Pengolahan Limbah Cair dengan Metode Anaerob

Pengolahan limbah cair secara anaerobic berbeda dengan pengolahan lumpur (sludge) secara anaerobic. Alasannya adalah bahwa bagian terbesar bahan organic dalam limbah cair dilarutkan dalam pengolahan limbah cair anaerobic. Ketika kandungan organic terlarut dalam limbah cair dihilangkan, berarti proses pengolahan haruslah merupakan sebuah proses yang sangat baik dan memiliki kontak yang cukup lama antara substansi terlarut dalam limbah dengan mikroorganisme yang beperan dalam proses tersebut. Hal ini berarti bahwa untuk pengolahan limbah cair anaerobic terdapat perbedaan antara waktu tinggal hidraulik (HRT) dengan umur lumpur (sludge age) yang biasanya sama pada pengolahan lumpur secara anaerobic.

Pengolahan limbah cair anaerobic pertama untuk limbah cair industry dibangun pada tahun 1929 untuk mengolah limbah produksi ragi di Slagelse, Denmark. Meskipun plant ini telah berusia 30 tahun, perkembangannya cukup lambat. Pengembangan proses ini kemudian muncul ketika diperkenalkannya pengolahan anaerobic dengan menggunakan UASB (Up flow anaerobic sludge blanket) pada tahun 1980.

Pengolahan anaerobic pada umumnya memiliki biaya operasi yang relative rendah dan perolehan gas yang cukup banyak. Prosesnya sangat baik diterapkan pada limbah cair terkonsentrasi di mana pengolahan aerobic untuk oksidasi senyawa organic akan menghabiskan banyak biaya terutama untuk listrik.

Proses ini akan lebih baik lagi jika kondisi pengolahan bertemperatur cukup hangat karena akan mereduksi volum reactor. Metode yang lainnya yang digunakan untuk mengurangi volum reactor adalah dengan mempertahankan tingginya konsentrasi lumpur di dalam reactor. Perkembangan proses anaerobic yang semakin pesat menyebabkan munculnya berbagai modifikasi proses seperti adanya uasb dan filter terfluidisasi yang kini telah menjadi cabang bioteknologi dan teknologi kimia.

Pengolahan anaerobic memeiliki keuntungan lain yaitu mampu menurunkan kandungan organic dengan jumlah yang sangat banyak dan hamper tanpa ada nutrisi yang ditambahkan. Metode ini cocok dijadikan sebagai proses pendahuluan atau pretreatment yang diikuti dengan metode lain untuk menghasilkan unjuk kerja yang optimal. Namun perlu dicatat bahwa dalam proses pengolahan anaerobic, produksi metana adalah satu-satunya proses yang berkontribusi pada pengurangan COD dalam limbah. Pengurangan padatan tersuspensi misalnya dengan pengendapan, hanya sejumlah kecil dari COD yang bisa dihilangkan setelah proses anaerobic.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: