Blog Archives

Regional Workshop on Climate Change Adaptation Technologies

Training yang dilaksanakan pada tanggal 9 hingga tanggal 12 April 2014 ini memiliki tujuan besar sebagai langkah awal kolaborasi regional Negara-negara Asia Pasifik dalam menghadapi Perubahan Iklim. Adapun peserta dari regional workshop ini adalah sebagai berikut: Indonesia, Vietnam, Laos, Filiphina, Myanmar, Thailand, Cambodia, Bhutan, Nepal, Bangladesh, Srilanka, Mongolia, Kazakhstan, Uzbekistan, dan Tajikistan.

Image

Sebagai region yang memiliki Negara-negara berkarakteristik sebagai Negara berkembang dengan vulnerabilitas yang cukup tinggi dikaitkan dengan geografis dan topografisnya, Asia Pasifik menjadi region yang harus melakukan banyak hal terkait teknologi adaptasi. Kenaikan muka air laut, perubahan cuaca secara global, kenaikan temperature lingkungan yang berakibat pada pemanasan global, merupakan sedikit dari sekian banyak isu yang harus bisa dihadapi dengan baik oleh masyarakat dari Negara-negara di Asia Pasifik tersebut. Apalagi dengan kondisi ekonomi masyarakat yang tidak terlalu mendukung untuk membangun berbagai infrastrukutur tambahan dan mengimplementasikan teknologi yang sesuai.

Indonesia pun demikian, sebagai salah satu Negara yang memiliki taraf vulnerabilitas yang sangat tinggi, Indonesia perlu melakukan banyak hal terkait adaptasi perubahan iklim. Selain karena bentuknya sebagai Negara kepulauan yang akan mengalami dampak secara langsung akibat kenaikan muka air laut, Indonesia juga memiliki kebergantungan yang cukup tinggi terhadap pertanian dan perikanan. Artinya perubahan iklim memiliki potensi dalam mempengaruhi kehidupan masyarakat (livelihood) juga sektor utama yang berkenaan langsung dengan keberlangsungan hidup berupa mata pencaharian yaitu sektor pertanian dan perikanan. Setelah diidentifikasi lebih lanjut, diketahui pula bahwa potensi dampak ini tidak hanya akan menyentuh kehidupan dalam sektor ekonomi, tapi juga kesehatan, penyediaan air, dan lain sebagainya.

Training yang berada di bawah koordinasi UNEP, ICCCAD, dan IIED-IUB ini memfasilitasi Negara-negara di Asia Pasifik untuk dapat saling berbaagi pengalaman dan informasi mengenai sejauh mana kegiatan adaptasi perubahan iklim dilaksanakan. Selain itu, dilksanakan juga analisis sektor dan analisis regional dilengkapi dengan analisis barrier dan enabling framework yang diperlukan untuk mengatasi barrier tersebut. Berbagai sesi diskusi dan presentasi serta kunjungan lapangan ke Bangladesh Rice Research Institute (BRRI) berusaha menunjukan secara komprehensif bagaimana kondisi konsep dan plan juga kenyataan di lapangan.

Training ini juga menunjukan bahwa terdapat banyak sekali kesamaan dari Negara-negara di Asia Pasifik dalam menganalisis sektor yang paling dipengaruhi perubahan iklim yang kemudian dijadikan sebagai aksi nasional untuk adaptasi, misalnya sektor pertanian, sektor ketersediaan air, juga sektor pantai (atau kelautan). Selain itu, barrier yang dihadapi juga kurang lebih hamper sama. Namun memang progress dari tiap Negara berbeda, ada yang sudah memeiliki perangkat implementasi aksi yang sudah jauh dan ada yang baru mulai. Ada yang maju di teknologi tertentu namun tertinggal di teknologi lainnya. Hal ini menyebabkan pertukaran informasi memiliki peran yang sangat signifikan karena masing-masing Negara dapat menjadikan informasi dari Negara lainnya sebagai bahan pelajaran dan juga bisa jadi infomasi yang dibutuhkan untuk program berikutnya.

Participants of UNEP Workshop, 2014

Adapun rincian kegiatan yang dijalankan selama kegiatan ini adalah sebagai berikut:

  1. Hari pertama, tanggal 9 April 2014

Hari pertama berisi kegiatan perkenalan juga presentasi pendahuluan dari penyelenggara tentang tujuan besar dari regional workshop ini, juga dari setiap Negara tentang salah satu jenis teknologi adaptasi yang dilaksanakan di Negara tersebut. Masing-masing Negara juga mengungkapkan secara singkat tentang kegiatan TNA dan progress kegiatan terkait perubahan iklim mereka, termasuk juga tentang kebijakan perubahan iklim yang sudah ada ataupun yang berada dalam tahap perencanaan.

Pasca presentasi dari setiap Negara, juga disajikan presentasi dari practical action Bangladesh mengenai floatening Gardening sebagai salah satu aksi adaptasi yang sejauh ini sudah diterapkan dan memiliki signifikansi menfaat bagi perekonomian para petani di Bangladesh. Adapun konsep dari floatening gardening ini adalah melakukan system pertanian di atas lahan tergenang sebagai salah satu simulasi ketika terjadi banjir.

  1. Hari Kedua, tanggal 10 April 2014

Kunjungan ke BRRI dilaksanakan pada hari kedua untuk menunjukan sudah sejauh mana kegiatan adaptasi d sector pertanian Bangladesh dilaksanakan. Para peserta diberikan penjelasan secara umum tentang prestasi-prestasi yang dibanggakan BRRI untuk mengatasi permasalahan pangan khususnya permasalahan varietas padi untuk perubahan iklim di Bangladesh. Kemudian kegiatan dilanjutkan dengan kunjungan ke fasilitas BRRI seperti laboratorium bioteknologi, pembibitan, bank gen, dan laboratorium uji eksperimen perubahan iklim. Secara umum, dari hasil kunjungan tersebut terlihat bahwa telah banyak yang dilakukan oleh Bangladesh dalam upaya mencari varietas padi yang tahan kekeringan, banjir, dan salinitas tinggi. Pada dasarnya ada atau tidak adanya isu perubahan iklim, kegiatan pengembangan varietas padi untuk masyarakat ini memang menjadi hal yang krusial di Bangladesh hanya saja dengan adanya isu perubahan iklim, encouragement untuk melanjutkan kegiatan-kegiatan penelitian padi bisa semakin tinggi.

  1. Hari ketiga, tanggal 11 April 2014

Hari ketiga diisi dengan kegiatan diskusi kelompok mengenai sector prioritas beserta teknologi unggulan dalam sector tersebut. Identifikasi sector prioritas dilanjutkan dengan identifikasi barrier dan enabling framework dari barrier yang ada.

Selain diskusi grup, juga disajikan presentasi dari BBC Media sebagai media yang menyorot kegiatan adaptasi perubahan iklim untuk diinformasikan melalui media internet ke seluruh dunia. Program broadcasting adaptasi perubahan iklim ini dinilai sangat efektif dalam memberikan gambaran kepada masyarakat seluruh dunia tentang pentingnya adaptasi perubahan iklim. Sala satu video yang ditampilkan sebagai contoh adalah kegiatan pembangunan rumah tahan banjir di pinggir pantai Bangladesh. Hal ini bisa menginspirasi semakin banyaknya kegiatan sejenis yang berusaha meningkatkan kesadaran masyarakat akan dampak perubahan iklim.

  1. Hari keempat tanggal 14 April 2014
    Pada hari terakhir training ini, kegiatan pertama yang dilakukan adalah kegiatan presentasi dari ICCCAD tentang program lost and damage sebagai salah satu kegiatan yang diharapkan dapat memberikan pengetahuan komprehensif mengenai perhitungan kerugian bencana. Karena pada dasarnya, kerugian bencana tidak bisa secara absolut dinilai dengan uang, ada pendekatan holistic dan integrative yang harus dilakukan untuk menghitung kerugian akibat bencana. Hal ini dinilai sebagai kemampuan yang harus dimiliki terutama untuk menganalisis kegiatan adaptasi secara komprehensif. Kegiatan adaptasi tidak seperti mitigasi yang memiliki parameter terkuantifikasi berupa penurunan emisi yang dinyatakan dengan sauna ton C02eqv/tahun, sehingga penentuan parameter measurement keberhasilan ataupun ketercapaian target lebih sulit daripada mitigasi. Selanjutnya kegiatan dilanjutkan dengan diskusi grup per area regional. Peserta dikelompokan berdasarkan kelompok Asia Tenggara, Asia Selatan, dan Asia Utara.

Selanjutnya masing-masing kelompok region melaksanakan analisis sebenarnya apa yang paling dibutuhkan di dalam regional mereka, teknologi apa yang bisa menjadi option, atau bagaimana kisah sukses implementasi yang sudah ada.

 

Peran serta Indonesia dalam forum regional Workshop Adaptasi Perubahan Iklim:

  1. Melakukan presentasi mengenai teknologi adaptasi yang diterapkan di Indonesia khususnya di sector pertanian, yaitu mengenai teknologi pemerolehan tanaman pangan (khususnya padi)
  2. Melakukan sharing informasi mengenai Technology Action Plans (TAPs ) untuk adaptasi perubahan iklim serta sharing informasi tentang adanya Rencana Aksi Nasional Adaptasi Perubahan Iklim (RAN-API)
  3. Di dalam working grup sesi pertama, bersama peserta dari Negara Kazakstan, Kamboja, Buthan melakukan analisis barrier dan enabling framework secara komprehensif dalam sector water resource khususnya teknologi rainwater harvesting dan irigasi. Dalam diskusi ini, Indonesia banyak memberikan pandangan mengenai hambatan yang terjadi serta solusi yang mungkin dilakukan untuk mengatasi hambatan. Serta memberika pendapat mengenai stakeholder yang terkait secara langsung dan memiliki pengaruh signifikan dalam proses implementasi teknologi adaptasi, misalnya lembaga riset seperti BPPT, juga NGO internasional seperti UNEP, GEF, sector swasta dan lainnya.
  4. Memberikan pandangan mengenai sector prioritas untuk adapatsi dalam ruang lingkup regional Asia Tenggara pada sesi diskusi kedua untuk menganalisis kasus regional. Pada sesi ini pembahasan lebih komprehensif lagi karena menyangkut semua sector yang mungkin termasuk pula sector Early Warning System (EWS). Misalnya Indonesia memiliki TEWS dan Buoy untuk system antisipasi bencana akibat perubahan iklim. Dalam sesi sharing dan pertukaran informasi ini, dirasakan banyak sekali manfaat karena ada informasi dari Indonesi yang dibutuhkan oleh Negara lain, demikian juga sebaliknya.
  5. Dalam diksusi informal, menjalin hubungan persahabatan dengan peserta dari Negara-negara lainnya, terutama Uzbekistan, Kazakhstan, Vietnam, Thailand, Cambodia, Buthan, Bangladesh, Srilangka dan Tajikistan.
  6. Memberikan informasi mengenai apa yang dilakukan di Indonesia, misalnya kaji implementasi teknologi RBCS. Informasi ini diminta oleh peserta dari Negara Buthan yang bermaksud menjalankan TAPs untuk waste heat recovery di industry tekstil
  7. Menjadi perwakilan peserta dalam acara resmi penutupan workshop di hadapan Duta Besar Vietnam dan Buthan untuk Bangladesh.

Pelatihan Sosialisasi Teknologi Biogas untuk Pengolahan Limbah Cair Tahu di Kabupaten Banyumas

Dalam rangka pembangunan IPAL Tahu dengan teknologi fermentasi anaerobik menjadi biogas sebagai energi alternatif terbarukan untuk masyarakat, Pusat Teknologi Lingkungan BPPT diberikan tugas untuk melaksanakan pendampingan bagi stakeholder pembangunan IPAL dalam diseminasi teknologi biogas dengan menggunakan reaktor unggun tetap.

Program ini terwujud dari kerjasama antara PTL BPPT, BLH Kab Banyumas dan Kemenristek melalui program insentif PKPP Kemenristek Tahun 2012. Dalam hal ini Kemenristek membiayai dana pelatihan dan pendampingan yang dilakukan BPPT terhadap Kab Banyumas dalam membangun IPAL yang baru, sementara BLH Banyumas berperan sebagai stakeholder utama dalam pembangunan IPAL. Fungsi ini merupakan peran yang dijalankan oleh BPPT sebagai institusi pemerintah dalam hal alih teknologi atau diseminasi teknologi. Teknologi yang menjadi objek dalam program ini adalah teknologi pengolahan limbah cair tahu secara anaerobik menghasilkan biogas yang dapat dimanfaatkan secara baik oleh masyarakat. Teknologi ini telah menuai perhatian karena keberhasilan penerapannya pada program implementasi teknologi yang ramah lingkungan akibat pengendalian pencemaran limbah cair industri tahu dan juga substitusi bahan bakar fosil. Tidak hanya itu, program ini juga telah cukup berhasil meningkatkan pemahaman dan minat masyarakat dalam pengelolaan lingkungan yang semakin baik.

Pada tahun 2009 dan tahun 2010, BPPT bekerja sama dengan Kemenristek telah membangun 4 unit percontohan reaktor unggun tetap di 2 daerah Banyumas, yaitu 2 reaktor untuk mengolah limbah cair industri tahu di Desa Kalisari,  1 reaktor untuk mengolah limbah cair industri tahu di Desa Cikembulan, dan 1  reaktor untuk mengolah limbah cair industri tapioka di Desa Gumelar. Unjuk kerja keempat reaktor ini sedemikian baiknya sehingga untuk unit biogas dari limbah tahu saja, telah ada sebanyak 52 Rumah Tangga yang dapat menggunakan biogas sebagai pengganti LPG dalam aktifitas harian mereka.

Program pembangunan IPAL yang baru yang dimulai tahun 2012 ini adalah program diseminasi dari keberhasilan implementasi teknologi biogas yang diterapkan sebelumnya, sehingga Pemda Kab Banyumas bermaksud memperbanyak reaktor tersebut sehingga lebih jauhnya diharapkan bahwa Desa- Desa di Kab Banyumas yang terkenal dengan industri tahu yang dimilikinya dapat mencukupi kebutuhan energi hariannya sekaligus dapat mengendalikan pencemaran lingkungan akibat industri tahu itu sendiri.

Program pendampingan dan diseminasi teknologi yang dilakukan oleh BPPT dimaksudkan untuk Read the rest of this entry

Creative Green City Tidak Hanya Unik dan Indah Melainkan Juga Merupakan Jawaban dari Berbagai Tantangan

Untuk mewujudkan sebuah kota yang memiliki kenyamanan tingkat tinggi bagi warganya dibutuhkan suatu konsep kota yang sangat komperhensif dan integrasi dari berbagai faktor penting seperti pengaturan ruang, penyediaan lahan terbuka, tata pengaturan bangunan, sistem sanitasi dan lain sebagainya. Untuk mewujudkan tatanan sebuah kota yang ideal, dibutuhkan sebuah kemampuan cerdas yang menjelma menjadi kreatifitas dalam mengelola sumber daya yang ada sekaligus menciptakan additional value yang dibutuhkan. Tentu dalam hal ini teknologi lagi-lagi memiliki peran yang sangat signifikan dalam perwujudan sebuah kota yang ideal yang tidak hanya memperhatikan pemenuhan kebutuhan para penghuninya tetapi juga kesadaran akan lingkungan. Karena kota sekalipun tak bisa lepas dari masalah sampah, limbah, polusi udara, dan emisi CO2 karena faktor manusia akibat jumlah penduduk dengan aktifitasnya. Teknologi dengan sentuhan kreatifitas baik kreatifitas dalam implementasi teknologi itu sendiri, maupun kreatifitas dalam penampilan fisik akan membuat tampilan sebuah kota tidak hanya indah melainkan juga environmentally friendly.

Belanda, sang negeri kincir angin, lagi-lagi membuktikan kemampuannya dalam berkreasi menciptakan kota-kota ideal di negerinya. Proyek “European Green City Index” telah menetapkan Amsterdam yang menjadi kota terhijau ke-5 mengungguli Paris dan London berdasarkan parameter emisi CO2, konsumsi energi, persentase energi terbarukan yang dipakai oleh masyarakat kota, faktor transportasi, pengolahan sampah dan penggunaan lahan, ketersediaan air bersih, bangunan, kualitas udara, dan kebijakan pemerintah.

Perwujudan kota Amsterdam sebagai kota terhijau ke-5 di daratan Eropa yang rata-rata merupakan negara maju tentu menjadi prestasi tersendiri. Ada kerja keras dan cerdas dibalik tercapainya Amsterdam sebagai kota hijau. Tentunya perwujudan ini juga disebabkan adanya kreatifitas tingkat tinggi yang mengkombinasikan faktor manajemen lingkungan dan integrasi berbagai teknologi dengan baik. Yang patut diacungi jempol adalah kondisi Belanda yang memiliki faktor keterbatasan alam dengan 26% wilayahnya berada di bawah permukaan air laut justru mampu menunjukan prestasi nyata.

Profil Amsterdam Ketika Siang Hari

Profil Amsterdam Ketika Siang Hari

Profil Amsterdam ketika malam hari

Profil Amsterdam ketika malam hari

Meskipun Amsterdam merupakan kota paling maju di Belanda, profil kota lainnya Read the rest of this entry

Green Creative Technology Ala Belanda untuk Menghadapi Fenomena Perubahan Iklim

Kreatifitas memang telah lekat menjadi karakter khas Negara Belanda. Berbagai produk kreatif mulai dari produk jasa, produk barang, hingga produk teknologi memiliki nuansa kreatifitas yang sangat tinggi. Belanda yang hanya memiliki luas wilayah sebesar 33,893 km2 dan 16.7 juta penduduk itu mampu menjadi jajaran Negara terbaik di dunia dalam berbagai kategori, misalnya tahun 2010 Belanda menjadi Negara dengan ekonomi terbaik ke-8 dalam World Globalization Index, meraih peringkat ke-5 dalam digital economy rankings yang diadakan oleh Economist’s Intelligence Unit, serta dalam bidang teknologi, produk pangan, dan lainnya.

Berbagai hambatan dan tantangan yang Belanda rasakan misalnya kondisi topografis negara dengan titik terendahnya 6.7 meter di bawah permukaan laut mengharuskan Belanda berpikir sangat keras untuk menaklukannya. Dengan adanya kerja keras yang gigih dan dengan penggunaan daya pikir yang menakjubkan, mereka mampu menelurkan gagasan-gagasan brilian, inovatif, dan kreatif yang justru memunculkan mereka di kalangan dunia sebagai negara yang sangat maju.

Kreatifitas jugalah yang memacu inovasi-inovasi teknologi Belanda sehingga mereka menjadi kiblat teknologi. Berbagai penelitian, teori ilmiah, hukum fisika, dan produk teknologi berhasil menguasai pasar dunia. Namun, penyadaran tinggi terhadap kreatifitas dan inovasi teknologi tidak membuat mereka Read the rest of this entry