Bahan Alam untuk Penggantian Lindane

Persistent Organic Pollutants (POPs) atau bahan pencemar organik yang persisten banyak ditemui dalam produk pestisida, kimia industri dan hasil-hasil sampingan proses industri (unintetionally by products). Secara umum sebenarnya Indonesia telah melarang produk-produk pestisida yang mengandung POPs dan menggantinya dengan yang mengandung zat yang lebih cepat terurai di alam seperti carbamat, namun karena lemahnya pengawasan, saat ini ditengarai adanya pestisida yang beredar secara gelap dan juga adanya peningkatan masalah kesehatan akibat POPs di daerah-daerah tertentu. Masalah POPs ini secara global diatur dengan lahirnya Konvensi Stockholm dimana Indonesia telah menjadi anggota (pihak) dan telah meratifikasinya.

Untuk melindungi kesehatan manusia dan lingkungan dari dampak buruk POPs, telah dikembangkan suatu kesepakatan lingkungan global dengan bantuan UNEP (The United Nations Environmental Programme), yaitu Konvensi Stockholm. Konvensi ini merupakan instrumen yang mengikat secara hukum bagi semua Para Pihak untuk menempuh berbagai upaya dalam rangka mengurangi atau meng-hentikan lepasan POPs. Upaya tersebut termasuk peraturan yang berkenaan dengan produksi, impor, ekspor, penggunaan, pembuangan, dan lepasan POPs. Konvensi juga mewajibkan pemerintah mengenalkan teknik terbaik yang tersedia (BAT, best available techniques) dan penerapan pengelolaan lingkungan hidup terbaik (BEP, best environmental practices) untuk menggantikan POPs yang ada dan meminimumkan lepasan UPOPs, sekaligus mencegah pembentukan POPs yang baru.

Lindan, sebagai salah satu bagian dari POPs, adalah senyawa pestisida organoklorin dengan nama IUPAC γ-isomer heksaklorosikloheksana atau disebut juga benzene heksaklorida. Seperti yang diketahui bahwa γ-isomer adalah senyawa yang paling beracun dari semua jenis pestisida. Penggunaannya pada umumnya tidak untuk ditelan sehingga masuk ke dalam saluran pencernaan. Penggunaan jenis pestisida ini tidak hanya dalam sektor pertanian, melainkan juga dalam sektor peternakan dan kesehatan, di mana lindan digunakan sebagai zat aktif dalam membasmi kutu dan sejenisnya dalam tubuh ternak dan kutu rambut dalam tubuh manusia. Penggunaan lindan sebagai obat jelas akan menuai pertanyaan mengenai kadar racun dan pengaruhnya bagi target yang diobati tersebut. Dan kenyataannya di lapangan, terutama di mancanegara, berbagai Negara melaporkan adanya kasus kematian dan kasus keracunan yang berakibat fatal akibat paparan lindan baik paparan secara kontak maupun melalui pencernaan.

Lindan dilaporkan dapat menyebabkan keracunan sel saraf pusat (Central Nervous System-CNS) termasuk serangan akibat kontak kulit yang cukup panjang. Association of Poison Control Center menyatakan bahwa pada tahun 1993 terdapat 2645 kasus keracunan dengan 18 kasus kematian fatal yang terjadi akibat insektisida hidrokarbon terklorinasi, di mana lindan adalah salah satunya. Memang tidak dijelaskan data spesifik lindan menyebabkan berapa kasus, tapi mengingat lindan memiliki karakteristik racun yang kuat maka bisa jadi kasus tersebut diakibatkan oleh lindan, terlebih laporan pada beberapa tahun berikutnya yang menyatakan kasus yang jelas akibat paparan lindan.

Lindan di Indonesia sendiri diproduksi sebagian besar untuk obat kutu rambut, terutama yang bermerk Peditox. Di mancanegara sendiri lindan banyak ditemukan pada produk bermerk Gamene, Kwell, Bio-Well, G-Well, GBH, Kildane, Scabene, dan Thionex. Bahan ini merupakan racun syaraf, dan diketahui mengakibatkan kerusakan terhadap hati dan ginjal, dan diduga menyebabkan kanker. Peredarannya sudah dilarang di 52 negara dan dibatasi di 33 negara lainnya. Perdagangan internasionalnya dibatasi dan diatur oleh konvensi Rotterdam dan Produksi dan Penggunaannya untuk keperluan pertanian sudah dilarang berdasarkan konvensi Stockholm. WHO mendaftarkan bahan ini sebagai ‘Moderately Hazardous’.

Kutu rambut atau dikenal dengan nama Pediculus humanus capitis termasuk dalam kategori parasit manusia yang berasal dari ordo Anoplura.

Kutu ini biasa bersarang di rambut kepala dengan cara mencengkeram batang rambut dengan kaki depannya yang menyerupai capit kepiting sehingga kadang2 tidak hilang walaupun sudah di shampoo. Kutu ini akan mengeluarkan air liurnya di rambut kita, dan membuat rambut saling melekat seperti rambut gimbal yang dikenal dengan nama plica polonica. Telur dari kutu ini pun sering susah dibasmi karena dia menempel pada batang rambut seperti kepompong. Kutu rambut sangat gampang dikenali jika anak-anak terinfestasi, bisa dilihat langsung di rambut kita sangat jelas, berwarna putih kecoklatan dan abu-abu, sedang telurnya terlihat putih kekuningan , bertebaran di seluruh rambut, jika telur sudah ompong/ kosong isinya berubah warna menjadi putih. Telurnya kecil dan bulat atau oval yang terhubung dengan kuat pada pangkal rambut di dekat kulit kepala. Jika seseorang banyak menggaruk, dapat ditemukan kerusakan atau tanda-tanda iritasi pada kulit kepala. Kulit yang mengalami kerusakan ini dapat mengeluarkan cairan jernih yang membentuk crust (cairan tersebut berbentuk kering dan mengeras) dan dapat terjadi infeksi. Jika terjadi infeksi, kelenjar limfa di belakang telinga dan di leher dapat membengkak dan nyeri jika ditekan.

Lindan memiliki efek listrik yang mampu melumpuhkan syaraf dari kutu rambut dan kutu-kutu lainnya. Ditemukan kenyataan bahwa lindan berpengaruh pada kekebalan, dan system syaraf. Penelitian lain menyebutkan bahwa lindan juga menyebabkan kelumpuhan pada hati, penurunan kualitas hormone, dan bahkan kematian. Mekanisme terjadinya berbagai akibat ini telah banyak diteliti.

Penggunaan lindan ternyata bisa digantikan oleh senyawa herbal atau bahan alam yang terdapat di sekitar kita. Terdapat beberapa zat yang dinyatakn mampu memberantas kutu rambut tanpa menimbulkan dampak kesehatan sebesar yang dilakukan lindan. Berbagai penelitian menyebutkan bahwa beberapa minyak atsiri telah mampu menggantikan fungsi lindan. Bahkan dua produk yang telah dipasarkan secara luas yaitu produk “Kutu Jamur” dan “Tumbonan” telah digunakan juga secara luas untuk memberantas kutu rambut dan kutu yang menyebabkan berbagai penyakit kulit bagi hewan peliharaan.

Pentingnya penemuan tentang aplikasi bahan pengganti lindan akan membantu Indonesia dalam perwujudan ratifikasi konvensi Stockholm, dan juga menghindarkan masyarakat dari bahaya yang timbul akibat penggunaan lindan, serta memicu munculnya industri kecil dan rumah tangga yang berbasis bahan alam, sehingga diperkirakan akan mampu membantu meningkatkan perekonomian masyarakat kecil.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: