Blog Archives

Mabit Baitul Ihsan 16-17 Feb 2013; “Dzikir” dan “Wisuda Para Mahasiswa Penghafal Quran”

Jadi, ini semua bermula dari rencana mengikuti tes masuk LTQ Jauhar Iman di Paseban, aku meng-sms ukhty tersayang Nisaul, yang ternyata malah me-reply pertanyaanku dengan informasi acara mabit ini. Kontan, kami langsung setuju untuk bertemu di masjid BI pada malam tersebut.

Aku sampai di sana ketika adzan Isya berkumandang, dan segera mengambil posisi paling oke. Selang beberapa waktu, acara dimulai, sambil menunggu icha, aku mengambil gambar di bawah ini ^_^. (tentu gambar yang tak asing lagi ya ^_^, wong tiap mabit sini, selalu aja mendokumentasikan bagian yang ini di hp)

image

Materi “Mengungkap Rahasia Dzikir-Membedah Dzikir Al Ma’tsurat” bersama Ustadz KH Amir Faihol Fath, KH Dr. Abdul Muiz, dan Ust. H. Fadyl Usman

Dzikir adalah sumber energi yang bisa memungkinkan kita menjalani hari penuh berkah. Waktu pelaksanaan dzikir tidak terbatas, berbeda dengan ibadah2 lain yang waktu pelaksanaan ibadahnya ditentukan. Maka ibadah yang satu ini memiliki kelebihan yang potensinya sangat besar dalam proses penjagaan iman seseorang dalam setiap waktu yang dilaluinya.

Ada surat yang selalu dibacakan rasulullah saw ketika mngimami sahabat. Surat tersebut adalah surat al ‘ala dan al ghasiyah. Dalam surat al a’la, Allah menitipkan kunci sukses. Pertama adalah tazkiyah yang artinya membersihkan. Kebersihan memberikan kenyamanan dan kebahagiaan. Jiwa yang kotor tidak akan memberikan keoptimalan dalam melaksanakan aktivitas. Analogi; masjid yang bersih dan motor yang kotor mesinnya. Menjaga hati supaya tetap bersih membuatnya nyaman dan peka terhadap sinyal2 yang diberikan Allah. Untuk menjaga hati tersebut, penyucian diri diperlukan. Rasulullah saw misalnya beristighfar minimal 100 kali setiap hari. Maka dari itu, usahakan mulai dr sekarang untuk membiasakan istighfar setiap hari. Rasulullah saw saja yang sudah dijamin masuk surga begitu istiqomah. Nah kita? Yang g ada jaminan surga masa malas?

Yang kedua adalah dzikir. Ketiga adalah shalat. Di zaman rasulullah saw, kecintaan terhadap shalat bisa membuat para sahabat sibuk dengan shalat, mengenyahkan segala keinginan untuk tidur. Untuk memaksimalkan kualitas shalat, Shalat harus dilakukan dengan khusyu, jangan tergesa-gesa. Pengaruh shalat bagi kehidupan manusia, disadari atau tidak, memiliki dampak yang sangat signifikan, dzahir maupun bathin. Hal ini terkait dengan kesehatan ruh yang ada di dalam raga manusia, dan shalat adalah ibadah yang sangat komprehensif untuk menjaga kualitas Ruh setiap manusia. Analogi: hp memiliki nilai yang tinggi karena alat ini berjalan secara sinkron antara hardware dan software. Manusia pun sama. Dzikir pun sama, dia  adalah adalah salah satu upaya untuk menjaga kualitas software manusia.

Wisuda Tahfidz Mahasiswa Penghafal Quran

image

Materi Kajian Tauhid bersama Aa Gym 24 Desember 2012 @masjiBaitulIhsan

image

Kita harus yakin bahwa Allah berkuasa atas segalanya. Atas dasar itu kita diminta patuh dan pasrah, seperti yang disampaikan dalam Quran Surat Al fath ayat 4, Surat Al Baqarah ayat 186, dan surat Yunus ayat 107.

Kala Allah menakdirkan sesuatu maka Allah akan menciptakan sebab yang menyebabkan terjadinya takdir tersebut. Dan bisa jadi teknisnya sma sekali tak bisa kita bayangkan.

Kita boleh berencana tapi kita tidak boleh mengandalkan logika dan usaha tanpa melibatkan Allah dalam rencana tersebut. Hidup tidak usah dibawa ribet. Allah telah membuktikan bahwa Allah mampu mengatur kompleksitas yang ada di dalam tubuh kita, bahkan tanpa kita sadari. Bukan satu tapi jutaan manusia yang ada di muka bumi. Makanya berpikir perlu, tp jangan lepas dr dzikir. Karena pengabaian akan keterlibatan Allah dalam ikhtiar kita akan menyebabkan kesiaan dalam usaha tersebut.

Mungkin bahasan ini nampak begitu sederhana. Tapi pada pelaksanaannya dibutuhkan kekuatan dan keteguhan hati yang membuat itu terlaksana. Allah mengetahui manusia begitu lemah. Dan gangguan untuk menjauh dari Allah bukan main banyaknya. Dari dalam diganjal hawa nafsu dan syahwat, dari luar diganggu setan dari golongan jin dan manusia. Maka di sinilah dapat dilihat sejauh mana kepercayaan seorang manusia terhadap tuhannya.

Kehidupan dan Kematian-Kajian shubuh Baitul Ihsan 1 Jan 2012

Kajian Shubuh bersama  Ustadz Fuad Muhsin pada acara mabit bersama Daarut Tauhid Jakarta, Masjid Baitul Ihsan 1 Januari 2012.

Allah berfirman dalam QS Al Baqarah ayat 28 yang memiliki arti sebagai berikut “Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, Kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, Kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan?”

Ayat tersebut menyatakan bahwa manusia mengalami 2 kali kematian dan 2 kali kehidupan. Fase kematian pertama adalah proses menjelang pembuahan sampai zigot kita berumur 120 hari. Fase kehidupan pertama adalah ketika kita setelah berada dalam kandungan selama 4 bulan sampai dengan fase kematian kedua yakni kematian yang akan kita alami setelah jatah usia kita di dunia ini berakhir.

Allah menetapkan beberapa ketetapan untuk fase kehidupan pertama setiap manusia di antaranya adalah jatah umur hidup di dunia, kematian, rizki, dan jodoh. Rahasia kematian mencakup tiga hal yakni: waktu, cara, dan tempat. Hal ini dirahasiakan dengan tujuan salah satunya adalah supaya manusia melakukan yang terbaik untuk kehidupan dan kematiannya.

Rasulullah mengingat kematian (seperti yang disampaikan dalam kitab Riyadus Shalihin) sebanyak 104 kali sehari. Kita????? Berapa kali????

Manusia dalam menjalani fase2 kehidupan dan kematian ini akan mengalam 5 alam yaitu alam ruh dan alam rahim (yang udah kita lewati), alam dunia (yang sedang kita alami sampai habis  masa usia kita) , alam barzah, dan alam akhirat.

Alam akhirat memiliki satuan ukuran waktu yang sama sekali berbeda dengan masa alam dunia. Dalam QS AL Hajj ayat 47 Allah menyampaikan bahwa 1 hari di akhirat adalah 1000 tahun di dunia. Dengan demikian bisa dikalkulasikan bahwa 1 jam di akhirat adalah 41,67 tahun di dunia.  Usia manusia yang rata2 memiliki angka harapan hidup 63 tahun di dunia berdasarkan perhitungan ini ternyata hanya menghabiskan 1,5 jam di akhirat. Namun 1,5 jam versi akhirat (62,5 tahun versi dunia) ini yang menentukan nasib kehidupan di akhirat yang lamanyaaaaaaaaaaaa bukan maiiiin..

Jadi jangan sekali kali mennyiakan kehidupan dunia uni dengan sesuatu yang kecil dan tak berguna karena sungguh waktu 1,5 jam ini terlalu sayang untuk disiakan begitu saja. SANGAT TERLALU BERHARGA!!!! So change yourself to be better

Memaknai Makna Syahadatain

Memaknai makna syahadatain

Ustadz Muhsinin Fauzi pada acara mabit bersama Daarut Tauhid Jakarta, Masjid Baitul Ihsan 31 Desember 2011.

Mungkin syahadatain sudah sangat tidak asing di kepala kita semua. Setiap hari kita membaca kalimat tersebut dalam shalat wajib maupun shalat sunnat kita. Namun apakah hal itu menjadi jaminan bahwa makna syahadat sudah terhujam dalam hati dan jiwa kita? Sementara pada zaman Rasulullah SAW, syahadain adalah kalimat yang mengubah kehidupan seseorang, sedemikain dahsyatnya sehingga Abu Jahal sama sekali tidak berani mengucapkannya karena tau dengan sangat akan konsekuensi logis dari pengucapan kalimat tersebut.

Syahadatain adalah kalimat yang bisa mengubah kehidupan manusia dari kikir menjadi dermawan, dari jahat menjadi baik, dari sombong menjadi rendah hati, dari lemah menjadi kuat, dan lain sebagainya. Dengan kalimat itulah Rasulullah mengubah dunia,, dari kegelapan jahiliyah menjadi dunia yang terang benderang sedemikiam rupa….

Syahadatain adalah akar iman,, ia adalah sebuah pembuktian cinta dari serorang makhluk kepada Sang Khalik, sebuah pernyataan yang menyatakan kesadaran sepenuhnya akan tugas yang diemban sebagai alasan penciptaannya, sebuah kalimat yang menjadi bukti atas segala ketaatan di atas segalanya.

Iman, yang seperti kita ketahui definisinya bersama-sama. Menjadi familiar dan biasa. Padahal kata kata agung ini yang menjadi pembeda seorang manusia dengan manusia lainnya. Dan yang menjadi dasar keimanan itu adalah syahadatain. Karena tanpa pengucapan kalimat ini maka tidak bisa dikatakan seseorang itu beriman kepada Allah atau tidak. Diibaratkan, syahadat seperti pernyataan cinta seorang kekasih (katakanlah Fulan) kepada kekasihnya (Fulanah) Dari mana Fulanah bisa tahu bahwa ada Fulan mencintainya ketika Fulan tidak mengatakannya, meskipun Fulan bejibaku menmenuhi semua keinginan Fulanah, menemani, menggembirakan dan lain sebagainya, tapi ketika pernyataan cinta tidak diucapkan maka Fulanah tidak akan tahu perasaan Fulan yang sebenarnya kepada dirinya, apakah hanya bentuk perhatian seorang sahabat atau apa? Analogi yang lain adalah syahadatain diibaratkan pernyataan ijab qabul sebuah pernikahan. Sebuah pernyataan yang mengungkapkan kesiapan sang suami terhadap isterinya akan setiap hak dan kewajiban yang terjadi di antara mereka ketika resmi nantinya, misalnya siap memberi nafkah, dll. Kedua analogi ini adalah analogi sederhana yang cukup tepat menggambarkan bagaimana posisi syahadatain dalam pengakuan status keislaman dan keimanan seseorang.

Keimanan yang terhujam dalam hati yang teaktualisasikan dalam bentuk amalan yang nyata tidak akan sempurna tanpa pernyataan dari lisan. Contoh yang sangat nyata adalah paman Rasulullah SAW, yakni Abu Thalib yang sampai akhir hayatnya tidak bisa mengucapkan syahadatain. Ketiga aspek yakni keyakinan dalam hati, pengucapan dengan lisan dan aktualisasi dengan amal perbuatan menjadi komponen dalam menyusun keimanan seorang manusia secara utuh.

Dalam tata pergaulan kita mengenal kata gombal, ketika seorang A menyatakan cinta kepada B tanpa mengerti kata cinta itu dalam hatinya. Dalam Islam, ketika seseorang menyatakan ISLAM dengan bersyahadat namun tidak mengerti dan memahami arti penting, posisi, dan makna dari syahadat yang diucapkannya maka dia disebut sebagai perbuatan NIFAQ, dan orang yang nifaq disebut MUNAFIQ. Sementara yang tidak mau sama sekali mengucapkan syahadat, kita sebut dengan istilah KAFIR.

Terhujamnya makna syahadatain dalam hati dengan sendirinya akan melahirkan keyakinan yang sedemikain kuat akan apa2 yang ditetapkan oleh Allah semisal Rizki, jodoh, keselamatan, dll. Seperti disampaikan sebelumnya bahwa Syahadatain mampu mengubah kehidupan manusia. Ketika syahadat terucap dan sang manusia tidak berubah sesuai dengan yang seharusnya maka PASTI ADA YANG SALAH DENGAN PENGUCAPAN ATAU PEMAKNAAN SYAHADATAIN YANG DILAKUKAKNNYA. Hal ini perlu dievaluasi, karena bagaimanapun ketika syahadatin terucap dan terinternalisasi dengan baik dan benar akan berdampak pada aktualisasi akhlaq dan amal ubadah yang signifikan pengaruhnya.

Terdapat 4 jenis orang yang akan mendapat nikmat di akhirat kelak. Yaitu:

  1. Nabiyyiin: Orang yang sudah tidak memiliki urusan dunia untuk dirinya sendiri, melainkan hanya urusan Allah semata. Orang2 ini adalah orang yang memilki PEMBUKTIAN TOTAL dari semua aspek kehidupannya yang diserahkannya 100% hanya untuk Allah, menegakkan kalimat Allah, melaksanakan segala yang diperintah Allah.mereka tidak akan marah ketika mereka diejek atau dicelakakan. Tapi mereka akan marah ketika nama Allah yang direndahkan. Orang2 ini adalah para nabi dan Rasul, bagi kita manusia biasa HARAM memasuki ranah ini, karena setelah Nabi Muhammad SAW tidak akan ada lagi Nabi.
  2. Siddiqin adalah orang2 yang memiliki totalitas pengabdian dan pembuktian total kepada Allah yang derajatnya lebih rendah dibandingkan derajat para nabiyyin.  Contoh sosok siddiqiin adalah Abu Bakar, yang ketika perang Tabuk hanya meninggalkan Allah dan RasulNya (tapi subhanallah meninggalkan Allah dan Rasyl untuk keluarganya itu adalah cukup) untuk keluarganya, dan membawa semua harta yang dimilikinya untuk jihad di jalan Allah.
  3. Syuhada: adalah orang2 yang mengorbankan Harta yang paling berharga setelah agama yaitu NYAWA. Mereka berani kehilangan nyawa mereka untuk mendukung tegaknya islam di muka bumi.
  4. Shalihin adalah orang2 yang mengorbankan sebagian yang dimilikinya untuk Allah. Derajat ini merupakan level paling rendah yang mau tidak mau harus bisa kita masuki. Karena jika tidak, maka tidak akan ada celah dan kesempatan bagi kita manusia biasa ini untuk bisa menjadi bagian dari orang2 yang merasakan surga Allah nanti. Dan besarnya pengorbanan yang kita berikan menjadi BESARAN IMAN yang kita miliki

Ramadhan 1432 H

Ramadhan 1432 H

Alhamdulillahirabbil ‘alamin, Maha  Penyayang Allah masih mengkaruniakan kepadaku ramadhan tahun ini ramadhan 1432 H. ketika di awal Ramadhan aku tahu, bahwa akan ada banyak hal yang baru terjadi tahun ini yang ku alami.. apakah akan jauh lebih baik daripada ketika aku masih di Bandung sementara aku kini tidak berada dalam lingkungan seperti yang kumiliki di Bandung: Salman, ITB, Etos, Lingkaran Cahayaku, dan segenap ikhwahfillah yang terasa selalu saling membahu dan mengingatkan dalam kebaikan. yang kupikir adalah kini aku sendiri hidup di tengah hiruk pikuk kota Jakarta yang panas dan kapitalis, tapi bismillah, aku ikhtiarkan persiapan terbaik yang bisa kulakukan satu bulan sebelum Ramadhan datang.. bahkan aku pasang countdown to ramadhan di atas meja kerjaku yang ternyata cukup menarik perhatian para Bapak dan Ibu di sini,,, sampai-sampai Bapak KABID2 yang selalu menanyakan “berapa hari lagi ramadhan, In??” hehe lumayan lah jadi pengingat orang2 di sini juga. Dengan persiapan yang agak pas-pasan dan standar kuhadapi Ramadhan 1432 H ini ndengan hati yang agak berdebar,, bismillah Allah Maha Pelindung, aku berharap lindungan dari hal-hal yang bisa membuat Ramadhan 1432 H ku kacau..satu yang aku perkirakan adalah bahwa kayanya waktu efektif Ramadhan ku kali ini tidak akan sebanyak ramadhan2 sebelumnya berhubung jadwal ritual kodratinya kemungkinan akan jatuh tepat tanggal 1, otomatis ketika awal ramadhan ga puasa, biasanya akhir juga ga puasa,, innalilllah artinya waktu efektif Ramadhan yang bisa kujalani dengan Ibadah mahdhah hanyalah 17 hari saja.. hmm.. harus ngakalin dari awal nih ibadah2 apa saja yang masih bisa kulakukan supaya tetep dapet bonus-bonus Ramadhan…

Dan taraaaaaaaaaaaa… Ramadhan 1432 pun datang,, Alhamdulillah Alhamdulillah..bagiku terasa ini adalah sebuah kesempatan besar untuk upgrade tarbiyah dzatiyah-ku. Apa pasal?? Yaitu tadi, tidak ada komunitas se-keren Bandung yang bisa kuandalkan untuk bisa mensupport Ramadhanku. Tidak ada acara bungkus kurma, ngerapihin Shaf, panitia P3R, ririwehan ngurus ta’jil dan saur, ga ada kesempatan jadi panitia itikaf, ga ada acara murokaz bareng, ga ada acara dauroh Quran Salman yang bisa kuikuti, dan ga ada ga ada yang lainnya… aku berpikir keras untuk mengandalkan yang masih ada yang kumiliki. Dan bagian terbesar yang kumiliki adalah Read the rest of this entry