Mengubah Minder Menjadi PD

Orang Minder seperti orang yang mati langkah, raganya masih hidup tapi hatinya seperti mati. Tidak menerima kenyataan seperti tidak punya cita- cita, defensive, banyak diam, potensinya tidak dikembangkan, jiwanya goncang, tidak mengambil keputusan untuk melangkah “LUMPUH, BUNTU, MANDEG”.

ALFRED HEDLER, seorang psikologi berpendapat bahwa orang minder bukanlah orang yang tidak memilki apa- apa melainkan orang yang merasa bahwa orang lain lebih baik daripada dirinya baik dalam satu hal ataupun dalam banyak hal.

Minder atau Tidak PD memiliki gejala sebagai berikut :

  1. “ Mempunyai perasaan bahwa orang tidak menyukai “

Bisa disebabkan sewaktu masih kecil tidak dicintai, tidak disayangi, tidak disukai. Saat dewasanya tidak bisa mencintai, tidak bisa menyayangi, tidak bisa menyukai (unloved). Bisa juga sewaktu kecil dimanja, dihormati tapi “semu”, karena orang tuanya kaya atau pejabat. Dan ketika jabatn dan kekayaannya runtuh, ia merasa tak ada yang menghormati lagi.

  1. “ Merasa bukan orang besar, Merasa tidak berharga “

Merasa sebagai orang biasa, tidak punya apa- apa, tidak bisa apa- apa lalu merasa tidak berharga ( Insignifican ).

  1. “ Merasa tak mampu untuk berkesampaian “

Merasa potensinya tak cukup untuk mencapai sasaran, lalu menjadi canggung dan tanggung. Canggung dalam aksi, tanggung dalam hasil. Disebut saputangan terlalu kecil, disebut taplak meja terlalu besar.

  1. “ Mudah terpengaruh oleh kesuksesan orang lain “

Bila melihat, bila mendengar orang lai sukses merasa dirinya tidak akan bisa seperti mereka. Dan secara psikologis tertekan (timbul pertanyaan “ Kapan Saya Seperti Mereka? “.

  1. “ Dalam hatinya hampir selalu muncul pertanyaan apa yang dimaksud dengan ini?, bila ada aksi dari orang lain”

Bila orang lain mengucapkan selamat, bila orang lain memberi sesuatu, bila orang lain diam, bila orang lain mengkritik, bila orang lain….maka dalam hatinya bertanya “ apa maksud dari perbuatan ini?”. Orang minder memikirkan “perbuatan orang”, sementara orang PD berfokus pada aksi, kerja, dan usaha.

  1. “ Bila akan melakukan sesuatu merasa takut kalau- kalau orang lain mencemooh, memperolokkan, dan menertawakan”

Dalam banyak hal sering kali kaku, nervous, grogi.

  1. “ Grogi atau panic bila menghadapi orang baru, lingkungan baru, situasi baru ”

Misalnya, masuk sekolah baru, pindah rumah, berganti lingkungan, merasa tertekan.

  1. “ Menganggap norma- norma disekitarnya, semuanya salah”

Sering menyalahkan lingkungan, bila tak cocok dengan dirinya. Apakah norma- norma lingkungan perlu disalahkan? Bisa jadi iya, tapi cara menyikapinya jangan negative terus.

  1. “ Marah bila mendapat kritik “

Tidak mau dikritik. Bila mendapat kritik mundur dari lingkungan atau bereaksi dengan marah- marah.

  1. “ Sikap basa- basi lebih sering ditampilkan daripada berbuat nyata “

Tidak bisa tegas, dibelakang ngomel, di depan basa- basi. Padahal berbuat nyata dan tegas akan lebih konstruktif bagi dirinya.

  1. “ Cepat menyerah “

Belum berusaha maksimal, hanya menemukan kendala awal, langsung menyerah.

  1. “ Sangat Sensitif “

Tidak mau bersentuhan dengan sesuatu yang diperkirakan bakal menyakitkan.

  1. “ Kehilangan rasa humor “

Karena sering tertekan, jadi banyakmurung, akibatnya rasa humor pun hilang. Wajah murung, raga diam, defensive, banyak menunggu, sebenarnya rugi.

