Blog Archives

Belanda, Sang Pionir Energi Baru dan Terbarukan Dunia

Nampaknya judul artikel ini tidak berlebihan. Telah banyak fakta bertebaran yang menggambarkan betapa majunya Negara seluas 33,893 km2 dengan penduduk berjumlah 0.26% penduduk dunia dalam hal penguasaan teknologi energI terbarukan. Dengan segala keterbatasnnya (kondisi geografis, dll), Belanda mampu mengoptimalkan sumber energy terbarukan yang sangat beragam yang mampu menyuplai 2.4% dari total energi yang ada (2005). Dan tak hanya berkiprah untuk diri sendiri, Belanda  menjadi pionir dan menebarkan teknologi yang dimilikinya ke seluruh penjuru dunia, membantu beban bumi dalam mengatasi isu energy dan perubahan iklim.

Picture1

Prestasi Belanda dalam kemajuan teknologi energy terbarukan di kancah internasional sangat memukau, selain mendapatkan peringkat ke-4 dalam aplikasi paten untuk energy sel surya, Belanda juga mendapatkan peringkat ke-6 dalam aplikasi paten terkait pembangkit energy listrik berkelanjutan. Lihat saja karya nyatanya yang berupa Read the rest of this entry

Pelatihan Sosialisasi Teknologi Biogas untuk Pengolahan Limbah Cair Tahu di Kabupaten Banyumas

Dalam rangka pembangunan IPAL Tahu dengan teknologi fermentasi anaerobik menjadi biogas sebagai energi alternatif terbarukan untuk masyarakat, Pusat Teknologi Lingkungan BPPT diberikan tugas untuk melaksanakan pendampingan bagi stakeholder pembangunan IPAL dalam diseminasi teknologi biogas dengan menggunakan reaktor unggun tetap.

Program ini terwujud dari kerjasama antara PTL BPPT, BLH Kab Banyumas dan Kemenristek melalui program insentif PKPP Kemenristek Tahun 2012. Dalam hal ini Kemenristek membiayai dana pelatihan dan pendampingan yang dilakukan BPPT terhadap Kab Banyumas dalam membangun IPAL yang baru, sementara BLH Banyumas berperan sebagai stakeholder utama dalam pembangunan IPAL. Fungsi ini merupakan peran yang dijalankan oleh BPPT sebagai institusi pemerintah dalam hal alih teknologi atau diseminasi teknologi. Teknologi yang menjadi objek dalam program ini adalah teknologi pengolahan limbah cair tahu secara anaerobik menghasilkan biogas yang dapat dimanfaatkan secara baik oleh masyarakat. Teknologi ini telah menuai perhatian karena keberhasilan penerapannya pada program implementasi teknologi yang ramah lingkungan akibat pengendalian pencemaran limbah cair industri tahu dan juga substitusi bahan bakar fosil. Tidak hanya itu, program ini juga telah cukup berhasil meningkatkan pemahaman dan minat masyarakat dalam pengelolaan lingkungan yang semakin baik.

Pada tahun 2009 dan tahun 2010, BPPT bekerja sama dengan Kemenristek telah membangun 4 unit percontohan reaktor unggun tetap di 2 daerah Banyumas, yaitu 2 reaktor untuk mengolah limbah cair industri tahu di Desa Kalisari,  1 reaktor untuk mengolah limbah cair industri tahu di Desa Cikembulan, dan 1  reaktor untuk mengolah limbah cair industri tapioka di Desa Gumelar. Unjuk kerja keempat reaktor ini sedemikian baiknya sehingga untuk unit biogas dari limbah tahu saja, telah ada sebanyak 52 Rumah Tangga yang dapat menggunakan biogas sebagai pengganti LPG dalam aktifitas harian mereka.

Program pembangunan IPAL yang baru yang dimulai tahun 2012 ini adalah program diseminasi dari keberhasilan implementasi teknologi biogas yang diterapkan sebelumnya, sehingga Pemda Kab Banyumas bermaksud memperbanyak reaktor tersebut sehingga lebih jauhnya diharapkan bahwa Desa- Desa di Kab Banyumas yang terkenal dengan industri tahu yang dimilikinya dapat mencukupi kebutuhan energi hariannya sekaligus dapat mengendalikan pencemaran lingkungan akibat industri tahu itu sendiri.

Program pendampingan dan diseminasi teknologi yang dilakukan oleh BPPT dimaksudkan untuk Read the rest of this entry

Pengembangan Biogas dari Limbah Industri Tahu untuk Mendukung Desa Mandiri Energi Dan Mitigasi Gas Rumah Kaca

Masalah perubahan iklim yang disebabkan oleh kian bertambahnya emisi gas rumah kaca yang sudah melebihi batas ambang dan daya dukung lingkungan kini menjadi masalah bersama yang dihadapi oleh warga di seluruh dunia. Mengingat Indonesia memiliki tingkat vulnerabilitas yang cukup tinggi terhadap dampak perubahan iklim disebabkan oleh kondisi geografis dan sosiologis, maka harus ada aksi nyata yang mampu mencegah pertambahan emisi gas rumah kaca di Indoensia. Dan untuk hal ini, terdapat berbagai sector dan potensi yang dapat ditilik sebagai kesempatan untuk mereduksi gas rumah kaca. Misalnya dalam sector pengolahan limbah. Sebagaimana kita ketahui bahwa pengolahan limbah industry di Indonesia memiliki profil yang tidak terlalu baik. Masih banyak permasalahan lingkungan seperti pencemaran, penurunan kualitas kesehatan lingkungan dan masyarakat yang ditimbulkan oleh kurang baiknya kualitas penanganan limbah di Indonesia. Padahal selain berdampak pada kesehatan lingkungan dan manusia itu sendiri, dalam konteks dampak dalam periode jangka panjang, emisi gas rumah kaca yang ditimbulkan dapat menjadi momok yang cukup menakutkan. Dengan demikian, sudah jelas bagi kita semua, penanganan limbah industry menjadi satu hal yang perlu diperhatikan.

Dalam konteks lingkungan atau yang lebih luas, selain masalah limbah, Indonesia juga memilki masalah energy yang juga menjadi masalah yang juga harus ada solusinya. Energy Indonesia  yang masih sangat bergantung pada sumber energy tidak terbarukan seperti bahan bakar fosil yang juga mengeluarkan emisi gas rumah kaca. Seperti yang dilaporkan oleh Kementerian ESDM pada tahun 2009 rata-rata produksi minyak bumi dan kondensat sebesar 963.269 barel per hari (bph), sedangkan menurut laporan BP Migas produksi minyak secara nasional pada tahun 2010 hanya naik pada kisaran 965.000 bph. Artinya terdapat angka kenaikan hanya 1.731 bph. Selain itu pesatnya pembangunan di bidang teknologi, industri, dan informasi memicu peningkatan kebutuhan masyarakat akan energi. Ketimpangan antara tingkat produksi dan konsumsi energi tersebut berakibat pada terjadinya indikasi krisis energi skala nasional.

Produksi energi nasional yang masih bertumpu pada Read the rest of this entry