N A Y A

Saya sudah ngeh dengan fakta bahwa hamil dan punya anak adalah jenis keputusan-keputusan yang merubah hidup seseorang (life changing decision). Pun dengan segala konsekuensi yang ada itu adalah bentuk takdir yang kukejar sebagai sebuah upaya kesempurnaan posisi saya sebagai hamba Allah terutama. Juga sebagai sebuah anugerah yang merupakan bentuk investasi amal masa depan.. (lagi2 akan hubungannya sama Allah).

Jadi ketika Allah memutuskan bahwa Naya sepertinya harus dilahirkan lebih awal itu pun saya Terima sebagai sebuah keputusan yang mendebarkan yang akan berpengaruh secara jangka panjang bagi kehidupan saya dan suami.

Dan hadirnya Naya dalam hidup saya menjadi suatu anugerah yang teramat sangat saya syukuri.. meski pada pelaksanaannya ada tanggung jawab yang teramat sangat besar mengikuti kehadirannya. Dan mengenai tanggung jawab ini masih saya terus pelajari. Mungkin ini akan menjadi peran terbesar saya, seorang ibu, raising a generation…

Seperti halnya ketika hamil, ternyata setelah Naya lahir, begitu banyak kekawatiran-kekawatiran yang menhantui. Sensitifitas terhadap sekecil apapun perubahan yang terjadi pada Naya menjadi satu kelebihan yang mungkin saya rasakan tapi juga kadang ngasih efek samping kekawatiran. mengenai managemen kekawatiran ini memang si saya harus banyak belajar lagi.. well.. being a mother is a never-ending-learning process bukan?

sampai sekarang ga berhenti amazed bahwa sekitar 9 bulan (36w) Naya dalam kandungan ngasih efek ngidam, moody, gerak2 kini ada di hadapan saya. Pasang berbagai macam ekspresi lucu dan menggemaskan. dan dengan wajah lebih cantik dan cute dari apa yang pernah iin bayangkan… sungguh Allah Al Mushawwir.

Cerita kelahiran Naya puanjang dan mungkin akan saya tulis terpisah dari tulisan ini ^_^.

 

Advertisements

18 Agustus 2013

Pagi itu jam 6 pagi saya masih cekikian baca cerpen sampai kemudian ada telepon berdering. Belum berangkat ke kantor karena emang biasa siap-siap mulai jam 7 (maklum kosan kan deket kantor). Teh Nia adalah nama yang tampil di layar HP. Segera saya angkat. Dengan suara yang sedikit parau Teh Nia menyampaikan bahwa rumah di Cipanas kebakaran tadi malam.

Setengah tidak percaya akhirnya saya pun beres-beres pulang ke Cipanas setelah sebelumnya mengontak kantor tentang apa yang terjadi. Janjian di Stasiun Parungpanjang untuk bersama pulang dengan keluarga Teh Haji. Ga ayal lagi, di dalam mobil akhirnya nangis.

10624563_803019353051984_2014103739910854422_n

Sampai di rumah sekitar jam 10an dan hal yang pertama yang saya lakukan adalah ketemu Ummi dan Aa memastikan mereka baik-baik saja dan tidak kurang suatu apa. Tangisan kembali pecah. Euma yang memeluk erat Teh Haji menyiratkan berbagai kepiluan yang teramat sangat.

Aku beranjak melihat puing-puing rumah. Tangis pecah bukan karena melihat puing rumah yang sudah jelas akan menyisakan banyak PR setelahnya, melainkan karena melihat sisa buku yang terbakar. 3 karung buku dalam kondisi yang menghitam dan basah. Buku sekolah dari mulai TK sampai SD, SMP, SMU, kuliah dan buku-buku tarbiyah yang kukumpulkan dengan susah payah dari sisa uang beasiswa.

Proses pemulihan trauma dan juga biaya pembangunan kembali menjadi PR yang sangat besar dalam musibah ini. Trauma dari Ummi, Aa, Euma dan Bapak yang masih tersisa dan bahkan ada kala2 sekarang yang masih suka mengungkit luka di musibah tersebut. Juga PR membangun 3 rumah yang rasanya ga sanggup dilakukan kalo pake logika manusia. Hanya Allah yang Maha Berkuasa yang bisa mengembalikan rumah kami dengan kebesaran dan pertolonganNya yang luar biasa.

Well… sebulan setelah kesedihan yang devastating tersebut, Allah mengirim kabar yang sangat indah… “saya lulus beasiswa fulbright ke Amerika”. Fa bi ayyi aa laa i rabbikumaa tukadzibaan…

17 Agustus 2016

Tahun yang saya tuliskan ini tidak salah.. saya memang mau menulis tentang apa yang terjadi pada tanggal 17 Agustus 2016 setahun yang lalu di mana itu adalah kali pertama saya berkenalan dengan sebuah keluarga luar biasa yang berdomisili di Cilegon sana. Well yes.. keluarga suami saya alias mertua dan ipars.. Hari itu memang sukses (kayanya) berkenalan dengan Mamah, Abah, Emak, Zuron, Irma, Ofa, Rina, Rini, Nisa, Amrin, Isma dan Susi… dan menyusul kemudian Nurul via wa.

Saya ingat bahwa pada saat itu saya yang BARU mulai kembali bekerja lagi di PTL-BPPT bawel banget nanyain apakah tanggal 17 agustus harus masuk bekerja atau tidak. Bukan apa2… dari proses pembicaraan di taaruf, tanggal itu teh tanggal yang disepakati bahwa si saya melakukan kunjungan pertama kali ke keluarga aimam.

Beliau di awal menjadikan keluarga sebagai salah satu bentuk kondisi yang saya harus maklumi. Fakta bahwa beliau adalah anak pertama dari 12 bersaudara menjadi faktor yang teramat sangat penting (belakangan dari mamah saya juga mendengar hal yang sama). si saya menyatakan tidak keberatan dengan kondisi tersebut dengan pertimbangan bahwa itu bukan hal yang teramat sangat signifikan untuk terhambatnya sebuah jalinan hubungan (well yes iya ada tanggung jawab dll, tapi kan ga papa toh hihi). Lagipula saya udah biasa ngurusin adik2 selama beraktifitas di kampus (asrama, mata, etos, dll).

Pertama kali ke Cilegon dengan menggunakan jasa angkutan bus, akhirnya ketemu lah saya dengan keluarga calon suami saat itu. Si saya pikir menjadi bagian keluarga besar adalah hal yang akan membahagiakan… faktanya jauuuuh lebih besar dan membahagiakan (udah pernah cerita ini di tulisan sebelumnya).

pembicaraan berkutat di sekitar perkenalan, aktifitas di kampus dulu, proses perkenalan, sampai ke curhat perkuliahan..

ada hal lucu yang saya ga pernah lupa.. the way he was introducing me to his abah
“abah ini temen imam dulu di kampus yang pernah imam ceritakan.. udah PNS 3 tahun lebih dulu daripada imam” seolah menekankan how being PNS is something big hihi… (belakangan tahu juga ceritanya kenapa hihhi).

Malu-malu tapi alhamdulillah perkenalan berjalan dengan lancar (I guess),, grogi of course but I was just trying to be myself (la mau gimana kan calon mantu wkwkkw, gabisa pura2 pasang tampang manis juga toh?). Belakangan saya denger dr Irma kalo kesan pertama mamah ke saya adalah “iin itu orangnya rame ya.. mudah2an cocok buat mengimbangi imam yang serius” hihihi

Diskusi dilanjut dengan makan siang bersama. Makan makanan andalan mamah. dan melihat how this family interacted each other made me wondering so many things in my own life. Ya mau gamau wondering kan “si saya sanggup ga fit in dengan segala hal baru ini” (la di rumah kan cuma ada iin ma iis doang yang kalo berantem kadang suka kebangetan wkwkwkwk).

Begitulah… hihi

jadi yang mau melakukan kunjungan keluarga pertama kali.. jangan tegang yaa… santai aja… and be yourself. Gantungkan setinggi mungkin harapan sama Allah aja.. kalo jodoh ya ga ke mana ^_^

 

Evaluasi setahun kembali bekerja

Ga kerasa 1 tahun sudah si saya kembali ke bumi BPPT mencoba mengaktualisasikan diri dengan kapasitas yang dimiliki dan dibina selama tahun2 sebelumnya dan terutama pembentukan pengetahuan dan skill sebagai seorang researcher yang didapat di tanah Obama. Ada banyak hal yang terjadi tentu. Suka duka, kesibukan dan waktu luang.. plus menyandang status baru sebagai seorang istri dan calon ibu yang tentunya memiliki pengaruh yang teramat sangat berbeda jika dibandingkan dengan periode tahun 2011-2014 di mana saya mulai melebarkan sayap dulu.

Hal yang paling utama yang saya soroti dari apa yang terjadi selama 1 tahun ini adalah bahwa jujur memang semangat saya bekerja tidak sebesar ketika sebelum saya berangkat ke US. Harusnya kan kebalik ya? Pulang dr US harusnya boosting semangat lebih besar lagi untuk bisa berkiprah lebih besar kepada negara. Kenyataannya ternyata tidak. Reverse culture shock yang cukup menghentak alam sadar dengan bentuk segala ketidakidealan di dunia bernama “kepemerintahan”. Well..  mau gamau saya juga termasuk ke dalam bagian pemerintah bukan… dan ketidakidealan itu bikin kepala puyeng pisan. Hal kedua adalah adanya ketidaksesuaian bidang yang saya dalami selama ini dengan tugas yang diberikan sekarang. Kalo tidak sesuainya sedikit mah ya gapapa.. tapi karena terlalu jauh jadi ada efek males untuk catching up materi2 yang emang saya ga punya solid background di sana. Plus kerjaan ke-PTL-an yang memang tidak membutuhkan banyak proses pengurasan otak tapi cukup membosankan hehehe… well saya tidak bermaksud mengeluhkan kondisi saya saat ini. Tapi perbedaan iin dulu dan iin sekarang memang beneran signifikan. Ini mungkin juga akibat manajemen si saya yang harus ditingkatkan kualitasnya. Tapi emang jujur passion nya juga mulai melemah nih.. harus ditingkatkan lagi.. apalagi passion ke-biogas-an di PTL juga seperti seolah dipudarkan perlahan secara struktural.. karena si saya juga ga lagi di grup biogas bu menik.

Untuk masalah biogas di kantor memang simalakama sih.. si saya juga gatau apakah saya sanggup mengikuti pace nya si Ibu yang memang terkenal wah sejak dulunya. La dulu sampe bisa gadang sampe jam 3 pagi d rumah atau jam 12 malam di kantor ya sebagian besar kerjaan dari beliau. Dan well itu yang ngeentuk saya sih saya nyadar… tapi emang dari awal menginjakan kaki di sini lagi seolah si saya juga udah beneran dihalangi ke sana,,, dan emang saat itu si saya nya juga masih ragu apakah bisa mengikuti grup tsb. Jadi kaya kebuka kesempatan gt.. ujung2nya sempet post power syndrome.. (pernah ditulis di blog juga).

Selain itu.. penyadaran diri terhadap amanah sejati saya sebagai seorang wanita yaitu menjadi istri dan ibu saya kira juga turut ambil peran hehehe.. kan emang sejatinya amanah saya yang utama adalah di rumah. Jadi kalo udah pulang udah deh gabisa nyentuh kerjaan lagi kecuali kepaksa banget. Well saya juga enjoy being a housewife, masak dan bikin kue wkwkwkw… apalagi kalo udah weekend udah deh hihihi…

Nah.. setahun berlalu harus ada perubahan yang makin baik atuh ya. Insyaallah. (tapi sekarang siap2 cuti malah wkwkkw). Ada PR Besar yang harus dituntaskan di periode september 2017-september 2018. Apa coba? Ngejar aim sampe ke Eropa haha… ntah nanti gmana tapi since it has become my life now, I will try my best to play my roles. Mudah2an aja semuanya lancar, ada dede bayik harusnya makiiiin semangaaaat nantinya J

Pentingnya Pengolahan Sampah di Darat untuk Mencegah Timbulan Sampah di Laut

Permasalahan lingkungan adalah masalah polemik yang membutuhkan solusi. Sampah laut menjadi satu masalah yang sangat besar terkait ancaman terhadap kehidupan biota laut yang akan memberikan dampak juga terhadap kehidupan di darat. Penyelesaian permasalahan sampah laut menjadi krusial.

Untuk melakukan pencegahan terhadap sampah laut, kita perlu tahu sumber utama kontributor. Berdasarkan data yang diperoleh dari http://www.projectaware.org, 80% sampah laut berasal dari sampah yang dihasilkan di daratan. Yang berasal dari kegiatan antropogenik manusia. Hanya 20% yang merupakan asli sampah yang dihasilkan dari aktifitas laut itu sendiri. Seperti dilansir dari www.projectaware.org, , sebagian besar sampah laut berwujud plastik. Hal ini telah menyebabkan kematian berbagai biota laut dan juga plankton yang berperan juga dalam produksi produk perikanan.

learn-1

picture source: Google

Perilaku yang tidak bertanggungjawab atas pembuangan sampah ke perairan menjadi faktor yang berperan dalam timbulan sampah. Dari perairan, sampah secara natural mengalir terbawa ke lautan, kemudian menumpuk dan menimbulkan pencemaran dan permasalahan untuk sistem biota laut.

Memang sudah ada beberapa upaya yang dilakukan untuk mengatasi timbulan sampah yang ada. Misalnya penggunaan floating boom yang berfungsi untuk mengumpulkan sampah di lokasi tertentu dan mencegahnya tersebar ke area laut yang lebih luas. Di collecting point ini kemudian dilakukan pengangkatan dan pengangkutan ke TPA atau unit pengolahan/pemilahan sampah. Alat lain yang bisa digunakan adalah screen bar terapung yang dikombinasikan dengan crane penciduk.

BPPT sebagai salah satu lembaga pemerintah untuk implementasi teknologi Read the rest of this entry

Timing Allah selalu Tepat

Pekan lalu ntah dimulai dari mana tapi yang jelas si saya lagi kecapean dan pengen goler-goler aja di kasur. Ngobrol panjang lebar lagi ma misua dengan topik yang bermacam ragam hahaha.. dan ntah kemudian nyampe ke obrolan soal jodoh.

Ada banyak hal menarik yang ternyata menjadi kesamaan saya ma misua.. termasyuk permintaan dari kedua orang tua kami yang timing nya ternyata barengan. Mungkin si saya sudah sering banget cerita di blog kalo trigger utama si saya serius nyari calon adalah permintaan khusus dan eksplisit Ummi yang menginginkan si saya nikah sebelum melaksanakan S3. Timing dr Allah tentang offer dari Professor Chen tentang kelanjutan S3 saya dan the way I told this news to my parents. Followed by their responses yang menyatakan keberatannya tentang si saya untuk bisa memperpanjang masa belajar saya di Amerika sebelum si saya nikah.

Sebelumnya mungkin hanya satu kali kedua orang tua mengemukakan secara eksplisit keinginan mereka kepada saya yaitu pas si saya mau daftar TK UGM taun 2005 dulu. Mereka menyatakan keberatan dan saya mengajukan “baik, asal saya diperbolehkan dan didoakan masuk ITB”. yang berujung pada saya yang alhamdulillah ditakdirkan Allah masuk Teknik Kimia ITB dan pernah sekelas dengannya…

selain itu, mereka tidak pernah minta apapun secara eksplist. segala keputusan pemilihan hidup biasanya diserahkan sepenuhnya kepada saya,, keputusan ke BPPT, S2, dan lain sebagainya.

Ternyata, suami juga mengalami hal yang sama. setelah diangkat menjadi PNS tetap di Untirta, beliau menerima titah untuk menikah sebelum usia 30 tahun dan ketika kondisi mapan ^__^. Timing ini yang menjadi krusial karena ternyata sebelumnya beliau banyak menolak tawaran nikah. Dan katanya sambil ntah serius atau gurauan.. “mungkin kalo timing tawaran dari Nden untuk taaruf saat itu datang lebih awal, bisa jadi kita ga nikah sekarang hahahha”.

Dari sana si saya mikir. Allahu Qadir, Allah Yang Maha Berkehendak Yang Menguasai segala dimensi.. memang sudah jalannya titah itu datang dan tawaran itu sampai tepat waktunya.. hingga kemudian si saya kini juga sedang kondisi mengandung dengan HPL yang agak mepet dengan jadwal keberangkatan beliau ke UK. Mungkin kalo telat dikit, beliau tidak akan berkesempatan mendampingi si saya ngelahirin atau megang anaknya nanti hehehe..

Jadi kalau misalnya ada keinginan kita yang belum terkabul, percaya aja Allah akan memberikannya di saat yang tepat di kondisi yang tepat saat memang semua aspek terkondisikan secara tepat..

Subhanallah walhamdulillah wa laa ilaaha illallah wallahu akbar

Keluarga Besar

Before I met and knew you I have never known what does it mean to be a part of a big family. Secara keluarga si saya hanya terdiri dari Ummi, Aa, Iis, dan saya sendiri. Meski harusnya ada 8 orang (4 orang kakak), saya anak ke 5 dari 6 bersaudara. Tapi rumah kami sebenarnya tidak sepi karena kalo digabung dengan keluarga Euma-Bapak serasa makin ramai. Ummi dan Euma adalah kakak beradik dari 6 bersaudara. Euma punya 6 orang anak, yang hidup hanya 4 karena anak ke 5 dan ke 6 wafat, sementara Ummi punya 6 orang anak dengan yang hidup hanya saya dan iis. Jadilah keluarga kami yang juga tinggalnya berdekatan ini menjadi saling melengkapi satu sama lain. Kang Agus, Teh Tinah, Teh Ipong, dan Teh Nia sudah seperti kakak bagi saya dan Iis.

 

myfams

Ekspansi keluarga Euma dengan menikahnya semua anaknya dan sampai lahir cucu-cucu menggemaskan membuat semarak ramai rumah. Maka saya yang status aslinya sepupu menjadi adik hingga kemudian menjadi bibi dari cucu-cucu nya Euma. Tapi ya itu sebatas di sana keramaian yang menghinggapi hidup saya hingga kemudian saya nikah takdir Allah dengan seorang ikhwan yang memiliki 11 orang adik.

Di awal proses taaruf, beliau sudah menyampaikan kondisinya bahwa beliau punya 11 orang adik yang akan menjadi tanggung jawabnya. Dan si saya mengiyakan tanda bahwa saya sama sekali tidak keberatan punya 11 orang adik ipar karena sejak kuliah saya sudah terbiasa mengurusi adik-adik junior di asrama (Salman dan lalu Etos).

Pertama kali bertemu dengan keluarga suami adalah pada tanggal 17 Agustus 2016. Saat itu yang ketemu hanya Mamah, Abah, Irma (adik ke2), Ofa (adik ke 4), dan yang kecil2 yang memang ga ikut forum perbincangan. Well sebelum ketemu udah stalking dulu sih di FB. Ketemu FB abah (yang mungkin dibikinin sama anak2nya) dan melihat foto2 keluarga calon suami saat itu. Well.. rame… itu saja yang kemudian muncul di benak..

Kejutan tentang definisi keluarga besar yang pertama kali saya alami adalah pas nikah tanggal 29 September 2016. Pernikahan disepakati hanya akan melibatkan keluarga dari saya dan suamidan ternyata itu pun yang datang udah buanyaaaakk. Dan saat itu juga ketemu keluarga suami dalam porsi lengkap Mamah Abah dan ke12 orang anaknya.

Saat itu sempet dites nama2 adik suami  untung hafal, tapi lalu tak mampu mengingat dengan baik keluarga dari abah atau keluarga dari mamah yang unexpectedly anak2nya juga buaanyaaak. Saya inget saat itu, teh Hol (gatau bener atau ngga nulis nama panggilannya) juga dibilang punya 13 orang anak. Salah satu anaknya seumur dengan suami dan ternyata satu angkatan di ITB.. anak IF05 hehehe…

Pengalaman hidup bareng keluarga besar kemudian saya alami untuk pertama kalinya nginep di rumah mamah di Cilegon. Kebayang kan ngurus anak sebegitu banyaknya dan mamah menjalankannya dengan sangat luar biasa. Rumah rame luar biasa. Pas malem pada bergelimpangan di ruangan tengah dengan aktifitasnya masing2. Ada yang bareng belajar ada yang maen bareng slime dll.. rame dan si saya ga pernah berada dalam kondisi seperti itu.

Puncak keterkejutan si saya tentang definisi keluarga besar adalah ketika ramadhan-syawal 1438H kemarin saya habiskan di rumah mamah. Yang kondisinya saat itu adalah full member.. anak2 nya ada semua di rumah. Complete 12 orang plus si saya nambah2in jadi 1 ma si dede janin tentu hihihi.. daaan luar biasa itu saur ma buka puasa bareng2 beneran berkesan banget… berbeda susananya dengan apa yang pernah dialami pas di asrama apalagi kalo dibandingkan dengan kondisi rumah di Cipanas. Kontras abis.

Dan lebaran iedul fitri yang menguak definisi keluarga besar yang sebenarnya. Salam2an ma tetangga yang datang sampe lebih dari 210 orang kali ya..(keitung dari jumlah bingkisan yang dibuat). Juga kedatangan saudara2 dari abah (yang dari mamah katanya ga datang semua hihihi) daaaaan buanyaaaaaak… ketemu dengan anak2 teh hol, teh evi, abah uwa, dan masih banyak lagii… Abah sendiri adalah anak ke 10. Dan baik kakak maupun adiknya abah juga anaknya buanyak.. hihi… kebayang kan amazed nya si saya saat itu. Berkali2 saya ceritain ini ke mamah, emak, suami, sampe sekarang kesannya masih membekas hihihi..

Dan yang saya bayangkan nanti adalah ketika dede bayi saya sudah besar dan ketemu tante2nya om2nya dan juga anak2 mereka.. akan ramai seperti itu atau mungkin lebih.. sungguh sesuatu yang sangat indah untuk dibayangkan hihihi…

Jadi intinya si saya nikah sama aimam itu jadi merenovasi definisi keluarga besar yang selama ini pernah nyangkut di kepala… hihi… seruuuu pokonya maaaah…

I am so grateful Allah chose you and your family to be a part in my life a…. belum lagi yang 11 ini karakternya juga bikin2 gemesh gimanaaa gt hihihi.. seru abis..

PP No 11 th 2017, Obrolan Kita dan Mengejarmu

Pagi itu, 2 hari pasca Iedul Fitri 1438H, kau datang ke kamar Irma di mana aku sedang membaca buku elok yang kau tugaskan untuk kutuntaskan sebelum kita kembali ke rumah dan dunia nyata kita.

Berawal dari obrolan ringan yang kubuka dengan cerita bahwa tadi malam aku dan adiknya membicarakan bukaan CPNS di website yang ternyata hoax yang membawaku membuka peraturan baru mengenai ASN yang tercantum dalam PP No. 11 tahun 2017 yang memang baru dikeluarkan bulan April yang lalu. Peraturan yang sama yang membuat salah dua dari senior ku di BPPT terancam pensiun mendadak. (peraturan lama untuk peneliti madya pensiun pada usia 65 tahun, sementara di peraturan ini bilangnya 60 tahun).

Dan kau bertanya tentang apakah ada perubahan peraturan tentang cuti. Dan aku bilang g ada. So far, isi peraturan cuti masih sama dengan PP lama tahun 1974 yang sampe sekarang masih dipakai. hanya beberapa point yang mungkin ada tambahan misalnya di bagian Cuti di Luar Tanggungan Negara (CLTN) yang aku pantau terus perkembangannya. di PP sebelumnya tidak ada pernyataan tentang kosongnya formasi, tapi di PP ini ada.

Obrolan menjadi bertambah serius dengan ditandai ekspresi raut mukanya yang berubah.

“dan atasannya iin masih belum ngasih lampu hijau atau tanda-tanda mau ngasih CLTN?” dan aku mengangguk pelan.

“udah diskusi sama Bapak Kabagpro juga sama. Adanya kesulitan kembali pasca CLTN apalagi ketika formasi memang benar-benar diisi orang lain”

“resikonya terlalu tinggi. udah fokus nyari sekolah aja.”

“tapi tetep ga boleh LPDP kan? haha”

“iya cari yang lain”

“tapi UK mah ga banyak beasiswa nya. Chevening cuma buat master aja. paling grant proyek dari prof aja”

“tapi ga mustahil kan?”

“ngga…  meski artinya harus kerja keras. Tapi sebenarnya ada opsi ketiga sih a. yang belum pernah kita diskusikan”

“apaan?eh tapi opsi 2 nya apa?”

“mengingat terbatas bisa dapat bsw ke UK, kebayangnya mampir ke negara tetangga. itu opsi ketiga. Opsi keduanya kan udah pernah dibahas, nyari k univ sekitar Bath”

“negara apa emang?”

“Jerman, pake DAAD. at least chance nya bs dari univ bs dari govt”

“Boleh itu juga dikejar, paling ngga masih bs ketemu 3 bln sekali di banding ketemu setahun sekali”

(kok berat bangeeet yaaa hiks)

Di satu sisi lega dapat approval, di satu sisi ada semangat baru menggelora mengejar cita-cita yang pernah lama terkubur. Jerman adalah negara state of the art nya biogas bahkan mengalahkan US sekalipun. Dan fakta bahwa kalo aku bisa masuk ke sana bisa memperkecil peluang LDR yang super lama.

kesimpulannya si aku harus dapat sekolah, S3 ke Eropa dengan status yang baru yang juga ada tantangannya yang bukan berarti aku gabisa, wong kamu aja percaya ma aku.

Si aku pun mulai ngelist dan mulai serius lagi supaya bisa sekolah lagi. Meskipun masih tahu depan kan harus disiapin dari sekarang, apalagi nanti mungkin ada dede kecil barengan pasti seru.. di sini ku ngerasa barengan sama kamu teh memang ngerasa kepicu terus buat maju…

dan 2 hari yang lalu dikasih petunjuk sama Allah, selain DAAD kalo mau ngejar opsi 1 dan 2 mungkin beasiswa IDB ini bisa juga dipake.. who knows,, kamu kan dapat nya dari IDB juga meski pake mekanisme universitas-Kemenristekdikti

siapa tahu si aku juga bisa 🙂

Semangaaaaaat

idb

Gosong

Well.. tidak semua resep yang tersedia di internet bisa dieksekusi dengan sekali mulus. kasusnya si saya, seingat iin memang kebanyakan mah mulus, edible, dan enak.. nah giliran dapat yang ga lancar jadi pembelajaran juga.

si saya ngidam bikin martabak. udah 3 hari belum kesampaian. Giliran weekend datang dan bahan lengkap si saya emang maen rahasia2an sama misua haha.. I said “it’s a surprise”..mungkin gara2 ini juga jadi gagal wkwkkw…

well memang dari dulunya si saya jarang sih pake takaran gram karena emang ga punya timbangan (kayanya emang harus maksain beli kalo gini mah hahahha). tapi si saya biasanya fine fine aja… giliran bikin martabak yang satu ini pas gagal kok nyesek banget padahal rasanya mah enak cuma gosong doang hahahha..

wp-1499844539513.jpg

Resep martabak nya sebenarnya mudah. Saya dapatkan dari instagram yang memang berisikan resep2 yang gampang buat dieksekusi.

semuanya sih oke sampe kemudian si saya nuangin adonan ke wajan kecil dan voila gosong…. padahal api kompor sudah diatur sedemikian rupa sehingga  harusnya mah ga gosong. Tapi emang sih kalo nginget lagi mamang2 tukang martabak kan biasanya wajannya tebel banget.

Nah salahnya si saya harusnya dari sana saya ngeh satu parameter yaitu kekentalan adonan. Saat itu saya cuma ngeh sama kontrol api hingga kemudian saya fokus ngeganti wajan yang lebih luas dan tebal. Hasilnya sama sodara2 padahal udah ngontrol api kompor sebaik mungkin.

Di akhir cerita, bagian bawah emang gosong tapi bagian di atasnya sebenarnya enak banget dan sayang kalo dibuang, akhirnya saya makan juga. Misua sih makan dua potong (mungkin karena ngerasa ga tega udah susah-susah bikin wkkwkw).

Sambil nganalisis apa yang sebenarnya terjadi pikiran saya barulah ngeh sama si adonan yang mungkin memang terlalu kentel alias kurang air. kayanya ini penyebab utama. Oleh karena itu kayanya si saya bakal nyoba lagi kali lain dengan kekentalan yang lebih rendah dari yang pernah saya buat ini haha… ga kapok ceritanya habis martabaknya sebenarnya enak…

Hikmah di balik Kisah, Al Quran, dan Diriku

Ide tulisan ini tercuat dari hasil kajian halaqah pekanan yang digabungkan dengan kajian yang diadakan oleh Masjid At Taqwa LUK, Serpong pada hari Sabtu, 10 Juni 2017 hari ini. Kajian ini menghadirkan Ustadzah Tri Handayani, seorang Ustadzah dari Bekasi yang memiliki perjalanan hidup yang teramat luar biasa, seorang pendawah yang merupakan seorang Kanker Survivor.

Dan tulisan ini adalah mungkin pembuka atau pendahuluan dari 2 tulisan yang mungkin akan saya buat berbekal hikmah yang saya dapat dari paparan Ustazah.

Jadi initi dari kajian ini adalah sebenarnya yang saya tangkap adalah paparan kisah yang luar biasa yang Allah gubah untuk seorang Ustadzah Tri Handayani untuk diambil dan digali hikmahnya bagi siapapun yang mendengarnya. Si saya sampe tertegun terpana terpesona betapa Allah Yang Maha Pencipta dan Berkehendak yang dengan mudahnya melampaui batas logika manusia.

Adapun di tulisan pendahuluan ini saya mau mengaitkan satu hikmah yang saya dapat dengan Al Quran dan kejadian saya sendiri. Saya yang dari dulunya adalah penyuka kisah dan lebih bisa mendapat hikmah better dengan proses penyampaian kisah jika mungkin dibandingkan dengan hikmah dalam bentuk pengemasan materi. Maka agak wajar ketika dulu titik point hijrah dakwah saya adalah buku “Palestine Emang Gue Pikirin” dan “Bukan di Negeri Dongeng” yang isinya lebih menekankan kepada pemaparan cerita bukan materi. Pun dengan bentukan karakter si saya sekarang yang saya sadari adanya pengaru perjalanan kisah diri sendiri yang menghimpun saya saat ini.

Dikaitkan dengan Al Quran, pernahkah berpikir mengapa Al Quran memiliki banyaaaaak banget kisah yang luar biasa di dalamnya? Kisah 25 Nabi dan Rasul, Kisah ashabul Kahfi, Kisah thalut dan Jalut, dan kisah-kisah lainnya yang bisa dibaca sendiri.

Dan mungkin bagi para dai sudah sangat familiar dengan QS An Nahl 125 yang secara ringkas menyatakan salah satu metode dakwah:

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.

Lihat betapa penekanan metode dakwah pertama adalah “mengajarkan dengan hikmah dan pelajaran yang baik”

Betapa Allah sudah meng-consider faktor kejiwaan manusia bahwa manusia lebih mudah didakwahi dengan menggunakan metode  pengajaran dengan hikmah. Karena bisa jadi itu terjadi pada manusia dan ada kemampuan pencapian logika pada diri manusia untuk menangkapnya, apalagi jika kemudian pelajaran2 itu terjadi pada dirinya sendiri.

Kembali tentang kisah dalam Al Quran, dalam satu literatur (http://quran.al-shia.org/id/qesseh-quran/mukadimah.htm) disebutkan bahwa tujuan penyampaian kisah dalam Al Quran memiliki maksud sbb: Membuktikan kewahyuan al-Quran dan kebenaran misi Nabi SAW, Membuktikan kesatuan agama dan akidah seluruh nabi dan rasul, dan masih banyak lagi. Tapi bagi saya yang utama adalah Allah bercerita betapa Allah Maha Berkuasa Berkehendak, Maha Pencipta… (dan mari sebutkan satu2 sifat Allah di sini 🙂 )

Jadi harusnya manusia lebih dekat dengan Al Quran dibandingkan dengan buku kisah apapun. Karena di sana bisa digali keimanan diri.. karena bagi saya, dengerin paparan kisah Ustadz Tri Handayani aja tadi udah sukses berat nge-boost iman saya lagi subhanallah… nah mengenai kisah Ustadzah ini insyaallah akan diceritakan di tulisan berikutnya… (maklum emak2 udah harus ke dapur sekarang buat bikin tajil wkwkwkwk)

Bersambung yaa…

Nuhun