Blog Archives

Laporan singkat studi banding teknologi ke Malaysia Palm Oil Board (MPOB)

Setelah melakukan kunjungan lapangan dan diskusi terkait dengan stakeholder mengenai perkembangan dan pengembangan teknologi konversi limbah biomassa batang kelapa sawit dan berbagai jenis limbah biomassa yang dihasilkan dari perkebunan dan industry kelapa sawit, diperlukan suatu studi banding komprehensif dengan lembaga yang muncul dalam diskusi tersebut yang selama ini dijadikan referensi tidak hanya dalam teknologi melainkan juga dari segi kelembagaan dalam perkelapasawitan di Indonesia. Lembaga tersebut adalah MPOB atau Malaysia Palm Oil Board atau Lembaga Sawit Malaysia.

MPOB adalah lembaga resmi pemerintah di bawah kementerian Perusahaan Perladangan dan Komoditi Malaysia yang memiliki kewenangan penuh mengenai perkelapasawitan secara kebijakan maupun teknologi. Lembaga ini memiliki beberapa divisi teknologi, salah satunya adalah divisi teknologi biomassa yang memiliki tugas untuk mengkaji teknologi konversi biomassa kelapa sawit menjadi produk-produk unggulan yang tidak hanya diharapkan dapat mengurangi beban lingkungan akibat limbah melainkan juga meningkatkan keuntungan ekonomi yang bisa diperoleh dari implementasi teknologi pada produk limbah tersebut. Hal ini bisa meningkatkan motivasi perusahaan untuk pengelolaan limbah yang berbasis keuntungan.

Pada dasarnya MPOB telah memiliki berbagai teknologi konversi limbah yang kini statusnya sudah banyak yang masuk ke dalam proses komersialisasi, misalnya produk medium Density Fireboard (MDF), kayu lapis, kayu kelapa sawit, komposit, dan lain sebagainya. Sebagai lembaga penelitian yang dianggap sangat maju, MPOB memang memiliki banyak kelebihan yang pembelajarannya dapat digunakan untuk meningkatkan daya saing perkelapasawitan Indonesia khususnya di bidang konversi limbah biomassa. 

Advertisements

Regional Workshop on Climate Change Adaptation Technologies

Training yang dilaksanakan pada tanggal 9 hingga tanggal 12 April 2014 ini memiliki tujuan besar sebagai langkah awal kolaborasi regional Negara-negara Asia Pasifik dalam menghadapi Perubahan Iklim. Adapun peserta dari regional workshop ini adalah sebagai berikut: Indonesia, Vietnam, Laos, Filiphina, Myanmar, Thailand, Cambodia, Bhutan, Nepal, Bangladesh, Srilanka, Mongolia, Kazakhstan, Uzbekistan, dan Tajikistan.

Image

Sebagai region yang memiliki Negara-negara berkarakteristik sebagai Negara berkembang dengan vulnerabilitas yang cukup tinggi dikaitkan dengan geografis dan topografisnya, Asia Pasifik menjadi region yang harus melakukan banyak hal terkait teknologi adaptasi. Kenaikan muka air laut, perubahan cuaca secara global, kenaikan temperature lingkungan yang berakibat pada pemanasan global, merupakan sedikit dari sekian banyak isu yang harus bisa dihadapi dengan baik oleh masyarakat dari Negara-negara di Asia Pasifik tersebut. Apalagi dengan kondisi ekonomi masyarakat yang tidak terlalu mendukung untuk membangun berbagai infrastrukutur tambahan dan mengimplementasikan teknologi yang sesuai.

Indonesia pun demikian, sebagai salah satu Negara yang memiliki taraf vulnerabilitas yang sangat tinggi, Indonesia perlu melakukan banyak hal terkait adaptasi perubahan iklim. Selain karena bentuknya sebagai Negara kepulauan yang akan mengalami dampak secara langsung akibat kenaikan muka air laut, Indonesia juga memiliki kebergantungan yang cukup tinggi terhadap pertanian dan perikanan. Artinya perubahan iklim memiliki potensi dalam mempengaruhi kehidupan masyarakat (livelihood) juga sektor utama yang berkenaan langsung dengan keberlangsungan hidup berupa mata pencaharian yaitu sektor pertanian dan perikanan. Setelah diidentifikasi lebih lanjut, diketahui pula bahwa potensi dampak ini tidak hanya akan menyentuh kehidupan dalam sektor ekonomi, tapi juga kesehatan, penyediaan air, dan lain sebagainya.

Training yang berada di bawah koordinasi UNEP, ICCCAD, dan IIED-IUB ini memfasilitasi Negara-negara di Asia Pasifik untuk dapat saling berbaagi pengalaman dan informasi mengenai sejauh mana kegiatan adaptasi perubahan iklim dilaksanakan. Selain itu, dilksanakan juga analisis sektor dan analisis regional dilengkapi dengan analisis barrier dan enabling framework yang diperlukan untuk mengatasi barrier tersebut. Berbagai sesi diskusi dan presentasi serta kunjungan lapangan ke Bangladesh Rice Research Institute (BRRI) berusaha menunjukan secara komprehensif bagaimana kondisi konsep dan plan juga kenyataan di lapangan.

Training ini juga menunjukan bahwa terdapat banyak sekali kesamaan dari Negara-negara di Asia Pasifik dalam menganalisis sektor yang paling dipengaruhi perubahan iklim yang kemudian dijadikan sebagai aksi nasional untuk adaptasi, misalnya sektor pertanian, sektor ketersediaan air, juga sektor pantai (atau kelautan). Selain itu, barrier yang dihadapi juga kurang lebih hamper sama. Namun memang progress dari tiap Negara berbeda, ada yang sudah memeiliki perangkat implementasi aksi yang sudah jauh dan ada yang baru mulai. Ada yang maju di teknologi tertentu namun tertinggal di teknologi lainnya. Hal ini menyebabkan pertukaran informasi memiliki peran yang sangat signifikan karena masing-masing Negara dapat menjadikan informasi dari Negara lainnya sebagai bahan pelajaran dan juga bisa jadi infomasi yang dibutuhkan untuk program berikutnya.

Participants of UNEP Workshop, 2014

Adapun rincian kegiatan yang dijalankan selama kegiatan ini adalah sebagai berikut:

  1. Hari pertama, tanggal 9 April 2014

Hari pertama berisi kegiatan perkenalan juga presentasi pendahuluan dari penyelenggara tentang tujuan besar dari regional workshop ini, juga dari setiap Negara tentang salah satu jenis teknologi adaptasi yang dilaksanakan di Negara tersebut. Masing-masing Negara juga mengungkapkan secara singkat tentang kegiatan TNA dan progress kegiatan terkait perubahan iklim mereka, termasuk juga tentang kebijakan perubahan iklim yang sudah ada ataupun yang berada dalam tahap perencanaan.

Pasca presentasi dari setiap Negara, juga disajikan presentasi dari practical action Bangladesh mengenai floatening Gardening sebagai salah satu aksi adaptasi yang sejauh ini sudah diterapkan dan memiliki signifikansi menfaat bagi perekonomian para petani di Bangladesh. Adapun konsep dari floatening gardening ini adalah melakukan system pertanian di atas lahan tergenang sebagai salah satu simulasi ketika terjadi banjir.

  1. Hari Kedua, tanggal 10 April 2014

Kunjungan ke BRRI dilaksanakan pada hari kedua untuk menunjukan sudah sejauh mana kegiatan adaptasi d sector pertanian Bangladesh dilaksanakan. Para peserta diberikan penjelasan secara umum tentang prestasi-prestasi yang dibanggakan BRRI untuk mengatasi permasalahan pangan khususnya permasalahan varietas padi untuk perubahan iklim di Bangladesh. Kemudian kegiatan dilanjutkan dengan kunjungan ke fasilitas BRRI seperti laboratorium bioteknologi, pembibitan, bank gen, dan laboratorium uji eksperimen perubahan iklim. Secara umum, dari hasil kunjungan tersebut terlihat bahwa telah banyak yang dilakukan oleh Bangladesh dalam upaya mencari varietas padi yang tahan kekeringan, banjir, dan salinitas tinggi. Pada dasarnya ada atau tidak adanya isu perubahan iklim, kegiatan pengembangan varietas padi untuk masyarakat ini memang menjadi hal yang krusial di Bangladesh hanya saja dengan adanya isu perubahan iklim, encouragement untuk melanjutkan kegiatan-kegiatan penelitian padi bisa semakin tinggi.

  1. Hari ketiga, tanggal 11 April 2014

Hari ketiga diisi dengan kegiatan diskusi kelompok mengenai sector prioritas beserta teknologi unggulan dalam sector tersebut. Identifikasi sector prioritas dilanjutkan dengan identifikasi barrier dan enabling framework dari barrier yang ada.

Selain diskusi grup, juga disajikan presentasi dari BBC Media sebagai media yang menyorot kegiatan adaptasi perubahan iklim untuk diinformasikan melalui media internet ke seluruh dunia. Program broadcasting adaptasi perubahan iklim ini dinilai sangat efektif dalam memberikan gambaran kepada masyarakat seluruh dunia tentang pentingnya adaptasi perubahan iklim. Sala satu video yang ditampilkan sebagai contoh adalah kegiatan pembangunan rumah tahan banjir di pinggir pantai Bangladesh. Hal ini bisa menginspirasi semakin banyaknya kegiatan sejenis yang berusaha meningkatkan kesadaran masyarakat akan dampak perubahan iklim.

  1. Hari keempat tanggal 14 April 2014
    Pada hari terakhir training ini, kegiatan pertama yang dilakukan adalah kegiatan presentasi dari ICCCAD tentang program lost and damage sebagai salah satu kegiatan yang diharapkan dapat memberikan pengetahuan komprehensif mengenai perhitungan kerugian bencana. Karena pada dasarnya, kerugian bencana tidak bisa secara absolut dinilai dengan uang, ada pendekatan holistic dan integrative yang harus dilakukan untuk menghitung kerugian akibat bencana. Hal ini dinilai sebagai kemampuan yang harus dimiliki terutama untuk menganalisis kegiatan adaptasi secara komprehensif. Kegiatan adaptasi tidak seperti mitigasi yang memiliki parameter terkuantifikasi berupa penurunan emisi yang dinyatakan dengan sauna ton C02eqv/tahun, sehingga penentuan parameter measurement keberhasilan ataupun ketercapaian target lebih sulit daripada mitigasi. Selanjutnya kegiatan dilanjutkan dengan diskusi grup per area regional. Peserta dikelompokan berdasarkan kelompok Asia Tenggara, Asia Selatan, dan Asia Utara.

Selanjutnya masing-masing kelompok region melaksanakan analisis sebenarnya apa yang paling dibutuhkan di dalam regional mereka, teknologi apa yang bisa menjadi option, atau bagaimana kisah sukses implementasi yang sudah ada.

 

Peran serta Indonesia dalam forum regional Workshop Adaptasi Perubahan Iklim:

  1. Melakukan presentasi mengenai teknologi adaptasi yang diterapkan di Indonesia khususnya di sector pertanian, yaitu mengenai teknologi pemerolehan tanaman pangan (khususnya padi)
  2. Melakukan sharing informasi mengenai Technology Action Plans (TAPs ) untuk adaptasi perubahan iklim serta sharing informasi tentang adanya Rencana Aksi Nasional Adaptasi Perubahan Iklim (RAN-API)
  3. Di dalam working grup sesi pertama, bersama peserta dari Negara Kazakstan, Kamboja, Buthan melakukan analisis barrier dan enabling framework secara komprehensif dalam sector water resource khususnya teknologi rainwater harvesting dan irigasi. Dalam diskusi ini, Indonesia banyak memberikan pandangan mengenai hambatan yang terjadi serta solusi yang mungkin dilakukan untuk mengatasi hambatan. Serta memberika pendapat mengenai stakeholder yang terkait secara langsung dan memiliki pengaruh signifikan dalam proses implementasi teknologi adaptasi, misalnya lembaga riset seperti BPPT, juga NGO internasional seperti UNEP, GEF, sector swasta dan lainnya.
  4. Memberikan pandangan mengenai sector prioritas untuk adapatsi dalam ruang lingkup regional Asia Tenggara pada sesi diskusi kedua untuk menganalisis kasus regional. Pada sesi ini pembahasan lebih komprehensif lagi karena menyangkut semua sector yang mungkin termasuk pula sector Early Warning System (EWS). Misalnya Indonesia memiliki TEWS dan Buoy untuk system antisipasi bencana akibat perubahan iklim. Dalam sesi sharing dan pertukaran informasi ini, dirasakan banyak sekali manfaat karena ada informasi dari Indonesi yang dibutuhkan oleh Negara lain, demikian juga sebaliknya.
  5. Dalam diksusi informal, menjalin hubungan persahabatan dengan peserta dari Negara-negara lainnya, terutama Uzbekistan, Kazakhstan, Vietnam, Thailand, Cambodia, Buthan, Bangladesh, Srilangka dan Tajikistan.
  6. Memberikan informasi mengenai apa yang dilakukan di Indonesia, misalnya kaji implementasi teknologi RBCS. Informasi ini diminta oleh peserta dari Negara Buthan yang bermaksud menjalankan TAPs untuk waste heat recovery di industry tekstil
  7. Menjadi perwakilan peserta dalam acara resmi penutupan workshop di hadapan Duta Besar Vietnam dan Buthan untuk Bangladesh.

Serpong, It is not that bad ^_^

Sebenarnya ada banyak hal yang ingin dituangkan dari dalam kepala menjadi isi tulisan. Tapi bingung mau mulai dari mana? Mulai dari kebakaran yang menimpa keluarga beserta hikmahnya, lalu lika liku dan dinamika perasaan ketika menerima email dari sebuah lembaga yang bercokol di Gedung CIMB Niaga, hal-hal baru yang didapat ketika memulai berkantor di serpong, serta tulisan untuk menguatkan keinginan mencapai cita-cita bersekolah lagi. Banyak hehehe.. tapi kayanya sekarang akan kumulai dari tulisan tentang how interesting my new life when I began to do my work activities in Serpong. Since this piece of mind is the easiest to be written and happy feeling attached to it. Heheheh.. oh yeah.. From now, I would like to try to use my English ability. Since in the short time, I will face my TOEFL IBT at 29th September to fulfill the requirement to universities that became my target to be achieved. Oh no.. out of topic now. Okay back to laptop.

I remember that I have posted some piece of my mind about the condemnation of BPPT’s staff from Thamrin to Serpong. Many people disagreed, yeah even now, some of them still disagree to move and leave our office in Thamrin. As many reasons we have, and so many awkwardness occurred inside the process. Moreover, the building quality as we can see is not as great as we have in Thamrin, and don’t forget about the lack of access to many stakeholders that have already been related to our activities. Well yeah too many reasons actually.

For me, actually I have already accepted the fact that all of us have to move. Our office in Thamrin after all is owned by government, then whatever the decision has been made by our superior, we have to obey it, don’t we? But yeah, honestly sometime, I also have my dislike about this decision. I have my own reason. Beside I have to consider about my residence, I also reckon that the period between July-December 2013 is a crucial moment for my scholarship application, when most likely I have to travel often to Jakarta and Bandung. However, I know truly that Allah never betrays us.. Allah will give us the best place to grow up and be mature person. That is what I believe so far. I never know what is so great there that has been prepared for us.. the only one who knows is in fact, just Allah.. so… just believe the path He chooses for me. That’s all.

What makes thing become so easy and happy is my email from a scholarship provider. It extremely makes me happy so I even forget about my worries on moving to Serpong. When I decide to land my butt there, it is not bad at all. The fresh feeling because of the new environment amazed me. I like being there and doing my stuff. New condition could give you new spirit and motivation, right? And it successfully occurred on me. Honestly.

I don’t find any difficulties there. Nevertheless, I feel that I am more productive now. For example, when this piece is being written, I am inside the bus which brings me to my Kos in Kampung Bali. I think that I could utilize my time more appropriate compared when my office was in Thamrin. The other example is now I have solution for not sleeping again after shubuh praying. I always wake up early and take a bath, then at 6.00 I go to the pool of my bus. Inside the bus, I always succeed to use my time by reading, doing my task, tilawah, and dzikir ma’tsurat.. See, it is not bad at all!! I enjoy it!!! So much!

Well I don’t know until when I could maintain this feeling. Perhaps there will be boring time or even a difficult time come to me and tests my consistency. But until now, I like it! Oh yeah, the only trouble I face when I was in the bus is the headache and queasiness that often attack my head and stomach.

Well.. lets enjoy our ride ^__^!!!

Hopefully Allah will always protect us, give us His Mercy to make this condemnation gives so many benefits.

 

 

Bukan Resensi Film Ainun Habibi, tapi lumayan ningkatin Motivasi ^_^

Si aku.. di sela-sela pembuatan laporan REEEP bergalau ria menonton film Habibie dan Ainun yang dari CD yang dipinjam dari Laras tadi pagi.. dan akhirnya harus terisak-isak mengucurkan air mata terharu (makin malam makin galau ceritanya)

Dan mumpung mood nulisnya belum hilang, pengen banget nulis sedikit pandangan si aku yang mengagumi Pak Habibi ini..

So…

Ceritanya si aku teh tahu film nya sejak lama. Udah tamat juga baca bukunya (minjem dari temen kantor). Tapi ga punya kesempatan buat nonton. Cuma sering denger ceritanya dibahas di status fb orang2 atau obrolan orang di kantor (yang notabene kayanya hampir semuanya pengagum Pak Habibi—secara gituh BPPT). Dan ga dipungkiri nih si neng ini udah sering dengerin atau bahkan menendangkan lagu OS nya.. Dan lucunya ini nyempetin nontonnya di sela-sela hektiknya pengerjaan naskah akademik REEEP.. tapi biarlah worthwhile kok buat nyempetin nonton ini… soalnya isinya bener2 bisa nyemangatin jiwa yang terkena gejala makin ga semangat akhir-akhir ini.

Bagi penonton yang sudah pernah membaca buku sebelum filmnya tayang, pasti ngebanding2kan isi buku sama film menjadi sebuah aktifitas yang inevitable. Nah si aku juga.. Cuma karena ini teh kaya biografi, ada Read the rest of this entry

My favorite spot in Bppt. My Resource Center. (ah Jd inget rc bali

image

Heated Forum Today

Rabu, 23 Januari 2013 ketika warga TPSA dikumpulkan di dalam ruangan Komisi Utama untuk sosialisasi kepindahan kantor ke Serpong (apapun itu bahasanya, pindah ya tetep pindah), ya.. Bapak Bapak di depan itu terkadang terlalu berpanjang lebar membahasakan kepindahan ke Serpong dengan bahasa “BPPT tetap di Thamrin, kegiatan kerekayasaan yang dipindahkan ke Serpong” atau dengan “pemanfaatan fasilitas kerekayasaan laboratorium Serpong”. Namun nampaknya warga BPPT sudah terlalu jelas melihat ini dengan kata “pindah” dan tak ada bahasa lebih jelas dan singkat dari pada itu. Hanya sedikit menyesalkan kehalusan yang mereka berikan tapi tanpa memberikan substansi yang jauh lebih dinantikan oleh beribu warga BPPT “mengapa BPPT harus pindah” atau “filosofi apa yang menjadi alasan kepindahan BPPT sementara Pak Habibie membangun BPPT dengen jerih payah?” dan kalimat kalimat pilu yang lain seperti “tak cukupkah IPTN yang dipreteli sampai habis? Apakan kemudian karya anak bangsa yang berwujud BPPT juga harus mengalami hal yang sama?”

Mengingat konsep yang mendekam di kepala dua pekan terakhir ini tentang musibah dan anugerah. Allah satu satunya Yang Maha Mengetahui apakah kepindahan BPPT ini adalah musibah atau anugerah. Bisa jadi kehidupan di Serpong jauh lebih baik, atau apa yang terjadi di Jakarta sudah tidak sesuai dengan khazanah teknologi yang ingin dikembangkan bangsa? Misal salah satu alasan penghambat, banjir misalnya. Yang ada di kepala beratus  atau bahkan beribu orang BPPT yang memiliki impian besar dalam kebangkitan bangsa di bidang teknologi ini adalah alasan logika yang mampu diterima oleh akal mereka. Lalu konsep tentang arkanul bai’ah tentang ilmu, tsiqah, dan taat juga mampir di kepala. Memang bisa jadi tak harus logika, selama menggantungkan segala sesuatu kepada Allah semata. Dan bagiku, konsep keseimbangan antara ilmu, taat, tsiqah, husnudzan kepada Allah yang dipadu dengan jiwa kritis dan futuristik  mungkin yang saat ini yang dibutuhkan oleh setiap orang di sini, termasuk saya.

Bukan apa-apa. Memang wacana kepindahan ini memang menjadi aura negative tersendiri yang bisa dirasakan di berbagai lokasi di BPPT thamrin. Mulai dari belakang tempat kerja (belakang meja kerja:red), di mana orang2 sibuk dan sengit mendiskusikan ketidaksiapan Gedung Geostech yang berdiri megah di klaster 4 puspitek serpong dalam mengakomodasi aktifitas kerekayasaan yang selama ini di Thamrin pun berjalan cukup tersendat, bahkan di lift dan kantin di mana orang-orang membicarakan masalah koordinasi dengan stakeholder kementerian, lembaga dan swasta yang tidak diyakini akan berjalan selancar di Thamrin jika seandainya BPPT pindah ke Serpong. Atau permasalahan bis jemputan yang juga belum Nampak tanda tanda respon dari pihak terkait. Mau gam au kepala saya pun secara otomatis, mempertanyakan “memang alasan paling filosofis BPPT pindah apa?” apalagi
Read the rest of this entry

Biogas and MRV

Biogas technology implementation in treating tofu wastewater industries is one of the low carbon technologies that can be used in GHG emission reduction. The emission reduction from this action could be calculated from 2 sources. Firstly, the tofu industry wastewater which could emit CH4, NO2, and CO2 if there is no treatment applied. It also will pollute the environment and cause the decreasing in water quality which plays significant role for human health there. Tofu wastewater treatment could prevent emission because the organic wastewater is treated into biogas which can be used for fuel substitution in people’s daily activities. Secondly, as mentioned before, this activity could produce biogas that can be used in fossil fuel substitution; so, this fuel substitution also could be considered as mitigation action.

Taking these sources of reduction into consideration, to calculate the emission reduction in tofu wastewater treatment activities comprehensively, it is needed to measure the reduction in energy sector and wastewater sector.

There are methodologies that could be used in the calculation, for instance IPCC guidelines, CDM project calculation, and other relevant methods. Basically the available methods have similarities or even the same except for the ways they are used. For MRV system in Indonesia, although the official institutions and system has not yet established yet, there are several methodologies use in different ways, for example the IPCC guidelines is used in RAN/RAD GRK,  while Nusantara Carbon Scheme as Indonesia’s voluntary carbon market uses ISO 14064 series. In the other hand, there are also regional carbon markets such as EU-ETS and J-VETS that also use different methods. If Indonesia is willing to join these regional carbon market, Indonesia has to prepare itself to know about the system involved in them, but CDM approach might be appropriate to be used as standard in the calculation.

Considering the RAD GRK for Central Java province as mentioned in previous workshop has decided to include the biogas technology implementation in tofu wastewater treatment to be one of the actions in their mitigation plans, here, we focused on IPCC 2006 guideline which is used as official method. However, we could also use the CDM methodologies namely AM0013 and AMS-H for detailed calculation in estimating the emission reduction. It is possible in the future that not only Central Java province who has planned to use the biogas from tofu waste but also the other regions in different policy, or other mechanisms that possible to dig the potencies of this technology.

sekali lagi belajar tentang cinta Allah

Bismillahirrahmanirrahim

Alhamdulillah, hanya Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang, yang menggerakan kaki dan menyentuh hati, yang memberikan petunjuk, yang menurunkan hidayah, dan mengingatkan hikmah yang terpancang dalam setiap kejadian.

Hari ini diberikan Allah kekuatan dan kehendak untuk mengikuti shalat dhuhur di Masjid Iqra BPPT, sebenarnya sudah biasa, tapi ada aja yang namanya kejadian yang tak disangka yang terkadang mengharuskanku cukup untuk melaksanakan shalat di mushala lantai 19, tapi hari ini, Alhamdulillah Allah SWT memberikanku kesempatan untuk melangkahkan kaki ke sana.

Pemandangan pertama yang membuatku takjub adalah baru pertama kali ini melihat jamaah shalat dhuhur masjid Iqra yang sebanyak itu. ^_^, seingatku itulah jumlah jamaah paling banyak yang bisa kusaksikan. Alhamdulillah, hanya Allah yang memiliki kehendak menggerakkan kaki kaki kami menuju masjid yang penuh barakah ini.

Setelah menjalankan shalat berjamaah shalat dhuhur, ternyata ada ceramah ramadhan oleh Bapak Wakil menteri Agama, Ustadz Nazarudin Umar. Ceramahnya diawali dengan konsep takwa yang lebih menekankan pada hakekat hubungan manusia dengan Allah SWT. Subhanallah… ceramahnya bagus.

Intinya, takwa adalah sebuah proses menjalin hubungan yang sebenar-benarnya dengan Allah, menjaga hubungan yang sebenarnya dengan Allah. Takwa yang didekatkan dengan makna takut sebenarnya kurang tepat sepenuhnya. Allah memiliki sifat yang dominan pada kelembutan, lebih dekat kepada kesan cinta dibandingkan dengan sifat-sifat maskulin yang membuat seorang hamba takut kepada tuhannya. Di dalam Al Quran disebutkan berulang-ulang lebih banyak sifat2 Allah yang Maha Pemurah, Maha Penyayang, Maha Mulia, Maha Pengampun, Maha Pemaaf dan lain sebagainya, misalnya dibandingkan dengan sifat Maha Pendendam dan Maha Angkuh yang hanya disebut satu kali di dalam Al Quran.

Memahami konsep hubungan ini akan menciptakan pensuasanaan batin yang sama sekali berbeda. Di mana panggilan hati yang menjiwai seluruh aktifitas ibadah hanya akan didasari oleh rasa cinta, bukan beban. Di mana rasa takut yang ada bukanlah rasa takut seperti rasa takut manusia pada makhluk yang membuatnya menjadi jauh dengan hal yang ditakutinya, melainkan rasa khasyaa yang berarti takut namun takut yang didasari cinta, di mana manusia takut untuk kehilangan cinta dan kehilangan kasih sayang Penciptanya.

Pada dasarnya, secara kasar hubungan kita dengan Allah mirip dengan hubungan kita Read the rest of this entry

Pelatihan Sosialisasi Teknologi Biogas untuk Pengolahan Limbah Cair Tahu di Kabupaten Banyumas

Dalam rangka pembangunan IPAL Tahu dengan teknologi fermentasi anaerobik menjadi biogas sebagai energi alternatif terbarukan untuk masyarakat, Pusat Teknologi Lingkungan BPPT diberikan tugas untuk melaksanakan pendampingan bagi stakeholder pembangunan IPAL dalam diseminasi teknologi biogas dengan menggunakan reaktor unggun tetap.

Program ini terwujud dari kerjasama antara PTL BPPT, BLH Kab Banyumas dan Kemenristek melalui program insentif PKPP Kemenristek Tahun 2012. Dalam hal ini Kemenristek membiayai dana pelatihan dan pendampingan yang dilakukan BPPT terhadap Kab Banyumas dalam membangun IPAL yang baru, sementara BLH Banyumas berperan sebagai stakeholder utama dalam pembangunan IPAL. Fungsi ini merupakan peran yang dijalankan oleh BPPT sebagai institusi pemerintah dalam hal alih teknologi atau diseminasi teknologi. Teknologi yang menjadi objek dalam program ini adalah teknologi pengolahan limbah cair tahu secara anaerobik menghasilkan biogas yang dapat dimanfaatkan secara baik oleh masyarakat. Teknologi ini telah menuai perhatian karena keberhasilan penerapannya pada program implementasi teknologi yang ramah lingkungan akibat pengendalian pencemaran limbah cair industri tahu dan juga substitusi bahan bakar fosil. Tidak hanya itu, program ini juga telah cukup berhasil meningkatkan pemahaman dan minat masyarakat dalam pengelolaan lingkungan yang semakin baik.

Pada tahun 2009 dan tahun 2010, BPPT bekerja sama dengan Kemenristek telah membangun 4 unit percontohan reaktor unggun tetap di 2 daerah Banyumas, yaitu 2 reaktor untuk mengolah limbah cair industri tahu di Desa Kalisari,  1 reaktor untuk mengolah limbah cair industri tahu di Desa Cikembulan, dan 1  reaktor untuk mengolah limbah cair industri tapioka di Desa Gumelar. Unjuk kerja keempat reaktor ini sedemikian baiknya sehingga untuk unit biogas dari limbah tahu saja, telah ada sebanyak 52 Rumah Tangga yang dapat menggunakan biogas sebagai pengganti LPG dalam aktifitas harian mereka.

Program pembangunan IPAL yang baru yang dimulai tahun 2012 ini adalah program diseminasi dari keberhasilan implementasi teknologi biogas yang diterapkan sebelumnya, sehingga Pemda Kab Banyumas bermaksud memperbanyak reaktor tersebut sehingga lebih jauhnya diharapkan bahwa Desa- Desa di Kab Banyumas yang terkenal dengan industri tahu yang dimilikinya dapat mencukupi kebutuhan energi hariannya sekaligus dapat mengendalikan pencemaran lingkungan akibat industri tahu itu sendiri.

Program pendampingan dan diseminasi teknologi yang dilakukan oleh BPPT dimaksudkan untuk Read the rest of this entry

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi

SEJARAH BERDIRINYA BPPT

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) adalah lembaga pemerintah non-departemen yang berada dibawah koordinasi Kementerian Negara Riset dan Teknologi yang mempunyai tugas melaksanakan tugas pemerintahan di bidang pengkajian dan penerapan teknologi.

Proses pembentukan BPPT bermula dari gagasan Mantan Presiden Soeharto kepada Prof Dr. Ing. B.J. Habibie pada tanggal 28-Januari-1974.

Dengan surat keputusan no. 76/M/1974 tanggal 5-Januari-1974, Prof Dr. Ing. B.J. Habibie diangkat sebagai penasehat pemerintah dibidang advance teknologi dan teknologi penerbangan yang bertanggung jawab langsung pada presiden dengan membentuk Divisi Teknologi dan Teknologi Penerbangan (ATTP) Pertamina.

Melalui surat keputusan Dewan Komisaris Pemerintah Pertamina No.04/Kpts/DR/DU/1975 tanggal 1 April 1976, ATTP diubah menjadi Divisi Advance Teknologi Pertamina. Kemudian diubah menjadi Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia No.25 tanggal 21 Agustus 1978.Diperbaharui dengan Surat Keputusan Presiden No.47 tahun 1991.

TUGAS POKOK

Melaksanakan tugas pemerintahan di bidang pengkajian dan penerapan teknologi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

FUNGSI

  • Pengkajian & penyusunan kebijakan nasional di bidang pengkajian dan penerapan teknologi
  • Koordinasi kegiatan fungsional dalam pelaksanaan tugas BPPT.
  • Pemantauan, pembinaan dan pelayanan terhadap kegiatan instansi pemerintah dan swasta dibidang pengkajian dan penerapan teknologi dalam rangka inovasi, difusi, dan pengembangan kapasitas, serta membina alih teknologi.
  • Penyelenggaraan pembinaan & pelayanan administrasi umum di bidang perencanaan umum, ketatausahaan, organisasi & tatalaksana, kepegawaian, keuangan, kearsipan, persandian, perlengkapan & rumah tangga.

WEWENANG

  • Penyusunan rencana nasional secara makro di bidangnya.
  • Perumusan kebijakan di bidangnya untuk mendukung pembangunan secara makro.
  • Penetapan sistem informasi di bidangnya.

Kewenangan lain yang melekat dan telah dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku, yaitu: Read the rest of this entry