Percaya Diri ( Self Confidance )

Mengenali ukuran potensi diri sendiri dan mempercayainya akan sangat menolong hidup kita dan membuahkan banyak hal yang tidak kita duga sebelumnya. Keuntungan dari mengenali potensi diri itu adalah :

  1. Memberitahu kepada kita bahwa setiap orang itu berbeda, mempunyai keistimewaan masing- masing, dengan demikian kita akan menghargai diri sendiri (dignity) dan bisa menghargai kenyataan ( Kodrat, Kepandaian )orang lain ( respect, appreciate).
  2. Lebih mengenali secara lengkap secara lengkap potensi dan kemampuan yang ada pada dirinya sendiri. Ini penting untuk mendorong diri sendiri agar bangkit dan bergerak maju (mobile, dynamic)
  3. Dengan percaya diri kita akan lebih mempersiapkan untuk menemukan seorang figure (teladan) lebih tepat sehingga bisa menteladani langkah tanpa kehilangan control dan seleksi ( tidak salah pilih ).
  4. Kesadaran akan potensi diri akan menjelaskan cita- cita hidup seraya mendorong untuk sampai kepadanya. Inilah sumber potensi diri.

Langkah- Langkah Konkrit yang Mengubah Tidak PD Menjadi PD

  1. Sadar

Kesadaran akan kekurangan yang menyebabkan tidak PD, bukanlah sesuatu yang salah. Justru orang yang tidak sadar akan kekurangan bisa membuat “terlalu PD” (Over Confidence). Ini adalah tak tahu diri. Jadi kekurangan dan ketidak- PDan yang disadari adalah positif.

  1. Kemauan

Saya lemah, saya kurang, saya tidak PD, tapi saya mau mengubah tidak bisa menjadi bisa, tidak PD menjadi PD. Tanpa kemauan sendiri untuk berubah, bila diubah oleh orang lain adalah menyakitkan dan penuh keterpaksaan.

  1. Usaha

Mau belajar, mau berguru (cari figure), mau mencoba, mau berbuat langsung, “ gunakanlah kanvas anda untuk mewarnai lukisan anda. Jangan biarkan siapapun untuk mewarnai lukisanmu. Sebab sangat mungkin ia tidak mempunyai warna lain kecuali warna hitam”.

Anda tau “subtitusi?”, subtitusi adalah mengganti kelemahan dan kekurangan menjadi potensi lain.

“ada seorang pemuda kurus, jasadnya kurang beruntung, jika ingin menjadi atlit, sepertinya gak mungkin. Dengan penuh kepercayaan dirinya dia tidak lantas putus asa. Lalu ia menggunakan akalnya. Ternyata ia jadi seorang filosof besar. That’s Immanuel Kant.

  1. Bisa

Karena sadar akan keadaan dan kenyataan yang ada, dan sadar akan potensi. Lantas meu belajar dan belajar, mencoba dan mencoba, berusaha dan berusaha, akhirnya ia bisa.

  1. Menguasai (Mastery)

Bisa belum tentu menguasai. Bisa hanyalah sekedar bisa. Agar benar- benar menguasai, mau belajar terus menerus dari buku, dari guru, dari pengalaman,dan dari berbagai hal yang bisa menciptakan suatu ide terbaik. Akhirnya benar- benar menguasai. Gurunya pun berani melepas, sebab sudah dianggap setara dengannya (sekarang boleh pergi, segalanya sudah saya berikan, sekarang cari saja guru lain yang bisa memunculkan segala yang masih terpendam dalam dirimu).

  1. Sempurna

Ketika sudah menguasai, ia mulai berfikir untuk lebih baik lagi, ingin mendapatkan hasil yang maksimal dan sempurna, disinilah munculnya cirri pribadi yang artistic. Jadi artistik (punya jiwa seni) ini adalah menguasai semua dengan hasil yang mencapai sempurna dan akhirnya sempurna.

Catatan : orang yang muncul “PD awal” ketika sudah bisa dan akan “benar- benar PD” jika sudah menguasai dan berikutnya “lebih dari PD” yang disebut “tampil enak”. Mungkin dirinya “enjoy” sementara yang melihatnya “enak/terhibur”. Itulah tahap ke-6. Jadi slalu tampil artistic.

Demikianlah “mengubah tak PD (Minder) menjadi PD”, minderpun pergi, yang ada sekarang adalah diri “menikmati”, orang sekitar “dienakkan”.

(Alfred Hedler) : Tidak PD itu manusiawi hanya saja perlu disadari dan disikapi secara positif untuk mengubah diri menjadi sempurana (Fase 6). Andaikan pernah gagal, sesungguhnya manusia itu mempunyai kemampuan untuk mengubah kegagalan dalam hidupnya menjadi perantara dan pengantar yang unik untuk menggapai kesuksesan yang monumental.

Tidak PD akan terkikis secara segnifikan/ berarti jika kita lebih focus pada aksi, kerja, usaha daripada berlama- lama menggenggam rasa kekurangan diri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: