Blog Archives

Menanyakan kembali kenapa dan untuk apa saya di sini?

Menanyakan kembali kenapa dan untuk apa saya di sini?

29 Juni 2014 adalah waktu keberangkatan saya untuk melakukan perjalanan terpanjang dan terjauh selama hidup saya. Amerika, adalah Negara tujuan yang sebenarnya menyimpan sedikit banyak keraguan tapi juga sekaligus harapan yang tidak terhitung banyaknya.. dan kini menjelang 3 bulan keberadaan saya di tanah Paman Sam ini sudah banyak hal yang terjadi… dan dengan resmi saya nyatakan bahwa honeymoon stage dari perjalanan ini kini telah berakhir.. berganti dengan tahap berikutnya di mana excitement berganti dengan keseriusan belajar dan perjuangan yang tiada habis.. memaksa mata biar melek, kuat-kuatan baca meski ga masuk-masuk, ngotak-ngatik rumus di excel, atau bahkan harus terlibat dalam perdebatan kurang mengenakan tentang Islam….

Satu hal yang selalu saya tekankan ketika udah mulai galau… iin udah galau galau ampun-ampunan pas udah lulus Fulbright, galau submission plan, galau LOA, dan galau2 lainnya… tapi kini memang ketika menginjakan kaki di tanah yang dicita2kan setahun belakangan ini, galau2 itu berganti rupa.. galau pas debat ma sarah soal ISIS dan prasangkanya tentang saya yang katanya menyimpan niat jelek sama dia.. galau ketika Quinn bilang laporan si saya gabagus, galau ketika gabisa ngerjain PR.. dan ntah galau2 apa lagi yang menunggu saya di depan….dan buat apalah ini semua? Jauh-jauhan sama keluarga, meninggalkan zona nyaman bersama tim produksi bersih di BPPT… dan pindah ke tempat yang mau sholat aja harus susulumputan nyari tempat yang ga banyak dilalui orang atau nyari tempat yang tidak mengundang perhatian? Buat apa semuanya ini? Ketika pekan lalu tiba2 pikiran ini dirasuki perasaan tidak bahagia.. well… begitulah..

Tapi sebenarnya iin sangat tahu jawabannya..

Iin di sini, terbang berpuluh-puluh kilometer ke sini ingin menuntut ilmu Allah, biar nanti iin bisa mengamalkan ilmu2 tsb di jalan Allah, nolong orang lain dan mengaktualisasikan diri untuk perjuangan dakwah profesi.. iin di sini karena pengen Allah makin cinta sama Iin dan bukan sebaliknya. Iin di sini pengen melakukan revolusi pribadi untuk menjadi pribadi yang lebih baik,… (lebih sabar, lebih tangguh, lebih kuat, lebih bijak, dan lebih lebih yang lainnya)

Jadi ketika merasa ada banyak hal yang tidak membuat iin merasa seperti itu sudah selayaknya dievaluasi. Iin di sini untuk mendekatkanj diri sama Allah bukan sebaliknya.. iin di sini pengen ningkatin amal ibadah dan bukan sebaliknya…

Gitu kan iin?

Iya begitu…

Bersambung ah…. (mau belajar dulu hehhehe)

Galau Akut Seakut-Akutnya

Okay, i don’t have any other way to avoid my feelings now. Anxiety, hopeful, worry, aaahh… even my self cannot describe those.

danbo__s_graduation_day_by_bry5-d3c70sq

Jadi begini, si saya teh sedang menunggu LOA. Apakah itu LOA. LOA adalah Letter of Admission atau Letter of Acceptance. Sebuah bukti tertulis bagi orang-orang yang sedang melamar masuk ke program degree suatu universitas yang menyatakan bahwa mereka berhasil dalam proses seleksi penerimaan mahasiswa baru di universitas tersebut.

Si awak kenapa menggalau LOA? pertama, karena LOA ini adalah tahap utama paling akhir yang harus dilewati dalam proses aplikasi beasiswa sangat terkenal bernama beasiswa Fulbright. Kedua, karena proses menunggu ini sudah berlangsung cukup lama, sekitar 4 sd 5 bulan hingga sekarang. cuma bisa berdoa sebenarnya, tapi terkadang galaunya bisa mengarah ke aktifitas yang lain..Ketiga adalah karena dalam masa menunggu ini saya sudah ngorbanin kesempatan interview ADS (beasiswa yang pertama kali saya coba tahun 2011 dahulu), juga ngorbanin kesempatan-kesempatan training di luar karena alasannya adalah “iin mau sekolah”. Sebutlah  kesempatan training energy efficiency ke Copenhagen, dan Belanda.. oh welll okayyyy….. iin emang mau sekolah kok, insyaallah (tapi doain yak. hehehhe). Keempat adalah karena saat ini sudah banyak banget kandidat yang minimal sudah punya kabar tentang admisi mereka. ada yang kena shortfall, ada yang malah dapat double beasiswa lainnya, ada yang ga keterima. Oh Well… saya pengen banget dapat kabar, tapi tidak untuk kabar buruk alias rejection… Allah pleaaaseeeee…Kelima adalah karena ada banyak hal yang menggantung akibat proses ini, hahhaha… for this, i wont tell.

Iin tahu banget, dan udah mencamkan berkali kali bahwa si saya udah 27 tahun hidup di muka bumi, dan ga pernah Allah sekali pun memberikan takdir yang salah. Buktinya? SMUNSA, SPACSA, ITB Teknik Kimia, BPPT, PTL, jdi anak bimbingan Pak Tatang dan Pak Yazid, ngulang kompro, peristiwa patahnya syringe GC lab lantai 4, dan lain sebagainya… terlalu banyak untuk disebutkan.

Jadi, sebenarnya memang ga ada keraguan lagi buat si saya untuk berserah diri sepenuhnya sama takdir yang Allah pilihkan. sekolah ke US buat ngambil master, dan jadi fulbrighter memang sebenarnya tidak masuk list 101 impian yang iin tuliskan ketika kuliah dulu, tapiiiiiiii… setelah menjalani prosesnya, lama-lama jatuh hati juga sama pesona sistem pendidikan dan fasilitas yang dimiliki US buat bisa menghasilkan researcher dan leader bertebaran di muka bumi. Oh well, US memang negara liberalis, dan sudah cukup berita yang bilang begitu banyak tentang bagaimana US memperlakukan umat muslim. Awalnya si saya juga agak gentar buat masuk ke dalam ranah ini, wong US ga pernah masuk list juga, beda banget ma Netherland, Japan, and Germany, yang memang sudah jadi impian sejak kuliah…

Soal kualitas grantee? jangan tanya deh, udah cukup banyak artikel yang bahas bedanya grantee fulbright sama grantee beasiswa yang lainnya. maksudnya jangan tanya di sini adalah jangan tanya saya karena saya gabisa jelasin secara komprehensif wong biasanya juga subjektif orang liatnya. Tapi kita bisa liat lah, sekitar kita, kualitas grantee fulbright atau lulusan2 US kayak gmana sepak terjangnya… hehehehhe… Ups tapi kalo ada yang mau bilang “itu kan bergantung sama orangny” saya pun sepakat ma teori ini. Lingkungan bagus sekalipun bila ga bisa dioptimalkan ya ga akan jadi apa2…. Betul kan?

Okay… lanjut. si awak ini sampe deaktivasi FB karena Read the rest of this entry

Bahagia (versi II)

Bahagia itu apa sih sebenarnya?? butuhkah definisi-definisi panjang yang dijadikan konvensi semua orang?? kamu bahagia? apa parameternya?? 

Kalau kita pengen bahagia, dunia dan akhirat? sepatutnya mah kita ngeh yaa ma definisi bahagia teh apa?? hehehe…bahagia teh sama kayak senang?? hmmm… itu teh satu kondisi final ataukah kondisi sesaat?  (lama2 garuk garuk kepala)
Kalo ngeliat keadaan sekitar, kita lihat, betapa banyak orang cantik dan ganteng yang ga bahagia.. artinya bahagia ga ditentukan sama rupa.. trus kita juga bisa lihat kalo orang miskin bisa bahagia, demikian juga orang kaya.. artinya bahagia ga bergantung sama materi… (2 faktor ini-harta sama rupa-yang notabene suka dijadikan parameter seseorang bahagia).. Trus?? 

Kalao liat di Terjemah bahasa indonesia dari Quran.. iseng ngetik “bahagia” ga muncul di searching machine-nya software Quran.. kalo ngetik “kebahagiaan” baru muncul deh 4 biji.. salah satunya adalah trjemah Surat Al Qhasash ayat 77 yang berbunyi “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (keni’matan) duniawi dan Read the rest of this entry