terjebak cinta

Kau tahu cinta kah yang telah merasuk ke dalam jiwa seorang saudariku kala setelah 2 tahun lamanya hati kecilnya tak berdaya menepis seseorang dari mimpi-mimpinya??

Cerita ini diangkat dari pengalaman kisah nyata yang dialami oleh seorang saudari dan dikisahkan tiada lain dan tiada bukan semata hanya untuk menggali hikmah atas kisah yang terjadi. Semoga bisa diambil hikmahnya.

Saudariku yang satu ini adalah seorang akhawat aktifis di kampusnya, berbagai aktifitas dakwah dijalankannya dengan penuh semangat. Berbagai amanah dakwah dicoba untuk diembannya dengan baik. Interaksinya dengan lawan jenis menurutku cukup terjaga, meskipun aku tahu bisa saja dia menyimpan rasa suka mungkin kepada seorang ikhwan, tapi tidak pernah dia melakukan hal-hal yang melanggar syar’i.. hanya kedekatan dengan adik-adik kelas nya yang memang banyak yang lucu, untuk yang satu ini akupun mengerti karena aku pun mengalami hal yang sama. Aku mengenalnya sudah lama, cukup lama untuk menjalin ukhuwah yang berada pada taraf tak sekedar ta’aruf lagi, oleh karena itulah terbangun kepercayaan di antara kami, berbagai rahasia, curahan hati yang kadang mewarnai pertemuan kami.

Meskipun dekat, untuk masalah hati kadang tak satu pun dari kami mau terbuka, maklum sih masalah yang satu itu cukup sensitif, apalagi dengan gelar aktifis dakwah yang kami emban, ada rasa malu yang membuat kami enggan membahas hal-hal tersebut, hanya terkadang ejekan dan cemoohan bercanda yang mewarnai cerita kami yang memang sudah memasuki usia untuk menggenapkan setengah agama kami seperti yang telah banyak dilakukan oleh adik-adik angkatan di bawah kami.

Ketika lulus kuliah, tidak lantas kami berjauhan satu sama lain. Kekuatan ukhuwah yang masih mengikat kami membuat hubungan kami tak berbeda dengan masa kuliah, bahkan lebih dekat. Dalam suatu pertemuan yang tak disangka, tiba-tiba dia mengajakku berbicara serius.

“teh, lagi ada waktu ga? Pengen diskusi sesuatu nih. Ada yang lagi mengganjal banget.” begitu tuturnya. Aku pun menanggapi “wah diskusi apa nih serius banget kayanya. Hayu atuh cari tempat yang enak”. Kami pun mencari tempat yang kami anggap cukup nyaman untuk berdiskusi.

“Teteh tahu kan, saya selama ini selalu berusaha menjalankan perintah Allah termasuk menundukan pandangan?” tanyanya membuatku terkejut. Aku mengernyitkan dahi, “maksudnya?”.

“maksudnya teteh tahu kan kalau saya tidak pernah aneh-aneh sama ikhwan mana pun?” tanyanya. Aku menyungging senyum “yang jelas seingat teteh sih pernah berantem sama beberapa orang ikhwan sampai nangis, pernah ditegur ikhwan sampe ga enak makan, hehehhe”jawabku sambil bercanda. Dia mendelik, “nangis itu dulu karena ngerasa ga berdaya aja. Ga enak makan karena merasa malu banget, bukan karena menyimpan rasa apa2 sama mereka” sergahnya. Aku mengikik, “iya dek, bercanda. Gimana atuh sampai dirimu mau bahas hal2 begini”

Dia menghela nafas dalam-dalam, “teteh tahu? Selama ini saya menyukai seorang ikhwan?”. Aku menatap matanya dalam dalam, “teteh sih cuma nebak dek, bahwa Allah mungkin menganugerahkan perasaan manusiawi tersebut padamu. Tapi so far so good, kamu ga ngeliatin tanda-tanda jatuh cinta. Hehehehe. Lalu kenapa tiba-tiba sekarang ngasih tahu teteh?”

“Itu yang mau saya diskusikan teteh….” jawabnya.

“ya udah atuh apa, coba teteh dengar ceritanya.”

“teh, ada seorang ikhwan yang saya kenal lebih dekat pada tahun 2010 lalu. Saya tahu eksistensi beliau di ranah dakwah kampus sudah lama. Hanya saja saya diberikan amanah bersama beliau 2 tahun lalu. Itu saat saya mulai mengenal pribadi beliau, perangai dan karakter yang santun dan rendah hati, shaleh yang penuh wawasan, intinya beliau ikhwan yang sangat baik dan setahu saya sangat bersih dari gosip-gosip yang menimpa ikhwan lain seangkatannya. Sangat terjaga. Dan satu hal yang membuat mengapa saya mulai menyukainya adalah bahwa apa yang beliau miliki begitu sangat komplemen dengan apa yang saya miliki, teteh tau kalo saya begini dan begitu naah beliau mah begitu dan begini. Beliau satu-satunya ikhwan yang saya anggap bisa mengatasi segala lemah saya. Sangat luar biasa.”

matanya kemudian mengembara menjelajah dunia yang ku tak bisa masuki. Mungkin mencoba mengendalikan luapan perasaan yang dimilikinya. Aku tersenyum sembari menyeruput minuman di depanku.
“Enam bulan saja teh, saya beramanah dengan beliau, namun tidak pernah saya sangka pengaruhnya bisa hingga 2 tahun. Hahahha” kulihat sekilat cairan bening dalam matanya, ada air mata yang ingin tumpah.

“selama ini selalu berhasil saya tahan, teh. Tak pernah ada orang yang tahu perasaan tersebut. Saya pun sadari sepenuhnya Allah akan memberikan takdir terbaik. Ketika mengalami proses taaruf dengan ikhwan lain pada rentang waktu tersebut, perasaan saya menerima ikhwan lain tersebut begitu pasrah dan ikhlas. Namun prosesnya tidak berlanjut karena beberapa hal, jadinya ntah kenapa keingetan lagi. Saya ga pernah sms beliau, ga pernah kontak dalam bentuk apapun, dan beliau juga bisa jadi tidak tahu bahwa perasaan saya ini sedemikian besarnya wong kami sudah terpisah jauh puluhan atau mungkin ratusan kilometer. Cuma bisa menatap dari kejauhan, melihat dari keremangan…”

“lalu….”tanyaku

“saya manusia normal, yang membutuhkan kebutuhan afeksi, menyayangi dan disayangi. Secara naluriah, dan menyadari posisi hukum saya menikah kini sudah menginjak pada level sunnah bahkan bisa jadi wajib,”

“jadi pengen nikah sama beliau? Begitu? Minta bantuan teteh buat diproses begitu?” tanyaku

Dia menggeleng, “tidak bukan seperti itu, kalau pengen nikah ma beliau hehhe iya sih tapiiii mau gmana caranya??” semburat merah mewarnai pipinya. Aku tersenyum lagi, “lha makanya diproses? Kaya Siti Khadijah!”

“apalah saya ini dibandingkan Sahabiyah Siti Khadijah, atuh teteeeeeh”. Serunya tersipu.

“lha terus bagaimana?”

“pengen ditausiyahi supaya bisa mengatasi perasaan tersbut teeeeeeeeeeeeh!!!! gituuuuu!” serunya. Aku tergelak, lucu melihat saudariku yang satu ini. Setahuku Beliau sangat qawi, namun ketika menghadapi masalah seperti ini, bisa juga jadi kayak gitu hehehehe.

“gini teh, satu alasan kenapa saya bisa memiliki perasaan tersebut selama ini adalah karena ditunjang dengan mimpi mimpi saya teh.” aku mengernyitkan dahi lagi “heee??mimpi?? maksudnya?”

“teteh, perasaan saya di dunia nyata dengan ditunjang jarak kami yang berjauhan tidak membuat saya selalu mengingat beliau, tapi ketika tidur, saya sangat sering memimpikan beliau,, sangat sering dan terlalu sering bahkan. Bahkan tadi malam saja saya memimpikan saya menyatakan perasaan saya kepada beliau.” “waaaah terus beliau terima??”tanyaku penasaran. Sambil cemberut dia berkata “keburu bangun buat QL, hehhehe”. Aku tergelak lagi,

“mimpi mimpi itu datang begitu saja teh, bahkan ketika saya sama sekali ga mikirin beliau. Lagi banyak2 kerjaan eeeh tetep aja muncul, mimpinya berbagai versi pula. Nah ini yang saya mau diskusikan dengan teteh. Mimpi ini yang membuat saya selalu bertanya, apa sih maksudnya? Apa yang Allah inginkan dari saya? Kenapa mimpi-mimpi itu selalu meninggalkan bekas yang tidak mudah untuk menghapusnya. Saya tidak tahu harus bagaimana. Pernah berpikir apakah ini tanda bahwa beliau adalah jodoh saya mengingat beliau hingga kini juga belum menikah, hehehehehe.” melihat aku tergelak lagi, saudariku memasang muka cemberut, “serius teteeeeh”. Aku berpaling sejenak dan menghela nafas dalam-dalam.

“itu ujian dek, hehhehe.. tapi begini, ingat dalam buku prinsip pergerakan ikhwan yang merupakan point turunan dari arkanul bai’ah? Point 3?” tanyaku. “ayooo ingat ingat materi liqanya” seruku lagi.

