Category Archives: Uncategorized

Sistem Pembelajaran Orang tua dan Bagaimana Pengaruhnya

Setelah sebelumnya melakukan analisis kecil-kecilan untuk melihat how kekuatan fitrah seorang Ibu menjadi penting dalam dunia pendidikan dan pengasuhan anak-anaknya. Di sini akan coba dilihat bagaimana kekuatan fitrah itu diejawantahkan menjadi sebuah bentuk sistem pembelajaran. Dan si tulisan kecil ini hanyalah sebuah pemikiran yang mungkin agak dangkal juga sih.. tapi paling tidak sudah mampir di kepala dan kalo buat saya layak ditulis biar ga lupa hehe.

Ketika sepasang orang tua terutama Ibu mendapat gelar ibu mulai dari adanya janin dalam kandungannya, maka saya  yakin Allah mengaruniakan kepadanya kemampuan dan fitrah untuk menjadi Ibu.. dalam hal ini kemampuanmenjadi seorang ibu seems to be a fitrah for me. Well yes sih.. wong dulu ketika zaman purba ga ada dokumentasi ilmu parenting secanggih sekarang, tapi buktinya bapak ibu zaman dulu mampu mendidik dan membina putera puterinya dengan sebaik mungkin. Maka saya katakan itu adalah natural skill aka fitrah yang Allah titipkan bersama lahirnya calon manusia baru ke dunia. Namun…. nah ada namunnya. Natural skill ini akan semakin terasah dan teroptimalkan ketika ada sistem pembelajaran yang dilakukan si orang tua.

Recent research tells us that parenting is not necessarily a natural skill and most parents would benefit from some degree of instruction. Begitu katanya.. well yes.. di Kanada nih, ada program-program parenting khusus yang memang didedikasikan untuk membekali para calon orang tua untuk membantu  mereka belajar dan membangun style parenting positif, skill, dan tingkah laku.

Misalnya dari pembelajaran ini bisa membantu orang tua membangun kemampuan kecerdasan emosional anak,  juga kecerdasan sosial dan kognitif mereka, dan bagaimana praktek parenting yang efektif itu.

Parenting sendiri dapat didefinisikan secara sederhana menjadi 2 dimensi penting yaitu,

  1. Responsiveness: bagaimana orang tua mangasuh dan mendidik anak, kemampuan mereka menanggapi kebutuhan dan interest si anak
  2. Kontrol: bagaimana orang tua bisa men-supervisi dan mendisiplinkan sang anak.

Tapi memang pada kenyataannya bisa tak semudah mengakomodasi 2 hal tersebut, karena ada banyak sekali komponen yang terlibat. Di sinilah letak pembelajaran juga mengambil peran.

Bagi saya sendiri, sistem pembelajaran untuk parenting pun pada dasarnya akan mengikuti pola yang biasa saya terapkan untukbelajar ilmu pada umumnya. Namun memang, karena halnya ini menyangkut sebuah kehidupan dan makhluk Allah yang mungil lucu luar biasa, ada pendekatan pendekatan lain yang disesuaikan (mungkin juga mengikuti si “natural skill” atau pun menerapkan hasil belajar menjadi orang tua). Dan biasanya tahapan yang saya tempuh terdiri dari:

  1. Pengumpulan informasi
  2. Implementasi
  3. Evaluasi

Pengumpulan informasi dilakukan misalnya dengan mengumpulkan referensi yang terpercaya berupa buku, artikel, dan juga hasil diskusi dengan praktisi yang lebih berpengalaman. Implementasi adalah bagaimana si saya mengeksekusi ke dalam bentuk interaksi terhadap objek yang bersangkutan dan evaluasi adalah untuk melihat bagaimana sistem informasi yang telah saya kumpulkan bekerja secara baik dan melihat dari sisi mana hal halimplementasi atau dasar ilmu yang saya tahu harus diimprov lagi.

 

Referensi:

Anynomous (2008). Parenting styles, behaviour and skills and their impact on young children      , Early Childhood Learning Knowledge Centre, Kanada

Advertisements

Mendidik dengan kekuatan fitrah

Ada yang menarik dari diskusi yang selalu mewarnai obrolan saya dengan suami ketika saya pada masa hamil dulu. Hal itu adalah tentang betapa intens saya belajar dari berbagai sumber referensi yang sebenarnya reliable mengenai kehamilan saya. Tulisan ini pernah diupload sih hehe,, tapi akan saya mentioned dikit karena ada kaitannya dengan apa yang ingin dituliskan di sini. Perbandingan orang dulu dengan orang sekarang dalam menghadapi dunia salah satunya adalah penggunaan referensi (dalam hal ini internet) untuk menghadapi dunia mereka. Sementara orang tua zaman dulu, mana ada gawai dengan segala isinya yang terkadang overwhelming yang membuat mereka membina dan mendidik anak-anaknya dengan kekuatan fitrah yang mereka miliki yang disesuaikan dengan fitrah si anak. Suami sering mencontohkan mamah mertua yang mampu mendidik ke-12 anaknya hingga seperti sekarang, sementara saya pun ga jauh-jauh melihat bagaimana ummi dan Bapak saya membesarkan saya sekarang. Semuanya tanpa gawai. Ada campur tangan Allah tentunya dalam setiap detik yang mereka jalani dalam membimbing kami. Oleh karena itulah mengapa keshalihan orang tua teh begitu penting, karena itu modal terbesar dalam bagaimana melibatkan Allah dalam mendidik anak-anak.

Dengan peran sebagai Ibu yang menjadi amanah dan kodrat terbesar, tentu bekal ilmu pengetahuan tentang hal tersebut di universitas kehidupan ini menjadi hal yang paling utama. Usaha untuk memperkaya diri dengan diskusi dengan Ummi ataupun mamah (seminggu sekali) ataupun para senior moms yang mempunyai pengalaman yang lebih banyak adalah hal yang saat ini rutin mengisi hari-hari saya, selain tentunya referensi-referensi dari sumber terpercaya (acuan primer dan sekunder wkkwkw).  Peran saya sebagai Ibu dan istri ini menjadi sedemikian pentingnya bagi saya mengingat mendidik Naya berarti mendidik calon ibu, mendidik satu generasi. Sementara mendampingi suami (meskipun dalam status ldm) berarti si saya mensupport peran utama beliau sebagai seorang imam juga untuk pencapaian tujuan ukhrawinya yang berada dalam bentuk profesionalisme pekerjaannya sebagai dosen dan peneliti. Namun di samping peran tersebut, peran saya ke luar sebagai seseorang yang menyadari pentingnya aktualisasi ilmu untuk kebangkitan ummat (dalam hal ini mengerucut kepada ilmu kemurgi dan energy baru terbarukan) juga saya rasakan masih tetap harus dijaga semangatnya… well yes meskipun menjadi prioritas sekian.. bagaimana saya menyeimbangkannya itu yang selalu menjadi PR setiap saat baik dalam tataran pemikiran maupun eksekusi pelaksanaan.

Terkait point 1 yang telah saya sampaikan di bagian pertama tentang how keshalihan menjadi factor yang sangat penting dalam pencapaian peran saya telah saya jelaskan di tulisan saya sebelumnya (tulisan “indicator profesionalisme Ibu) bagaiman kemudian itu diejawantahkan menjadi point-point amalan yaumian yang sebisa mungkin saya penuhi. Bagaimana pun itu adalah ruh dan bahan bakar yang coba saya jaga terus meskipun pada pelaksanaannya ada kendala yang menjadi dinamika. Selain point amalan yaumian, penekanan memisahkan mood antara pekerjaan di ranah public dengan di rumah tangga juga Alhamdulillah sejauh ini aman. Pemisahan ini tidak berarti tidak membicarakan sama sekali.. titik tekan diskusi saya dan suami ada pada pengaruh mood dan suasana kebatinan yang terjadi di 2 ranah untuk tidak saling bercampur dan saling mengacaukan. Juga pada peningkatan aktualisasi diri di kedua ranah,,, masih terus saya usahakan… it is really a learning process..

As mentioned before (see paragraph 2 wkkwkw—btw ini ala2 gini nulisnya deh haha).  peran terbesar saya sebagai seorang Ibu dan seorang istri adalah prioritas utama. Peran mendidik seorang Naya yang insyaallah juga sebagai calon ibu, calon mujahidah tangguh shalihah kesayangan Allah adalah hal yang jelas tidak bisa dianggap remeh yang selalu harus saya bisa perhatikan setiap saat. While, mendampingi pak suami dan mendorongnya mendukungnya dengan segala yang saya bisa lakukan juga adalah hal yang sangat krusial.. profesi ranah public yang diemban paksu adalah peran yang sangat krusial di dunia kebermanfaatan terhadap masyarakat. Dan menjadi orang yang selalu setia mendukung setiap aktifitasnya adalah hal yang tentunya besar. Dan tentunya peran ranah public yang saya emban sendiri untuk menjadi seroang peneliti/perekayasa yang bisa mengoptimalkan penggunaan otak tenaga dan pikiran untuk memikirkan bagaimana masyarakat (ummat muslim Indonesia) sejahtera dan optimal dalam pengelolaan sumber daya alam yang Allah karuniakan secara luar biasa.

Terkait dengan hal tersebut, tentunya ilmu-ilmu ini bisa dikerucutkan menjadi ilmu dasar pengelolaan keluarga dan rumah tangga berdasarkan quran sunnah, termasuk di dalamnya bagaimana menjadi ibu dan istri yang shalihah dan optimal dalam melakukan pendidikan di dalam keluarga. Juga managemen keuangan dst. Untuk pengembanan peran ranah public, masih dengan ilmu kemurgi dan energy baru terbarukan. Suami mendukung yess dan saya pun yakin mudah2an Allah selalu membimbing langkah si saya.

Adapun untuk mencapai ini semua, tahapan yang mungkin saya lakukan adalah sbb:

Tahun 1 :

  1. Mempelajari tahap dasar perkembangan anak tahun pertama (misalnya baca what to expect in the first year, dan sejenisnya)
  2. Memberikan asupan makanan terbaik (ASI dan MPASI tahun pertama)
  3. Melakukan pendampingan dan pengasuhan pembelajaran tahun pertama secara maksimal
  4. Memenuhi kebutuhan afeksi, emosi, dan optimalisasi perkembangan otak tahun pertama
  5. Semakin terampil dalam alokasi dan manajemen keuangan rumah tangga
  6. Untuk ranah public: siap2 mengencangkan ikat pinggang untuk persiapan beasiswa S3 ^_^, juga rajin menulis KTI untuk dipublikasikan melalui jurnal nasional terakreditasi dan juga seminar nasional

Tahun 2:

  1. Mempelajari tahap dasar perkembangan anak tahun kedua (misalnya baca what to expect in the second year, dan sejenisnya)
  2. Memberikan asupan makanan terbaik (ASI dan MPASI tahun kedua)
  3. Melakukan pendampingan dan pengasuhan pembelajaran tahun kedua secara maksimal
  4. Memenuhi kebutuhan afeksi, emosi, dan optimalisasi perkembangan otak tahun kedua
  5. Semakin terampil dalam alokasi dan manajemen keuangan rumah tangga
  6. Untuk ranah public: jika Allah mengizinkan udah bisa menyusul suami ke Inggris dalam status calon mahasiswa S3

Tahun 3

  1. Mempelajari tahap dasar perkembangan anak tahun ketiga dan seterusnya
  2. Memberikan asupan makanan terbaik
  3. Menyapih dengan cinta
  4. Melakukan pendampingan dan pengasuhan pembelajaran tahun ketiga secara maksimal
  5. Memenuhi kebutuhan afeksi, emosi, dan optimalisasi perkembangan otak tahun ketiga
  6. Semakin terampil dalam alokasi dan manajemen keuangan rumah tangga
  7. Untuk ranah public: jika Allah mengizinkan udah bisa jadi a phd mom

Tahun 4

  1. Mempelajari tahap dasar perkembangan anak tahun keempat dan seterusnya
  2. Memberikan asupan makanan terbaik
  3. Melakukan pendampingan dan pengasuhan pembelajaran tahun keempat secara maksimal
  4. Memenuhi kebutuhan afeksi, emosi, dan optimalisasi perkembangan otak tahun keempat
  5. Semakin terampil dalam alokasi dan manajemen keuangan rumah tangga
  6. Untuk ranah public: jika Allah mengizinkan, semoga bisa menjalankan peran sebagai a phd mom mendampingi suami yang hampir selesai studinya

Rencana adalah rencana… Allah lah sebaik-baik pembuat rencana dan yang BERKEHENDAK semuanya bisa dijalankan. Plus lagi manusia hidup dengan dinamika dan Allah adalah sebaik-baik pembuat scenario. Siapa tahu ada kejutan2 lain juga nanti hehe.. tapi so far ini yang bisa saya pikirkan sementara.. saya tuliskan untuk memperkuat tekad saya, semoga saja Allah meridhai.

Well… judul tulisannya adalah mendidik dengan kekuatan fitrah.. di sini saya menekankan pada penguatan fitrah saya sendiri sebagai ibu yang disesuaikan dengan fitrah Naya sebagai anak.. untuk pencapaiannya banyak belajar, banyak nimba ilmu,, sehingga pas pelaksanaan bisa maksimal…

 

Wallahu a’lam bis shawab

Membangun Peradaban dari dalam Rumah

Peradaban.. adalah salah satu kata yang sebenarnya muncul di biodata taaruf saya. Maksud menikah yang saya utarakan di dalam berkasi tersebut salah satunya adalah membangun peradaban yang dimulai dari saya yang dibimbing suami dan juga anak2.. begitulah cita-cita saya dulu yang mungkin sambil membayangkan bagaimana real langkahnya. Kenyataannya setelah menikah,the real challenge and effort keluarga kecil saya is really something.. tak semudah diucapkan tapi tak lantas dilupakan. Ada nafas-nafas perjuangan yang keluar dalam dinamika peran kami di keluarga dan di ranah luar yang harus coba kami sinergiskan. Belum lagi 2 karakter dengan latar belakang keluarga dan budaya yang berbeda menjadi satu warna menarik yang menjadikan kisah yang kami rasakan menjadi satu rasa tersendiri yang saya yakini sebagai takdir Allah yang selalu harus disyukuri.

Tim pembangun peradaban dari keluarga yang Allah takdirkan dibentuk sejak akad 29 september 2016 lalu pada awalnya terdiri dari suami dan si saya, yang kemudian Allah mengaruniakan si kecil Naya yang kini sedang bersiap mengawali langkahnya untuk MPASI,,, another milestone for her. Berbekal potensi, kurang dan lebih masing-masing dari kami, harapannya peradaban itu benar-benar bisa kami bangun…

The leader dari tim ini, siapa lagi kalo pak suami yang ganteng dan sholeh, dengan segala karisma dan outstanding knowledge beliau di bidang agama yang jauuuuuh melebihi saya, plus kekuatan kepemimpinan yang beliau punya secara alami (karena menjadi kakak tertua dari 12 bersaudara) juga yang merupakan hasil bentukan organisasi menjadi satu rangkaian potensi yang begitu saya syukuri akan kehadirannya. Dia yang selalu mengusahakan yang terbaik, membersamai dalam lintas ruang dan waktu meski terbentang jarak samudera dan benua di antara kami… yang pas bikin surat (malu kalo disebut surat cinta) bikin degdegan dan ada rasa takut menyelinap haha…yang dikangeni dan dirindui tapi terasa tak sedetik pun meninggalkan perannya sebagai imam besar di tim ini.

Ada si kecil Naya juga yang sudah mulai menapaki satu per satu milestones nya. Yang udah keliatan suka warna apa dan hobinya apa (haha dont say these are menyusu, tidur, dan maen wkwkwk). Si kecil yang di masa depan diharapkan akan menjadi seorang muslimah shalihah tangguh yang bisa membawa cahaya untuk kegelapan hati-hati manusia…menjadi pertolongan yang membahagiakan bagi saya, suami, keluarga besar, sahabat2nya nanti dan juga umat dalam arti luas.

Dan tentu timnya ada si saya yang lagi nulis ini sambil mikir keras ini gimana realisasinya hihi… seorang wanita biasa yang dibesarkan dalam lingkungan biasa namun sebenarnya punya daya juang yang oke punya hahaha… (mampu membuktikan bahwa anak seroang buruh bangunan bisa kuliah S2 di Amerika wkkww), penyemangat, jago banget dah kalo udah ngomongin ngumpulin bahan (meski bisa jadi ga semua bahan kepake wkkww), ramah, ekspresif dan mau belajar…

Dan alhamdulillah ada faktor luar yang juga mendukung perjuangan kami. Pak suami yang berkutat di bidang penelitian dan akademis universitas, while si saya yang juga seorang abdi negara di lingkungan litbang pemerintah menjadi satu faktor kemiripan yang alhamdulillah mendukung aktifitas profesi kami yang betapa diingini menjadi ladang aktualisasi pertanggungjawaban atas akal, jiwa, dan jasad yang Allah titipkan untuk kami bisa kontribusi. Selain itu keluarga pun mendukung. Background keluarga suami yang alhamdulillah masyaAllah, dan keluarga saya yang hanif juga. Plus kesamaan kemiripan aliran diantara 2 keluarga yang juga kami rasakan sedemikian supportif atas perjuangan kami.

Ketiga anggota tim ini tentunya harus sinkron dan sinergis luar dalam bukan? Hope so. Makana mohon doa selalu ya

Indikator Ibu Profesional

Siapa di antara kita yang ketika masa kecilnya ditanya tentang cita-citanya, maka jawabannya adalah menjadi seorang ibu? Adakah? Kalo ada berapa persen di antara anak-anak Indonesia yang perempuan yang menjadikan “ibu” sebagai profesi yang dicita-citakan? Saya pun ingat bahwa saya bukan menjadi bagian tersebut. Saya ingat saya menjawab cita-cita saya adalah guru.

