Gempa Palu

Udah lama pengen nulis dan tergerak dengan momen adanya gempa 7.4 SR yang menimpa daerah Palu, Sulawesi Tengah. Kematian itu dekat.. teramat dekat yang entah kenapa kita ga sadar-sadar untuk selalu menyadari bahwa dia bisa datang kapan saja dengan bentuk apa saja dan bagaimana kita dilenakkan untuk berbekal. Duh duhai Allah Swt Yang Maha Kuasa Maha Penyayang dan bijaksana,, wafatkanlah kami dalam kondisi mencintaiMu dalam puncak keimanan kami…

Another thing is that Betapa Maha Besar Allah yang menjadikan yang tampak tidak mungkin di mata manusia menjadi mungkin. Likuifaksi,, saya melihat video di mana tanah amblas dan bangunan lenyap di telan bumi membuat saya terpana tak percaya. Betapa mudah Allah membulak balik isi bumi… ga kebayang hari Kiamat nanti, astagfirullah. Udah gitu udah 2 orang senior dan temen Geofisika yang bilang bahwa sesar palu koro pada teorinya tidak akan bisa menimbulkan tsunami sedahsyat itu. Tapi inilah yang terjadi.

Aliran rasa yang lainnya adalah bahwa saya tidak akan pernah mampu membayangkan bagaimana terpisah atau kehilangan orang –orang yang kita sayang sepenuh jiwa raga, anak, suami, orang tua, adik, teman.. sekejap itu bisa terjadi in a very devasating mode. Harta yang dikumpulkan, rumah yang dibangun, tabungan yang disimpan, gelar yang terpampang, semuanya bisa sirna sekejap. Saya gatau gimana para korban yang selamat bisa memulai kehidupan kedua mereka dengan trauma yang melekat, perasaan kehilangan handai taulan dan harta kekayaan,, tapi yakin Allah Yang Maha Kuasa tidak akan memberikan ujian melebihi kapasitas hamba-hambaNya.

Berbekal berbekal, tidak lepas dari dzikir, istighfar mengingat Allah, bersyukur atas apa saja yang Allah beri, serta hidup secara maksimal agar bisa selamat dunia akhirat. Hal-hal tersebut yang menjadi PR yang harus saya isikan selalu ke dalam setiap detik yang saya lalui. Sudah saatnya sadar dan kembali ke kondisi ruhiyah yang terkondisikan, militansi dan ruhul istijabah dengan status yang kini melekat: seorang Ibu dan seorang istri.

Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang,, teraduk aduk melihat korban anak-anak yang selamat namun kehilangan atau terpisah dari kedua orangtuanya. Gabisa dan gamau bayangin pokonya mah. Atau cerita-cerita pilu lainnya dari asatidz di sana, kisah muadzin, para hafidzah yang sedang murajaah hafalan mereka, dan kisah-kisah menyayat hati lainnya yang memang harusnya mempunyai efek tidak temporary dalam pembangkitan kesadaran..

Dan udah gitu, ada analisis-analisis yang lalu muncul seperti adanya perkiraan 57 m tsunami di Pandeglang, atau pergerakan sesar Lembang, juga pergerakan sesar di daerah Jagakarsa dan ntah prediksi apa lagi yang akan muncul.. ada kawatir iya, ga mau bayangin iya, tapi balik lagi ke yang tadi.. dzikir, berbekal, bersyukur, hidup secara maksimal di jalan Allah.. inget lagi slogan nahnu du’at qabla kulli syaiin meski gelar ibu dan istri sudah melekat (toh bukan peran yang saling menghilangkan ituh).

Dan bersyukur,, ini point yang sangat penting yang menghentak kesadaran diri, apapun yang Allah berikan dalam diri kita, itu sudah teramat sangat luar biasa jika kita bandingkan dengan para korban di saya yang semoga Allah memberikan jalan dan kemudahan bagi mereka. Jangan cepet mengeluh.. dan sabar yaaa.. (ini lagi diuji sleepless nights)

Mudah2an meski singkat ini jadi reminder bagi saya.. semoga senantiasa istiqomah di jalanNya.

 

Advertisements

Komprod_1

Komunikasi produktif

Meskipun pernah didaulat sebagai seorang yang ekspresif dan tidak memiliki kesulitan dalam hal mengekspresikan apa yang ada di kepala, tapi ternyata ketika masuk ke dalam dunia pernikahan hal tersebut menjadi tantangan tersendiri. Ditambah lagi dengan kondisi LDM yang dijalani sejak memasuki tahun ke 2 pernikahan kami. Whatsapp dan Skype menjadi andalan logika orang-orang berikhtiyar ini sementara keterkaitan hati semoga tetap bisa terhubung tanpa batas melalui doa dan atas dasar cinta kepada Allah SWT.

Dalam kondisi tersebut saya harus bisa mengeluarkan jurus komunikasi yang efektif dan produktif, meski pada kenyataannya masih suka obral kalimat. Misalnya ketika bayi kami sempet rungsing ga bisa bobo pekan kemarin. Proses penyampaian kondisi yang terjadi, analisis kemungkinan penyebab dan solusi harus bisa keluar karena kalo tidak ya syuseh. Si saya yang bakal riweh sendiri, sementara di belahan Inggris sana mungkin ada kekawatiran yang tidak bisa tersalurkan dengan sempurna.

Saya masih belajar, suami saya pun sama. Kondisi yang terjadi sehingga kami harus menjalani kehidupan yang mengandalkan teknologi internet dan gadget ya mau ga mau itu yang bisa kami manfaatkan.

#hari1
#Gamelevel1
#tantangan10hari
#Komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional

Bunda sebagai agen perubahan

Pepatah mengatakan “mendidik seorang perempuan berarti mendidik sebuah generasi”.. sepenting itulah peran penting seorang Ibu. Kekalutan kondisi masyarakat yang semrawut kini bisa jadi semuanya bermula dari pendidikan yang dijalankan oleh seorang ibu kepada anaknya.. dan si saya sekarang menyadari pentingnya detik   demi detik akan berpengaruh bagi si anak dan si ibunya. .. sepenting itu… dan makanya pantes di Al Quran, Hadits betapa profesi Ibu menjadi satu profesi yang sangat dimuliakan yang balasannya adalah surga.

Tapi tidak hanya si anak dan si ibu juga si ayah yang akan kena dampak dari proses “pendidikan”.. komunitas di sekitar si ibu,, ntah itu komunitas keluarga besar ataupun komunitas yang sifatnya masyarakat.. karena kan pada kenyataannya si ibu tidak lepas dari lingkungan sosial nya… apalagi ibu-ibu yang memiliki amanah di ranah publik.

Tentunya dalam konteks lingkungan sosial di luar “sistem keluarga” tidak akan menjadi prioritas yang lebih utama dibandingkan dengan konteks sistemnya itu sendiri. Tapi tentunya ketika sistem dan lingkungan ini dimanage dengan baik maka impact nya akan sungguh luar biasa. Misalnya sebagian dari kita ada yang bisa berdaya dan memberdayakan ibu-ibu kompleks membuat pengolahan sampah rumah tangga yang bisa menambah nilai jual lebih yang efeknya pada peningkatan kesejahteraan.

Nah berkaca pada kasus saya… karena alhamdulillah diberikan kepercayaan amanah oleh Allah untuk bekerja di ranah publik, maka mungkin inilah yang akan saya jadi aktualisasikan dalam dunia saya… berkutat di bidang biogas membuat saya menyadari arti pentingnya ilmu pengetahuan dan teknologi dalam peningkatan kualitas kehidupan masyaratkat. Masih ingat ketika berkunjung ke Purwokerto-Banyumas dalam rangka peresmian reaktor biogas dari limbah cair tahu yang berfungsi untuk mengolah limbah dan melindungi lingkungan sekitar dari kerusakan yang diakibatkan oleh limbah cair industri kecil dan menengah yang ternyata medapat sambutan sangat hangat dari warga menengah ke bawah yang menikmati hasil biogas yang berupa penghematan mereka untuk tidak membeli gas per bulan. Mereka mengalokasikan penghematan tersebut untuk biaya sekolah anak-anak.

Jadi semoga Allah mengizinkan saya mengemban amanah di sistem keluarga saya namun juga memiliki kebermanfaatan yag barakah dari ilmu saya untuk masyarakat Indonesia… bermanfaat untuk ummat

MISI HIDUP DAN PRODUKTIVITAS

Tidak akan tinggi derajat pahala menjadi seorang ibu dan istri jika memang perkerjaan yang dilakukan adalah mudah. Pahala nya surga! Jadi effort nya juga effort effort surgawi.. bukan hal yang mudah… masyaAllah.

Itulah yang kemudian saya rasakan dengan intensitas yang signifikantly increasing hehe.. bertiga dengan Naya dan Paksu selama beberapa minggu terakhir adalah hal amazing yang sangat luar biasa yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. La iya.. sebulan pertama Naya, paksu  masih ada di Indonesia, tapi kami tinggal di tempat mamah ma abah. Trus abah Naya berangkat tinggallah saya ma keluarga di Cipanas, berlanjut di Serpong disambil menjalankan tugas negara.

Di masa inilah saya menyadari betapa complicated management yang masih saya jalani saat ini. Masih keteteran di sana sini. Masih long way to go buat bisa jadi ibu produktif dan handal. Tapi insyaAllah complicated nya ini tidak membuat saya menyerah toh.. terus belajar dan belajar……dan belajar ini juga butuh effort luar biasa….butuh waktu energi dan tenaga.

untuk menjalankan peran sebagai ibu yang maksimal, plus sebagai istri.. saya pun mengalami bagaimana harus men’delegasi’kan tugas menyiapkan masakan ke gofood hehe..ada waktu watu di mana buat masak aja ga kepegang.. hehehe…

Terkait hal ini, di tulisan sebelumnya si saya yang belajar menganalisis kekuatan sendiri mencoba lagi mem-breakdown apa2 yang harus saya lakukan ke depannya. Misalnya si saya yang menyukai dunia tulis menulis dan sebenarnya bisa aja mulai menseriuskannya sih (pernah nulis di kompasiana dan masuk dong kategori headlines dan favorit–artinya sebenarnya sudah mulai punya pengakuan dari luar lingkaran sendiri). Memang dari dulunya pernah punya cita-cita jadi penulis buku dan artikel ntah yang sifatnya akademik, sains populer maupun genre umum. Mental yang harus dimiliki oleh penulis mungkin sama pada dasarnya dengan mental2 profesi lain.. pun dg profesi sebgai seorang ibu. kuat, tekad membaja, kreatif, baik dalam manajemen, konsisten, berkomiten kuat, daaan lain sebagainya.. Nah untuk bisa kaya gitu? yang jelas terus belajar, berusaha… bikin plan dan targetan yang baik, terukur, dan tentu dibarengi dengan kekuatan mengeksekusi apa2 yg sudah direncanakan.. dan untuk ini.. saya merasa Allah sudah memberikan anugerah modal yang harusya bisa saya optimalkan…

nah seperti yang saya ungkit di paragraf sebelumnya. untuk bisa menjadi apa yang diinginkan ya harus seenggaknya punya plan yang baik dan target yang bisa dicapai. Yang ingin saya  capai dalam kurun waktu kehidupan (lifetime purpose) simply is kehidupan yang barakah, bermanfaat, mendapat cinta ridho Allah atas apapun yang kemudian diberikan ke saya.. (profesi ibu, istri, anak, kakak, ASN, dst). Dan yang ingin saya capai dalam kurun waktu 5-10 tahunke depan ( strategic plan) adalah optimalnya golden period Naya, kehidupan rumah tangga yang samawa, amanah ASN yang diemban secara optimal, dan lulus S3. Lalu, yang ingin saya capai dalam kurun waktu satu tahun ( new year resolution) adalah maksimalnya saya menjalani peran sebagai mamah Naya dan istri dari  suami,  saya (mungkin msh dlm status LDR), dpt S3 plus beasiswany ke Inggris tentu hehehe….

 

Menuju Ibu yang Produktif, Fokus pada Kekuatan Siasati Keterbatasan

Menjalani sepekan dalam kondisi dibersamai suami memberikan gambaran kondisi semi real how I should manage my activity.  Intinya si saya harus setrong bingit pake bingit dan kuat dan jago ngatur diri dan aktifitas di rumah. Beneran ya,, namanya jadi seorang istri dan seorang ibu teh memang pekerjaan yang sangat sangat luar biasa to the point that balasan buat yang sukes menjalani peran tersebut adalah surga.

Dikaitkan dengan tulisan saya sebelumnya tentang bagaimana si saya belajar jadi ibu yang handal, pekan ini dikasih tahu fasilitas yang bisa dipake buat menganalisis potensi diri untuk memaksimalkan peran jadi seorang Ibu yang profesional. Karena manusia adalah makhluk tidak sempurna.. adaaa aja kurangnya… dan tidak semua hal bisa diketahui dan dilakukan.. makanya tagline pada judul ini yang juga katanya bisa jadi solusi yaitu “fokus pada kekuatan siasati keterbatasan”.

Firstly, izinkan saya share hasil analisis dari ST30 yang sudah pernah saya lakukan pekan lalu di website temubakat.com.

iin's strength

Personal Branding

Strength Cluster

Potensi Kelemahan saya ialah :
1. ADM – ADMINISTRATOR
2. AMB – AMBASSADOR
3. ARR – ARRANGER
4. DIS – DISTRIBUTOR
5. RES – RESTORER
6. TRE – TREASURY

IIN PARLINA, anda adalah orang yang berani menghadapi orang secara empat mata,keras kepala, berani mengambil alih tanggung jawab , banyak ideanya baik yang belum pernah ada maupun dari pikiran lateralnya , selain memiliki sifat analitis juga banyak idea , senang mengkomunikasi ideanya , suka mengumpulkan berbagai informasi atau teratur , senang memotivasi dengan berbagai cara ada yang melalui sifat periangnya ada yang melalui sifat empatinya ada juga karena selalu ingin memajukan orang lain , suka berhubungan dengan orang , baik utk mempengaruhi, bekerjasama atau melayani, dan bertanggung jawab , senang menggabung-gabung kan beberapa teori atau temuan menjadi suatu temuan baru.

Itulah bunyi hasil ST30 yang saya dapatkan. Well yes sebagian besar saya akui kebenarannya misalnya si saya yang paling anti soal administrasi atau soal keuangan. ini yang kemudian menjadi PR besar bagaimana si saya manage keuangan si saya dan keluarga hehhee… so far mah jago sih soal hemat2an tapi untuk manage dalam kondisi overall rada suka gimanaa gitu. Trus bener juga sih soal ide.. misalnya kalo di kerjaan idenya memang suka agak banyak hehhe.. oiya dan satu hal yang paling saya jago kayanya dan ini saya akui adalah how I collect data… seriusan.. jangan tanya kalo soal ngumpulin literatur, jurnal, artikel dst.. hihi… (kalo yang kaya gini mah banyak ya…), tapi sayangnya kurang bisa ngelola kalo udah kekumpul wkkwkw…. Nah tapi ada yang ga benernya juga sih.. si saya katanya seller tapi paling gabisa dan ga suka jualan hehe. designer yess.. journalist juga yess..

Oiya,,, dulu pernah ikut talent mappig juga,.. ini hasilnya:

  1. Relator
  2. Developer
  3. Empathy
  4. Positivity
  5. Connectedness
  6. Learner
  7. Intellection
  8. Input
  9. Communication
  10. Achiever
  11. Analyctical
  12. Futuristic
  13. Ideation
  14. Woo
  15. Focus
  16. Activator
  17. Maximizer
  18. Adaptability
  19. Significance
  20. Restorative
  21. Belief
  22. Strategic
  23. Command
  24. Individualization
  25. Harmony
  26. Arranger
  27. Responsibility
  28. Self-assurance
  29. Consistency
  30. Includer
  31. Discipline
  32. Competition
  33. Deliberative
  34. Context

Keliatan banget si saya kurang disiplin hehhehe…

Oiya. selain soal temubakat, diminta menganalisis kuadran bisasuka juga seperti yang tergambar di bawah ini:

kuadran

Well.. itu piranti-piranti yang bisa digunakan untuk menganalisis diri.. selanjutnya yang penting adalah mem-follow up si analisis ini menjadi landasan yang bisa jadi kekuatan untuk mengoptimalkan peran. Percuma dibikin kalo ga dipake.. intinya mah gitu hehe,.

nah,, si saya juga masih dalam kondisi belajar bagaimana bisa nih si saya mengoptimalkan potensi saya dengan segala keterbatasan yang saya miliki… selalu mencoba berusaha.. tapi ya kembali ke laa hawla wa laa quwwata illa billah.. sungguh segala kekuatan datang dari Allah.. hanya kepadaNya lah semua kembali dan kepadaNya lah saya memohon perlindungan…………………

Belajar menjadi Ibu manager keluarga Handal!!

 

Apa yang kebayang di benak ketika mndengar kalimat ini? Bagi yang menjalani profesi sebagai ibu pasti tahu betapa sulit dan menantangnya menjadi seorang yang mampu memanage dengan baik semua amanah dan kegiatan yang menjadi kewajiban.. baik itu ibu yang bekerja di area domestik maupun yang ibu yang juga bekerja di ranah publik. Ini para ibu yang berada di ranah publik juga harus bisa jago manage aktifitas di domestik juga kan.. karena mau ga mau hihi,  itu kan yang menjadi seorang ibu adalah ibu.

Kalo membicarakan tugas seorang manager.. emangnya apa yang di-manage oleh seorang ibu? Hayoo siapa mau jawab? Wkwkwk… well seorang ibu tak hanya memanage kehidupannya, jadwal aktifitasnya, tapi juga memanage orang-orang terkasihnya,, suami dan anak menjadi sebuah sistem kompleks yang disebut rumah tangga. ga cuman aktifitas diri, tapi juga memikirkan waktu bermain anak, kapan masak dan belanja untuk mempersiapkan asupan terbaik suami dan anak, juga memikirkan bagaimana pengaturan keuangan supaya semuanya tetap in control antara kebutuhan dan keinginan..

Tampak ribet dan kompleks ya? Makanya itulah ibu juga adalah sebuah profesi yang membutuhkan ilmu dan kekuatan. Ilmu untuknya bisa mencari bagaimana memanage semua amanah dan kewajibannya dengan efektif, efisien, dan optimal. Kekuatan untuk stay happy, stay strong, stay calm, stay professional.. kekuatan yang bersumber dari motivasi terkuatnya menjadi seorang ibu.. kekuatan yang diperolehnya dari Allah lewat amalan-amalan yang membuatnya tetap sadar akan peran Allah di atas segalanya,juga dari cinta yang didapatnya dari yang terkasih,, suami dan anak….

Untuk bisa menjadi seorang manager handal? Ya itu tadi,,, ilmunya, juga kekuatannya harus memadai. Profesi ibu adalah sebuah profesi yang menuntut pembelajaran maksimal yang diikuti oleh eksekusi yang harus jago karena kadang realita jauh lebih kompleks daripada teori heheh..it is a never ending learning process.  Coba aja bayangkan, teori ilmu ngedidik bayi 3 bulan, 6 bulan, 1 tahun, 6 tahun akan berbeda bukan.. sang ibu harus up to date dengan perkembangan anak dan mengimbanginya dengan respon terbaik untuk memberikan pendidikan dan pengasuhan yang tepat dan maksimal. Well yes as I said in my previous post that Allah ngasih seorang Ibu sebuah amanah menjadi Ibu tentu dengan dibekali natural skill ma keinginan belajar terus yang akan membantu proses si nurturing anak dengan baik? Tapi again, ini si keinginan akan mencari muara pembelajaran untuk membuatnya bisa mengemban amanah secara maksimal (duh banyak redundancy kata maksimal nih wkkwkw)

Nah si saya?

Beneran deh, jadi ibu teh bikin saya juga cukup jungkir balik.. selalu pengen yang terbaik kadang harus nerima kalo ternyata ideal ga bisa teraih hehe.. dan itupun dalam kondisi Allah masih ngasih saya pembelajaran satu satu.. misalnya ini pas MPASI, pengennya mah bisa nurutin jadwal yang sudah direbcanakan…tapi apa daya pas pelaksanaan kadang bikin galau hihi… (ga galau amat sih)… msalnya pas Naya di jadwal makan malah bobo, atau muntah-muntahin alpuket. Sejauh ini masih bisa ngejar buat ngasih MPASI naya langsung sendiri hehe.. tapi gatau ini sampe kapan haha… Nah kemarin-kemarin si saya Allah takdirkan untuk

Intinya si saya masih belajar belajar dan belajar… makanya ikutan IIP juga salah satunya pengen serius belajarnya hehe.

Nah,,, terkait manager lagi.. bahas ini harusnya memang komprehensif sih, karena yang dimanage ga Cuma aktivitas, tapi keuangan dll. Tapi d tulisan ini dipersempit dulu untuk membahas aktifitas aja. Managemen aktifitas dan waktu yang tersedia… paling ngga handal dulu di sini dengan harapan akan bisa handal di aspek-aspek yang lainnya.

Pertama, mau evaluasi dulu selama ini yang menjadi aktivitas rutin saya apa? Mana yang penting mana yang ngga? Mana yang tahu bahwa itu akan memberikan manfaat dan mana yang ngga.. ada juga soalnya,, meski tahu itu ga penting tapi tetep dilakuin hehe.

Tiga aktifitas terpenting saya saat ini adalah: (urutan tidak berdasar prioritas, karena level pentingnya sama)

  1. Ibadah mahdhah… ini yang jadi sumber kuat saya, yang jadi pengikat saya sama Allah, atau juga yang ngikat saya sama Naya juga sama yang di Inggris sana. Meskipun ada amalan yaumian yang jadi target,, in reality meski ada bolong2, tapi tetep diusahakan untuk bisa dilakukan.
  2. Mengasuh dan mendidik Naya: ini termasuk semaksimal mungkin ngasih asupan terbaik ASI dan MPASI, Stimulasi perkembangan kognitif, motorik, sensorik, sosial dll nya Naya dengan media yang ada.
  3. Melaksanakan amanah di ranah publik sebagai seorang perekayasa tingkat muda di BPPT.

Trus itu suaminya gimana? Prioritas dong. Tapi yang disertakan kan Cuma 3 nih.. selain itu di point no 2 mudah2n terakomodasi dalam aspek pendidikan. Maksudnya, melibatkan suami secara maksimal dalam pengasuhan Naya. Well kalo inisih ga diminta juga beliau nya juga sudah turn in sendiri. Lagipula Hihi.. per 2 Maret 2018, samudera dan benua masih memisahkan kami.

Nah tiga aktifitas tidak penting yang saya masih lakukan:

  1. . IG ma FB terutama.. Cuma scroll scroll scroll tapi cuku ngabisin waktu ternyata.
  2. Misalnya lagi butuh sendok silikon.. itu yang namanya scrolling buat cari harga termurah dengan kualitas paling oke ternyata ngabisin waktu. Padahal mah mungkin kalo cuss langsung cek out aja bisa… waktu adalah uang wkwkwk….
  3. Ngobrol di kantor yang ga ada manfaatnya.

Sebenarnya banyak habisnya di 2 point paling pertama sih..so far alhamdulillah masih kejaga selain ngelakuim 2 point itu. Soalnya kalo no 3 mah jarang juga sih karena obrolan biasanya ada aja manfaatnya.. haha.. (alhamdulillah banget ga suka nonton hahaha)

Ada juga aktifitas penting yang nyita waktu nih.. misalnya bersihin botol asi.. makanya seneng sebenarnya pake kantong asi, soalnya waktu nyuci bisa dipake maen sama naya. Tapi kan ga boleh terlalu ngandelin kantong asi juga tho.. fifty fifty deh.. sama beres-beres, nyuci setrika. Kalo masak sih biasanya yang cepet2 aja. Kalo ga sempet mau gamau beli deh hehehe.

Nah si 2 point tidak penting ini nih mudah2an ke depannya alokasi waktunya bisa dipake buat yang penting yang lainnya.

Satu point yang mau saya sorot soal dinamika adalah,, yang namanya manusia ya kehidupannya penuh dinamika. Ini si saya sekarang lagi MPASI di menu tunggal… dengan kondisi suami di Inggris.. nah.. per saya nulis ini,suami saya lagi terbang dari Londong menuju Jakarta dalam rangka pengurusan visanya. Hihi…. tentunya aktifitasnya harus menyesuaikan kalo suami udah di sini lagi..ya meskipun Cuma sebentar…dan Ummi ceunah katanya mau pulang hihi.. jadilah sebulan ini adalah miniatur my real life.. (bukan real life 100% karena suami kan masih belm beres s3 nya,, nanti kalo udah beneran balik dr UK, kembali ke reallifenya sebagai dosen baru deh)

Tapi ga ada salahnya ini si saya jadi bikin jadwal buat sebulan ke depan. Abis sebulan kayanya ganti hehehe…

03.00-05.00 QL, nyiapin makan dan MPASI naya. Shalat shubuh, mandi,

06.00-07.00 siap-siap mandi, nyiapin sarapan suami ma bekel makan, nyimpen mpasi naya di kulkas

07.00-07.30 berangkat berjuang (suami dan saya sepakat ga pake kata “kerja” hehehe)

07.30-11.30 berjuang

11.30-12.45 pulang ke rumah ngasih MPASI, ASI,

12.45 13.10 berangkat lagi

16.15 pulang

16.30 masukin asip ke kulkas, beresin botol dot, nyiapin snack MPASI Naya, ngasih MPASI,

17.00 Masak makan malam

18.00-19.00 shalat maghrib, isa, tilawah bareng Naya atau ngobrol ma suami

19.00-20.00 makan malam..

20.00 me time.. baca buku tentang pendidikan atau sejenisnya

20.30 bersihin dot susu dan ngelapin ampe kering.

21.00 istirahat

Beres-beres, nyuci, setrika, belanja akan ngambil waktu di weekend ajah

 

Manusia Cuma bisa berencana… sianya ya Allah yang Maha Berkehendak. Tapi stick dulu cobain plan ini.. ^___^ moga istiqamah

 

Sistem Pembelajaran Orang tua dan Bagaimana Pengaruhnya

Setelah sebelumnya melakukan analisis kecil-kecilan untuk melihat how kekuatan fitrah seorang Ibu menjadi penting dalam dunia pendidikan dan pengasuhan anak-anaknya. Di sini akan coba dilihat bagaimana kekuatan fitrah itu diejawantahkan menjadi sebuah bentuk sistem pembelajaran. Dan si tulisan kecil ini hanyalah sebuah pemikiran yang mungkin agak dangkal juga sih.. tapi paling tidak sudah mampir di kepala dan kalo buat saya layak ditulis biar ga lupa hehe.

Ketika sepasang orang tua terutama Ibu mendapat gelar ibu mulai dari adanya janin dalam kandungannya, maka saya  yakin Allah mengaruniakan kepadanya kemampuan dan fitrah untuk menjadi Ibu.. dalam hal ini kemampuanmenjadi seorang ibu seems to be a fitrah for me. Well yes sih.. wong dulu ketika zaman purba ga ada dokumentasi ilmu parenting secanggih sekarang, tapi buktinya bapak ibu zaman dulu mampu mendidik dan membina putera puterinya dengan sebaik mungkin. Maka saya katakan itu adalah natural skill aka fitrah yang Allah titipkan bersama lahirnya calon manusia baru ke dunia. Namun…. nah ada namunnya. Natural skill ini akan semakin terasah dan teroptimalkan ketika ada sistem pembelajaran yang dilakukan si orang tua.

Recent research tells us that parenting is not necessarily a natural skill and most parents would benefit from some degree of instruction. Begitu katanya.. well yes.. di Kanada nih, ada program-program parenting khusus yang memang didedikasikan untuk membekali para calon orang tua untuk membantu  mereka belajar dan membangun style parenting positif, skill, dan tingkah laku.

Misalnya dari pembelajaran ini bisa membantu orang tua membangun kemampuan kecerdasan emosional anak,  juga kecerdasan sosial dan kognitif mereka, dan bagaimana praktek parenting yang efektif itu.

Parenting sendiri dapat didefinisikan secara sederhana menjadi 2 dimensi penting yaitu,

  1. Responsiveness: bagaimana orang tua mangasuh dan mendidik anak, kemampuan mereka menanggapi kebutuhan dan interest si anak
  2. Kontrol: bagaimana orang tua bisa men-supervisi dan mendisiplinkan sang anak.

Tapi memang pada kenyataannya bisa tak semudah mengakomodasi 2 hal tersebut, karena ada banyak sekali komponen yang terlibat. Di sinilah letak pembelajaran juga mengambil peran.

Bagi saya sendiri, sistem pembelajaran untuk parenting pun pada dasarnya akan mengikuti pola yang biasa saya terapkan untukbelajar ilmu pada umumnya. Namun memang, karena halnya ini menyangkut sebuah kehidupan dan makhluk Allah yang mungil lucu luar biasa, ada pendekatan pendekatan lain yang disesuaikan (mungkin juga mengikuti si “natural skill” atau pun menerapkan hasil belajar menjadi orang tua). Dan biasanya tahapan yang saya tempuh terdiri dari:

  1. Pengumpulan informasi
  2. Implementasi
  3. Evaluasi

Pengumpulan informasi dilakukan misalnya dengan mengumpulkan referensi yang terpercaya berupa buku, artikel, dan juga hasil diskusi dengan praktisi yang lebih berpengalaman. Implementasi adalah bagaimana si saya mengeksekusi ke dalam bentuk interaksi terhadap objek yang bersangkutan dan evaluasi adalah untuk melihat bagaimana sistem informasi yang telah saya kumpulkan bekerja secara baik dan melihat dari sisi mana hal halimplementasi atau dasar ilmu yang saya tahu harus diimprov lagi.

Untuk case yang saya hadapi sekarang, berhubung Naya juga masih 6 bulan maka timeline pembelajaran yang saya set adalah kurang lebih sbb:

  1. mengumpulkan referensi terbaik, misalnya mengikuti perkembangan Naya “what to expect for the first year”, dilanjutkan “what to expect for the second year”. membekali diri dengan pengetahuan parenting berbasis nubuwah dengan membaca “prophetic parenting” dan sejenisnya
  2. menggunakan fasilitas online course yang tersedia misalnya: https://www.coursera.org/learn/everyday-parenting

tentunya timeline dari bahan-bahan ini harus diatur sedemikian rupa sehingga pada implementasinya bisa optimal yang mengarah pada kemajuan perkembangan naya secara motorik, sensorik, kognitif, sosial secara efektif.

Referensi:

Anynomous (2008). Parenting styles, behaviour and skills and their impact on young children      , Early Childhood Learning Knowledge Centre, Kanada

Mendidik dengan kekuatan fitrah

Ada yang menarik dari diskusi yang selalu mewarnai obrolan saya dengan suami ketika saya pada masa hamil dulu. Hal itu adalah tentang betapa intens saya belajar dari berbagai sumber referensi yang sebenarnya reliable mengenai kehamilan saya. Tulisan ini pernah diupload sih hehe,, tapi akan saya mentioned dikit karena ada kaitannya dengan apa yang ingin dituliskan di sini. Perbandingan orang dulu dengan orang sekarang dalam menghadapi dunia salah satunya adalah penggunaan referensi (dalam hal ini internet) untuk menghadapi dunia mereka. Sementara orang tua zaman dulu, mana ada gawai dengan segala isinya yang terkadang overwhelming yang membuat mereka membina dan mendidik anak-anaknya dengan kekuatan fitrah yang mereka miliki yang disesuaikan dengan fitrah si anak. Suami sering mencontohkan mamah mertua yang mampu mendidik ke-12 anaknya hingga seperti sekarang, sementara saya pun ga jauh-jauh melihat bagaimana ummi dan Bapak saya membesarkan saya sekarang. Semuanya tanpa gawai. Ada campur tangan Allah tentunya dalam setiap detik yang mereka jalani dalam membimbing kami. Oleh karena itulah mengapa keshalihan orang tua teh begitu penting, karena itu modal terbesar dalam bagaimana melibatkan Allah dalam mendidik anak-anak.

Dengan peran sebagai Ibu yang menjadi amanah dan kodrat terbesar, tentu bekal ilmu pengetahuan tentang hal tersebut di universitas kehidupan ini menjadi hal yang paling utama. Usaha untuk memperkaya diri dengan diskusi dengan Ummi ataupun mamah (seminggu sekali) ataupun para senior moms yang mempunyai pengalaman yang lebih banyak adalah hal yang saat ini rutin mengisi hari-hari saya, selain tentunya referensi-referensi dari sumber terpercaya (acuan primer dan sekunder wkkwkw).  Peran saya sebagai Ibu dan istri ini menjadi sedemikian pentingnya bagi saya mengingat mendidik Naya berarti mendidik calon ibu, mendidik satu generasi. Sementara mendampingi suami (meskipun dalam status ldm) berarti si saya mensupport peran utama beliau sebagai seorang imam juga untuk pencapaian tujuan ukhrawinya yang berada dalam bentuk profesionalisme pekerjaannya sebagai dosen dan peneliti. Namun di samping peran tersebut, peran saya ke luar sebagai seseorang yang menyadari pentingnya aktualisasi ilmu untuk kebangkitan ummat (dalam hal ini mengerucut kepada ilmu kemurgi dan energy baru terbarukan) juga saya rasakan masih tetap harus dijaga semangatnya… well yes meskipun menjadi prioritas sekian.. bagaimana saya menyeimbangkannya itu yang selalu menjadi PR setiap saat baik dalam tataran pemikiran maupun eksekusi pelaksanaan.

Terkait point 1 yang telah saya sampaikan di bagian pertama tentang how keshalihan menjadi factor yang sangat penting dalam pencapaian peran saya telah saya jelaskan di tulisan saya sebelumnya (tulisan “indicator profesionalisme Ibu) bagaiman kemudian itu diejawantahkan menjadi point-point amalan yaumian yang sebisa mungkin saya penuhi. Bagaimana pun itu adalah ruh dan bahan bakar yang coba saya jaga terus meskipun pada pelaksanaannya ada kendala yang menjadi dinamika. Selain point amalan yaumian, penekanan memisahkan mood antara pekerjaan di ranah public dengan di rumah tangga juga Alhamdulillah sejauh ini aman. Pemisahan ini tidak berarti tidak membicarakan sama sekali.. titik tekan diskusi saya dan suami ada pada pengaruh mood dan suasana kebatinan yang terjadi di 2 ranah untuk tidak saling bercampur dan saling mengacaukan. Juga pada peningkatan aktualisasi diri di kedua ranah,,, masih terus saya usahakan… it is really a learning process..

As mentioned before (see paragraph 2 wkkwkw—btw ini ala2 gini nulisnya deh haha).  peran terbesar saya sebagai seorang Ibu dan seorang istri adalah prioritas utama. Peran mendidik seorang Naya yang insyaallah juga sebagai calon ibu, calon mujahidah tangguh shalihah kesayangan Allah adalah hal yang jelas tidak bisa dianggap remeh yang selalu harus saya bisa perhatikan setiap saat. While, mendampingi pak suami dan mendorongnya mendukungnya dengan segala yang saya bisa lakukan juga adalah hal yang sangat krusial.. profesi ranah public yang diemban paksu adalah peran yang sangat krusial di dunia kebermanfaatan terhadap masyarakat. Dan menjadi orang yang selalu setia mendukung setiap aktifitasnya adalah hal yang tentunya besar. Dan tentunya peran ranah public yang saya emban sendiri untuk menjadi seroang peneliti/perekayasa yang bisa mengoptimalkan penggunaan otak tenaga dan pikiran untuk memikirkan bagaimana masyarakat (ummat muslim Indonesia) sejahtera dan optimal dalam pengelolaan sumber daya alam yang Allah karuniakan secara luar biasa.

Terkait dengan hal tersebut, tentunya ilmu-ilmu ini bisa dikerucutkan menjadi ilmu dasar pengelolaan keluarga dan rumah tangga berdasarkan quran sunnah, termasuk di dalamnya bagaimana menjadi ibu dan istri yang shalihah dan optimal dalam melakukan pendidikan di dalam keluarga. Juga managemen keuangan dst. Untuk pengembanan peran ranah public, masih dengan ilmu kemurgi dan energy baru terbarukan. Suami mendukung yess dan saya pun yakin mudah2an Allah selalu membimbing langkah si saya.

Adapun untuk mencapai ini semua, tahapan yang mungkin saya lakukan adalah sbb:

Tahun 1 :

  1. Mempelajari tahap dasar perkembangan anak tahun pertama (misalnya baca what to expect in the first year, dan sejenisnya)
  2. Memberikan asupan makanan terbaik (ASI dan MPASI tahun pertama)
  3. Melakukan pendampingan dan pengasuhan pembelajaran tahun pertama secara maksimal
  4. Memenuhi kebutuhan afeksi, emosi, dan optimalisasi perkembangan otak tahun pertama
  5. Semakin terampil dalam alokasi dan manajemen keuangan rumah tangga
  6. Untuk ranah public: siap2 mengencangkan ikat pinggang untuk persiapan beasiswa S3 ^_^, juga rajin menulis KTI untuk dipublikasikan melalui jurnal nasional terakreditasi dan juga seminar nasional

Tahun 2:

  1. Mempelajari tahap dasar perkembangan anak tahun kedua (misalnya baca what to expect in the second year, dan sejenisnya)
  2. Memberikan asupan makanan terbaik (ASI dan MPASI tahun kedua)
  3. Melakukan pendampingan dan pengasuhan pembelajaran tahun kedua secara maksimal
  4. Memenuhi kebutuhan afeksi, emosi, dan optimalisasi perkembangan otak tahun kedua
  5. Semakin terampil dalam alokasi dan manajemen keuangan rumah tangga
  6. Untuk ranah public: jika Allah mengizinkan udah bisa menyusul suami ke Inggris dalam status calon mahasiswa S3

Tahun 3

  1. Mempelajari tahap dasar perkembangan anak tahun ketiga dan seterusnya
  2. Memberikan asupan makanan terbaik
  3. Menyapih dengan cinta
  4. Melakukan pendampingan dan pengasuhan pembelajaran tahun ketiga secara maksimal
  5. Memenuhi kebutuhan afeksi, emosi, dan optimalisasi perkembangan otak tahun ketiga
  6. Semakin terampil dalam alokasi dan manajemen keuangan rumah tangga
  7. Untuk ranah public: jika Allah mengizinkan udah bisa jadi a phd mom

Tahun 4

  1. Mempelajari tahap dasar perkembangan anak tahun keempat dan seterusnya
  2. Memberikan asupan makanan terbaik
  3. Melakukan pendampingan dan pengasuhan pembelajaran tahun keempat secara maksimal
  4. Memenuhi kebutuhan afeksi, emosi, dan optimalisasi perkembangan otak tahun keempat
  5. Semakin terampil dalam alokasi dan manajemen keuangan rumah tangga
  6. Untuk ranah public: jika Allah mengizinkan, semoga bisa menjalankan peran sebagai a phd mom mendampingi suami yang hampir selesai studinya

Rencana adalah rencana… Allah lah sebaik-baik pembuat rencana dan yang BERKEHENDAK semuanya bisa dijalankan. Plus lagi manusia hidup dengan dinamika dan Allah adalah sebaik-baik pembuat scenario. Siapa tahu ada kejutan2 lain juga nanti hehe.. tapi so far ini yang bisa saya pikirkan sementara.. saya tuliskan untuk memperkuat tekad saya, semoga saja Allah meridhai.

Well… judul tulisannya adalah mendidik dengan kekuatan fitrah.. di sini saya menekankan pada penguatan fitrah saya sendiri sebagai ibu yang disesuaikan dengan fitrah Naya sebagai anak.. untuk pencapaiannya banyak belajar, banyak nimba ilmu,, sehingga pas pelaksanaan bisa maksimal…

 

Wallahu a’lam bis shawab

Membangun Peradaban dari dalam Rumah

Peradaban.. adalah salah satu kata yang sebenarnya muncul di biodata taaruf saya. Maksud menikah yang saya utarakan di dalam berkasi tersebut salah satunya adalah membangun peradaban yang dimulai dari saya yang dibimbing suami dan juga anak2.. begitulah cita-cita saya dulu yang mungkin sambil membayangkan bagaimana real langkahnya. Kenyataannya setelah menikah,the real challenge and effort keluarga kecil saya is really something.. tak semudah diucapkan tapi tak lantas dilupakan. Ada nafas-nafas perjuangan yang keluar dalam dinamika peran kami di keluarga dan di ranah luar yang harus coba kami sinergiskan. Belum lagi 2 karakter dengan latar belakang keluarga dan budaya yang berbeda menjadi satu warna menarik yang menjadikan kisah yang kami rasakan menjadi satu rasa tersendiri yang saya yakini sebagai takdir Allah yang selalu harus disyukuri.

Tim pembangun peradaban dari keluarga yang Allah takdirkan dibentuk sejak akad 29 september 2016 lalu pada awalnya terdiri dari suami dan si saya, yang kemudian Allah mengaruniakan si kecil Naya yang kini sedang bersiap mengawali langkahnya untuk MPASI,,, another milestone for her. Berbekal potensi, kurang dan lebih masing-masing dari kami, harapannya peradaban itu benar-benar bisa kami bangun…

The leader dari tim ini, siapa lagi kalo pak suami yang ganteng dan sholeh, dengan segala karisma dan outstanding knowledge beliau di bidang agama yang jauuuuuh melebihi saya, plus kekuatan kepemimpinan yang beliau punya secara alami (karena menjadi kakak tertua dari 12 bersaudara) juga yang merupakan hasil bentukan organisasi menjadi satu rangkaian potensi yang begitu saya syukuri akan kehadirannya. Dia yang selalu mengusahakan yang terbaik, membersamai dalam lintas ruang dan waktu meski terbentang jarak samudera dan benua di antara kami… yang pas bikin surat (malu kalo disebut surat cinta) bikin degdegan dan ada rasa takut menyelinap haha…yang dikangeni dan dirindui tapi terasa tak sedetik pun meninggalkan perannya sebagai imam besar di tim ini.

Ada si kecil Naya juga yang sudah mulai menapaki satu per satu milestones nya. Yang udah keliatan suka warna apa dan hobinya apa (haha dont say these are menyusu, tidur, dan maen wkwkwk). Si kecil yang di masa depan diharapkan akan menjadi seorang muslimah shalihah tangguh yang bisa membawa cahaya untuk kegelapan hati-hati manusia…menjadi pertolongan yang membahagiakan bagi saya, suami, keluarga besar, sahabat2nya nanti dan juga umat dalam arti luas.

Dan tentu timnya ada si saya yang lagi nulis ini sambil mikir keras ini gimana realisasinya hihi… seorang wanita biasa yang dibesarkan dalam lingkungan biasa namun sebenarnya punya daya juang yang oke punya hahaha… (mampu membuktikan bahwa anak seroang buruh bangunan bisa kuliah S2 di Amerika wkkww), penyemangat, jago banget dah kalo udah ngomongin ngumpulin bahan (meski bisa jadi ga semua bahan kepake wkkww), ramah, ekspresif dan mau belajar…

Dan alhamdulillah ada faktor luar yang juga mendukung perjuangan kami. Pak suami yang berkutat di bidang penelitian dan akademis universitas, while si saya yang juga seorang abdi negara di lingkungan litbang pemerintah menjadi satu faktor kemiripan yang alhamdulillah mendukung aktifitas profesi kami yang betapa diingini menjadi ladang aktualisasi pertanggungjawaban atas akal, jiwa, dan jasad yang Allah titipkan untuk kami bisa kontribusi. Selain itu keluarga pun mendukung. Background keluarga suami yang alhamdulillah masyaAllah, dan keluarga saya yang hanif juga. Plus kesamaan kemiripan aliran diantara 2 keluarga yang juga kami rasakan sedemikian supportif atas perjuangan kami.

Ketiga anggota tim ini tentunya harus sinkron dan sinergis luar dalam bukan? Hope so. Makana mohon doa selalu ya

Indikator Ibu Profesional

Siapa di antara kita yang ketika masa kecilnya ditanya tentang cita-citanya, maka jawabannya adalah menjadi seorang ibu? Adakah? Kalo ada berapa persen di antara anak-anak Indonesia yang perempuan yang menjadikan “ibu” sebagai profesi yang dicita-citakan? Saya pun ingat bahwa saya bukan menjadi bagian tersebut. Saya ingat saya menjawab cita-cita saya adalah guru.

Menurut saya, jawaban dari pertanyaan ini bisa mngindikasikan 2 hal. Pertama adalah tidak dianggapnya profesi ibu sebagai profesi yang sejajar dengan “dokter”, “guru”, “insinyur, pilot dan sederetan cita-cita lainnya. Kedua, profesi Ibu dianggap sebagai suatu fitrah yang memang akan ditempuh setiap wanita sehingga tidak masuk kategori sebuah profesi. Lalu memang profesi itu apa? Pekerjaan yang mendatangkan uang? Luas pisan ya bahasannya… saya aja mikir ini bukan main complicated ternyata wkwkkww.

Well, saya coba persempit dulu bahasannya kali ya. Pembahasan ibu sebagai profesi yang “melangit dan membumi” yang dari beberapa hari ini bersarang di kepala harus saya tunda dulu haha… saya fokuskan dulu k PR saya yang juga mentrigger diskusi menarik antara saya dan suami. Yaitu tentang indikator ibu profesional.  Dan di sini saya tidak akan membahas lagi peran dan kewajiban individu secara vertikal kepada Allah sebagai faktor yang mendasari semuanya. Karena saya sadari menjadi ibu dan istri ini adalah bagian yang sangat besar dari upaya saya untuk mencapai Ridho-Nya.

Jadi asumsi nya adalah bahwa jabatan ibu adalah sebuah profesi yang harus diemban secara profesional layaknya pekerjaan lain seperti dokter, guru, PNS dan lain sebagainya. Lalu di sini yang sedang saya renungkan adalah bagaimana sebuah jabatan ibu dapat diemban secara profesional.. apa parameternya? Apa buktinya? Jika dibandingkan dengan jabatan lain, guru misalnya.. parameter keberhasilan seorang guru apa? Persentase murid naik kelas atau sukses di kehidupannya? Gaji nya? Jenjang karirnya? Nah kalo jadi seorang ibu? Apa parameternya? (btw ini keren banget topiknya hahaa)

Dan di sini saya tidak akan menulis indikator secara universal yang akan berlaku untuk semua ibu di jagat raya. Hanya parameter yang saya sepakati bersama suami saya saja, berhubung Naya juga masih bayi jadi parameter nya kami yang tentukan haha..

Diskusi indikator ibu profesional yang menjadi bahasan saya dan suami ada 2 saja sebenarnya hehe.. hal itu juga yang sebenarnya pernah disepakati ketika diskusi awal pernikahan. Pertama adalah bahwa profesional artinya mampu mengemban amanah dan peran sebagai “ibu” secara maksimal (masih umum banget ya? Haha). Nah, di sini kami berdua mengerucutkan khusus pada kemampuan untuk bisa memisahkan urusan yang lain dengan urusan sebagai ibu. Maksudnya adalah, berhubung saya adalah seorang ibu yang juga memiliki amanah lain berupa pekerjaan di sebuah institusi litbang pemerintah (BPPT), maka peran ini harus disinkronkan dengan peran saya sebagai ibu ((which is actually coming later hehe.. kerja dulu baru nikah soalnya). Dengan kodrat dan takdir saya sebagai seorang wanita yang dengan kuasaNya, Allah takdirkan menjadi Ibu, saya menjadikan profesi ibu ini di atas semua peran yang saya jalani. Jadi peran saya sebagai abdi negara sebisa mungkin tidak saya bawa ke rumah. Pengaruh mood yang diciptakan di suasana kerja di kantor sebisa mungkin tidak akan pernah mempengaruhi mood saya untuk mengasuh Naya atau melayani suami.

Hal kedua yang menjadi titik tekan dari indikator Ibu profesional adalah bahwa segala sesuatu yang bersifat profesi haruslah punya kode etik, jenjang karir, amanah yang harus dipenuhi, dan ada hasil berupa pengembangan kapabilitas dan kapasitas yang terjadi akibat mengemban amanah tersebut. Parameternya apa? Artinya si saya harus tahu benar tentang segala sesuatu yang menjadi kewajiban saya. Well.. it is true that this job is a learning-by-doing job.. tapi at least ada usaha maksimal yang saya lakukan untuk melakukan apapun yang menjalankan amanah sebagai ibu tersebut. Harus tahu kode etiknya kayak gimana, jenjang karir nya gimana (nah di sinilah edisi melangit dan membumi yang butuh tulisan berikutnya hehe). Dan juga hasil pengembangan kapabilitas dan kapasitas yang berdampak juga pada aktualisasi diri yang tak hanya dirasakan oleh diri sendiri tapi juga orang lain. Nah point yang ketiga ini luas ciiiin (berharap ada tulisan detail lainnya setelah ini). Kalo kasarnya, point ketiga ini dijelaskan sbb: bahwa menjadi seorang ibu tidak akan pernah menutup kreatifitas, intelegensi, atau segala potensi yang saya miliki. (well.. mungkin ada yang ketutupan satu atau dua,, tapi ga akan menutup semuanya). Malahan harusnya berkembang secara utuh dan maksimal. Soalnya begini.. ada anggapan nih di masyarakat kita bahwa memutuskan untuk menjadi seorang ibu rumah tangga itu membatasi kreatifitas menutup kesempatan beraktualisasi diri, cenderung terkurung pada rutinitas kegiatan domestik dan mengurus anak, mengecilnya kesempatan untuk bersosialisasi, daaan segambreng anggapan-anggapan lainnya… apalagi kalo kemudian si wanita yang menjadi ibu ini pernah berkuliah di universitas mentereng di Indonesia atau luar negeri dan atau memiliki pekerjaan yang bergengsi.

Kedua point spesifik tapi umum ini bagi kami bertiga sebenarnya sudah cukup menggambarkan apa yang harus saya lakukan dan saya capai. Tapi detailing nya yang kemudian jadi PR besar karena terkait eksekusi. Sebagai seorang yang berlatarbelakang science, pun dengan suami.. maka jelas bahwa detailing kedua parameter ini akan terkait dengan parameter-parameter yang terukur dan terlihat yang bisa dinilai perkembangannya waktu demi waktu untuk kemudian dievaluasi bagaimana kelanjutannya hehe.

Point penting lainnya dalam penentuan indikator ini adalah kondisi eksisting keluarga saya. Dan tentu karena ini judulnya “Ibu” maka fokus utamanya adalah ke Naya. Karena dengan menjalani fungsi “ibu” ini fungsi saya sebagai “istri” juga akan berdampak. Hal ini karena katanya menurut kebanyakan orang, kalo sudah punya anak, prioritas seorang istri akan berubah dari suami ke anak.. pun dengan suami akan berubah priortasnya ke istri menjadi ke anak.. tentu yang namanya berubah prioritas bukan berarti tidak memedulikan.. hanya prioritas saja yang berganti. Jadi kalo saya bisa maksimal menjadi ibu, nah suami juga akan bahagia kan? hehehe.. kasarnya mah begitu lah. Selain itu, kondisi yang harus diperhatikan adalah fakta bahwa saat ini saya sedang menjalani LDM alias Long Distance Marriage seperti yang saya jelaskan di postingan sebelumnya. Suami sedang mengejar impian profesinya untuk menjalani S3 di Inggris, dan saya di sini masih kena ikatan dinas (akibat baru pulang menjalankan S2 di Amerika). Faktor lainnya adalah perkembangan Naya. Detail eksekusi peran saya sebagai seorang ibu Naya saat 3 bulan akan berbeda dengan Naya yang 6 bulan. Oiya.. faktor2 rutin yang dijalani perannya masing-masing (sebagai hamba Allah dll) ada yang dikaitkan ke peran ini ada yang ngga. tapi membahas ini saya menekankan bahwa apa yang terjadi pada diri saya secara pribadi (misalnya kaitannya dengan Allah) akan sangat sangat mempengaruhi kemampuan saya berperan sebagai Ibu.

Nah karena ini juga learning by doing untuk tahapan awal coba saya detailkan (tentunya nanti akan butuh revisi dan pengembangan) ke dalam point-point. Tapi point-point ini lebih banyak ke pengembangan indikator kedua yang saya sebut di atas. (indikator no 1 jelas lah ya.. memisahkan urusan profesi lain dengan profesi Ibu)

  1. Dalam kondisi Naya sebentar lagi mencapai usianya yang ke 6, maka yang harus saya lakukan adalah mempersiapkan segala sesuatunya: pengetahuan MPASI, peralatan MPASI, bagaimana mengatur pemenuhan kebutuhan ASIP dan MPASI Naya
  2. Memberikan pengasuhan dan pendidikan sesuai dengan perkembangan Naya, misalnya memberikan permainan untuk pengembangan sensor penciuman dan indra peraba. Menceritakan satu kisah Nabi minimal sehari, mengajaknya ngobrol dan permainan sejenisnya.
  3. Tetap bisa menjalankan aktifitas tarbiyah pekanan, menimba ilmu tentang islam yang kemudian efeknya harusya berdampak pada pertambahan keimanan dan keislaman
  4. Tetap bisa menjalankan amalan yaumian dengan maksimal dengan target yang bisa menyesuaikan namun tetap bisa maksimal di pengembangan ruhiyah karena ini yang akan menjadi bahan bakar energi saya untuk mengasuh Naya. Misalnya target pekanan saya adalah sbb
    1. Tilawah minimal 10 halaman (0.5 juz) per hari
    2. Tahajjud 2 rakaat (5 kali seminggu)
    3. Dhuha 2 rakaat(5 kali seminggu)
    4. Infaq 1 kali
    5. Olahraga 1 kali
    6. Ma’tsurat 10 kali (ini sih sering soalnya kaya ngajakin naya ngobrol pagi sore hehe)
    7. Baca buku 5 halaman

 

Segitu dulu kayanya yang bisa saya jelaskan pada tulisan ini. Pembahasan lainnya mudah2an bisa saya tulis lagi di next postingan.