Bersabarlah..

Semilir angin menyapanya lembut, mengibarkan kerudungnya perlahan.. menelusupkan kesejukan di relung-relung jiwanya yang sepi.. sepi.. itukah kata yang tepat baginya?? Dia adalah wanita yang dikelilingi banyak sahabat, banyak kerabat, banyak saudara dan saudari seperjuangan yang selalu bisa dia andalkan.. dia pun menyadari dengan pasti akan hakekat kehidupan yang dijalaninya,, tentang bagaimana Allah senantiasa menyertainya dan selalu menemaninya.. Allah yang menjadi saksi atas segala yang dilakukan dan dirasakannya..

Sepi.. apakah itu kata yang tepat untuk seseorang yang mengerti agama sepertinya, sementara dia tahu Allah yang mengatur takdirnya sedemikian rupa. Yang memberikannya kesempatan untuk bisa bertemu dan berinteraksi dengan banyak orang.. termasuk cita-citanya sebagai seorang wirausahawati yang suk
ses..

Ada irisan sembilu yang ntah dirasakannya sebagai sebuah kekosongan..dan sore ini pun, ketika dia baru pulang dari tempat salah satu patner bisnisnya. Perasaan sepi itu menyelinap lagi,, menelusup dengan sangat halus.. pencetusnya sederhana.. kabar dari seorang adik kelasnya ketika di kampus dulu bahwa sang adik tersebut sudah dikaruniai momongan. Dalam luapan kegembiraannya akan anugerah yang diterima saudarinya itu, ada satu perasaan halus datang menerpanya membuatnya harus berjalan gontai menuju rumahnya.

“Assalaamu’alaykum wr wb.. Kak, aku besok mau berkunjung ke rumah Ukh Nita, Kakak sudah dengar kabar kalau beliau sudah melahirkan bukan?? Ke sana yuk? Aku besok kosong” tanyaku melalui telepon.

“oh iya dek, kakak sudah dengar kabarnya. Besok kakak Cuma kosong sore, pagi-nya harus ngecek barang di toko. Mau ke sana bareng?? Hayu,, bawa kado apa ya??” paparnya agak sedikit serak.

“kak, kakak baik2 saja kan, kok suaranya agak beda?? Ga lagi sakit kan??”

“ngga, ga papa. Cuma baru pulang, kayanya kecapekan.”

“oh gitu?? Kalo gitu kita ke sana sore aja ya. Nanti aku jemput pake motorku. Sekalian beli kado buat si kecil.” Paparku nyerocos.

“iya dek.. sampai ketemu besok insyaallah”.

Telpon pun ditutup.. Aku merasa ada yang aneh dengan kakakku yang satu ini.. kakak yang begitu sangat peduli padaku. Dia adalah mentor pertamaku. Mentor yang sedemikian gigih mengajariku Islam, mendengar semua keluh kesahku.. mentor yang sangat kucintai dari lubuk hatiku…

“din, maaf ya terlambat.. tadi Pak Anwar menahan kakak dulu di toko.” Serunya ketika melihatku di depan toko-nya.

Aku menggeleng, “gapapa kak, hayuk ah!! Pake helm-nya yaa” kataku sambil menyerahkan helm biru muda kepadanya.. aku berpikir dalam hati, kakak cantik.. kekuatan bashirahmu tak akan bisa membuatku marah padamu. Engkau makhluk yang dicintai Allah seperti halnya kau begitu sangat mencintaiNya.. aku masih belum bisa sepertimu…

Motorku pun menderu, melewati jalanan yang hiruk pikuk oleh orang-orang yang juga baru pulang dari pekerjaan mereka masing-masing. Dalam waktu 30 menit, kami pun sampai di rumah sakit tempat Nita melahirkan. Ada toko peralatan bayi dekat sana dan kami pun mampir  untuk membeli kado buat kelahiran sang bayi kecil, keponakan kami..karena Nita adalah saudara satu mentoringku dulu ketika dimentor Kak Yuni.. meskipun Kak Yuni sudah punya kelompok mentee yang lain, dan demikian juga dengan Nita, tapi kami sering silaturahim sekedar untuk bertanya kabar dan men-charge  iman dengan kekuatan ukhuwah yang kami punya.

Kami memutuskan untuk membeli seperangkat baju bayi,, maklum ini bayi pertama Nita. Kami pun membungkusnya rapid an segera meluncur ke kamar Nita. Sedikit kelimpungan mencari kamarnya, namun akhirnya ketemu juga… peluk dan cium langsung memburu Nita dan bayinya sementara suaminya, Adnan pamit karena tak mau mengganggu acara kami hehehe..

“aduuuh Nita, anakmu lucu sekali..mirip banget ma Nita deh” seru Kak Yuni sambil memangku bayi Nita ke pangkuannya dengan sangat lembut dan hati-hati. Nita tersenyum, sedangkan aku sibuk menatap sang bayi kecil, mencoba menunggu giliran untuk memangkunya..

“barakallah ya Nit, moga jadi anak yang shalihah seperti ibunya” seruku. Nita tersenyum lagi, kebahagiaan tidak mau meninggalkan bibirnya “aku malah pengen anakku kayak Kak Yuni..” jawabnya. Giliran Kak Yuni yang tersenyum. Senyum yang mendamaikan hati, mentor yang sangat kami sayangi sepenuh hati..

“kak yuuun.. aku malah pengen segera nimang bayinya kak Yun” seru Nita. “pasti jadi anak sholehah pejuang dakwah kayak kakak!!!” serunya lagi dengan mata berbinar-binar. Namun segera, senyuman Kak Yuni sirna.. meskipun sesaat aku tau persis bahwa tadi aku melihat pancaran kesedihan yang menyelimuti bola matanya meskipun sesaat..

Kak Yuni mendongak, mengalihkan perhatiannya dari sang bayi kecil dan menatap Nita “haha.. mohon doanya ya Nit..” ntah kenapa ada rasa getir yang tiba-tiba kurasakan dalam kata-katanya itu.

Setelah puas bersenag-senang bersama sang bayi kecil dan Ibunya, kami pun pamit.. dalam perjalanan turun dari rumah sakit, kulihat pendar cahaya Kak Yuni sedikit memudar. Kucoba menyelami apa yang menjadi pikirannya saat ini.. adakah kata2 Nita tadi salah.. kupikir tidak ada, itu adalah sebuah harapan dari seorang adik yang mencintai kakaknya.

Namun, tiba-tiba sebuah pikiran melintas di kepalaku. Usia Kak Yuni 3 tahun di atasku. Ketika aku masuk kuliah angkatan 2005, maka kak Yuni adalah angkatan 2002. Dengan usianya itu, beliau belum juga diberikan anugerah pernikahan, sementara adik2 mentornya hanya tinggal aku yang belum hehehe.. tapi jelaslah bahwa memang menurut logika kami semua, Kak Yuni memang sudah sepantasnya menikah.. mungkin itu yang terlintas pula di benak kakakku yang satu ini.

“kak..” tiba-tiba aku beranikan diri bertanya. Kak yuni menoleh dan mengangguk “ada apa dek?“

“hmm.. sebenarnya apa yang menghalangi kakak untuk segera menikah??” tanyaku to the point. Kak Yuni sedikit kaget. Sejenak memandang langit dan kemudian kembali memalingkan wajahku padaku, “hmm karena Allah belum berkehendak, dek”

“maksudnya kak?”
“ketika kita punya rencana sekalipun, ketika Allah belum berkehendak maka yang harus kita lakukan adalah bersabar. Bagi kita, ikhtiyarlah yang harus dilakukan, maka janji Allah adalah pasti untuk orang-ornag yang dicintaiNya. Jaga saja kecintaan kita terhadapNya dan kecintaanNya terhadap kita..”

“kakak.. tapi apakah tidak terlintas sedikitpun perasaan sedih??” tanyaku kembali.

“kakak juga manusia, dek. Punya keinginan, punya harapan. Namun apa daya manusia sementara Allah Mengetahui segalanya. Ketika kesedihan datang harusnya kita beristigfar, karena itu adalah celah setan untuk membuat kita meragukan kekuasaan Allah. Harusnya kita bertaubat karena itu adalah celah untuk merusak keikhlasan”

Kak Yuni tersenyum,, kekuatan bashirahnya kembali terpancar. Ku tahu kak Yuni adalah manusia biasa yang bisa saja sedih dengan takdirnya, namun beliau selalu kuat untuk bisa menjernihkan hati dan pikirannya, kembali kepada fitrahnya untuk selalu mencintai Allah di atas segalanya, menerima segala kehendakNya dengan lapang hati, dan menjaga kecintaan Allah terhadapnya, karena dia tahu selama dia berusaha maka cinta Allah adalah sebuah janji dan janji Allah adalah pasti.

 

  1. rusna meswari

    salam kenal iin parlina,,,^_^…aku senang baca-baca blogmu,,,

    • salam kenal juga ^__^. alhamdulillah kalau senang mah, artinya yang ditebarkan adalah energi positif dan bukan energi negatif hehehe. punya blog juga?? kalau ada mungkin bisa saling baca blog ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: