Monthly Archives: May 2011

filosopi perbandingan kebahagiaan (dari sudut pandang seorang penulis pemula)

Seorang gadis kecil berlari menuju Ibunya, sambil terengah-engah dia bertanya, “Bunda, mengapa teman adek rumahnya megah dan terbuat dari bahan bangunan yang nampak kokoh, sementara kita harus tinggal di rumah yang hanya bilik ini?? bukankah Allah Maha Adil??” Sang Bunda tersenyum, “kamu akan mengerti suatu saat nanti gadis kecilku yang manis…”. Sang gadis kecil pun kembali bermain bersama temannya..

Sesaat kemudian Sang Gadis Kecil kembali berlari kepada Ibunya, “Bunda, barusan teman adek dibawain makanan yang enak-enak oleh kedua orang tuanya.. mengapa adek bahkan makan saja cuma 2 kali sehari dan itupun dengan lauk seadanya??bukankah Allah Maha Adil??” Sang Bunda tersenyum kembali, “kamu akan mengerti suatu saat nanti gadis kecilku yang manis…”. Dengan rasa masih penasaran, Sang gadis kecil pun kembali bermain bersama temannya..

Ketika waktu tidur tiba.. Sang Gadis Kecil kembali bertanya kepada Ibunya..”Bunda, mengapa teman adek bisa tidur di tempat tidur yang empuk dan nyaman?? sedangkan adek harus bisa tidur di atas kasur kapuk yang keras ini?? mengapa bisa beda Bunda, padahal kan sama-sama makhluk Allah?? bukankah Allah Maha Adil??” tanya Sang Gadis Kecil polos..Sang Ibu tersenyum lagi, namun kini ia mendekap puterinya dengan penuh kasih sayang “tidurlah anakku, kelak kau akan mengerti..” Sang Gadis Kecil pun terlelap dalam pangkuan Ibunya..

Dan ketika akan berangkat sekolah, teman Sang Gadis Kecil lewat di depannya dengan berkendara mobil mewah bersama kedua orang tuanya..melihat hal tersebut, Sang Gadis Kecil kembali bertanya “Bunda, mengapa aku jalan kaki ke sekolah, capai dan kelelahan?? sementara temanku tadi begitu enaknya bisa berangkat sekolah dengan mobil mewah??” Sang Bunda sekarang menjawab “Gadis kecilku sayang, jalan kaki itu membuat badan kita sehat..” “oh iya Bunda?? baiklah,, mari kita jalan kaki…”

****************************************

Sepanjang kehidupan bergulir, ketika Allah memberikan kehidupan yang berharga ini kepada Sang Gadis Kecil dan temannya.. ada perbedaan profil kehidupan yang dijalani keduanya. Sang Gadis kecil yang terus menerus membandingkan kehidupan yang dimilikinya dengan yang dimiliki temannya. Mengapa baju yang dipunyai temannya selalu lebih bagus daripadanya? Mengapa mainan yang dimiliki temannya selalu lebih bagus dari yang dimilikinya? Mengapa berbeda??

Dalam sebuah perenungan mendalam yang bersambut dengan bijaknya Sang Bunda akhirnya Sang Gadis Kecil mendapatkan jawaban..

“anakku sayang, lelahkah kau membandingkan kehidupanmu dengan kehidupan temanmu itu??” tanya Sang Ibu dengan lembut. Sang Gadis Kecil mengangguk perlahan..”gadis kecilku sayang, apakah dengan begitu kau merasa menikmati kehidupanmu dengan bahagia??” sang Gadis Kecil kini menggeleng perlahan.. Sang Ibu mengelus rambut Si Gadis Kecil “anakku, setiap manusia di muka bumi ini diberikan profil kehidupan yang berbeda-beda…kau tahu mengapa dibedakan??” Sang anak menggeleng lagi. “mungkin kau bertanya bukankah Allah Maha Adil, lalu kenapa Dia menciptakan manusia ada yang kaya ada yang miskin, ada yang senang ada yang susah, ada yang sehat dan ada yang punya penyakit, ada yang fisiknya sempurna dan ada juga yang cacat fisiknya.. bukankah Allah Maha Adil?? lalu kenapa bisa ada perbedaan seperti itu??

“anakku sayang, profil kehidupan yang diberikan Allah kepada setiap orang adalah hal yang sudah ditakar sedemikian rupa sehingga semuanya akan mengantarkan kepada hal yang sama. Hal yang sama itu adalah kebahagiaan.. kebahagiaan yang Allah berikan tidak bisa dinisbatkan pada harta yang banyak, baju yang mewah, fisik yang cantik atau tampan, terkenal atau punya jabatan.. Tidak Nak, tidak sesederhana itu kita mendefinisikan kebahagiaan..orang miskin memiliki kebahagiaan tersendiri yang mungkin jenisnya berbeda dengan yang dimiliki orang kaya, namun hakekatnya sama..kau tida bisa membandingkan dua kondisi yang berbeda wujudnya.. karena kau harus mengetahui dengan bijak dahulu definisi kebahagiaan yang sesungguhnya. Jika kau memandang orang yang memiliki kekayaan akan jauh lebih bahagia daripada orang miskin, maka jawabannya bisa iya bisa tidak. Bisa jadi orang miskin akan jauh lebih bahagia daripada orang kaya, orang cacat akan jauh lebih bahagia daripada orang yang fisiknya sempurna,, semuanya bergantung pada satu hal. Yaitu bagaimana sang makhluk tersebut menghargai kehidupannya dan menjadikan kehidupan yang dititipkannya itu untuk meraih kebahagiaan yang sejati.”

“jika dengan kemiskinan, seseorang bisa bersabar atas kehidupan yang dijalaninya. Membuatnya menjadi orang yang gigih berjuang dan menyadari hakekat kehidupan dan kebahagiaan yang sejati, maka orang tersebut bisa kita katakan berhasil menjalani kehidupannya. Dia bisa menemukan kebahagiaan sejatinya dalam setiap keprihatinan yang dijalaninya dengan sabar dan berserah diri kepada Dzat yang memberinya kehidupan. Lain halnya dengan orang kaya yang setiap hari disibukkan dengan kegiatan mengumpulkan harta dan membelanjakannya sesuai dengan hawa nafsunya. Orang kaya yang dipusingkan dengan bagaimana mengungguli kekayaan tetangganya dan menjamin kehidupan masa tuanya.. apakah orang kaya tersebut bahagia??”

“namun bisa juga terjadi sebaliknya, seorang miskin yang selalu merutuk kehidupan yang dijalaninya. Menyesali dirinya mengapa dia miskin sedangkan orang lain kaya, menyesali dirinya lemah tanpa daya dan tanpa usaha. Bahagiakah dia?? berhasilkah dia dalam menjalani kehidupannya?? coba bandingkan dengan orang kaya yang bisa menggunakan kekayaannya dengan bijak, tanpa melupakan hak-hak dari orang yang berhak atas hartanya, orang yang berikhtiar dengan maksimal untuk mengumpulkan harta dengan jalan yang benar dan menggunakannya dengan benar dan mampu memberikan kebahagiaan kepada orang yang lebih tidak mampu daripadanya.. bahagiakah dia??”

“kita tidak bisa mengukur secara sekilas apa yang terjadi pada kehidupan setiap orang. Ada banyak parameter yang bermain dalam menentukan status kebahagiaan seseorang. Kita tidak bisa menilai dia atau siapapun lebih bahagia dari kita hanya dari parameter duniawi semata.. karena sesungguhnya masalah kehidupan dan kebahagiaan pada hakikatnya hanya diketahui yang bersangkutan dengan Dzat Pemiliki Kehidupan dan Kebahagiaan tersebut. Oleh karena itu, tidaklah bijak jika sepanjang hidup kita yang ada hanyalah membandingkan kehidupan kita dengan kehidupan orang lain. Memang benar, ada kalanya kita perlu menjadikan kehidupan orang lain yang secara kasat mata terlihat, sebagai cermin. Namun, interpretasi pembandingan kehidupan tersebut juga harus dilakukan dengan bijak. Ada kalanya kita harus memandang orang di atas kita, dan ada kalanya kita juga harus memandang orang yang keadannya (menurut standar kita) lebih rendah dari kita. Tapi output pembandingan itu yang harus memiliki hasil positif bagi kehidupan kita sendiri. Jangan justru membuat kita malah merutuk, menyesali kehidupan yang sudah dipilihkan Allah untuk kita., mengapa orang lain diberikan kekayaan lebih, mengapa orang lain diberikan jodoh lebih awal, mengapa orang lain diberikan jabatan, mengapa orang lain bisa melakukan sesuatu lebih mudah dari kita?? mengapa orang lain lebih pintar? Mengapa orang lain lebih beruntung? Masih ada banyak pertanyaan pembandingan yang bisa saja kita munculkan ketika kita diperlihatkan profil kehidupan orang lain yang secra kasat mata terlihat.”

“dan adalah sebuah pilihan untuk kita akan mengeluarkan pertanyaan itu? Dan memilih efek yang terjadi ketika pertanyaan pembanding itu keluar?? apa dampaknya buat kita?? lebih bersyukur atau lebih bersabar?? setiap kehidupan manusia ditentukan pada kadar terbaiknya. Kadar di mana setiap manusia bahkan yang paling miskin di dunia sekalipun untuk bisa merasakan kebahagiaan. Setiap kehidupan manusia ditentukan pada kadar terbaik yang bahkan manusia itu sndiri tidak bisa membayangkannya. Kehidupan yang diberikan dinamika dinamika tertentu yang bisa membuat manusia tersebut teruji kepercayaannya terhadap Dzat yang sudah memberikan kehidupan tersebut. Sungguh Maha Besar dan Maha Adil Allah Dzat penguasa Semesta Alam, yang bahkan daun jatuh di pegunungan sunyi pun diketahuiNya.”

“seperti yang Bunda bilang, bagaimana kehidupan yang kita miliki dengan segala dinamikanya mampu mengantarkan kita pada kebahagiaan sejati. Bagaimana kita bisa bersabar dan bersyukur dalam menjalani kehidupan kita. Profil kehidupan yang telah dipilihkan dengan PERTIMBANGAN TERBAIK oleh Dzat yang Maha Terbaik dalam Mengambil keputusan.. tidak ada keraguan terhadap keputusanNya, karena Dia adalah Dzat yang suci dari KEKURANGAN dan KESALAHAN.”

“just try to find your trully happiness.. buktikan kepada Allah yang memberikanmu kehidupan bahwa ujung dari kehidupan yang kau jalani ini adalah kebahagiaan hakiki di dunia dan di akhirat nanti”

Sang Gadis Kecil mengangguk penuh arti.. disadarinya dengan seksama bahwa apa yang selama ini terus menerus dilakukannya dengan membandingkan kehidupannya adalah sebuah kesalahan yang membuatnya lelah.. namun kini dia mendapatkan jawaban, bahwa Allah seperti yang diajarkan Sang Bunda kepadanya Allah Maha Adil dan Allah sesuai persangkaan hambaNya..

******************************

menjalani kehidupan dengan membandingkan apa yang kita miliki dengan apa yang orang lain miliki adalah sesuatu yang melelahkan. Pada kadar tertentu memang perlu-membandingkan kita dengan kasat mata kehidupan orang di atas kita maupun di bawah kita, namun apalah artinya jika kita tidak mengetahui hakekat kehidupan yang sesungguhnya, karena jika kita tidak tahu, maka pembandingan itu justru akan membuat kita lelah, dan membuat diri menjadi lemah. Dengan pertimbangan terbaik, sudah dipilihkan profil kehidupan terbaik ini untuk dijalani, disabari dan disyukuri.. jadi mari menjalani kehidupan ini dengan ikhtiar terbaik yang bisa kita lakukan..

jika seorang gadis kecil yang baru mengenal kehidupan bisa diwajari akan kesalahannya karena dia berada dalam tahap belajar, tapi bagi kita yang sudah dewasa??

haha.. mari temukan kebahagiaan sejati kita Sahabat…

(23 Mei 2011, oleh seseorang yang sedang belajar memahami hakekat kehidupan dan kebahagiaan, serta orang yang sedang belajar menuliskan setiap penggalan hikmah di kepalanya menjadi sebuah bentuk tulisan. Sebuah dokumentasi yang akan mengingatkannya pada hikmah yang diberikan Sang Pemberi Kehidupan untuk membuatnya terus belajar dan belajar, menjadi bijak dan menjadi sosok yang diinginkan Sang Pemberi Kehidupan)

Advertisements

Ibu dan Tokyo Tower

Air mata ini mengalir begitu deras.. mengalir dan mengalir, membawa segenap memoriku bersama sosok paling berharga dalam hidupku,, Ibu…

pemicunya satu, ini karena aku menonton film Tokyo Tower yang kata orang bisa membuat menangis.. dan benar sekali, film ini berhasil membuatku mengeluarkan air mata bahkan dari episode pertama..

Apa pasal?? pesan yang dibawa film ini yang mengingatkanku pada Ibu dengan segala kebaikannya telah menyihir kelenjar air mata beserta ikutan emosi yang membuatku merasa begitu sangat mengagumi Ibu.. ahh.. tidak bisakah kuingat segala kebaikannya setiap saat tanpa harus ada pemicu tertentu, aku menyesalkan diriku yang merasa begitu dangkalnya sayangku kepada Ibuku..

Sinopsis cerita film jepang ini mungkin sudah banyak dibahas, aku hanya ingin mengungkapkan apa yang aku terima menjadi sebuah dokumentasi tulisan yang bisa membuatku terus mengingat apa yang kudapat ini seumur hidupku.

Dari sebuah keluarga sederhana Ma-kun (sang anak) dan Okan (sang Ibu: kependekan dari Okasan:Ibu dalam bahasa Jepang) hidup dengan penuh perjuangan. Sang Ibu yang berjuang menghidupi keluarga dan menyekolahkan anaknya, harus ikhlas melepaskan sang anak untuk meraih cita-cita di kota besar. Perasaan ingin bersama yang dibalut perasaan untuk membiarkan sang anak berkembang dengan jelas tersurat dalam kisah ini. Bagaimana sang Ibu setiap saat mengingat Sang Anak dengan segenap kasih sayangnya, berjuang tak kenal lelah untuk dapat memberikan uang kepada Sang Anak yang hidup di kota…ini semua mengingatkanku akan kisahku ketika melepas masa SMU dulu. Ketika aku bersikeras ingin pergi berjuang ke Bandung, seorang diri meninggalkan Ibu dan segenap keluargaku dan mencoba hidup sendiri dan mandiri mengejar impianku..kuingat betapa setiap hari Ibuku tak lupa mengingatkanku untuk tidak lupa makan dan berhati-hati…meskipun alur ceritaku tidak sama seperti Ma-Kun yang sempat mengalami persimpangan jalan ketika tahun pertamanya kuliah, tapi aku tetap bisa merasakan betapa besarnya rasa kawatir Ibu padaku ketika itu..

Pun ketika lulus kuliah aku tak segera kembali ke rumah, hanya sesekali pulang menjenguk rumah ketika selang waktu yang ada.. ahh kupikir betapa tidak berbaktinya aku. Dalam memilih pekerjaan pun, Ibu memintaku tidak pergi ke luar dari Jawa Barat. Hanya Jakarta, Bogor, dan Bandung serta daerah sekitarnya yang diizinkan menjadi sasaran tempatku bekerja. Bukan apa2,, ini supaya aku bisa mudah pulang..

Akhirnya Jakarta-lah yang menjadi tempatku berlabuh, mencari kesempatan untuk bisa mengamalkan ilmu yang kupunya dan menjadikanku sebagai salah satu rahmat bagi alam,,ahh..meskipun sampai sekarang aku belum merasa seperti itu.

Yang kuingat dari kata-kata Ibu ketika mengetahui keputusanku untuk hijrah ke Jakarta adalah.. “dan bahwa iin akan hidup terpisah dari Ibu..”..bukan aku tak ingin bersamamu,, bukan ku ingin jauh darimu, hanya saja aku merasa, untuk tinggal di kampung halaman, aku merasa aku tidak bisa berbuat banyak, tidak bisa berbuat maksimal…dan kuingat bahwa Ibu mengizinkanku dengan isak air mata.. isak tangis yang penuh kasih sayang dan kekawatiran akan nasib anaknya.. kuingat yang bisa kujanjikan saat itu adalah bahwa aku akan bisa menjaga diri, bahwa aku akan dilindungi Allah, da dengan doa tulus Ibu, aku akan bisa mewujudkan cita-citaku…

Sampai sekarang, aku masih bisa bertahan,, entah sampai kapan,,, aku tak tahu, hanya saja, kurasakan bahkan hingga kini, aku belum bisa memberikan kebahagiaan yang sesungguhnya untuk Ibu, malah hanya memberikan kekawatiran dan kecemasan..segala bentuk kerepotan mengurusiku yang nakal ini..Ibu, maaf jika selama ini baktiku padamu hanya msih seujung kuku..

klimaks dari film Tokyo Tower yang membuatku sampai tersedu adalah ketika Sang Ibu terkena penyakit kanker dan meninggal. Suatu perasaan yang menyesak di dalam dada yang membuatku berpikir, waktu yang kumiliki bersama Ibu sangat terbatas, ntah itu aku yang dijemput terlebih dahulu atau ntah beliau yang terlebih dulu..namanya kematian, tidak bisa diprediksikan.. hanya saja begitu menyesakkan ketika aku secara otomatis terbawa emosi ketika membayangkan bahwa jika nanti aku harus menghadapi kematian Ibu,, ahh.. aku tidak tahu akan seperti apa nanti, hanya saja membayangkannya saja aku tidak berani. Menghadapi sosok yang membesarkanku dan memberikan segenap kasih dan sayangnya kepadaku dengan sepenuh jiwa raganya dalam kondisi tidak bernyawa,, aku tidak tahu apakah aku bisa menghadapinya nanti?? tapi yang jelas, sekarang saja membayangkannya saja, seruak kesedihan yang meluap kian tampak,, aku takut.. aku takut kehilangan Ibu,,

Allah, aku mungkin egois, yang mengharapkan aku bisa hidup bersama Ibu dalam waktu yang lama. Sampai aku menikah, mempunyai anak atau cucu,, namun kusadari bahwa baik aku maupun Ibuku adalah makhluk ciptaanMU yang bisa Kau cabut kehidupannya sewaktu-waktu,, aku tidak tahu berapa lama waktu yang Kau berikan untukku bersama Ibuku. Namun yang kuminta kini adalah bahwa semoga di sisa waktu yang tersedia aku bisa membahagiakannya, menjadi anak kebanggaannya di dunia juga di akhirat. Sungguh tiada daya dan tiada upaya, hanya Allah-lah yang berkehendak..

love you mom… love you so much

Allah, allow me to give happiness to my mom..

Menguak jejak petualangan seorang Iin Parlina

Menguak tempat-tempat yang pernah menjadi objek perjalanan seorang Iin Parlina

terinspirasi dari buku jilbab traveler karya Asma Nadia dkk yang sedang kubaca, aku tertarik untuk mengungkapkan secuil bagian perjalanan hidupku..yang semoga menjadi pengingat bahwa betapa Maha Besar Allah yang telah memberi kuasa padaku untuk melakukannya dan sekaligus merangsang imajiku untuk memimpikan perjalanan yang jauh lebih berkesan ^_^.

dalam usiaku yang kini telah mencapai 24 tahun, tidak banyak tempat yang telah kukunjungi. Banyak alasan yang menjadi penyebabnya, di antaranya adalah terbatasnya kesempatan dan keinginan yang memang tidak terlalu banyak juga.

Ku ingat ketika aku masih kecil, alhamdulillah Allah mengkaruniakan orang tuaku rizki untuk berziarah ke Pulau Madura. Karena masih sangat kecil, kuingat adikku juga belum lahir saat itu, maka tidak banyak yang bisa kuingat, hanya ingat beberapa potongan pemandangan di laut, di kapal laut, di makam (kayanya mah makam,,), ketika beli gangsing menyala, istirahat di masjid,,, ya kurang lebih hanya itu yang bisa kuingat. Perjalanan jauh kedua yang kuingat adalah perjalanan ke Taman Mini Indonesia Indah, yang kulakukan bersama keluarga besar yang ketika itu menerima tawaran berwisata ke sana. Usiaku kalo tidak salah adalah 6 tahun, kelas 1 SD.. jadi beberapa pemandangan di sana masih kuingat dengan cukup baik. Yang paling berkesan adalah ketika jalan-jalan ke keong mas dan berfoto di sana bersama keluarga.

Menginjak dewasa, aku tidak banyak melakukan perjalanan jauh, hanya ketika smp, inget banget bulak balik ke Bogor dalam rangka mengikuti lomba Cepat Tepat Eksakta yang diselenggarakan oleh SMAKBO, karena 5 hari, maka kujuluki pertempuran 5 hari di SMAKBO..setelah itu, masa SMU adalah dua kali jalan-jalan ke Bandung untuk mengikuti olimpiade sains SMA tingkat Jawa Barat.. yang pertama adalah olimpiade astronomi yang mengenalkanku pada Bandung untuk pertama kali, dan kedua kalinya adalah olimpiade Biologi..

berikutnya adalah hijrah ke Bandung dalam rangka menuntut ilmu di kampus gajah duduk.. dan ini kali pertama aku mulai menjalani perjalanan sendiri jarak jauh,, setelah itupun Cianjur-Bandung adalah perjalanan biasa yang kutempuh sendiri.

Pertama kali menginjakan kaki di kota Jakarta adalah ketika seleksi beasiswa IA ITB 78 yang diselenggarakan di gedung cantik berwarna biru muda yang menjulang ke langit dengan gagahnya. Itu adalah gedung yang sekarang mengisi kehidupanku.. my sweet building, I call it like that.

Perjalanan yang kemudian mengisi hidupku hampir setiap tahun adalah kuprik atau kunjungan pabrik yang diselenggarakan prodi Teknik Kimia untuk memberikan gambaran nyata kepada mahasiwanya bagaimana industri kimia itu berjalan. Kuingat betul di tahun pertamaku, aku diberikan kesempatan untuk bertandang di kota Cikampek dan Cilegon, ke PT Pupuk Kujang dan PT Chandra Asri. Tahun kedua aku diberikan kesempatan untuk bertandang ke kota Tasikmalaya, melihat PTP Nusantara, dan satu kota lagi aku lupa, hehe. Tahun keempat, ada KULKER atau Kuliah Kerja-program mirip Kuprik cuma aga lebih lama, ketika itu aku berkesempatan mengunjungi PT Dahana di Tasikmalaya, PT Pertamina di Cilacap, Holcim di Cilacap, dan pabrik gula PT Madukismo di Jogjakarta.. Tahun terakhir, tidak ada kuprik, yang ada KP atau Kerja Praktek yang membuatku bertandang di kota Bekasi selama sebulan, dan Cikarang selama 1 bulan. KP di Unilever menyenangkan, dan untuk bagian yang ini aku pun telah mengulasnya secara singkat di tulisan sebelumnya. KP yang mengasah jiwa petualangku, karena itulah kali pertama aku ke Jakarta berpetualang seorang diri mencari data termokimia reaksi sulfonasi,, haha,, kuingat betul betapa sulitnya mencari secarik kertas berisi informasi yang membuatku harus hilir mudik dari perpustakaan Lipi, ke perpustakaan Lemigas seorang diri.. piiuuhh.. dan jiwa petualangku pun semakin terasah.

Berikutnya perjalanan terjauuuuuh yang pernah kurasakan hingga saat ini adalah perjalanan untuk mengikuti Seminar Nasional Teknik Kimia Indonesia-SNTKI yang diselenggrakan di Universitas Sriwijaya, Palembang. Perjalanan selama satu minggu itu sangat berkesan, dan meningkatkan motivasi belajarku di teknik kimia ITB supaya lebih baik dan lebih baik lagi.

Kesempatan-kesempatan jalan-jalan berikutnya datang dari koneksi IA 78 yang biasa mengadakan acara gathering tahunan di Jakarta atau Bandung, dan juga dari kegiatan penambahan jaringan dari asrama Salman, yang sering mengadakan acara pengajian KALAM Salman, training dan daurah dari LK dan Mata Salman, serta undangan pernikahan anggota asrama Salman.. hahah..dan juga tidak lupa asrama Etos yang membuatku bisa menjejakkan kaki di bumi LPI-Parung, Bogor.

Dan kini, setelah mendapat gelar sarjana gajah duduk, setelah bisa bulak-balik sendiri Cianjur-Bandung, aku kini bisa bulak-balik Cianjur-Jakarta, Bandung-Jakarta, Parungpanjang-Jakarta sendiri.. berpetualang dan meninggalkan jejak perjalanan kaki di daerah-daerah itu..

Mungkin sampai usiaku sekarang, aku baru bisa meninggalkan jejak kaki di bumi Indonesia, belum bisa melangkah jauh sampai ke negeri Asia yang lainnya, Eropa ataupun Amerika. Meskipun rasa iri menjalar, apalagi keinginan sekolah pasca sarjana ke luar juga begitu kuat, namun mungkin memang belum saatnya bisa meninggalkan jejak di luar Jawa dan Sumatera..hanya berharap suatu hari nanti dengan upaya maksimal, aku bisa menjadi seorang petualang kehidupan yang bisa meninggalkan jejak manfaat di belahan muka bumi….^_^

nasehat “itu” lagi,, hehe

Nasehat itu lagi….

Tidak menyesalkan mengapa nasehat sejenis seperti ini kembali mampir di telingaku, karena memang orang2 pun akan berpikiran masa bahwa usiaku adalah usia yang tepat.. dan akupun tak menyalahkan mereka yang mau berbaik hati menyampaikan nasehatnya…

Ceritanya, dalam suatu sore yang teduh, ketika pekerjaanku udah beres, namun kaki ini belum akan beranjak dari tempatnya.. ntah karena kebiasaan ngantor mpe malem atau apa,, tapi yang jelas, kesempatan di kantor bersama Bu Muti dan Pak Syaeful mengantarkanku pada perbincangan yang menarik itu… sebuah nasehat kehidupan yang keluar dari orang yang telah berpengalaman.. semoga sharing info ini tidak membuat berpikir macam-macam… haha…

“iin,, sekarang udah kerja kan?? Udah mulai mapan lah ya??..” itulah pertanyaan pembuka yang dilontarkan Pak Syaeful. Aku pun menjawab sambil bercerita (hehe.. kebiasaan ini mah, jadi panjang)

“Bapak mau cerita..dulu Bapak pemuda yang sangat aktif. Aktifnya di KNPI sih.. saking aktifnya usia sudah nyampe 30 ga kerasa,, akhirnya baru sadar kalo udah tua, dan mulai memikirkan berkeluarga” (haha.. ketebak deh arah pembicaraannya….^_^)

“ada sedikit penyesalan di hati Bapak kala dulu kenapa terlambat menikah… sekarang yang Bapak rasakan, anak 4,, tapi masih kecil-kecil, namun usia udah senja, udah mulai kepayahan capek, udah mau pension malah.. “

“mumppung Iin masih muda, udah mulai mapan, punya penghasilan sendiri. Maka cobalah memikirkan untuk berkeluarga segera,, jangan sampai terlambat. Kalau nikah muda, nanti kalo iin udah nyampe usia Bapak, nanti anakmu udah kuliah, gabingung nguliahin..”

“Ya,, Alhamdulillah Bapak juga mensyukuri apa yang ada, ini hanya sekedar nasehat buat Iin dari yang tua buat yang muda.. Bapak doain iin aja semoga bisa segera berkeluarga”

Hohoho,, sebuah nasehat yang sangat tulus dari Bapak yang baik hati ini, dan aku Cuma bisa mesem, gatau jawab apa.. “mohon doanya yang terbaik aja Pak..”

Sang Bapak menambahkan “ya,,, asal iin tau agamanya baik, sholeh, dan bisa mimpin,, disegerakan aja,, jangan lama-lama..” aku melongo “maksudnya Pak?” “ya.. siapapun orang dekat yang iin anggap cocok,,jangan lama-lama,, nanti kalo dilama-lamain banyak gangguan in”

Begitulah obrolanku bersama si Bapak.. hahaha.. jadi membuatku berpikir lagi seeh.. hoho..lets see deh. Cuma teringat tausiyah seorang ukhty “bukan dengan siapa in, tapi bagaimana caranya”.. nah lo nah lo…

Bu Muti, mungkin ingin menimpali, tapi terlihat sibuk dengan dokumen2 kerekayasaan yang dikerjakannya.. hoho,, smangat ya Bu..

Yoo.. itu saja cerita menarik yang terjadi sore ini—mudah2an manfaat, kalo bukan buat saya ya mungkin buat kalian.. makanya ayo segerakan.. hehehehe ^_^

rindu yang teramat sangat rindu

Dalam berbalut rindu, pikiranku melayang jauh.. terbang ringan menyelami memori-memori masa lalu yang kusadari teah banyak membentuk diriku,, diriku yang sekarang.. diriku yang sedang menapaki satu fase dalam hidup, diriku yang sedang menikmati sebuah perjuangan yang bentuknya sama sekali lain dari yang kulakukan bersama sahabat-sahabat seperjuanganku di kampus…

Terhenyak, iya, termangu juga iya,, kepalaku menerawang menerobos kegelapan malam, mencoba menggapai kekuatan yang ingin kugali dan kudapatkan lagi, kekuatan yang pernah membuatku menjadi seorang jundi, kekuatan yang pernah membakarku hingga di suatu malam aku berani berangkat jihad sendiri….

Oh ya Rabb, alangkah indah memori-memori itu, alangkah irinya diriku yang sekarang dengan diriku yang dahulu. Entah kekuatan apa yang dulu begitu menginternalisasi dalam jiwa dan kepalaku, dalam hati dan nafasku, namun kini,,, kurasakan kepayahan yang begitu mendalam, ketika kadang kaki ini tak lagi mampu berdiri lama di keheningan malam yang seharusnya kugunakan untuk bermunajat kepadaMu. Jika dahulu, semangat membara itu yang mengalir dalam nadiku sampai aku mampu bersusah payah menghafalkan satu per satu ayat Allah.. maka lihat aku sekarang yang terjerembab dalam aktifitas yang belum bisa membawau pada semangatku yang dahulu.

Ya.. aku tahu,, ini hanyalah sebuah bentuk penyesuaian diriku, dengan kondisi kekinian dan kedisinian,, inilah ladang amalku, ladang dan arena di mana aku keluar dari medan kata-kata menuju medan juang yang nyata.. inilah arena laga-ku, dimana seharusnya aku bisa mempertontonkan keindahan Islam sehingga tak ada satupun orang di sekitarku yang berani meninggalkan kewajibannya kepada Dzat yang sudah menciptakannya..

Ya.. aku tahu, aku hanya belum sepenuhnya bisa menyelami dan memahami peranku yang baru. Peran sebagai seorang abdi negara, seperti halnya Sahabat2 Rasulullah memperjuangkan kekhalifahan Islam dahulu. Aku hanya sedang mencari posisi di mana aku dapat berdiri kokoh, lalu mulai menapak dan melangkah,, tak hanya membawa diriku, namun juga orang2 di sekitarku, orang-orang yang kucintai..

Dengan berbekal memori-memori indah yang kudapatkan atas kehendak Allah Yang Maha Pemurah yang telah berbaik hati membiarkanku mengecap masa-masa indah itu dengan orang2 luar biasa yang dkirimkanNya untuk mendampingiku..aku berani melangkah.. ketika halangan datang, kuingat dahulu ada teman-teman seangkatanku di Mata yang menjalani dauroh bersamaku,, ketika godaan datang, kuingat adik-adikku yang penuh antusias melemparkan pertanyaan pertanyaan, dan ketika malas merayapi jiwaku, kuingat teteh2 dan kakang kakang yang menunjukan militansi dan ruhul istijabah mereka terhadap Allah kepadaku…… aaarggghhhh… aku rindu masa-masa itu,, sangat merindukannya

Teruntuk segenap sosok-sosok luar biasa yang menemani perjalanan dan perjuanganku, yang menorehkan berbagai kenangan indah di hati, jiwa, batinku,, aku ucapkan, terima kasih, jazakumullah khayr,  betapa aku merasakan keimanan yang mengalir dalam jiwaku ketika berukhuwah bersama kalian, maka yang kuyakini hingga saat ini adalah keimanan memang benar2 diturunkan sepaket bersama keimanan.. uhibbukumfillah

wahai ulat kecil

Wahai ulat kecil….
Ketika kau dititis dari sejumput kebahagiaan yang menyertai rasa kasih dari indukmu
Ketika itu sejumput harapan mewarnai perjalanan hidupmu
Sebuah tanggung jawab akan eksistensi peristiwa bernama penciptaan
Tada kata selain kata bernama perjuangan
Karena kau diciptakan bukan atas dasar sembarang alasan
Ada beban besar kau pikul yang harus kau tunaikan
 
Wahai ulat kecil..
Bertarunglah dengan segala dayamu
Berperanglah dengan nista hiruk pikuk kehidupan yang mengarah pada muramnya masa depan
Masa depan sejati, kehidupan setelah kematian
 
Wahai ulat kecil,
Berkembanglah dan bertumbuhlah
Jadilah bijak dalam menanggapi segala peristiwa
Janganlah terjebak dalam semu nafsu dunia
Yang bisa membutakanmu dari sejati kebenaran hakiki
Yang diketahui nuranimu dengan pasti
Tinggalkanlah semua rasa yang bisa dicemburui Sang Penciptamu
Sirnakanlah semua thagut yang bersemayam dalam otak dan jiwamu
 
Wahai ulat kecil,,
Berjalanlah dengan gagah d permukaan maya pada nusantara
Sebuah tanggungjawab telah dengan pertimbangan disimpan di bahumu
Tak ada waktu untuk mengurusi hal kecil
Karena pekerjaan pekerjaanmu adalah pekerjaan orang besar
Sementara waktu yang kau miliki terbatas sedemikian rupa
 
Wahai ulat kecil…
Janganlah terkukung dalam indahnya nyaman posisimu
Beranikanlah dirimu untuk berubah
Menjadi kepompong lalu kupu-kupu
Tugas besarmu adalah mewarnai dunia
Dengan keindahan sayap-sayap iman dan takwamu
Dengan keteguhan kepak-kepak akhlak dan jihadmu
Dengan keluasan berpikir dan imajinasimu
Yang suatu saat akan bisa membawamu menembus batas jagat raya
 
Wahai ulat kecil…
Serahkan dirimu sepenuhnya kepada yang berhak
Pasrahkan segala kehendak pada yang berkuasa
Biarkanlah Dia yang menntutmu dengan caranya
Cara yang biasa membuat kau takjub
Cara yang terbaik yang bisa membuatmu jauh lebih baik dari sebelumnya
 
Wahai ulat kecil,,,,,
Tarikanlah untukNya sebuah tarian yang indah
Tarian perjuangan yang tiada gentar akan kepalsuan nestapa alam raya
Tarian kesungguhan yang menggetarkan zamrud katulistiwa
Tarian yang hanya bisa kau persembahkan ketika kau bersedia menjalani perubahan
Perubahan menjadi seekor kupu kupu tangguh yang tiada rapuh
Bahkan oleh fitrah dirinya sebagai seekor kupu-kupu
 
Wahai ulat kecil…
Aku percaya padamu kau bisa meakukannya.