Blog Archives

Jasa titip online berdasarkan ajaran syariah

Perkembangan dunia teknologi yang semakin maju yang diiringi pemenuhan kebutuhan dengan cara yang semakin advance, membuat teknologi dalam jual beli pun ikut berkembang. Jual beli online, titip beli online, e-money, online shopping. Live shopping dan masih banyak sekali istilah-istilah yang muncul pada satu decade terakhir terkait perkembangan teknologi informasi. Kala mungkin sebagian besar masyarakat menengah ke atas memiliki akses yang terbatas atau tidak terbatas pada dunia yang namanya internet yang didukung oleh system ntah itu android, atau windowsphone atau apapun yang juga ikut berkembang sedemikian pesat.

Namun perkembangan ini perlu juga didukung dengan pemahaman syariah yang jelas karena bisa jadi ada unsur-unsur haram yang tanpa disadari ikut terlibat dalam proses jual beli online yang kita lakukan karena Allah sudah dengan sangat jelas menyatakan dalam Al Quran Surat Al Baqarah:

وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا
“Dan Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” [Al-Baqarah: 275]

Dalam tulisan ini saya tidak akan membahas tentang semua jenis atau semua istilah dalam jual beli onlen. Hanya tentang jasa titip online yang kemarin sempat memenuhi beranda FB saya dan banyaknya kasus yang dilakukan oleh senior, teman seangkatan, dan junior saya dari kampus dulu. Dan bahasan ini adalah berdasarkan satu bagian dalam buku  “Harta Haram Muamalat Kontemporer” yang ditulis oleh Ustadz Dr. Erwandi Tarmizi. MA, juga hasil diskusi dengan beberapa orang yang punya link langsung ke Ustadz.

Titip beli online atau yang lebih dikenal dengan istilah “jastip” atau jasa titip merupakan system yang ditawarkan oleh perorangan untuk “membelikan” sesuatu yang kemudian ditambahkan biaya imbalan atau uang jastip nya. Misalnya sebuah barang yang bernilai harga 50rb kemudian ditawarkan untuk dibelikan dengan tambahan jastip 5rb atau berapapun tergantung dengan kondisi yang ditetapkan oleh orang yang menawarkan jastip. Dan ini kasusnya buanyak pake banget. Inget BBW, IKEA, atau jastip mall mall yang menawarkan diskon besar-besaran?

Di satu sisi, kegiatan ini memudahkan begitu banyak orang yang tidak punya akses terhadap suatu tempat perbelanjaan tertentu, atau untuk mendapatkan barang diskon tanpa harus mengantri capek. Tapi di sisi lain, ada celah yang sangat harus diwaspadai terkait mekanisme “imbalan jasa” yang ditetapkan dalam system.

Berdasarkan pemaparan Ustadz Erwandi dalam bukunya, juga ditambah penjelasan beliau dalam kajian perkantoran yang dihadiri oleh salah seorang anggota ITBMotherhood, pada dasarnya akad yang sah dalam titip beli online ada 2, yaitu:

  1. Wakalah bil ujrah
  2. Qardh

Jadi misalnya ada 3 orang pihak. A sebagai pihak konsumen, B sebagai pihak yang “dititipi” dan C adalah pihak penjual. Tidak ada interaksi antara A dengan C melainkan melalui perantara B. Pada akad yang pertama, Wakalah bil ujrah berarti A mewakilkan proses pembelian barang dari C kepada B dengan atau tanpa imbalan. Mewakilkan di sini artinya “memberikan uang titip barang lebih dulu”, jadi B tidak menanggung dan tidak ada hutang piutang di sana. Murni jasa dan jual beli saja. Sementara pada akad qardh, A tidak memberikan uang membeli terlebih dahulu kepada B untuk membeli barang yang diinginkannya melainkan B yang akan menanggung (menghutangkan) uangnya untuk A. Dalam akad qardh, karena ada akad utang piutang, tidak boleh statusnya si B meminta imbalan dari A atas barang yang dibeli. Jatuhnya Riba.  Lain lagi jika si B membeli barang dulu (tanpa akad apapun antara A dan B di awal) kemudian menjualnya ke A dengan imbalan keuntungan.. kalo yang begini mah jual beli biasa aja statusnya. Oiya tentau imbalan yang disampaikan di sini di luar ongkir.

Nah, sementara kasus yang banyak terjadi adalah, barang belum ada alias PO, B menawarkan “siapa yang mau beli barang ini? Imbalannya 15rb per pc”. Jika para penitip tidak memberikan uang titip kepada yang dititipi maka “imbalan 15rb per pc” ini yang kemudian membuat si mekanisme jual beli menjadi ternodai karena akad qardh yang tidak sempurna.

Hukum akad wakalah bilujrah boleh berdasarkan dalil-dalil berikut: – Firman Allah taala yang mengisahkan tentang ashabul kahfi yang tertidur dalam suatu gua selama 300 tahun lebih lalu pada saat terbangun mereka mewakilkan kepada salah seorang diantara mereka untuk pergi ke kota membelikan makanan: ُ

“Maka suruhlah salah seorang di antara kamu untuk pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, maka hendaklah ia membawa makanan itu untukmu, dan hendaklah ia berlaku lemahlembut”. (QS AlKahfi: 19).

Bila hukum akad wakalah ini boleh maka dibolehkan juga mengambil upah dari transaksi tersebut sebagai imbalan atas jasa yang halal dari orang yang menerima perwakilan

Sementara itu, untuk akad qardh, dalil dan hujjah yang harus diperhatikan adalah sbb:

“Setiap pinjaman yang memberikan keuntungan bagi pemberi pinjaman adalah riba”

“Tidak halal menggabungkan antara akad pinjaman dan jual-beli”. (HR. Abu Daud. Menurut AlAlbani derajat hadis ini hasan shahih).

Dalam bukunya, Ustadz Erwandi mengutip pernyataan dari Al Mawardi, Al Hawi, jilid V, hal 356, Sihnun, Al Mudawwanah Al Kubra 4/133 yang menyatakan bahwa Seseorang berkata, “Belikan untukku barang dengan spesifikasi ini seharga 10 dinar, nanti saya akan membelinya dari anda seharga 12 dinar dengan cara tidak tunai”. Ini hukumnya haram, tidak halal dan tidak boleh, karena ia telah memberikan pinjaman yang berlebih (riba) … menurut Said bin Musayyib bahwa orang yang dititipi tidak boleh mendapatkan upah/fee; karena dengan adanya fee tersebut maka terjadilah riba dengan sempurna”. Ini dikategorikan riba karena bentuk akadnya bukanlah jual-beli antara penjual kedua dengan pembeli kedua, melainkan pembeli kedua mewakilkan kepada penjual kedua untuk membelikan barang seharga 10 dinar dengan meminjamkan uang penjual kedua terlebih dahulu, karena pembeli kedua mengatakan “belikan untukku”. Ini adalah pinjaman maka penjual kedua tidak boleh mengambil keuntungan sebanyak 2 dinar dari piutangnya. Kalaulah fee itu adalah biaya yang nyata-nyata dikeluarkan oleh orang yang dititipi seperti ongkos transportnya dari penginapan menuju tempat penjualan barang yang dititipi ini dibolehkan. Akan tetapi, biaya riil tersebut tentu dalam jumlah tetap berapapun item barang yang dititipkan bukan ditentukan dengan harga Rp.20.000,- per item sebagaimana yang tercantum dalam penjelasan situs yang menerima layanan “titip beli”. (Tarmizi, 2017)

Jadi solusinya jika ingin menjadi A yang membeli, atau B yang menjual jasa titip, maka:

  1. Berikan uang untuk membeli barang di awal. Maka halal bagi B untuk mengambil atau tidak mengambil keuntungan, dan tidak ada transaksi utang piutang di sana. Kalau ternyata setelah dijumlah kelebihan, ya tinggal dibicarakan untuk proses pengembalian atau kalo mau dihadihkan ya boleh (akad wakalah bil ujrah)
  2. Jika B menghutangkan untuk membelikan barang, maka no imbalan… (akad qardh)
  3. Jika uang tidak diberikan di awal, maka tidak boleh ada keterikatan antara A dan B.. (statusnya B membeli barang/Ijarah biasa) lalu dijual ke B. jadi system ready stock (ijarah/jual beli biasa)

Begitu yang bisa saya sampaikan… ngerasa perlu menyampaikan karena prakteknya buanyak luar biasa, ntah kita mungkin sebagai A atau sebagai B. Dan saya yakin bahwa prosedur ini bukan untuk menyulitkan melainkan melindungi kita semua dari riba…

Dan ketika banyak yang mempertanyakan tentang ke-strict-an Ustad Erwandi, bagi saya selama hujjahnya bisa diterima mengapa harus ditolak? Tentu akan lebih baik jika ada second opinion juga biar ga taklid. Nah di sini saya baru menyampaikan dari satu sumber saja. Tapi selama itu ada hukumnya dan jelas logikanya maka tidak ada salahnya mengikuti daripada hanya mengikuti hokum yang belum jelas. Hati-hati sebagian dari takwa bukan?

Wallahu a’lam bis shawab..

Yang benar hanya datang dari Allah. dan  saya berlindung dari segala keburukan dan ketidak sempurnaan penyampaian saya ini. Mudah2an Allah senantiasa melindungi kita semua… aammiiin ya Rabbal ‘aalaamiin

Referensi:

Tarmizi, E. (2017). Harta Haram Muamalat Kontemporer. Bogor: BMI Publishing.

 

 

Kenikmatan Berinteraksi dengan Al Quran

Pernahkah kita berpikir bahwa kenikmatan berinteraksi dengan Quran adalah salah satu kenikmatan yang luar biasa yang tidak dimiliki setiap orang? Bahkan mungkin orang yang diberikan kenikmatan tersebut pun mungkin tak selalu continuously memiliki perasaan yang konsisten terhadap gaya interaksinya dengan Quran…karena nampaknya kenikmatan ini berbanding lurus dengan kenikmatan iman yang sudah kodratnya juga bisa naik dan bisa turun

Quran

Tulisan ini muncul dari lintasan pikiran ketika merasakan ada dinamika kondisi yang berbeda-beda ketika si saya tilawah Quran.Si saya pernah mengalami kondisi di mana baca quran adalah sebuah kewajiban yang tidak bisa diganggu gugat (statusnya murni to sebagai kewajiban), pernah mengalami kondisi di mana untuk tilawah 1 juz saja sulit, juga pernah mengalami kondisi di mana berinteraksi dengan Quran membuat jiwa begitu nyaman.

Yang dinamakan kenikmatan berinteraksi dengan quran secara literally adalah kita merasakan rasa senang, nyaman, excited, khusyuk, enjoy dengan bentuk aktifitas Qurani yang kita jalani (iya ga sih???). Kalaupun Cuma baru bisa baca alias tilawah aja ya mudah2an kita selalu diberikan kenikmatan atas tilawah yang kita lakukan…semoga selalu ada ruh dalam tilawah tersebut yang membuat ruh kita tersentuh, atau ada pemahaman baru yang mungkin bahkan tanpa jiwa kita sadari bisa merasuk ke dalam diri yang membuat diri ini semakin baik… semoga ada kenikmatan yang membuat kita merasakan bagaimana perjuangan Rasulullah dan para sahabat memperjuangkan Al Quran pada zamannya, atau bagaimana Quran bisa terpenetrasi sedemikian rupa sehingga muncullah ummat terbaik sepanjang zaman. Dan yang paling penting nampaknya adalah bagaimana kita menjadikan aktifitas tilawah sebagai salah satu bentuk memahami apa yang Allah perintahkan, apa yang Allah larang,  dan apa2 yang membuat Allah semakin mencintai kita. Semoga tilawah itu menjadi satu bentuk dialog yang mengejawantahkan ikhtiyar kita untuk tahu lebih jauh apa yang Allah inginkan atas diri kita…tentang apa langkah yang harus  kita ambil dalam hidup kita dan tentang apa-apa yang sebaiknya kita pahami dari kisah-kisah suci para nabi atau kisah-kisah teladan yang Allah ceritakan sebagai bentuk kabar gembira dan peringatan…

Mungkin kita memang belum bisa berbahasa arab dengan baik yang membuat kita harus membaca terjemahan tafsir Al Quran. Tapi dengan membaca terjemahan tafsir saja, kalo iman lagi oke, efeknya bisa bikin nyes banget. Apalagi kalo kita mau “agak” serius belajar Bahasa Arab, mungkin efeknya bakal lebih mantep lagi…

Ada yang menarik dari video2 ilustrasi freeQuraneducation di bawah bimbingan Ustadz Nouman Ali Khan yang bisa
Read the rest of this entry

Menolong Agama Allah

Pagi ini alhamdulillah, dikasih kesempatan Allah untuk masih memiliki berbagai kenikmatan, serta masih punya kesempatan untuk berpikir tentang kehidupan si saya yang officially menua day by day hehehe. So, I found this video from Dr. Zakir Naik about how he has amazing memory to remember so many thing including Al Quran. But it is not what I want to say or think here because you can see the video by yourself (ini linknya: https://www.youtube.com/watch?v=1HfLilX-oJA).

The first answer he gave in that video was this ayat: “Jika Allah menolong kamu, maka tidak ada orang yang bisa mengalahkanmu. Jika Allah membiarkanmu, maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu selain dari Allah. Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakal.” (Quran surat Ali Imran ayat 160)

But then, this Ayat reminds me on this ayat:

وَلَيَنصُرَنَّ اللَّهُ مَن يَنصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ

Artinya : “Sesungguhnya Allah pasti menolong orang Read the rest of this entry

Halaqah Tahsin for Indonesian Youth ^_^

Subhanallah walhamdulillah. Nothing proper that can express my gratitude for the chance that Allah gives to me. Because it is beyond the way I expect, beyond the happiness that fulfilling my heart now. It is just because Allah chooses this way and I am sooo happpyyy about that.

quran 1

I started this activity with Teh Arin and Alm Mba Herma by performing the halaqah that is discussing the basic thing in our life. I remembered the first topic I presented was about the ways we interacted with Quran. But then when Ramadhan comes, we switched the halaqah into tadarus Quran. So, we have a session every day to read Quran. Each of participants has 4 minutes or so to read Quran for 1 hour every morning from 7 to 8am. In the end we cannot khatam, only 15 juz that we finished. But it was a wonderful time I have with those wonderful children (I think I will write this tadarus thing separately later).

Observing that Tadarus program has been successfully performed and increased the enthusiasms Read the rest of this entry

“Peringatan”

Just wanna tell what is inside my mind now.

Yesterday, in my halaqah tarbiyah, at the first hour I thought many things, especially why are all of the members of this group are always late to our meeting. It is almost happened every time. We always begin our meeting in delay, usually one hour after the scheduled time. I wonder, if it is me who also contributed about this habit? Or what? Or our ruhul istijabah are not that strong to make us come in the expected time? Is it our motivation that is too weak? Or because our business in this world averted our gaze from the urge of halaqah tarbiyah?

Tapi, si saya cm bisa husnudzan bahwa, perbedaan antara halaqah kampus dan halaqah wilayah memang sejak dulunya punya nuansa berbeda. Si saya 3 tahun sudah, ngalamin liqa d wilayah, kontras banget situasinya ketika ngebandingin liqa pas di ITB atau di kampus Udayana. Tapi memang karakternya juga gabisa dikesampingkan wong kalo di wilayah ada ranah-ranah yang nampaknya sulit untuk ditembus. Tapi think positive-nya, ada juga hal2 yang tidak akan pernah ditemukan di liqa kampus yang memang hanya dimiliki di liqa wilayah.

After one hour waiting, finally we began this session. After tahfidz and setoran, we discussed about the tafsir of Al Mulk and Abasa.  And it is what I want to note inside my mind and share it via this writing.

Dari tafsir surat Al Mulk, yang paling iin tangkap adalah
Read the rest of this entry

Dakwah, dmana dirimu dalam diriku??

Dunia pasca kampus, di sanalah aku berada kini. sebuah dunia yang kutakuti sebelumnya, yg membuat diriku lebih memilih utk menjadi pejuang dakwah kampus dibandingkan dg terjun ke dunia profesional dan menjadi seorang pekerja atau wirausahawan. Namun memang.nasib berkata lain, kebutuhan membuatku harus dapat keluar dr zona nyaman dan membuatku harus menapaki kehidupan asing sebagai seorang yang menyandang status pegawai negeri sipil.
You know, ladang amal dakwah Jd pegawai negeri sipil teh banyak pisan, somewhow bahkan i feel it too much. Sayangnya, satu gerbang untuk menjalani aktiftas2 di dunia itu yg sama seperti dunia kampus, belum bisa kulihat gerbangnya hingga kini. Therefore, here i am indulging my self focus on dakwah fan’iyah.. optimise my ability and knowledge for society. But, well yeah, banyak juga hambatan2 yg sy rasa untuk mencapai mimpiku di sana.

Nah, speaking about dakwah.. since i have moved to Jakarta 2 years ago, i didn’t have kelompok binaan lagi kayak dulu, ga punya wajihah, ga punya asrama, ga punya mata’ salman yang selama di kampus telah memberikan pengaruh yang benar2 signifikan dalam perkembangan pemahaman islam dalam hidupku. I know,, terlalu nyebelin kalo trus aku bilang Read the rest of this entry

Melupakan Allah

Dari Qs. Al hasyr ayat 19 yang memiliki terjemahan bahwa kita jangan lupa seperti orang2 yg lupa kepada Allah, sehingga Allah menjadikan mereka lupa akan diri sendiri. Mereka itulah orang2 fasiq.

Ketika mematikan hati nurani untuk kepentingan dunia, artinya sama dengan pada momen tsb kita telah lupa kepada Allah. Nantinya bisa lupa akan halal dan haram, lupa yang benar dan salah, sampai akhirnya lupa kalo hidup kita sebenar bukan di sini. Pada posisi ini bisa2 sampai pada level berhenti menyembah Allah, dan berganti menjadi hamba dunia penyembah harta, tahta dll.

Yang bahaya, ada titik dlm hidup kita dmana kita membuang Allah dr dlm hidup qt. Dg sendirinya akan muncul adanya kondisi bahwa Allah tak lagi menjadi tuhan kita dan berganti logika.

Mabit Baitul Ihsan 16-17 Feb 2013; “Dzikir” dan “Wisuda Para Mahasiswa Penghafal Quran”

Jadi, ini semua bermula dari rencana mengikuti tes masuk LTQ Jauhar Iman di Paseban, aku meng-sms ukhty tersayang Nisaul, yang ternyata malah me-reply pertanyaanku dengan informasi acara mabit ini. Kontan, kami langsung setuju untuk bertemu di masjid BI pada malam tersebut.

Aku sampai di sana ketika adzan Isya berkumandang, dan segera mengambil posisi paling oke. Selang beberapa waktu, acara dimulai, sambil menunggu icha, aku mengambil gambar di bawah ini ^_^. (tentu gambar yang tak asing lagi ya ^_^, wong tiap mabit sini, selalu aja mendokumentasikan bagian yang ini di hp)

image

Materi “Mengungkap Rahasia Dzikir-Membedah Dzikir Al Ma’tsurat” bersama Ustadz KH Amir Faihol Fath, KH Dr. Abdul Muiz, dan Ust. H. Fadyl Usman

Dzikir adalah sumber energi yang bisa memungkinkan kita menjalani hari penuh berkah. Waktu pelaksanaan dzikir tidak terbatas, berbeda dengan ibadah2 lain yang waktu pelaksanaan ibadahnya ditentukan. Maka ibadah yang satu ini memiliki kelebihan yang potensinya sangat besar dalam proses penjagaan iman seseorang dalam setiap waktu yang dilaluinya.

Ada surat yang selalu dibacakan rasulullah saw ketika mngimami sahabat. Surat tersebut adalah surat al ‘ala dan al ghasiyah. Dalam surat al a’la, Allah menitipkan kunci sukses. Pertama adalah tazkiyah yang artinya membersihkan. Kebersihan memberikan kenyamanan dan kebahagiaan. Jiwa yang kotor tidak akan memberikan keoptimalan dalam melaksanakan aktivitas. Analogi; masjid yang bersih dan motor yang kotor mesinnya. Menjaga hati supaya tetap bersih membuatnya nyaman dan peka terhadap sinyal2 yang diberikan Allah. Untuk menjaga hati tersebut, penyucian diri diperlukan. Rasulullah saw misalnya beristighfar minimal 100 kali setiap hari. Maka dari itu, usahakan mulai dr sekarang untuk membiasakan istighfar setiap hari. Rasulullah saw saja yang sudah dijamin masuk surga begitu istiqomah. Nah kita? Yang g ada jaminan surga masa malas?

Yang kedua adalah dzikir. Ketiga adalah shalat. Di zaman rasulullah saw, kecintaan terhadap shalat bisa membuat para sahabat sibuk dengan shalat, mengenyahkan segala keinginan untuk tidur. Untuk memaksimalkan kualitas shalat, Shalat harus dilakukan dengan khusyu, jangan tergesa-gesa. Pengaruh shalat bagi kehidupan manusia, disadari atau tidak, memiliki dampak yang sangat signifikan, dzahir maupun bathin. Hal ini terkait dengan kesehatan ruh yang ada di dalam raga manusia, dan shalat adalah ibadah yang sangat komprehensif untuk menjaga kualitas Ruh setiap manusia. Analogi: hp memiliki nilai yang tinggi karena alat ini berjalan secara sinkron antara hardware dan software. Manusia pun sama. Dzikir pun sama, dia  adalah adalah salah satu upaya untuk menjaga kualitas software manusia.

Wisuda Tahfidz Mahasiswa Penghafal Quran

image