupakan nilai yang diwariskan generasi sebelumnya, sehingga pembinaan justru menghasilkan output yang diharapkan. Lain halnya dengan kemahadan yang pada kepengurusan sebelum MATA XIII cukup tersendat-sendat karena masalah financial, lagipula akademik dan aktifitas yang lain juga turut mempengaruhi komitmen pelayanan jamaah yang disandang mahad-especially Quantum Tarbiyah.

Ada satu hal yang menarik lagi tentang kalimat-kalimat visi kepengurusan. Pada MATA XII, visi kepengurusan berbunyi “membentuk kader militant dan mahad professional” sedangkan pada visi kepengurusan MATA XIII berbunyi “menjadi mahad professional membentuk generasi Qurani”. Nampak terlihat dengan jelas penekanan arahan MATA pada kedua kepengurusan tersebut. Lihat saja pada kata-kata pertamanya. MATA XII masih didominasi pembinaan karena yang dilakukan adalah membentuk kader militant untuk menjadi mahad professional. Sedangkan pada MATA XIII menekankan untuk membentuk mahad profesional dulu untuk menciptakan generasi Qurani, lalu apa perbedaan antara generasi Qurani dengan kader militant? Nampak samakah ? Hanya sekedar intermezzo saja…

Apakah pembinaan maupun kemahadan mepunyai fungsi yang berbeda? Ana setuju bahwa keduanya merupakan majelis ilmu, tapi arahan dan segmentasi dari kedua sector ini berbeda. Pembinaan menitikberatkan pada anggota internal MATA, yang tujuannya memberikan bekal pemahaman, fikrah Islam yang shahih dan mananamkan hamasah dalam rangka meningkatkan afiliasi dan kecintaan terhadap Islam yang makin kuat, mau bergerak dalam dunia dakwah dan istiqamah dalam penjagaan yang baik dalam bentuk apapun, termasuk di dalamnya penjagaan dalam bentuk usrah (mentoring, liqo) yang sehat dan efektif. Sedangkan kemahadan, objeknya lebih luas, yaitu jamaah Salman dan mahasiswa secara umum dengan tujuan untuk menyebarkan fikrah islam yang sahih, pemahaman ke-Al Quranan brupa peningkatan kualitas tilawah Al Quran dengan tahsin, penjagaan Al Quran dengan Tahfidz, dan syiar-tsaqafah keislaman dengan tatsqif. Sifatnya pelayanan jamaah, menyediakan kebutuhan jamaah tentang Al Quran dan wawasan dan kefahaman tentang Islam yang sifatnya tidak terlalu intens, umum. Ada satu pertanyaan ? sebenarnya wujud fikrah Islam yang shahih itu seperti apa? Wujud kefahaman terhadap Islam yang integral itu seperti apa? Definisi dari fikrah Islam yang shaih ini yang masih membutuhkan penjabaran sehingga kita bias menurunkannya dengan sesuai apaun visi kepengurusan MATA. Aneh tapi nyata, internalisasi visi MATA sendiri kurang begitu baik malah mungkin ada yang tidak tahu. Padahal kan itu visi yang ingin kita capai.

Wallalhu ‘alam bis showab. Semoga Allah memusnahkan segala kesia-siaan dari kalimat-kalimat yang ana sampaikan ini. Jika ada yang benar, maka sungguh Allah ingin menyampaikan hal tersebut kepada kita semua, adapun jika masih banyak yang tidak benar itu adalah semata-mata kebelumpahaman ana. Ilmu dan pengalaman ana tentu belum cukup untuk mengungkap hal seperti ini. Afwan jika penuh dengan subjektifitas, berbelit-belit, dan kurang dipahami, ana hanya mencoba memaparkan apa yang ana ketahui, apa yang ingin ana sampaikan dan sekedar tanggapan yang di baliknya tersimpan secercah harapan semoga MATA menjadi wajihah-yang menyuplai mujahid-mujahidah yang selalu merindukan syahid dan kemenangan Islam. Dan semoga ana termasuk di dalam barisan ksatria perindu Surga tersebut.

Maka semoga Allah memilih orang-orang terbaiknya untuk menegakkan dakwah Islam ini dengan media sebuah wajihah bernama Majelis Ta’lim Salman ITB. Adapun ana, hanyalah orang yang belum punya cukup ilmu dan pengalaman, seorang yang belum lama tergabung dalam barisan ini dan masih harus banyak belajar, yang dalam otaknya ada sebuah impian kecil yang sempit, dari MATA menuju surga.

Syukran, jazakumullah khairan katsira. Wassalam

 

 

 

 

Iin Parlina

(teknik Kimia 2005, 13005105)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: