Blog Archives

Proses menunggu ^____^

Ada banyak proses yang mau ga mau si saya harus menunggu.  Contohnya ini.. si cinta bernama biogas bacteria consortium ini memang kerjanya slow slow gmana gt. Tapi emang agak dimengerti sih yang dimakannya  memang lebih keras dr yang biasa dia makan ^_^. Biasanya cuma makan ready organic substance yang daya degradabilitasnya emang relatif mudah. Tapi yang dimakannya di penelitian iin ini adalah biomass which has something called biomass recalcitrance. Biomass recalcitrance is the most challenging factor for every bio-conversion that can hindrance any biological process to convert the biomass waste into something more valuable like biofuel.

image

Dan si saya ceritanya bercita-cita mengambil bagian di dunia biomass recalcitrance ini supaya si biomass bisa sedikit lunak dan ramah buat para bacteria yang bekerja keras mencernanya untuk menjadi lebih bermanfaat.

Nah… si saya teh ngambil perannya di biogas which takes a very loooong time to finish. The last two batches I accomplished took almost two months. If the result is good which is as you expect, then it is wonderful. If not, then you should prepare possible explanation or you should repeat again the batch which will take another 2 months ahahha…

dan di masa penantian ini, si saya harap-harap cemas gmanaa gt hihi.. bukan apa2.. ini kompetisi sama deadline graduation. mudah2an masih keburu,, dan si saya bisa pulang tepat waktu.. aaamiiin

Advertisements

Mimpi adalah…..

miscellaneus (5)

Berjalan di pematang kehidupan untuk menggapai impian itu seperti memiliki personal  compass yang bias membuat hidup kita memiliki arti yang sesungguhnya, karena pada dasarnya mimpi itu menarik diri kita dari orbit zona nyaman menuju tantangan-tantangan yang mengaduk-aduk emosi, mempertemukan kita dengan dunia yang sama sekali belum kita tahu sebelumnya, serta membuka kesempatan-kesempatan emas yang pada dasarnya  memiliki fungsi untuk memberikan pemahaman dan pengalaman baru yang membuat hidup menjadi lebih indah dan berwarna. Tapi di antara semua fungsi mimpi, yang paling penting adalah mimpi menjadi jembatan bagi perasaan diri manusia akan pengharapan-pengharapan lebih terhadap Tuhannya, yang bisa mengekspresikan ketidakberdayaan yang memiliki dampak pada menambah kedekatan dan keyakinan pada Tuhannya, serta menjadi dialog yang memfasilitasi niat dan ikhtiar tulus untuk bisa memiliki dedikasi terhadap aktualisasi kehidupan.

Jika kita paham arti ini sebenarnya, maka pada dasarnya, kita sudah berada pada jalan yang benar. Hanya dibutuhkan kekuatan yang demikian besar untuk bisa menjaganya tetap pada koridor ilahiah yang bisa memberikan fungsi-fungsi tersebut dengan baik. Dan untuk tetap tegar di pematang itu, bukanlah hal yang mudah, karena ada driving force yang membuat kita membutuhkan energy lebih dan lebih lagi. Artinya harusnya ada asupan energy dan motivasi yang tiada berbatas untuk bisa membuatnya bersahaja di atas hayalan-hayalan sesaat yang mengenyahkan konsentrasi kita dari arah yang seharusnya diraih.

Well, itu semua adalah lintasan-lintasan pikiran yang menjelma dari pemahaman diri terhadap apa yang kujalani saat ini. Mengejar impian bukanlah kata-kata tanpa makna yang sanggup  diucapkan siapa saja yang tak mampu memberikan dedikasi sepenuhnya bagi jalan yang telah diambil. Aku pun… pada dasarnya bukanlah sosok yang berkapasitas untuk memanggul definisi-definisi filosofi  tersebut. Hanya saja aku merasa aku sudah bisa paling tidak mendefinisikan kehidupan yang ingin dan berharap untuk kujalani  secara baik….. well yeah, meskipun mungkin masih jauh dari idealism yang diharapkan.

Tulisan ini dibuat untuk menekankan kembali definisi-definisi ini di dalam hatiku, meyakinkan kembali jiwa serta memberikan energy tambahan yang membuatku bisa bersemangat lagi. Di sini mungkin ada ceritaku, cerita yang kudefinisikan untuk diriku, namun sama sekali tak lepas dari apa yang Allah kehendaki, karena pada dasarnya sampai sejauh ini hanya Allah sajalah yang membuat semuanya terjadi. Pun dengan masa depan yang masih tak tahu ku bagaimana perwujudannya… because, well yeah sometimes, unexpected things might occur.

Okay.. here I start…

Sejak aku
Read the rest of this entry

Potensi Implementasi Teknologi Biogas dalam Pengolahan Limbah Cair Organik Dalam Rangka Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca dan Pengembangan Program Desa Mandiri Energi

Limbah cair organic tahu sebanyak 20 juta meter kubik dengan kadar COD sekitar 16,000 mg/liter dapat  menjadi beban lingkungan yang dapat menimbulkan efek negative bagi manusia dan lingkungan, namun jika diolah dengan teknologi yang tepat, limbah cair organic dapat menjadi sumber bahan baku energi terbarukan yang memiliki potensi pemanfaatan yang sangat luas bagi masyarakat, sekaligus mengurangi vulnerabilitas masyarakat akibat semakin mahalnya bahan bakar fosil. Berdasarkan perhitungan yang memasukan parameter pengurangan emisi akibat pengurangan emisi CH4 akibat pengolahan limbah, pengurangan emisi N2O akibat penggantian pupuk kimia, dan pengurangan emisi CO2 akibat penggantian bahan bakar LPG, limbah cair tahu di Indonesia akan mampu menyumbang penurunan emisi sekitar  866,804.16 ton  CO2eqv.  Jumlah unit rumah tangga yang bisa dipenuhi kebutuhannya oleh biogas diperkirakan akan mencapai 362,327 unit, dengan potensi penghematan LPG sebesar 1,086 tabung LPG seukuran 3 kg per bulan atau 3,260 ton LPG per bulan.

Di Desa Kalisari tempat pertama kali teknologi biogas ini diimplementasikan, pengurangan emisi yang bisa dicapai adalah sekitar 754 ton CO2eqv dari total potensi 3,537 ton CO2 eqv atau sekitar 21%. Selain itu, jumlah rumah yang mampu dihidupi oleh biogas sekitar 88 Rumah tangga 25% dari total potensinya. Berdasarkan pertimbangan penggunaan sumber energi terbarukan untuk menggantikan bahan bakar fosil, dengan jumlah tersebut Desa Kalisari sebenarnya bisa dikategorikan sebagai Desa Mandiri Energi. Dengan demikian, implementasi teknologi ini juga mampu mendorong tumbuhnya desa-desa yang mandiri energi di Indonesia.

Dengan mempertimbangkan potensi limbah cair organic tahu saja, nilai pengurangan emisi sudah cukup besar. Jika ditambah lagi dengan manfaat-manfaat signifikan lainnya terutama lingkungan yang hingga saat ini masih belum dimasukan ke dalam perhitungan ekonomi dari sebuah teknologi ramah lingkungan, maka daya tarik teknologi ini akan lebih besar lagi. Jika teknologi sejenis didiseminasikan untuk mengolah jenis limbah organic lainnya di Indonesia terutama limbah yang mengandung kadar organic tinggi seperti limbah tapioca, limbah gula, serta limbah cair dari industri minyak kelapa sawit, maka potensinya akan lebih besar lagi. Ke depannya, teknologi fixed bed reactor akan menjadi teknologi yang prospektif di sektor energi dan lingkungan

Biogas and MRV

Biogas technology implementation in treating tofu wastewater industries is one of the low carbon technologies that can be used in GHG emission reduction. The emission reduction from this action could be calculated from 2 sources. Firstly, the tofu industry wastewater which could emit CH4, NO2, and CO2 if there is no treatment applied. It also will pollute the environment and cause the decreasing in water quality which plays significant role for human health there. Tofu wastewater treatment could prevent emission because the organic wastewater is treated into biogas which can be used for fuel substitution in people’s daily activities. Secondly, as mentioned before, this activity could produce biogas that can be used in fossil fuel substitution; so, this fuel substitution also could be considered as mitigation action.

Taking these sources of reduction into consideration, to calculate the emission reduction in tofu wastewater treatment activities comprehensively, it is needed to measure the reduction in energy sector and wastewater sector.

There are methodologies that could be used in the calculation, for instance IPCC guidelines, CDM project calculation, and other relevant methods. Basically the available methods have similarities or even the same except for the ways they are used. For MRV system in Indonesia, although the official institutions and system has not yet established yet, there are several methodologies use in different ways, for example the IPCC guidelines is used in RAN/RAD GRK,  while Nusantara Carbon Scheme as Indonesia’s voluntary carbon market uses ISO 14064 series. In the other hand, there are also regional carbon markets such as EU-ETS and J-VETS that also use different methods. If Indonesia is willing to join these regional carbon market, Indonesia has to prepare itself to know about the system involved in them, but CDM approach might be appropriate to be used as standard in the calculation.

Considering the RAD GRK for Central Java province as mentioned in previous workshop has decided to include the biogas technology implementation in tofu wastewater treatment to be one of the actions in their mitigation plans, here, we focused on IPCC 2006 guideline which is used as official method. However, we could also use the CDM methodologies namely AM0013 and AMS-H for detailed calculation in estimating the emission reduction. It is possible in the future that not only Central Java province who has planned to use the biogas from tofu waste but also the other regions in different policy, or other mechanisms that possible to dig the potencies of this technology.

Pelatihan Sosialisasi Teknologi Biogas untuk Pengolahan Limbah Cair Tahu di Kabupaten Banyumas

Dalam rangka pembangunan IPAL Tahu dengan teknologi fermentasi anaerobik menjadi biogas sebagai energi alternatif terbarukan untuk masyarakat, Pusat Teknologi Lingkungan BPPT diberikan tugas untuk melaksanakan pendampingan bagi stakeholder pembangunan IPAL dalam diseminasi teknologi biogas dengan menggunakan reaktor unggun tetap.

Program ini terwujud dari kerjasama antara PTL BPPT, BLH Kab Banyumas dan Kemenristek melalui program insentif PKPP Kemenristek Tahun 2012. Dalam hal ini Kemenristek membiayai dana pelatihan dan pendampingan yang dilakukan BPPT terhadap Kab Banyumas dalam membangun IPAL yang baru, sementara BLH Banyumas berperan sebagai stakeholder utama dalam pembangunan IPAL. Fungsi ini merupakan peran yang dijalankan oleh BPPT sebagai institusi pemerintah dalam hal alih teknologi atau diseminasi teknologi. Teknologi yang menjadi objek dalam program ini adalah teknologi pengolahan limbah cair tahu secara anaerobik menghasilkan biogas yang dapat dimanfaatkan secara baik oleh masyarakat. Teknologi ini telah menuai perhatian karena keberhasilan penerapannya pada program implementasi teknologi yang ramah lingkungan akibat pengendalian pencemaran limbah cair industri tahu dan juga substitusi bahan bakar fosil. Tidak hanya itu, program ini juga telah cukup berhasil meningkatkan pemahaman dan minat masyarakat dalam pengelolaan lingkungan yang semakin baik.

Pada tahun 2009 dan tahun 2010, BPPT bekerja sama dengan Kemenristek telah membangun 4 unit percontohan reaktor unggun tetap di 2 daerah Banyumas, yaitu 2 reaktor untuk mengolah limbah cair industri tahu di Desa Kalisari,  1 reaktor untuk mengolah limbah cair industri tahu di Desa Cikembulan, dan 1  reaktor untuk mengolah limbah cair industri tapioka di Desa Gumelar. Unjuk kerja keempat reaktor ini sedemikian baiknya sehingga untuk unit biogas dari limbah tahu saja, telah ada sebanyak 52 Rumah Tangga yang dapat menggunakan biogas sebagai pengganti LPG dalam aktifitas harian mereka.

Program pembangunan IPAL yang baru yang dimulai tahun 2012 ini adalah program diseminasi dari keberhasilan implementasi teknologi biogas yang diterapkan sebelumnya, sehingga Pemda Kab Banyumas bermaksud memperbanyak reaktor tersebut sehingga lebih jauhnya diharapkan bahwa Desa- Desa di Kab Banyumas yang terkenal dengan industri tahu yang dimilikinya dapat mencukupi kebutuhan energi hariannya sekaligus dapat mengendalikan pencemaran lingkungan akibat industri tahu itu sendiri.

Program pendampingan dan diseminasi teknologi yang dilakukan oleh BPPT dimaksudkan untuk Read the rest of this entry

Pengembangan Biogas dari Limbah Industri Tahu untuk Mendukung Desa Mandiri Energi Dan Mitigasi Gas Rumah Kaca

Masalah perubahan iklim yang disebabkan oleh kian bertambahnya emisi gas rumah kaca yang sudah melebihi batas ambang dan daya dukung lingkungan kini menjadi masalah bersama yang dihadapi oleh warga di seluruh dunia. Mengingat Indonesia memiliki tingkat vulnerabilitas yang cukup tinggi terhadap dampak perubahan iklim disebabkan oleh kondisi geografis dan sosiologis, maka harus ada aksi nyata yang mampu mencegah pertambahan emisi gas rumah kaca di Indoensia. Dan untuk hal ini, terdapat berbagai sector dan potensi yang dapat ditilik sebagai kesempatan untuk mereduksi gas rumah kaca. Misalnya dalam sector pengolahan limbah. Sebagaimana kita ketahui bahwa pengolahan limbah industry di Indonesia memiliki profil yang tidak terlalu baik. Masih banyak permasalahan lingkungan seperti pencemaran, penurunan kualitas kesehatan lingkungan dan masyarakat yang ditimbulkan oleh kurang baiknya kualitas penanganan limbah di Indonesia. Padahal selain berdampak pada kesehatan lingkungan dan manusia itu sendiri, dalam konteks dampak dalam periode jangka panjang, emisi gas rumah kaca yang ditimbulkan dapat menjadi momok yang cukup menakutkan. Dengan demikian, sudah jelas bagi kita semua, penanganan limbah industry menjadi satu hal yang perlu diperhatikan.

Dalam konteks lingkungan atau yang lebih luas, selain masalah limbah, Indonesia juga memilki masalah energy yang juga menjadi masalah yang juga harus ada solusinya. Energy Indonesia  yang masih sangat bergantung pada sumber energy tidak terbarukan seperti bahan bakar fosil yang juga mengeluarkan emisi gas rumah kaca. Seperti yang dilaporkan oleh Kementerian ESDM pada tahun 2009 rata-rata produksi minyak bumi dan kondensat sebesar 963.269 barel per hari (bph), sedangkan menurut laporan BP Migas produksi minyak secara nasional pada tahun 2010 hanya naik pada kisaran 965.000 bph. Artinya terdapat angka kenaikan hanya 1.731 bph. Selain itu pesatnya pembangunan di bidang teknologi, industri, dan informasi memicu peningkatan kebutuhan masyarakat akan energi. Ketimpangan antara tingkat produksi dan konsumsi energi tersebut berakibat pada terjadinya indikasi krisis energi skala nasional.

Produksi energi nasional yang masih bertumpu pada Read the rest of this entry