Adikkku yang satu itu mencoba mengingat-ingat materi liqa-nya. Aku menyungging senyum lagi, “keimanan yang murni berdasarkan ibadah yang benar dan mujahadah. Cahaya yang Allah berikan kepada hambaNya yang dikehendakinya. Lintasan hati, mimpi, penemuan ghaib, dan ilham bukan merupakan prinsip dari syariat Islam tidak perlu diperhatikan kecuali tidak bertentangan dengan hukum agama” tuturku.

“mimpi adalah bunga tidur dek, daya hayal yang menjelma di alam bawah sadar. Alasan mengapa dirimu sering banget memimpikan beliau bisa jadi karena memang beliau sedemikian kuat tersimpan dalam alam bawah sadarmu yang serta merta muncul dalam mimpimu dengan berbagai versi. Cuma yang perlu diperhatikan adalah bisa jadi mimpi2 itu memang tak bertentangan dan memang perlu diperhatikan. Diambil makna yang membuatmu menjadi lebih dekat kepada Allah saja. Teteh yakin follow up kamu menyukai beliau bukan berujung pada cinta ABG labil yang galau yang ujungnya sama2 kita tahu. Teteh yakin kamu menyukai ikhwan ini karena keshalihannya yang membuat dirimu ingin semakin mencintai dan dicintai Allah. Untuk dasar ini teteh yakin sudah benar, cuman jangan sampai perasaan dan mimpi2 tersebut justru membuatmu terjerumus ke dalam perasaan yang tidak seharusnya, kamu tahu betapa setan akan menggodamu dari depan belakang, kiri kanan, atas dan bawah. Bisa jadi itu jadi alat untuk menjauhkanmu dari Allah.”

“jika memang kau sudah siap menikah, kenapa tak kau coba saja seperti dalam mimpimu menawarkan proses ta’aruf kepada beliau, hmm bisa via perantara, sahabat beliau misalnya. Teteh gatau ikhwan mana yang kamu maksud, jadi ga bisa rekomendasikan dengan tepat, ya intinya sahabat beliau atau yang paling bagus via murabbi mu dek.”

“dalam Islam sudah lengkap semua contoh yang bisa dijadikan teladan hidup kita. Ibunda Siti Khadijah  telah mencontohkan bagaimana beliau mengatasi rasa cintanya kepada Rasulullah dengan segera untuk meminangnya menikahi beliau. Atau contoh shahabiyah lain Fatimah puteri Rasulullah yang telah memendam perasaan cinta kepada Ali Bin Abi Thalib. Beliau berhasil menahannya hingga datang hadiah kepadanya berupa pengabulan dari Allah terhadap cintanya yang suci yang tak terjamah bahkan oleh setan. Bagaimana bisa menahan cinta selama Siti Fatimah kepada Ali dan demikian pula sebaliknya, tapi lihatlah akhir yang indah ketika cinta mereka bersatu di bawah naungan indahnya Islam, dan keduanya telah menjadi contoh yang bisa memberikan gambaran bagaimana sulitnya menjaga hati tetap bisa dilakukan.”

“sekarang terserah adek, mau menjadi yang mana? Menyatakan seperti halnya Khadijah, atau bertahan seperti halnya Fatimah? Ketika menjadi Fatimah dan kemudian ternyata jodohmu bukan dengan beliau, maka ya ga masalah, dengan perjuangan mempertahankan penjagaan hati tetap pada koridornya, hati akan dengan mudah menerima takdir Allah, karena sekali lagi bahwa manusia bisa menyangka yang baik untuknya padahal Allah punya yang lebih baik. Ya untuk teori yang satu ini pastilah sudah adek ketahui dengan sangat baik.”

Saudariku termenung mencerna kata-kata yang kututurkan. Dia mencoba memikirkan apa-apa yang telah kusampaikan. Mungkin benar pikirnya. “kalau jodoh, dengan segala cara Allah akan mengirimkan beliau untukmu, kalau bukan, Allah akan menggnti dengan yang lebih baik untuk masing-masing dari kalian. Cuma yang teteh pesankan jangan terbawa perasaan. Bisa jadi alat setan untuk menjeratmu menjauhi Allah. Cukup diambil hikmahnya saja, minta pertolongan kepada Allah dengan sabar dan shalat, jika merasa sudah siap menikah coba diproses saja oleh murabbimu.”

“mencintai adalah fitrah, ingin dicintai juga fitrah, mereka merupakan kebutuhan afeksi yang merupakan kebutuhan mendasar setiap manusia, namun perlu dilakukan penjagaan hati sedemikian sehingga tetap berada dalam koridornya. Kamu pasti tahu dek bahwa setan menggoda setiap manusia bahkan sekaliber rasul pun, apalagi kita…kita yang masih lemah dan tak berdaya.”

Cerita ini ditulis semata hanya ingin menekankan kita semua untuk menjaga hati, siapapun kita, dan dengan siapapun kita jatuh cinta……..

Advertisements
  1. jatuuh cintaa, berjuta rasanya.. hehe *nyanyiii uaee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: