Hidayah itu Mahal

Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang lalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki. (QS. Ibrahim: 27)

Lingkungan memang memiliki pengaruh dalam pembentukan pribadi seseorang. Dalam dunia psikologi, biasa disebut dengan teori pembelajaran sosial (social learning theory). Dimana interaksi seseorang dengan lingkungannya dapat mempengaruhi karakter seseorang.

Dalam sebuah kisah hikmah yang mungkin kita semua sangat familiar, yaitu kisah seorang pembunuh yang telah membunuh 99 orang, lalu ketika terakhir mau bertaubat, namun ketika dijawab bahwa dosa-dosanya tidak akan di ampuni, maka ia menjadi menggenapkan korbannya menjadi 100 orang, namun terakhirnya, ia bertemu dengan seseorang yang bijak yang menyarankan bahwa jika ia mau bertobat, maka ia harus menginggalkan daerahnya menuju tempat yang lebih baik (dan seterusnya).

Atau kalau kita mau mencermati rubrik konsultasi yang bertemakan tentang taubat, maka salah satu syarat yang mungkin muncul selain menyesali, tidak mengulangi lagi, berbuat kebaikan yang banyak tuk menghapus kesalahan terdahulu, maka syarat yang lain yaitu agar meninggalkan lingkungan yang dapat mempermudah perilaku maksiat/dosa.

Di beberapa kalimat bijak pun kita temui mengenai mengenai peringatan agar kita berhati-hati dalam memilih lingkungan pergaulan, jika kita bergaul dengan penjual parfum, maka kita akan terciprataan wangi harum, namun jika kita bergaul dengan pandai besi, maka kita akan mendapat bau asapnya. Salah satu kalimat yang sering saya dengan yaitu, manusia itu anak dari lingkungannya.

Namun kita perlu berhati-hati, sebab, lingkungan yang kondusif pun tidak serta merta dapat membuat kita menjadi baik, begitupun sebaliknya.

Marilah kita tadaburi kembali kisah mengenai Nabi Luth as. Bisakah kita bayangkan, seorang istri, yang mungkin begitu dekat dengan beliau, pun tidak dapat menyerap sedikit kebaikan yang ada pada diri beliau. Begitu juga dengan kekasih Allah, Nabi Ibrahim as, bagaimana didikan dan perawatan ayahnya yang seorang pembuat berhala, tidak dapat mempengaruhi beliau sedikitpun tuk menjadi seorang ahli tauhid yang didekatkan padaNya.

Begitu pula dengan kisah Nabi Nuh as, bagaimana kedekatan orang-orang yang terdekat sekalipun tidak serta merta menularkan hidayah yang ada pada istri dan anaknya. Maha besar Allah. Begitu pula yang terjadi pada pembela Nabi Muhammad saw diawal perjuangan, Abi Thalib ayahanda Imam Ali ra, bahkan kecintaan Rasulullah pun tidak dapat menggiring hidayah itu tuh menghampiri dirinya.

Maha besar Allah…

Karena itulah, jangan pernah merasa nyaman meskipun kita berada di tengah lingkungan yang kondusif, karena sesungguhnya kita hanya dihisab/dihitung perorangan, pun jangan pula terlalu bersedih jikalau kita berada di tengah lingkungan yang mencekam iman dan Islam kita, karena sesungguhnya Asiah, istri Firaun pun berada dalam jarak yang paling personal dengan sang penantang Tuhan.

Berdoalah agar kita selalu dituntun dalam jalur hidayahnya…
Dan barang siapa yang telah Allah tunjuki, maka takkan ada yang dapat menyesatkannya, meskipun berkumpul seluruh jin dan manusia tuk menyesatinya. Dan barangsiapa telah disesati Allah, maka takkan ada yang dapat menunjukinya, meskipun berkumpul seluruh jin dan manusia tuk menunjukinya.

Tsabbit qulubanna ya Allah… tsabbit qulubanna ya Allah… (amin)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: