That 29 September 2016 in my life

Ga tahu gmana dan dari mana memulai menuliskan kisah ini. Tapi yang jelas, status si saya yang single telah berubah married pada hari Kamis tanggal 29 September 2016 yang lalu. Bertempat di KUA kecamatan Pacet, pukul 08.00 am WIB, proses administrasi pencatatan sekaligus that “mitsaqan ghaliza” akhirnya terucap dari mulut Bapak yang disambut dengan “qabiltu” nya seorang ikhwan yang hmmm gmana ya nyeritainnya.. ahaha..

Imamul Muttakin, itu namanya.. seorang ikhwan yang pada tahun 2005 hanya saya tahu sebatas pada “nama, angkatan, dan jurusan”. Ga ngeh kalo ternyata kami pernah sekelas di MKDU, dan meningkat level pengetahuannya pada tahun 2006, ketika Allah menakdirkan kami berada dalam satu garis kordinasi di Divisi Tatsqif Majelis Ta’lim Salman ITB. Tapi pengetahuan yang meningkat itu hanya berupa pandangan keorganisasian yang membuat si saya paham sedikit tentang bagaimana beliau memimpin rapat dan memimpin tim Tatsqif. Hingga pada akhir Januar 2016, ketika si saya lagi galau untuk “tidak menerima tawaran S3 dari Prof Chen”, yang kemudian membawa kami pada proses taaruf melalui email.

Frekuensi nya tidak banyak, mungkin hanya beberapa kali balas email yang difasilitasi dan dihadiri Murabbiyah di US, juga sobat terbaik si saya Mrs XXXX.. dan takdir Allah, si saya purna S2 dan kembali ke Indonesia dalam waktu yang relatif singkat. 1 tahun 10 bulan untuk menyelesaikan magister di Amerika dinilai banyak orang di sini sebagai sesuatu yang istimewa, tapi mungkin saat itu banyak tersemangati proses ini juga sih hehehhe… 13 Mei kembali menginjak tanah air Indonesia dan harapan-harapan itu menyembul sedemikian besar meskipun ada juga perasaan pasrah, karena yang namanya taaruf kalo bukan jodoh ya ada saja tho penghalangnya.

Tapi ternyata kami benar-benar ketemu. Mungkin 9 tahun lamanya ga bertatap muka (apalagi formatnya juga udah kayak rapat mata, didukung dengan arsitektur masjid yang dipilih sebagai meeting point taaruf nadzar) membuat pertemuan ini for me suangat berkesan hihi. Masjid Bahrul Ulum, itulah tempat bersejarah tersebut. Dirancang oleh arsitek yang sama dengan Masjid Salman yang kenangannya tentu mengendap dengan indah di dalam hati kami. dan well,, kami bertemu di masjid sekitar 40 menit saja dan lalu bubar karena fasilitator saya saat itu harus segera pulang untuk memasak buka puasa untuk keluarganya.

You can guess what was the next step. Yup.. jika taaruf berlanjut then sang ikhwan akan pergi ke rumah ortu sang akhawat untuk “taaruf” keluarga dan atau mengungkapkan maksud dan tujuannya. Ada banyak hal menarik yang mengiringi part yang satu ini. Mulai dari kehebohan yang terjadi di rumah karena untuk pertama kalinya ada ikhwan yang datang hehehe… you can imagine how nervous but happy they were. Juga cerita tentang beliau yang terjebak lamaaaaa di jalan datang juga jalan pulang (kasian hihihi). kaget dengan pernyataan “mau nyulik iin” dan mendengar langsung apa yang berada di kepalanya tentang si saya pertama kali dan bagaimana penyampaiannya kepada keluarga. Itu udah kayak dikeroyok pertanyaan sebenarnya hihi…

Hari kemerdekaan RI ke 71 yang menjadi sejarah untuk pertama kalinya saya bertemu dengan Abah, Mamah dan those wonderful kids. Sudah tahu kalo beliau adalah anak pertama dari 12 bersaudara membuat si saya sedikit membayangkan akan bagaimana tapi wow.. it was beyond my expectation. They are wonderful. Inget banget dengan caranya memperkenalkan si saya ke Abah, dan juga jawabannya ketika diklaim sama salah satu adiknya “a imam mah ga romantis”.

Datang shubuh jam 5.30 am buat lamaran dalam kondisi pake baju orange olahraga TPB, shocked tapi lucu. Kirain teh datengnya jam 8, ternyata pagi2 habis shalat shubuh dibilang “udah di At Taawun”. Sontak heboh lah rumah (belum beres masak hihihi). Dan yang paling kaget apa coba? keinginan Abah yang menyelenggarakan akad di waktu bulan Dzulhijjah. Artinya? (Paling telat 2 minggu harus udah nikah).. hahaha ga nyangka bakal semendadak itu. Akhirnya diputuskan 30 September (awalnya). Hari Jumat barakah ceunah. Tapi akhirnya ganti jadi tanggal 29 September karena satu dan lainnya.

Persiapan administrasi untuk akad tanpa resepsi aja heboh, apalagi kalo sama resepsi hihihi… But you know what? impian si saya untuk pake gaun bagus ala ala princess yang dulu pernah dan mungkin pernah selalu mampir di kepala, sirna semua dengan INDAH DAN BAHAGIA. pernikahan ini beyond my expectation, dan tidak ada resepsi saat itu ternyata dirasakan sebagai salah satu barakah yang berusaha kami capai. Ada buanyaak alasan di balik itu dan benar bahwa yang dicari dari sebuah pernikahan teh adalah esensi dan kebarakahan. Ga bilang kalo yang pake resepsi ga berkah lo ya… si saya cm bilang untuk kasus si saya ya kalo nunggu barengan sama resepsi berarti nunggu lagi kan.. ada banyak deeper meaning behind this decision. Pun mengapa nikah di kantor bukan di rumah (meski awalnya ditentang neng Iis hihihi).

Drama-drama memang agak rajin mengintai si saya, dan pas hari H pun, drama terjadi lagi wkwkwk… Bapak penghulu minta nikahnya dimajuin sejam yang asalnya jam 9 jadi jam 8. Biasa heboh lagi, belum siap laaah.. dan itu bilangnya jam 6 pagi wkkwkwkw….

Dan begitulah itu terjadi, akad pun berlangsung dengan khidmat, si sy nangis dikit hihi, lirik lirik sebelah ada orang ganteng hahaha… menghela nafas apakah ini benar nyata atau cuma mimpi doang. Tapi ini nyata sodara-sodara, karena pertama kali dia “ngambil” tangan si saya dan ngecup ubun2 si saya, saya gemetara luar biasa se gemetar si saya waktu pada Kamis malamnya jam 9 harus ngunci pintu rumah wkwkwkw…

img_20160929_142705img-20160930-wa0001

Dan inilah si saya sekarang, mengingat ngingat sejengkal demi sejengkal kejadian yang dimulai akhir Januari 2016 kemarin. Udah mau usia 3 bulan nikahnya dan masih dalam proses belajar jadi seorang istri shalihah..

Si saya nyadar beut bahwa ganjaran yang suaaangaaaat besar buat istri shalihah adalah tanda bahwa pekerjaan ini bukanlah pekerjaan yang mudah. Tapi mudah-mudahan si saya sanggup melakukannya.

Hey kamu… puisi-puisi indah seperti apapun tak akan sanggup mengungkap perasaan ini hihi..

Iedul Adha di Pullman, Washington

Bagi masyarakat Indonesia dengan jumlah populasi muslim terbesar di dunia, hari raya Islam yang paling besar adalah hari raya Iedul Fitri. Ada cuti bersama, ada kegiatan mudik, dan serangkaian feature khas lebaran lainnya. Tapi, ternyata setelah saya menginjak tanah Amerika, saya cukup terkejut karena ternyata Iedul Adha di luar Indonesia dianggap sebagai hari raya yang lebih besar. Indikatornya misalnya kalo di Pullman, panitia sampai menyewa gedung khusus yang cukup memuat Muslim yang bermaksud shalat ied. Not to mention, buanyak dan beragamnya makanan yang dibawa oleh masing-masing orang ke tempat shalat ied. Indikator yang lain adalah seriusnya mereka menyiapkan kostum special dan bahkan ada performance berupa tarian ala middle east ^_^ (sayang yang pas mereka menari, si saya ga foto wkkwkw). Nah kalo Iedul Fitri relative lebih tiis.. shalat ied dibagi 2 shift karena Pullman Islamic Center ga muat menampung semua yang mau shalat ied, dan well tak ada special performance.

20141004_084250.jpg20141004_084425.jpg20141004_084041.jpg20141004_085228.jpg

Di perantauan ke Negara non Muslim seperti Amerika, tentu rasa  kebersamaan selalu ngasih feeling yang teramat berbeda kesannya jika dibandingkan dengan perayaan lebaran di Indonesia. Namanya minoritas, terasa saudara seperjuangan ^_^. Di sini juga gt, Pullman Islamic Community yang selalu menjadi penghibur karena paling tidak si saya masih bisa merayakan lebaran sesuai dengan asholahnya (deuh asholah bahasanya wkkwkw). Dan tidak lupa dan ini yang biasanya paling bikin seneng adalah Indonesian Community di Pullman yang bisa dikatakan selalu ngumpul kalo lebaran tiba.. ntah itu Lebaran Iedul Fitri maupun Iedul Adha, Yang paling bikin seneng, tentunya adalah bisa diskusi curhat ngobrol ngaler ngidul melepas penat di lab dan terutama adalah masakan INDONESIA yang ga ada duanya.. for me, kalah lah itu masakan Mesir, Iran, Libya, Bangladesh juga makanan Amerika kalo dibandingkan dengan makanan Indonesia.

20141004_17431120141004_180949

Kadang, kalo lagi sempet (dan biasanya selalu pada sempet wkwkkw), kumpul-kumpul lebaran ini selalu dilanjutkan sesi kewanitaan (buat para ladies), misalnya penataan gaya rambut, melukis hena, acara bikin bros dan kerajinan tangan bareng, juga ngobrol2 seputar dunia wanita (masak-memasak dan kosmetik wkkwkwkw).

Dan sekarang si saya ternyata kangeeeen juga masa2 itu hihihi… memang segala moment indah yang pernah terjadi teh harus bisa disyukuri..

Btw, selamat hari raya Iedul Adha 1437 H temen2 semuaaa..

Kompasiana, niat serius nulis, dan kebermanfaatan

Mungkin ada yang wondering kalo si saya lagi rajin banget nulis akhir-akhir ini. Ini teh ceritanya emang lagi nyoba lagi ngejar cita-cita jadi penulis. Mungkin udah banyak postingan iin di sini yang mbahas how important nulis is (at least for me: curhat, ngurangin setress, dan nyalurin hormon oksitosin karena nulis membuat saya bahagia ^_^). Lagi banyak juga yang mau ditulis, dan well, alhamdulillah lagi bisa nyempetin juga buat nulis. Mudah-mudahan we tulisannya tak sekedar curhat tak bermanfaat.

Suka pas kalo lagi semangat dari dalam (internal), selalu ada aja dorongan dan dukungan dari luar (eksternal), misalnya si saya hari ini baca artikelnya Ustadz Cahyadi Takariawan yang berjudul:  Menjadi Jomblo yang Sakinah, Muntijah wa Barokah (http://www.kompasiana.com/pakcah/menjadi-jomblo-yang-sakinah-muntijah-wa-barokah_56c14e30737a61aa1d100241) yang intinya kalo jadi jomblo harus tetep muntij, trus ada meme dari instagram “tausiyahku” yang pada dasarnya diambil dari quote nya Pramoedya Ananta Toer yang berbunyi: “orang boleh pandai setinggi langit tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian”.

Well, tak bisa dipungkiri salah satu proses pewarisan ilmu pengetahuan adalah dengan membaca buku. Kitab Riyadus shalihin karya imam An Nawawi atau buku siyasah syar’iyah nya syaikhul Islam Ibnu Taimiyah yang melegenda adalah karya-karya besar yang bisa kita nikmati sekarang yang mungkin lahir dari semangat menggelegak kedua ulama besar tersebut untuk menulis dan mewariskan ilmunya kepada generasi setelah mereka. Pun dengan Ustad Sayyid Quthb, Ustad Hasan Al Bana, Ustadz Yusuf Qardhawi yang juga menulis karya-karya besar mereka.  Kasus hidayah berdakwah yang saya rasakan adalah juga ketika membaca buku “Palestine Emang Gue Pikirin” karya Shofwan Al Bana.

Mungkin masing-masing dari kita juga banyak terinspirasi dari apa-apa yang pernah kita baca, mungkin bukunya Steven Covey, atau bukunya Khalil Ghibran, atau apapun itu yang menjadi tanda bahwa buku dan tulisan masih menjadi salah satu sarana efektif untuk transfer knowledge atau apapun itu sebutannya.

Dan di area digital ini, sarana tulis-pertulisan ini sangat difasilitasi dengan baik, misalnya adanya wordpress, blogspot, tumblr, facebook, dan juga termasuk kompasiana ini. Bagi yang suka baca atau nulis cerita bisa berkunjung ke http://www.storial.co/ juga. Meskipun ada non-fiksi nya tapi hampir bisa dikatakan website ini lebih banyak cerita fiksinya. Buanyak penulis berbakat di sana yang tulisannya bisa bikin tersepona.

Nah, kompasiana sendiri buat si saya adalah sarana yang bisa memfasilitasi share ide gagasan saya secara lebih luas, jauh lebih luas daripada ketika saya menuangkan isi kepala saya di blog. Apalagi kalo udah masuk list “pilihan” apalagi masuk “headlines”. Ada kebanggaan tersendiri yang membuat saya semakin pengen menekuni dunia tulis menulis ini secara serius.

Saya newbie di kompasiana. Meskipun  telah bergabung dari tahun 2014 sebagai saran dari Mas Budi Waluyo (temen fulbright seangkatan) yang menurut beliau jika menulis di kompasiana akan memberikan “kebermanfaatan” yang lebih besar ketimbang nulis di blog. Beliau mention juga kalo nulis di sana, posibilitas pembacanya lebih banyak dan bisa dapat feedback lebih banyak pula. Well, dari sana, akhirnya memutuskan ikut-ikutan. Dan bener wee… kerasa semakin bersemangat karena ternyata dari 4 artikel yang saya submit, 3 masuk list pilihan dan 2 dijadikan headlines.. senenng..

kompasiana.png

Di kompasiana beragam tulisan dari berbagai area di Indonesia dengan keragaman topik yang luar biasa dan ide-ide yang wow. Per-sastra-annya juga ga kalah bagus… secara si saya sangat suka puisi.

Mudah-mudahan si saya beneran bisa jadi seseorang yang dengan serius menggeluti dunia tulis menulis dan membawa kebermanfaatan yang besar bagi siapapun yang membaca tulisan saya. Karena benar yang saya rasakan, dengan lebih banyaknya orang yang membaca, lebih banyak orang juga yang mendapat informasi yang benar-benar pengen kita sampaikan di tulisan kita.

Semangaaat ^_^.

Belajar dari Bangsa Jepang

Sejak kembali bekerja ke BPPT, salah satu proyek utama yang menjadi tanggung jawab si saya adalah kerjasama antara BPPT dengan Pemerintah Hiroshima-Jepang untuk implementasi teknologi lingkungan. Pekan ini, Alhamdulillah berkesempatan berinteraksi langsung dengan mereka di dunia nyata dan mengambil banyak pelajaran berharga dari apa yang bisa si saya observasi.

wp-1473463013954.jpgwp-1473463013964.jpg

I think I have mentioned in my other post some significances Japan’s presence in my life. Hehehe.. berinteraksi dengan orang Jepang langsung juga udah pernah saya lakoni dengan seorang student S3 yang juga kuliah di WSU. Tapi Cuma 1 orang dan dalam kadar yang berbeda kondisi, lebih informal. Nah, kali ini kedatangan Tomishige san dan rengrengannya dari Hiroshima memberikan pendangan baru mengenai how Japanese interact and communicate in a business life.

Dorama dan anime yang saya tonton mungkin tidak banyak, tapi cukup ngasih gambaran tentang orang jepang dan malah menjadi daya tarik si saya pengen ke Jepang. Tapi again, it feels a little bit different in the real life.

Oiya, tulisan ini bukan untuk menggeneralisasi orang Jepang. Ini mah hanya membahas hikmah yang saya dapat aja ^_^. Pertama, it seems mereka cukup struggle buat berbahasa Inggris. Makanya selalu membawa penerjemah. Tahu sih, lebih enak pake bahasa sendiri sehingga mereka bisa lebih leluasa menyampaikan detail maksud yang mereka pengen bilang tanpa kesulitan berkutat dengan vocab bahasa Inggris. Ini juga tanda kalo mereka love their language so much🙂.

wp-1473463013955.jpg

Kedua, betapa mereka menjunjung tinggi etika berinterakasi dengan orang lain. Berkali kali mengucapkan terima kasih atas a single bit “kemudahan” yang mereka rasakan. Setiap kali meeting di awal selalu menyampaikan terima kasih atas waktu yang diberikan, terima kasih atas kesempatan yang dikasih  ke mereka, dan terima kasih sudah bisa berkunjung ke sini bla bla. Intinya grateful banget. Always arigatou and yoroshiku onegaishimasu.. don’t mention kalo mereka banget banget dalam menghormati waktu. Rapat jam 1.30 udah siap duduk manis di ruang rapat sejak 1.15…

Ketiga. risk taker. Ini yang mungkin banyak orang Indonesia termasuk si saya yang masih suka ga berani ngambil resiko dalam memperjuangkan apa yang lagi dicari. Jadi Bapak-Bapak Jepang itu  sebenarnya memiliki maksud to make a business in Indonesia. Ada sekitar 6 perusahaan yang tergabung dalam proyek MOU ini, salah satunya yang udah duluan jalan adalah Hinomaru Shangyo yang punya Chelate Marine yang diklaim sebegai water purifier untuk limbah tambak udang. Nah, secara Indonesia adalah Negara dengan garis pantai terpanjang di dunia, of course harusnya perikanan dan pertambakannya banyak lah ya. Jadi emang potensial. Sehingga, untuk start business beliau di Indonesia, perusahaan ini bikin percobaan dulu di Serang buat nunjukin bahwa si CM ini efektif banget buat ngolah tambak udang sehingga ga perlu ada penggantian air di setiap panen. Jadi mereka ga ragu mengeluarkan dana x juta yen (yang si saya gatau nominal pastinya) buat nge-run kolam percobaan ini. Kalau berhasil kan bagus, nah kalo ndak? Mereka PD banget tapi kalo bakal berhasil, yakin banget sama apa yang mereka punya sampe mereka berani ngambil resiko juga. PD dan risk taker ini yang kayanya masih harus banget dipupuk dalam jiwa saya yang masih ada kesempatan bergejolak hehehe.

Itu tiga hal utama yang nyantol di kepala saya dengan baik. Mudah2an beneran bisa jadi sesuatu yang bisa membuat saya makin baik dan makin cinta sama Allah. Oh well.. si saya belum berjodoh sama Jepang. Dan masih bermimpi menginjak tanah Jepang properly. Transit pas berangkat ke US, saya hanya numpang lari-lari di koridor bandara Narita, sementara transit pas pulang ke Indonesia dari US, Cuma bisa muter-muter nyari jalan ketemu nono yang akhirnya itu juga gabisa. Mudah-mudahan ada kesempatan si saya ke Jepang dengan serius dan spending time properly there. Ga akan berhenti berharap karena impian hari ini adalah kenyataan esok hari, right?

Menangkap Hikmah dari keberadaan Public Libraries di Amerika

Ada dua hal yang sangat sangat menarik perhatian saya kala saya menghabiskan 2 tahun kurang 2 pekan di US (6 pekan di Lawrence, Kansas dan 1 tahun 10 bulan di Pullman, Washington). Pertama adalah minat baca anak-anak dan fasilitasnya (perpustakaan). Kedua adalah banyaknya museum yang tersedia. Sebagai Negara maju, Amerika memiliki perhatian yang sangat besar tentang fasilitas belajar anak yang mungkin akan diharapkan bisa berpengaruh pada perkembangan anak secara komprehensif.

Jangankan buat anak-anak, buat orang dewasa seperti saya, fasilitas-fasilitas perpustakaan dan museum ini sangat luar biasa berpengaruh. Perpusatakaan untuk mahasiswa WSU maupun KU memiliki system yang membuat para mahasiswanya betah belajar di perpus dan betah membaca. Well, apalagi yang bisa menyaingi fasilitas 24 jam yang disediakan kampus, yang kalo anda mau guling2 ikutan tidur di sofa juga diperbolehkan heheheh… Nah tapi si saya kali ini g akan ngebahas system perpustakaan untuk mahasiswa, melainkan mau bahas public library dulu.

20140812_155000.jpg

Lawrence Public Library di Kansas State, USA

20140812_154947.jpg

Salah satu pojokan lemari buku Lawrence Public Library, lihat bagaimana mereka mengklasifikasikan buku2 nya ^_^

Mungkin 2 kota yang saya tinggali tidak menjadi representative untuk bilang kalo setiap kota di Amerika punya public library. Tapi as you know, baik Pullman maupun Lawrence adalah kota kecil, bukan kota besar seperti Boston, New York, atau Los Angeles. Tapi di kota sekecil Pullman dan Lawrence saja ada, pikir saya apalagi di kota besar. But it seems, ini si public library ini lahir dari orang-orang yang memang punya concern besar untuk membagi pengetahuan dan meningkatkan day abaca penduduk terutama anak-anak. (trus udah gt tapi si saya heran mengapa tapi banyak American yang juga close minded, Sarah misalnya wkkwkwk).

Jadi tuan dan nyonya, public library nya Pullman dan Lawrence ini keren banget sampai si saya berangan-angan kalo Cipanas dan Serpong juga punya masing-masing 1. Kota Cianjur punya 1, tapi atuhlah tapii,, ga terlalu menarik kayak public librarynya, tbh. Udah gt kalo ga salah weekend malah tutup (2012) tapi gatau kalo sekarang, udah lama banget juga ga ke sana. Well kalo tutup juga it is understandable since it is under Local Government authorities.. padahal kan weekend bisa jadi waktu berharga buat para penduduk termasuk anak2 maen dan baca2 di sana. Hal ini juga mungkin yang memang jadi salah satu factor penyebab atau malah akibat dari rendahnya minat baca di Indonesia. Menurut berita, dari study yang dilakukan pada Maret 2016 lalu oleh Central Connecticut State Univesity, rangking Indonesia menduduki ke-60 dari 61 negara yang disampling. No 1 nya again ditempati Finlandia yang juga dianugerahi gelar Negara dengan system pendidikan terbaik (list rangkingnya bisa dilihat di sini: http://webcapp.ccsu.edu/?news=1767&data).

Nah, mungkin lingkaran setannya adalah antara minat baca yang rendah yang mungkin menyebabkan  fasilitas perpustakaan tidak memadai, atau karena fasilitas perpustakaan tidak memadai makanya minat baca Indonesia rendah banget.

