RAN GRK

Hangatnya isu perubahan iklim di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia menghasilkan berbagai dampak yang cukup nyata, misalnya munculnya berbagai kebijakan, perencanaan, teknologi, bahkan banyaknya aksi terkait yang dilakukan untuk menghadapi perubahan iklim tersebut. Berbagai lapisan masyarakat mencoba disentuh dengan adanya sosialisasi, penyuluhan, training yang ditujukan untuk meningkatkan kesadaran tentang ancaman perubahan iklim, sehingga diharapkan semuanya dapat bahu-membahu mencegah dan mengatasi berbagai kemungkinan yang akan terjadi akibat fenomena tersebut.

Bermula dari Kyoto Protocol, sampai kepada pertemuan internasional dalam rangka mitigasi dan adaptasi perubahan iklim dilakukan. Berbagai diseminasi teknologi, hingga munculnya program-program internasional berkaitan dengan tema perubahan iklim diluncurkan ke khalayak.

Indonesia yang notabene merupakan negara berkembang yang sebenarnya tidak memiliki kewajiban menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK) telah secara sukarela mengeluarkan target pengurangan emisi GRK sebanyak 26% dengan kemampuan sendiri dan 41% dengan bantuan internasional. Bahkan, pada tanggal 20 September 2011 telah dikeluarkan Peraturan Presiden (PERPRES) No 61 tahun 2011 tentang Rencana Aksi Nasional Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca, serta pada tanggal 5 Oktober 2011 juga dikeluarkan PERPRES No 71 tentang Penyelenggaraan Inventarisasi Gas Rumah Kaca Nasional. Kedua PERPRES yang dikeluarkan ini menjadi bukti keseriusan Pemerintah Indonesia dalam menurunkan emisi GRK dengan usaha-usaha yang mungkin untuk dilakukan.

RAN GRK ini mengharuskan setiap daerah di Indonesia baik dalam ruang lingkup Provinsi maupun Kabupaten melakukan aksi daerah yang disebut Rencana Aksi Daerah (RAD) di berbagai sektor penghasil emisi gas rumah kaca. Adapun kegiatan RAN GRK ini mencakup bidang pertanian, kehutanan-lahan gambut, energi-transportasi, industri, dan pengelolaan limbah,

Berdasarkan RAN GRK tersebut, berbagai aksi dilakukan, salah satunya adalah kegiatan yang diusulkan ini yaitu pengembangan teknologi rendah karbon dengan implementasi teknologi pengolahan limbah cair menjadi biogas.

Sebagaimana diketahui bahwa jumlah industri tahu di Indonesia adalah sekitar 84.000 unit usaha dengan kapasitas produksi lebih dari 2,56 juta ton per tahun dan melibatkan sangat banyak tenaga kerja dari masyarakat sekitar. Industri tahu mengeluarkan emisi gas rumah kaca dari bahan bakar yang digunakan dan dari limbah cairnya yang dibuang ke lingkungan dengan jumlah sekitar 20 juta meter kubik per tahun. Dari perhitungan, jumlah emisi yang dikeluarkan pabrik tahu adalah sekitar 1 juta ton CO2 ekuivalen per tahun. Dari data industri, 80% dari jumlah industri tahu ada di Jawa, sehingga emisi yang dikeluarkan pabrik tahu di Jawa adalah sekitar 0,8 juta ton CO2 ekivalen per tahun.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: