Blog Archives

kecenderungan berpikir positif or negatif akan kejadian dan orang sekitar

Manusia memiliki karakter bermacam-macam. Allah menyebutkan banyak sekali sifat manusia di dalam Al Quran. Dan salah satunya adalah kufur nikmat, karena mungkin inilah salah satu alasan mengapa Allah sangat menyukai orang-orang yang syukur nikmat. Mungkin sudah ada dalam nadi manusia secara natural bahwa kita manusia memiliki kecenderungan untuk melihat sesuatu dari segi kekurangannya first daripada kelebihan yang ada. Ini bukan generalisasi, there is a tendency for us to see the lack point because somehow it is more obvious. Ini mungkin tidak berlaku setiap saat, di setiap kejadian dan tidak juga berlaku terhadap setiap manusia, ini hanya sedikit berpendapat bahwa kita memiliki kecenderungan untuk bereaksi terhadap hal negatif yang tampak karena terlihat lebih obvious. Ini berlaku untuk “event” and “person”. Well, ga jauh2 ke orang lain sih, diri sendiri juga kadang butuh waktu untuk bereaksi secara positif.

Disadari atau ga disadari bahwa kecenderungan berpikir negative the lebih mudah terlaksana dibandingkan berpikir positif. Alasan scientific nya mungkin bisa jadi karena energy aktifasi berpikir positif lebih besar darpda berpikir negative, sehingga lebih banyak effort yang dibutuhkan. Dan salah satu factor yang berpengaruh pada energy aktivasi ini adalah keimanan…. Mengambil hikmah atas setiap kejadian… mski mungkin gabisa langsung klik.

Sebenarnya pemikiran ini sudah mencuat tahun 2005 dulu ketika darmawisata siswa SMUNSA kelas 3 ke Bandung. Temen saya saat itu nunjukin sebutir telur dan nanya “apa yang bisa kita liat dari telur ini?”
si temen saya yang lain jawab “telur?” “putih” dan ada yang jawab “itu ada noda hitamnya keliatan, telurnya ga mulus”. Dan dia balik nanya “berapa banyak di antara kita yang lebih seolah2 ditampakkan kekurangan si telur daripada kelebihannya?”

GlassHalfEmptyHalfFull

Mungkin orang2 juga udah pada baca “setengah isi setengah kosong”. Satu peristiwa yang bisa diterjemahkan kepada beberapa situasi tergantung bagaimana pola pandang si viewer. Intinya kejadiannya sama tapi bisa dibuat positif bisa dibuat negative.

Kaitan yang lainny adalah sama buku yang saya lagi baca sekarang “Get Things Done” di chapter pertamanya bilang “Rule the mind, don let the mind rules your life”.

Intinya balik lagi, kehidupan kita akan ditampakan banyak hal sama Allah… tapi Cuma kita yang bisa control akankah kejadian2 tersebut menjadi umpan kita untuk lebih bahagia atau malah membuat kita menderita dan sakit kepala. Positif or negative itu kita yang menentukan… dan tentu keimanan akan lebih memudahkan kita mengkondisikan jiwa dan pikiran kita untuk bisa lebih syukur nikmat atas suatu kejadian atau atas kehadiran orang2 di sekitar kita.. dan janji Allah adalah pasti ketika Dia berkata bahwa Allah akan menambah nikmat jika kita bersyukur.

Bahagia (versi II)

Bahagia itu apa sih sebenarnya?? butuhkah definisi-definisi panjang yang dijadikan konvensi semua orang?? kamu bahagia? apa parameternya?? 

Kalau kita pengen bahagia, dunia dan akhirat? sepatutnya mah kita ngeh yaa ma definisi bahagia teh apa?? hehehe…bahagia teh sama kayak senang?? hmmm… itu teh satu kondisi final ataukah kondisi sesaat?  (lama2 garuk garuk kepala)
Kalo ngeliat keadaan sekitar, kita lihat, betapa banyak orang cantik dan ganteng yang ga bahagia.. artinya bahagia ga ditentukan sama rupa.. trus kita juga bisa lihat kalo orang miskin bisa bahagia, demikian juga orang kaya.. artinya bahagia ga bergantung sama materi… (2 faktor ini-harta sama rupa-yang notabene suka dijadikan parameter seseorang bahagia).. Trus?? 

Kalao liat di Terjemah bahasa indonesia dari Quran.. iseng ngetik “bahagia” ga muncul di searching machine-nya software Quran.. kalo ngetik “kebahagiaan” baru muncul deh 4 biji.. salah satunya adalah trjemah Surat Al Qhasash ayat 77 yang berbunyi “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (keni’matan) duniawi dan Read the rest of this entry