Tapi kalo menyaksikan dan merasakan sendiri, dengan fasilitas memadai, minat baca penduduk akan bisa terdorong. Misalnya, si saya yang juga punya “minat baca” rendah pada buku-buku selain textbook di kampus, ketika ngerasain Neill Public Library Pullman yang si saya sering maen ke sana sama Mba Hera dan keluarganya, jadinya termotivasi juga buat baca buku2 selain textbook. Not to mention, di Neill Public Library juga ada komiknya heuheuheu…oiya, kedua puterinya mba Hera (Haniya dan Fathina) kadang suka bikin ngiri, karena mereka mampu menghabiskan puluhan buku hanya dalam waktu sepekan. Jadi kalo ke Neill itu bisanya bawa tas besar, dan pinjamnya ga kayak di Indonesia yang terbatas cuma 2 tapi bisa puluhan buku sekaligus. (gimana ga termotivasi hehehe)

20150415_171023.jpg

Neill Public Library di Pullman, WA State.. liat betapa banyaknya buku yang ada, betapa menariknya dekorasi, dan betapa asyiknya mba Hera milih2 buku buat Haniya dan Fathina

20150415_171004.jpg

One of my favorite places in Pullman,

Selain pengkondisian ruangan dll, jam buka perpus yang memang enak buat penduduk untuk datang, Public library di Pullman misalnya juga punya serangkaian program yang suangat suangat menarik. Unfortunately, si saya ga berkesempatan ikutan program2 tersebut, hanya dapat newsletter tentang acara yang biasa saya terima tiap bulan (bahkan hingga sekarang) dan denger kabarnya dari Jonathan (temen dari Colombia) yang menikmati kelas conversation bahasa Inggris yang diadakan free dari library.

Ih asyiknya kalo tiap kota Indonesia punya public library yang macem begini. Kali aja beneran bisa mendongkrak kualitas karakter bangsa. Jangan Cuma mengandalkan bacaan dari berita onlen yang kadang kebenarannya diragukan..

Well again, impian hari ini adalah kenyataan esok hari, dan saya percaya, suatu saat nanti Indonesia juga bisa punya public library yang bagus2 yang anak2 atau orang dewasanya bisa berdayakan secara maksimal..

Apa yang kurasakan setiap kali mengasuh Alula

Satu hal yang selalu kunantikan setiap hari Jumat biasanya adalah kepulangan ke rumah yang berarti temu kangen sama Ummi, Aa, Iis, dan semua keponakan iin.. dan tentu saja boneka cantik yang super duper cute, neng Alula. Ada banyak hal yang si saya rasakan ketika berkesempatan mengasuh si dede. Mengamati tumbuh kembangnya yang semakin membuatnya tambah menggemaskan, mulai dari cuma ekspresi wajah, sampe sekarang udah mulai ngeluarin bunyi2 cute.

Kalo Alula sedang lapar (pengen mimi), gerakan mulut dan tatapannya berubah mengiba.. “lapar uwa lapaar”. gerakan bibirnya seolah seperti berkata demikian dan si saya ntah sepertinya mengerti. Kayak kemarin tanggal 3 Sept, pas Maminya Alula sudah mulai kerja, dan akhirnya tim pengasuh yang terdiri atas si saya, Teh ‘ia, ma Ummi lah yang kemudian bertugas mengasuh Alula, kadang bergantian, kadang bareng2 keroyokan. Pas lapar, kayak ada diskusi “dede kangen mbu ya de” trus Alula nya ngerespon kayak mengiyakan dari matanya yang berbinar.. “dede lapaer yaa… bentar ya susunya lagi diangetin dulu”.. saat itu udah kayak ada komunikasi yang terjalin via mata yang seolah si saya ngerti apa yang Alula bilang dan Alula ngerti apa yang saya bilang.

Ngasuh Alula yang sekarang paling sering cuma sepekan sekali tetep membuat saya antusias. kayak ada hormon oksitosin yang ngalir lancar setiap kali mangku si dede. Mungkin hormon2 cinta ini lah yang berperan yang membuat si saya begitu bahagia. dan biasanya drama pengasuhan ini akan diakhiri ucapan si Adek yang bilang “hayo teh makanya geura bikin jadi bisa punya sendiri”

Well, banyak banget pembelajaran yang iin dapat dari gaya iis ngasuh Alula, atau gimana sikap nenek dan kakeknya sama Alula, gmana peran si bapak, dan gmana ketika Iis memang terpaksa harus bekerja.

Semoga we, pembelajaran yang saya dapet ini bisa dipraktekan suatu hari nanti sama bayi sendiri.. tanpa mengurangi rasa sayang saya sama si dede cantik tapinya ^__^

 

 

[Transkrip Indonesia] Cinta Melanda – Nouman Ali Khan

Cannot help sharing this very precious writing from Ustadz NAK’s videos. Semoga kebaikan tercurah kepada yang rajin pisan mendokumentasikan video2 ustadz hingga kemudian menjadi jalan ilmu bagi siapapun yang membutuhkannya.

Nouman Ali Khan Indonesia

Assalamu’alaikum wa rahmatullah wa barakatuh.

Saya pikir waktu shalat isya tinggal 10 menit lagi, ya? Jadi saya hanya akan berbicara selama 5 menit dan lalu kita dapat solat bersama. Tidak, hanya bercanda. Kita akan kembali setelah shalat Isya, In shaa Allahu ta’ala dan saya akan bicara tentang suatu hal. Saya akan mulai percakapan ini setelah shalat.

View original post 6,288 more words

Menguak Jejak Petualangan Seorang Iin Parlina (part 2) “karena impian hari ini adalah kenyataan esok hari”

DSC02204_webcamera360_20140425084334-

Hanya berharap tulisan ini akan menjadi pengingat betapa Allah Maha Pemurah lagi Maha Penyayang yang menganugerahkan hamba-hambaNya begitu banyak kesempatan untuk bisa menemukan banyak hal di luar sana yang menjadi hikmah untuk pertambahan keimanan dan ketakwaan dan semoga ke depannya semakin semangat lagi berbuat kebaikan… menguatkan keyakinan bahwa impian hari ini adalah kenyataan esok hari ^_^.hingga si saya kemudian tidak pernah berhenti mengukir mimpi dan berikhtiyar mewujudkannya.. sungguh rahmat Allah itu luas…. terlalu banyak alasan untuk tidak pernah berhenti berprasangka baik kepadaNya.

Tulisan pertama saya tentang perjalanan yang pernah saya lakukan (part 1 dari tulisan ini) bisa dilihat di sini. Tulisan ini saya tulis pada tanggal 18 Mei 2011..Bisa dilihat bagaimana perkembangan si saya setelah si saya menulis tulisan tersebut. I mean, di sana di paragraph terakhir saya bilang kalo hingga 18 Mei 2011 tersebut, si saya yang belum bisa menjejakan langkah di berbagai belahan bumi namun juga sangat berharap bisa menebarkan kebaikan. Well.. sampe sekarang point yang “menebarkan kebaikan” mah adalah bentuk ikhtiyar yang harusnya ga akan pernah berhenti, tapi at least, bagian “menjejakan langkah di beberapa belahan bumi” yang Alhamdulillah on going juga tapi sudah ada beberapa yang terpenuhi… subhanallah,,, again, kalo punya mimpi dan didukung ikhtiyar maksimal da ga mustahil buat Allah untuk mengabulkan impian2 tersebut.

iin's journey

SO.. jadi di tahun yang sama (2011), si saya excited banget dilibatkan dalam kepanitiaan APRSCP yang akan dilaksanakan di Jogjakarta. Kenapa excited? Karena itulah mungkin (saat itu saya pikir) bahwa itu akan menjadi perjalanan pertama saya pake pesawat. Hihihi.. kan belum pernah pake pesawat. Dan Alhamdulillah juga tahun 2011 bulan Agustus juga adalah perjalanan  kereta api terpanjang saya so far saat itu, yakni Jakarta-Banyumas (biasanya cuma Bandung-Jakarta aja soalnya).

Tapi TAKDIR Allah, si saya gagal terbang ke Jogjakarta karena harus ikut diklat perekayasa ceunah.. nangis Bombay dooooong ahahahha…. Gagal naek pesawaaat padahal sudah excited sejak 2 bulan sebelumnya. tapi kumaha deui, akhirnya diikhlaskan, yakin Allah akan memberikan kesempatan yang lain. Pokonya mah lucu, karena si saya bikin tulisan tentang itu.. dan tebak, tulisannya iin simpen di computer kantor (ntah itu tulisan siapa yang baca wkwkwk).

dan BENER laaah, diganti langsung sama Allah . ALLAH MAHA BESAR dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Itu yang saya bikin bergidik, karena 2 minggu setelah saya dinyatakan gagal terbang ke Jogja, SAYA DINYATAKAN MENDAPAT KESEMPATAN TERBANG KE JERMAN.. nangis Bombay lagi kali ini nangis bahagia hihihi…

Tu kan kalo apalagi alasan buat ga amazed sama apa2 yang Allah kasih untuk hidup kita. Karena dari sini, si saya mencatatkan sejarah perjalanan pertama pesawat yang saya lakukan adalah ke JERMAN which is di benua Eropa.. something that I cannot imagine before… sempet pengen ke Europe, as I said in my previous writing, but ga nyangka scenario nya subhanallah pisan.

Jadilah si saya terbang ke Jerman. Pengalaman pertama ke luar negeri juga pengalaman pertama kali naek pesawat hihihi…. Kalo tulisan review tentang apa yang saya dapat di Jerman sudah saya tuliskan di sini.. kurang banyak sih nulisnya, tapi geuning susah ya nulisin apa yang kita rasakan menjadi suatu yang concise dalam sebuah tulisan.

IMG_1688

Jerman oh Jerman❤❤

2012.. akhirnya beneran juga terbang dengan tujuan domestic. Ke manakah? Bali, Denpasar 3 bulan sebagai peserta EAP dari Kemenristek. Dan ini pula sejarah pertama saya menginjakan kaki di Denpasar…

2014 is kind of my year. Berkesempatan ke Medan dan Aceh mengunjungi perkebunan kelapa sawit dalam rangka proyek CTCN yang kemudian membawa informasi yang cukup signifikan yang bs iin bawa ke US untuk dijadikan bahan pertimbangan ngambil topik penelitian. Di tahun ini juga mengalami bagaimana rasanya bulak balik KualaLumpur-Jakarta within a day. 2 bulan sebelum berangkat sekolah ke Amerika, Alhamdulillah juga mendapat kesempatan ke Dhaka, Bangladesh untuk ikut training adaptasi perubahan iklim, di mana saya banyak belajar tentang perkembangan pertanian dan water resource management di negara tetangga seperti Vietnam, Myanmar, dan Laos, juga beberapa negara di Asia Selatan dan Asia Tengah.

20140424_160319

Puterajaya International Conference Center, keren banget isi ma luarnya ^_^

DSC02216

Bernarsisme dengan latar belakang kawasan Puterajaya, Malaysia

Participants of UNEP Workshop, 2014

Training “Climate Adaptation Technologies” di Bangladesh

Tulisan ini dibuat untuk pengingat saya semoga terus menjadi hamba yang bersyukur, juga pengingat akan hikmah2 yang terjadi dari serangkaian perjalanan ini. Tapi mungkin juga semoga bisa jadi pengingat buat temen2 bahwa “impian hari ini adalah kenyataan esok hari”.. maka tetaplah bermimpi, berikhtiyar, berprasangka baik sama Allah…

Tapi, meskipun kenyataan itu faktanya kini telah menjadi masa lalu, tapi kenangan-kenangan indah tersebut akan terukir sebagai good memories yang terkenang dan semakin menguatkan kepribadian kita bukan? yang paling utama mah perjalanannya barakah dan meninggalkan bekas pertambahan keimanan sama yang Maha Memberi, di mana Dia-lah sepenuhnya yang berkuasa memberikan kesempatan se-ajaib apapun yang mungkin ga pernah kita bayangkan sebelumnya.

sooo,…. semangaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaat

Pullman dan segala kecantikan untuk dikenang

Ketika pertama kali memutuskan memilih Washington State University, saya sama sekali buta bayangan mengenai kota tempat saya akan tinggali tersebut. Hanya tahu namanya Pullman, dan Bapak Ibu di kantor tertawa karena mereka bilangnya bahwa saya ga ninggalin BPPT melainkan hanya pindah gedung saja karena masih di area Jakarta.. well di Jalan Thamrin memang ada hotel yang namanya Pullman. Dan saat itu, stalking power saya ga nyampe ke google map yang ternyata memiliki kemampuan jauh dari yang saya bayangkan. 

Baru aktif nyari bagaimana Pullman dan Washington State University adalah ketika menginjakan kaki di Lawrence, Kansas, tempat saya belajar sementara selama 6 minggu sebelum turun ke medan laga yang sesungguhnya. Dan hasil browsing saya membawa pada kesimpulan bahwa Pullman dan WSU adalah tempat yang sangat indah. Udah gt doang tahunya ^_^.

Sayangnya kesan pertama saya mendarat di Pullman adalah gelap, karena saya nyampe tengah malam. Baru explor WSU keesokan harinya..dan tadaaaaa…. Cuantik sangat.. jauh lebih cantik dari yang pernah saya liat di gambar2 yang tersebar di google (again belum maksimalin google map hihihi). Hari pertama Cuma bs explor WSU aja dulu dan itu pun ga semua saking luasnya (album completenya saya share di FB).

Washington state university berbeda dengan University of Washington dan tidak berlokasi di Washington DC. Itu yang biasanya jadi kendala si saya ketika orang2 nanya, ntah itu ketika berangkat ke sana ataupun ketika saya kembali menginjakan tanah air.. hehehe.. well saya tahu kampus saya ga terkenal-kenal amat, but I love it so much. Di kampus inilah saya mungkin dapat banyak hal (passion research, kemampuan networking, bercasciscus bahasa inggris, nge-laaaaab, etc.).

Beda jarak antara Washington State ma Washington DC itu ibarat dari Aceh ke Papua New Guinea. Saking jauhnya. Itu dari ujung ke ujung. Kesalahan umum kedua, Washington State University itu bukan University of Washington yang lokasinya di kota Seattle.

Lokasi Pullman ada di ujung timur Washington State, 5 jam dari Seattle dengan menggunakan mobil atau 45 menit kalo pake pesawat. Pullman merupakan area perbatasan antara Washington State dengan Idaho State. Kota Moscow di Idaho yang ada U of I (Bukan university of Indonesia tapi University of Idaho), hanya berjarak 15 menit by car atau 1 jam kalo naek sepeda ^_^.

Pullman adalah kota kecil yang sepanjang mata memandang maka ladang gandum lah yang bisa kita lihat. Kalo lagi spring ma summer warnanya antara cokelat ke hijau, kalo lagi fall cantik banget warna keemasannya.. nah kalo winter, kota ini udah kayak gurun salju ^_^.

20151223_093639

Area Apartment di Pullman kala tertutup salju

20160102_135303

Gurun Salju di Pullman

20160501_074742

Bukit Teletubbies ^_^

DSC05339

cantik banget langitnyaaaaa

DSC03090.JPG

Pullman Islamic Center, tempat para muslim dan muslimah penduduk Pullman shalat,  bertemu , bersilaturahm 😊

Pullman adalah kota yang orang-orangnya sangat ramah (kecuali seorang african american yang bernama neng Sarah). Kota kecil yang kalo summer maka 2/3 penduduknya sirna karena pulang kampung atau liburan ke tempat lain (Jose suka ngamuk soal ini dikira grad stud ga seberharga undergrad karena ga disediain bus yang cukup). Kota kecil yang bahkan ga punya area mall atau sejenisnya wkkwkw. Ross tempat fav iin belanja adanya di Moscow ID ^_^. Tapi Pullman masih punya Walmart kok Alhamdulillah.. dan tetep bisa belanja onlen pake amazon.

Pullman adalah kota yang super dupeer amaaaaan, yang kalo anda liat police lognya Pullman Police Dept dan WSU police, maka jarang banget ada kejahatan serius yang ditemukan (selama saya tinggal cuma ada 2 kasus serius, buronan yang lari dari Idaho ke Pullman sama yang ngacung2 riffle). Jadi kalo liat majalah Evergreen, halaman pertama yang saya buka adalah police log duluan.. dan suka ngikik bareng2 liat isinya.. karena isinya sejenis: penculikan tanaman, orang kekunci di lab, terjadi kegaduhan karena party.. dan sejenisnya. Makanya suka bersyukur Alhamdulillah, karena selama saya tinggal di sana, ga pernah ada kasus2 semengerikan yang biasa terjadi di Ameriki (penembakan, pembunuhan, dan sejenisnya). Atau roommate saya yang pulangnya di luar jam operasi bus juga masih aamaaan kalo mau pulang jam subuh hihihi… tapi kalo  si saya mah ga berani sih tetep wkwkkw… di atas jam 12 biasanya milih nginep di perpus atau nginep di lab..

Meskipun objek wisata Pullman mungkin ga sebanyak kota2 lain di US, tapi bagi si saya, Pullman adalah kota yang walkable dan bikeable. Sering mengembara sendiri hanya untuk muterin di Pullman tanpa ada rasa kawatir kesasar.. pernah sih nyasar juga.. tapi da berhubung Pullman mah sebagian besar adalah ladang gandum, jadi weh ga terlalu kawatir.

DSC05296

Summer d Pullman

DSC04626

GreenBike nya WSU yang selalu menemani petualangan si saya mengembara di Pullman

Satu hal yang saya paling cintai dari Pullman (yang juga saya mention di postingan sebelumnya) adalah langit Pullman (baik langit malam maupun langit siang). Saya di Lawrence 6 pekan, dan sekitar 1 pekan melakukan perjalanan darat dari Pullman-San Fransisco-Seattle pas winter menggunakan jalan darat, tapi rasa-rasanya langit Pullman so far adalah langit terindah yang bisa saya nikmati. Mungkin factor emosi juga terlibat sih, tapi seriusan langitnya clear banget.. Kalo siang bisa terpana banget sama birunya yang bener2 memesona. Kalo malam, bisa lirik-lirikan ma Polaris dengan sesuka hati di sana mah.. bisa ngamatin Polaris posisinya di sini kalo summer kalo winter mah pindah di ujung laingit satunya.

Faktor emosi yang melekat di hati dari langit Pullman adalah ketika misalnya harus bergadang sampe mepet-mepet jam operasi bus selesai, maka itu cape galau semua keresahan seketika sirna kalo liat langit malam pas jalan pulang menuju apartement. Saking indahnya yang si saya ga akan pernah bisa mendeskripsikan itu lewat puisi secantik apapun yang saya buat,.

Makanya, ketika tanggal 11 Mei 2016, pesawat Alaska Air yang saya naiki mengudara, 15 menit pertama si saya habiskan pake nangis menatapi langit cantik Pullman yang biru berpadu dengan hijaunya ladang gandum. Satu pemandangan yang teramat sangat melekat di hati.. 1 tahun 10 bulan di Pullman adalah masa yang sangat berharga yang tak akan pernah bisa terlupakan… banyak hal yang terjadi di sana, ada suka duka, tawa tangis.. kebersamaan, kesedihan, etc.

2016-08-31

pemandangan terakhir Pullman yang saya ambil ketika d dalam pesawat Alaska

Tapi berpisahnya saya dari Pullman bukanlah satu hal yang saya sesalkan.. karena saya yakin dan akan terus yakin skenario kehidupan yang Allah buat selalu beyond my expectation. Takdir saya harus ke Pullman pun adalah sesuatu yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya, yang ternyata kota kecil di state paling ujung kiri atas ini telah melekat dan menjadi bagian kehidupan saya yang teramat berharga.. makanya ada juga saat saat saya kangen dan merasa bahwa keindahan2 itu hanya mimpi.. tapi toh si saya lagi ngudag keindahan yang lain juga ^___^.. kan Surga Allah mah pasti jauuuuuuuuuuh lebih indah…

NB: Akhirnya bisa nulis tentang Pullman jugaaaaa… kangeeeen iiiih..

Sang Bintang

Setelah 3 purnama berlalu, sebuah kehidupan yang sama sekali berbeda memelukkan sayapnya mendekapku erat. Sebuah kehidupan yang penuh kejutan, penuh dinamika, penuh antisipasi, penuh harapan.. yang di dalamnya kuharapkan penetrasi kecintaan teramat dalam dariku untukNya dan dariNya untukku…

Setelah 3 purnama berlalu, kutahu satu yang kurindu dari malam-malam Pullman yang jernih adalah langitnya yang senantiasa berani mempertontonkan kelembutan cahaya-cahaya bintang berkilauan dari gugusan langit utara.

Setelah 3 purnama berlalu, ku bahkan tak berani menghayal bahwa sang bintang akan muncul lagi di hadapanku, berdiri gagah perkasa di langit cakrawala khatulistiwa. Gugusan bintang paling kekar berdiri tegar yang biasa kulihat menghiasi langit utara, kini mereka hinggap di langit gelap Indonesia.

Haru biru memenuhi jiwa yang sekejap saja lupa bahwa ada tetesan bening keluar dari sudut mata. Sungguh setengah percaya bisa melihat lagi Rigel dan Betelgeux mengerlingkan cahaya mereka ke arahku. Setengah percaya ku hingga ku merangkai cerita bahwa mereka menyeberang samudera Pasifik hanya untuk menemukanku di sini..Sungguh ku merasa terhibur akan hadirnya mereka yang seolah menyatakan “keindahan yang pernah kau saksikan di 24 purnama di langit utara bukanlah sekedar mimpi, melainkan sebuah kenyataan yang memang telah berlalu”.

Ah iya… aku sering mendengungkan kata-kata luar biasa dari Ustadz Hasan Al Bana yang juga kujadikan sebagai motoku untuk tidak pernah berhenti bermimpi… i”impian hari ini adalah kenyataan esok hari” tapi rasanya sempat jiwa ini mempertanyakan impian-impian indah yang sempat mengejawantah nyata itu apakah benar sejati terjadi atau dia benar menjadi hanya sebuah mimpi indah penghias masa lalu.

Manusia adalah makhluk lemah, tapi ketidakberdayaannya ini yang kemudian akan membawa jiwanya berlabuh kepada Dzat Yang Maha Kuat. Yang tanpa kekuatanNya manusia tak bisa apa-apa. Sebuah kekuatan teramat kompleks yang bahkan manusia tak bisa pahami sepenuhnya.

Dan lihatlah sang bintang dengan gagah menghias langit angkasa. Langit yang kukira terlalu kotornya tidak akan mampu menampakan betapa cantiknya Aldebaran, dan 3 bintang cantik penghias sabuk sang pemburu angkasa. Dan tetap Rigel dan Betelgeux adalah yang paling merona… mungkin mereka benar-benar mencariku karena merindu…

Namun sayang, belum ada yang mengalahkan perasaanku pada Polaris yang bahkan hingga kini belum dapat ku lihat. Tapi tak mengapa, kehadiran Orion saja telah berhasil mengguncang alam sadarku, mengembalikan kesadaranku bahwa keindahan-keindahan yang Allah berikan untukku di langit Amerika bukanlah sesuatu yang semu… mereka nyata dan berwujud…  demikian pun mungkin keindahan sulaman jaring harapan yang kuuntai sedikit demi sedikit saat ini.. aku yakin itu pun bukan mimpi meski terasa seperti mimpi.