Menurut saya, jawaban dari pertanyaan ini bisa mngindikasikan 2 hal. Pertama adalah tidak dianggapnya profesi ibu sebagai profesi yang sejajar dengan “dokter”, “guru”, “insinyur, pilot dan sederetan cita-cita lainnya. Kedua, profesi Ibu dianggap sebagai suatu fitrah yang memang akan ditempuh setiap wanita sehingga tidak masuk kategori sebuah profesi. Lalu memang profesi itu apa? Pekerjaan yang mendatangkan uang? Luas pisan ya bahasannya… saya aja mikir ini bukan main complicated ternyata wkwkkww.

Well, saya coba persempit dulu bahasannya kali ya. Pembahasan ibu sebagai profesi yang “melangit dan membumi” yang dari beberapa hari ini bersarang di kepala harus saya tunda dulu haha… saya fokuskan dulu k PR saya yang juga mentrigger diskusi menarik antara saya dan suami. Yaitu tentang indikator ibu profesional.  Dan di sini saya tidak akan membahas lagi peran dan kewajiban individu secara vertikal kepada Allah sebagai faktor yang mendasari semuanya. Karena saya sadari menjadi ibu dan istri ini adalah bagian yang sangat besar dari upaya saya untuk mencapai Ridho-Nya.

Jadi asumsi nya adalah bahwa jabatan ibu adalah sebuah profesi yang harus diemban secara profesional layaknya pekerjaan lain seperti dokter, guru, PNS dan lain sebagainya. Lalu di sini yang sedang saya renungkan adalah bagaimana sebuah jabatan ibu dapat diemban secara profesional.. apa parameternya? Apa buktinya? Jika dibandingkan dengan jabatan lain, guru misalnya.. parameter keberhasilan seorang guru apa? Persentase murid naik kelas atau sukses di kehidupannya? Gaji nya? Jenjang karirnya? Nah kalo jadi seorang ibu? Apa parameternya? (btw ini keren banget topiknya hahaa)

Dan di sini saya tidak akan menulis indikator secara universal yang akan berlaku untuk semua ibu di jagat raya. Hanya parameter yang saya sepakati bersama suami saya saja, berhubung Naya juga masih bayi jadi parameter nya kami yang tentukan haha..

Diskusi indikator ibu profesional yang menjadi bahasan saya dan suami ada 2 saja sebenarnya hehe.. hal itu juga yang sebenarnya pernah disepakati ketika diskusi awal pernikahan. Pertama adalah bahwa profesional artinya mampu mengemban amanah dan peran sebagai “ibu” secara maksimal (masih umum banget ya? Haha). Nah, di sini kami berdua mengerucutkan khusus pada kemampuan untuk bisa memisahkan urusan yang lain dengan urusan sebagai ibu. Maksudnya adalah, berhubung saya adalah seorang ibu yang juga memiliki amanah lain berupa pekerjaan di sebuah institusi litbang pemerintah (BPPT), maka peran ini harus disinkronkan dengan peran saya sebagai ibu ((which is actually coming later hehe.. kerja dulu baru nikah soalnya). Dengan kodrat dan takdir saya sebagai seorang wanita yang dengan kuasaNya, Allah takdirkan menjadi Ibu, saya menjadikan profesi ibu ini di atas semua peran yang saya jalani. Jadi peran saya sebagai abdi negara sebisa mungkin tidak saya bawa ke rumah. Pengaruh mood yang diciptakan di suasana kerja di kantor sebisa mungkin tidak akan pernah mempengaruhi mood saya untuk mengasuh Naya atau melayani suami.

Hal kedua yang menjadi titik tekan dari indikator Ibu profesional adalah bahwa segala sesuatu yang bersifat profesi haruslah punya kode etik, jenjang karir, amanah yang harus dipenuhi, dan ada hasil berupa pengembangan kapabilitas dan kapasitas yang terjadi akibat mengemban amanah tersebut. Parameternya apa? Artinya si saya harus tahu benar tentang segala sesuatu yang menjadi kewajiban saya. Well.. it is true that this job is a learning-by-doing job.. tapi at least ada usaha maksimal yang saya lakukan untuk melakukan apapun yang menjalankan amanah sebagai ibu tersebut. Harus tahu kode etiknya kayak gimana, jenjang karir nya gimana (nah di sinilah edisi melangit dan membumi yang butuh tulisan berikutnya hehe). Dan juga hasil pengembangan kapabilitas dan kapasitas yang berdampak juga pada aktualisasi diri yang tak hanya dirasakan oleh diri sendiri tapi juga orang lain. Nah point yang ketiga ini luas ciiiin (berharap ada tulisan detail lainnya setelah ini). Kalo kasarnya, point ketiga ini dijelaskan sbb: bahwa menjadi seorang ibu tidak akan pernah menutup kreatifitas, intelegensi, atau segala potensi yang saya miliki. (well.. mungkin ada yang ketutupan satu atau dua,, tapi ga akan menutup semuanya). Malahan harusnya berkembang secara utuh dan maksimal. Soalnya begini.. ada anggapan nih di masyarakat kita bahwa memutuskan untuk menjadi seorang ibu rumah tangga itu membatasi kreatifitas menutup kesempatan beraktualisasi diri, cenderung terkurung pada rutinitas kegiatan domestik dan mengurus anak, mengecilnya kesempatan untuk bersosialisasi, daaan segambreng anggapan-anggapan lainnya… apalagi kalo kemudian si wanita yang menjadi ibu ini pernah berkuliah di universitas mentereng di Indonesia atau luar negeri dan atau memiliki pekerjaan yang bergengsi.

Kedua point spesifik tapi umum ini bagi kami bertiga sebenarnya sudah cukup menggambarkan apa yang harus saya lakukan dan saya capai. Tapi detailing nya yang kemudian jadi PR besar karena terkait eksekusi. Sebagai seorang yang berlatarbelakang science, pun dengan suami.. maka jelas bahwa detailing kedua parameter ini akan terkait dengan parameter-parameter yang terukur dan terlihat yang bisa dinilai perkembangannya waktu demi waktu untuk kemudian dievaluasi bagaimana kelanjutannya hehe.

Point penting lainnya dalam penentuan indikator ini adalah kondisi eksisting keluarga saya. Dan tentu karena ini judulnya “Ibu” maka fokus utamanya adalah ke Naya. Karena dengan menjalani fungsi “ibu” ini fungsi saya sebagai “istri” juga akan berdampak. Hal ini karena katanya menurut kebanyakan orang, kalo sudah punya anak, prioritas seorang istri akan berubah dari suami ke anak.. pun dengan suami akan berubah priortasnya ke istri menjadi ke anak.. tentu yang namanya berubah prioritas bukan berarti tidak memedulikan.. hanya prioritas saja yang berganti. Jadi kalo saya bisa maksimal menjadi ibu, nah suami juga akan bahagia kan? hehehe.. kasarnya mah begitu lah. Selain itu, kondisi yang harus diperhatikan adalah fakta bahwa saat ini saya sedang menjalani LDM alias Long Distance Marriage seperti yang saya jelaskan di postingan sebelumnya. Suami sedang mengejar impian profesinya untuk menjalani S3 di Inggris, dan saya di sini masih kena ikatan dinas (akibat baru pulang menjalankan S2 di Amerika). Faktor lainnya adalah perkembangan Naya. Detail eksekusi peran saya sebagai seorang ibu Naya saat 3 bulan akan berbeda dengan Naya yang 6 bulan. Oiya.. faktor2 rutin yang dijalani perannya masing-masing (sebagai hamba Allah dll) ada yang dikaitkan ke peran ini ada yang ngga. tapi membahas ini saya menekankan bahwa apa yang terjadi pada diri saya secara pribadi (misalnya kaitannya dengan Allah) akan sangat sangat mempengaruhi kemampuan saya berperan sebagai Ibu.

Nah karena ini juga learning by doing untuk tahapan awal coba saya detailkan (tentunya nanti akan butuh revisi dan pengembangan) ke dalam point-point. Tapi point-point ini lebih banyak ke pengembangan indikator kedua yang saya sebut di atas. (indikator no 1 jelas lah ya.. memisahkan urusan profesi lain dengan profesi Ibu)

  1. Dalam kondisi Naya sebentar lagi mencapai usianya yang ke 6, maka yang harus saya lakukan adalah mempersiapkan segala sesuatunya: pengetahuan MPASI, peralatan MPASI, bagaimana mengatur pemenuhan kebutuhan ASIP dan MPASI Naya
  2. Memberikan pengasuhan dan pendidikan sesuai dengan perkembangan Naya, misalnya memberikan permainan untuk pengembangan sensor penciuman dan indra peraba. Menceritakan satu kisah Nabi minimal sehari, mengajaknya ngobrol dan permainan sejenisnya.
  3. Tetap bisa menjalankan aktifitas tarbiyah pekanan, menimba ilmu tentang islam yang kemudian efeknya harusya berdampak pada pertambahan keimanan dan keislaman
  4. Tetap bisa menjalankan amalan yaumian dengan maksimal dengan target yang bisa menyesuaikan namun tetap bisa maksimal di pengembangan ruhiyah karena ini yang akan menjadi bahan bakar energi saya untuk mengasuh Naya. Misalnya target pekanan saya adalah sbb
    1. Tilawah minimal 10 halaman (0.5 juz) per hari
    2. Tahajjud 2 rakaat (5 kali seminggu)
    3. Dhuha 2 rakaat(5 kali seminggu)
    4. Infaq 1 kali
    5. Olahraga 1 kali
    6. Ma’tsurat 10 kali (ini sih sering soalnya kaya ngajakin naya ngobrol pagi sore hehe)
    7. Baca buku 5 halaman

 

Segitu dulu kayanya yang bisa saya jelaskan pada tulisan ini. Pembahasan lainnya mudah2an bisa saya tulis lagi di next postingan.

Teknologi Lingkungan yang Paling Dibutuhkan Indonesia Saat Ini

Berawal dari diskusi antara E-Kansai (konsorsium environmental technology provider di Kansai) dengan PTL BPPT pagi ini di Geostech, berikut adalah beberapa teknologi lingkungan yang menjadi kebutuhan di Indonesia, misalnya:

  1. Kebutuhan teknologi pengelolaan limbah domestik rumah tangga yang menyumbang sekitar 80% dari limbah cair yang ada di Jakarta. Sedangkan industri pada umumnya banyak yang sudah aware dengan baku mutu yang harus mereka capai dalam pembuangan air limbah mereka sehingga tak sedikit dari pelaku industri yang bahkan memiliki IPAL sendiri. Masalah di Jakarta sendiri adalah belum adanya sistem terpusat yang mengakomodasi proses pengolahan limbah cair rumah tangga karena adanya kesulitan mengumpulkan dan mengalirkannya ke satu atau beberapa tempat secara terpusat untuk diolah. Meski saat ini Jakarta memiliki rencana dan sedang on going untuk proses pemetaan di beberapa lokasi, namun rencana ini dinilai mungkin akan membutuhkan waktu lama terkait kebutuhan pembangunan infrastruktur. Sehingga tanggapan dari pihak Jepang adalah apakah ada teknologi yang bersifat dan berskala rumahan untuk pengolahan limbah cair dari rumah tangga. Misalnya: advanced septic tank atau sejenisnya.. namun ditanggapi balik oleh PTL adalah terdapat banyak kesulitan terkait perekonomian, lahan, cara pikir, biaya operasi yang menjadi faktor yang selama ini menyulitkan proses implementasi teknologi. Terkait concern saja, masyarakat Indonesia banyak yang tidak terlalu memikirkan kebersihan (mungkin karena kebutuhan ekonomi yang jauh lebih prioritas dari memikirkan kebersihan lingkungan). Sludge dari septik tank sendiri di Jakarta sudah ada upaya pengolahan di beberapa lokasi, namanya instalasi pengolahan air tinja Selain itu, pemerintah juga mengupayakan sistem sedot tinja untuk septik tank RT yang overflow. Kapasitas instalasi pengolah air tinja ini selama ini mencukupi karena tidak semua overflow septik tank RT dibawa ke sana, sebagian masih dibuang ke sungai.
  2. Terkait dengan PERMEN LH yang baru tentang adanya parameter baru dalam air bersih yaitu kandungan Ecoli yang tidak boleh melebihi 3000 mg/l. Yang dibutuhkan adalah teknologi untuk mengurangi Ecoli hingga memenuhi standar dan juga proses pengukurannya yang cepat dan bisa diterapkan secara praktis mudah dan luas. Selama ini ada proses Klorinasi, namun tknologi ini masih membutuhkan dana yang besar terkaid penyediaan bahan kimia klorin juga instalasi pengolahan limbah yang belum mengakomodasi penambahan klorin.
  3. Penyediaan air bersih dengan teknologi daur ulang. Pembangunan di Jakarta yang semakin pesat tidak diiringi dengan pemenuhan kebutuhan air bersih yang memadai. Air PAM dengan harga 13000/m3 dan air sumur yang berharga 2 kali air PAM tidak mampu memenuhi kebutuhan yang ada. Sementara itu, sebenarnya ada potensi air daur ulang yang bisa digunakan untuk pemenuhan kebutuhan yang tidak krusial yang membutuhkan standar yang sangat tinggi (air minum), misalnya air untuk penyiraman taman, flushing toilet, dll. Nantinya sistem perpipaan air PAM dengan air daur ulang bisa dibedakan.. Tanggapan dari Jepang adalah bahwa penentuan standar adalah hal yang penting yang akan menentukan jenis teknologi yang akan diterapkan untuk mengolah air hingga mencapai batas ambang.
  4. Selain industri makanan dan minuman yang lebih bersifat organik (yang merupakan concern E-Kansai dengan GAPMI), yang menjadi permasalahan perairan Indonesia adalah air limbah tekstil yang bersifat bandel karena membutuhkan pengolahan yang lebih kompleks.

Impian tentang kelanjutan Ilmu Kemurgi si Saya

Ilmu Allah sangatlah luas. Berbekal pengalaman mencari ilmu yang digeluti mulai dari TK, SD, hingga pada tahun 2016 kemarin saya menamatkan program master saya, di sana saya berpikir betapa Allah Maha Luas, Maha Mengetahui segala sesuatu….. well… satu tahun bersama Naya mulai dari merasakan kehadirannya setelah testpack hingga melahirkan dan mengasuhnya hingga usianya 5 bulan kini adalah satu fakta yang menguatkan betapa Allah Maha Kuasa atas segalanya, sedangkan kita, manusia, adalah ciptaanNya yang tidak tahu apa-apa.. bahkan tentang apa yang terjadi dalam tubuh kita sendiri.

Bagi penyenang ilmu dunia seperti biologi, kimia dan sejenisnya, tentu ngeh bahwa bahkan ilmu-ilmu ini juga mempunyai percabangan yang luar biasa banyaknya. Katakanlah kimia.. ada kimia organik, kimia analitik, kimia sensor, kimia fisik dan seterusnya yang itupun juga bercabang-cabang lagi. Ilmu akhirat (ilmu agama) pun demikian, tafsir Quran, hadits, fiqh, muamalah, bahasa arab, dan seterusnya..

Dan manusia.. diciptakan,, dengan pengetahuan yang sangat-sangat terbatas.. mau mengetahui semuanya? Tidak mungkin. Mau nelen dan nyerap informasi dari buku2 satu perpustakaan? Ga mungkin kayanya hihihi… maka jadilah ia kemudian menyenangi satu atau beberapa ilmu tertentu yang tentunya hasil dari pilih memilih yang bisa jadi komprehensif sangat.

Nah kalo saya ditanya, satu jurusan ilmu yang akan anda tekuni di universitas kehidupan ini, mungkin saya masih selalu akan kepingin buat mendalami ilmu kemurgi saya. Ilmu yang saya dapatkan sejak kuliah di tahun terakhir saya.. kuliah yang juga mengantarkan saya berkecimpung di dunia biogas dan akhirnya mengantarkan saya ke beberapa belahan dunia.

Mengapa? Alasannya adalah karena itu seperti panggilan yang harus saya penuhi dan jalankan sebagai seorang makhluk Allah yang memiliki akses untuk mengenyam ilmu tersebut didasarkan pada fakta bahwa Indonesia yang sangat kaya biodiversitas tanamannya yang sebenarnya bisa mengantarkannya menjadi negara yang sejahtera baldatun thayyibatun warabbun ghafur. Ilmu ini yang mungkin sempet saya harapkan untuk bisa saya jadikan washilah di hadapan Allah nanti tentang pertanggungjawaban akal dan anugerah yang Allah berikan.

Strateginya apa untuk memperluas keilmuan tersebut? Di benak saya terbayang untuk melanjutkan study S3 mendampingi suami yang lebih dulu memperjuangkan impiannya ke negeri Inggris. Tentunya beasiswa menjadi salah satu faktor yang harus saya perjuangkan dan persiapkan secara maksimal.. apalagi sekarang ada si cantik kecil Naya…

Berkaitan dengan adab menuntut ilmu,perubahan sikap yang mungkin akan mengalami perbaikan  dalam proses mencari ilmu tersebut adalah adab terhadap sumber ilmu. Seperti yang diketahui, dengan keterbatasan rizki, kadang untuk bisa memiliki akses legal berupa ebook, jurnal, dan sumber ilmu terkait lainnya adalah menjadi hal yang sulit. Sehingga tak urung, kita meng-copy dan mendownload dari situs yang sebenarnya kurang baik (website libgen misalnya… simalakama sih). Tapi ketika menjadi seorang mahasiswa S3 di universitas di luar yang menjunjung tinggi hak cipta, maka hal ini bisa direduksi secara maksimal karena ada akses yang luar biasa yang bisa diberikan secara legal. Itu mungkin yang paling signifikan, karena kalo berbicara tentang perubahan diri sendiri, seperti yang saya alami ketika menyelami masa S2, critical thinking dan bagaimana sebuah ilmu berperan secara signifikan terhadap hajat hidup, hal tersebut sudah pernah saya alami, meskipun saya sadari S3 dan S2 tentunya akan memberikan pengaruh yang berbeda.

Having said that… saya yang sedang menjalani profesi sebagai seorang Ibu yang juga memiliki impian dalam bentuk kontribusi, ilmu yang kini selalu saya gali dan akan terus saya gali adalah ilmu pendidikan.. bagaimana bisa mengasuh dan mendidik Naya dengan benar sesuai tuntunan Allah SWT. Tentunya juga peran sebagai seorang istri yang sesuai dengan fitrahnya..

2 0 1 7

Kehidupan yang Allah berikan sungguh luar biasa. Hadirnya Naya di tengah kehidupan yang saya jalani adalah salah satu anugerah terindah yang saya terima. Kalo dibilang 2017 ini tema hidup saya adalah Naya.. mulai dari membawanya ke mana-mana ketika hamil, juga ketika melahirkan dan mengurusnya. Dan mungkin sudah saya pernah sampaikan bahwa memiliki Naya adalah pembelajaran yang teramat sangat berharga yang mengajarkan saya begitu banyak hal terutama faktor interaksi saya dengan Allah.. Sungguh Allah Maha Kuasa Maha Berkehendak dan Maha Mengetahui, Maha Mengabulkan doa, Maha Melindungi dan Maha Penyayang.

Siapa yang kemudian melancarkan perkembangan pembelahan sel Naya dari mulai bertemunya sel telur dengan sperma hingga kemudian terjadi regenerasi sel dan si sel tumbuh dan berkembang dengan demikian amazingnya? Siapa yang ngatur bagaimana si sel-sel ini diberi makan dan asupan nutrisi? Siapa yang kemudian melindungi si janin ini dari benturan dan dinamika aktifitas si saya Ibunya? Dan siapa juga yang menciptakan ASI dengan mekanisme mengenyot bayi yang luar biasa? Coba siapa yang ngajari Naya minum Asi bahkan pintar minum ASI sejak hari pertama dia dilahirkan? Semua jawabannya kembali kepada Allah SWT. Maka having Naya memberikan saya kesadaran mengenai banyak hal bahwa saya tiada berdaya, Suami saya juga tidak berdaya pun dengan Naya… jika tanpa kekuatan yang diberikan Allah semata… maka tidak selayaknya jiwa ini menjadi sombong. Sebaliknya, seharusnya makin tawadhu dan makin cinta sama Allah SWT.

Dari segi karir, saya sadar, my priority has been shifted since that January 3rd when I got 2 lines on my test pack. Selain itu, meski tidak mengalami mabuk yang bikin kleyeng-kleyeng, tapi tetep power saya buat kerja memang berkurang. Kadang di kantor memang bawaannya ngantuk hehehe, gabisa ikut dines jauh2 terutama yang melibatkan tangga (misalnya naek kereta dr st. Serpong sdh sama sekali gabisa). Tetep ngusahain yang terbaik, tapi ya begitu deh hihi.. karena ketika saya nyadar saya ngambil cuti melahirkan plus cuti tahunan saya ngeh kalo itu berarti saya akan miss sepertiga tahun (4 bulan : 3 bulan cuti melahirkan plus 17 hari kerja). Udah gitu, as you know periode September sd Desember biasanya kan lagi hot-hotnya bikin laporan dan nyelesain tugas yang jadi sasaran kinerja (SK) dan pas banget si saya menghilang total di periode tersebut.

Tapi pembelajaran di tahun ini sungguh2 teramat amat sangat luar biasa. Mengandung dan menjalankan tugas sebagai istri si bapak dosen ganteng yang luar biasa perjuangan dan kesabarannya karena si saya teh meningkat sensitifitas nya banget banget hihi.. persiapan melahirkan yang beririsan sama persiapannya melanjutkan kuliah ke Inggris tidak membuat kami lost the moments alhamdulillah…

2018 saya yakin juga akan menjadi tahun yang luar biasa. Saya yakin Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang menyiapkan tahun yang luar biasa di mana ini adalah masa emas bagi tumbuh kembang Naya. Dan saya masih begitu yakin dengan perlindungannya yang super yang bahkan saya ga bisa imagine seperti apa (cm belajar limfosit T, fagosit, dan leukosit hihi)

Kecemplung di Komunitas ODOP kecemplung bersama ibu2 keren seIndonesia

Saya tidak pernah menyangka bahwa pembicaraan saya dengan afina (ukhtifillah seperjuangan d kampus gajah dulu) akan membawa saya pada komunitas yang lebih serius. Saya memang hobi menulis meskipun kadang isinya ga jelas atau ga penting. Tapi emang nulis teh jadi trauma healing kalo lagi galau.

Well jadilah saya seriusan masuk komunitas odop atau one day one post yaitu komunitas ibu2 yang berkomitmen utk nulis satu hari satu postingan.. meskipun pada kenyataannya banyak yang ga bisa menuhin termasuk si saya. Heheheh… pertamanya masuk di grup FB aja, tapi ternyata pada bulan pertama saya berhasil diikutkan di kelas whatsapp nya.

Pertamanya ngerasa ga terlalu gimana banget sama kelas wa nya.. traffic dan aktifitasnya memang dikatakan aktif banget jika dibandingkan dengan wag yang lain. Dan not that interested at first. Dan ketika frekuensi saya menulis berkurang dan akhirnya didepak dari wag saya ga terlalu berpikir banyak.. ya udah.. sebisanya aja posting.. gitu pikir saya.

Tapi kemudian hal ini berubah. ntah kenapa saya semangat lagi nulis dan semangat nyetor yang berujung pada ditariknya kembali saya ke wag odop. dan jreng jreng jreng subhanallah banget deh sama ilmu yang dishare di sana. ada kulwap2 penuh makna yang menjadikan disuksi yang ada di grup menjadi sedemikian berkualitas (meskipun saya again adalah silent reader haha). dari 2 bulan ini saya seriusan dan meniatkan ikut 3 kulwap yang keren abis di mana anggota grupnya adalah ibu2 keren pembelajar dari berbagai area di seluruh Indonesia. Belum lagi narasumber yang berkualitas yang keren dan ga tanggung2 dalam sharing ilmu yang mereka miliki.

Adapun Kegiatan yang dilakukan di wag ini adalah:
Rabu : Rabu Berbagi Ilmu (sharing dari teman-teman kita di grup untuk saling mengenal lebih dekat)
Jumat : Bedah Buku bersama Penulis (kita akan mengundang penulis untuk berbagi di grup)

wag ini memang hanya diperuntukkan bagi mereka yang sudah rajin menyetor sepanjang sesi 1 dan 2 di grup #ODOPfor99days. Ada 4 deret  klasifikasi peserta wag
– deret pertama (yang setorannya 5 kali atau lebih per minggu),
– deret kedua (yang setorannya rata-rata 3-4 kali per minggu),
– deret ketiga (yang setorannya 1-2 kali per minggu), dan
– deret festival (yang setornya bolong-bolong).

dan bisa ketebak kan.. saya masuk deret ketiga hahahah…

Belakangan saya tahu bahwa ternyata ODOP ini adalah bagian dari IIP (Instititut Ibu Profesional) yang saya mulai tertarik untuk mengikutinya. Sayangnya udah daftar tapi gatahu sampe sekarang gmana kelanjutannya karena ga ada notifikasi apapun..

Pembelajaran pendidikan anak dari mamah dan 12 anaknya

Seperti yang pernah ditulis sebelumnya ke lahiran Naya di Serpong merubah rencana cuti yang asalnya akan full di cianjur saja menjadi cilegon dan cianjur. Hal ini menyebabkan si saya berkesempatan berguru kepada mamah mertua bagaimana caranya mengurus bayi. Tidak hanya itu mungkin ini juga menjadi kesempatan saya tinggal d rumah mamah dan abah  dalam waktu yang paling lama. Rekor sebelumnya 2 pekan pas ramadhan-lebaran kemarin. Dan kini sudah hampir 3 pekan di sini dan banyak sekali hikmah dan pelajaran yang saya dapatkan.

masjid tepat seberang rumah

jadi di sini saya menyimak mengobservasi dengan seksama bagaimana mertua saya dealing with all of their children. Mulai dari yang usianya paling muda yakni 3 tahun sampe kepada suami saya yang usianya 30 tahun. keterpautan ini menggambarkan saya tahapan dan milestone perkembangan anak karena saya kira 12 orang anak mamah cukup menggambarkan perwakilan usia dengan segala challenges nya.

Anak mamah-abah yang terdiri dari 12 orang ini terdiri dari 1 orang balita (3 tahun yo), 5 tahun (kelas 0 besar, tahun depan SD), 2 orang kembar SD kelas 3, 1 orang SMP kelas 2, 1 orang SMU kelas 1, 1 orang lulusan SMU yang mengabdi di pesantren (lagi nunggu program kuliah), 1 orang kuliah semester 5, 1 orang baru lulus kuliah, 3 orang sudah bekerja. Buat saya ini gambaran milestone perwakilan “masa usia” yang lengkap ^__^ di mana si saya bisa belajar bagaimana mertua saya menghandle semua anak dalam 1 masa dengan perwakilan period seperti itu. But kalo boleh jujur bilang si saya kagum dan amazed on how mamah handle semua anaknya.. kebayang ga sih 12 orang dengan kebutuhan yang berbeda..keberadaan mereka juga menggambarkan fasa2 yang tentu sudah saya lewati yang otomatis ngasih perbandingan on how I was at that age untuk melihat perkembangan zaman juga yang masih akan terus berkembang.

Misalnya bagaimana saya dulu waktu usia 3 tahun dan bagaimana Nisa di usia 3 tahun dan bagaimana mamah meng-handle Nisa yang usianya 3 tahun. begitulah mekanisme yang otomatis bekerja di otak saya. untuk yang ini saya ngeliat bahwa inilah fasa terdekat yang akan saya jalani bersama Naya. Naya yang imut dan lucu ini akan masih imut di usianya yang 3 tahun namun dengan kompleksitas yang lebih besar lagi tentunya… udah punya keinginan sendiri, wara-wiri ke sana kemari, sudah mulai terlihat kecerdasan yang cukup menonjol di mana yang tentunya akan berkembang lagi dan lagi..

Atau bagaimana saya melihat perkembangan anak SD, SMP, dan SMA zaman sekarang melalui 4 orang adik ipar saya. PR banget lah bagaimana digital era memiliki pengaruh yang teramat sangat signifikan dalam perkembangan anak dan bagaimana mengelolanya,.

Tentu akan banyak perbedaan signifikan antara bagaimana saya membesarkan Naya dan mungkin adik2nya dengan bagaimana mamah-abah manage to raise their children since satu fasa mereka mah levelnya ngadepin 12, hihi… gaya didik juga background perkembangan saya dan suami juga dll.. tapi atleast si saya bisa ngelihat bagaimana kemungkinan suami saya akan menerapkan pola pendidikan kepada anak2nya nanti dengan mungkin penyesuian2 yang ada (misal karena si saya bekerja juga) dan bagaimana pola pikir saya di-combine dengan pola pikir suami akan menjadi faktor yang jelas menentukan perkembangan Naya dan adik2nya ^__^

Tapi general conclusion saya adalah orang tua adalah manusia, tempat salah tempat lupa, tiada yang sempurna. Tapi menjadi orang tua adalah pembelajaran seumur hidup yang ngaruh pada perkembangan diri pribadi juga pada anak yang dididik. dan ini yang utama… semua adalah milik Allah, titipan Allah semata… harus dijaga sebaik mungkin tapi penjagaan terbaik selalu dari Allah… jadi jangan pernah lepas ikatan ini dari Allah… selalu berserah diri dan memohon yang terbaik.. memohon pilihan2 tindakan terbaik yang akan dilakukan terhadap anak.

intinya subhanallah, walhamdulillah wa laa ilaa ha illallah wallahu akbar… Maha Besar Allah yang memberikan gambaran2 dan petunjuk dan semoga si saya dan keluarga termasuk golongan orang shalih dan bersyukur, tawakkal dan berserah diri… serta selalu melakukan upaya terbaik atas titipan amanah yang diberikan..

 

Kelahiran Naya

Puji syukur ke hadirat Allah Yang Maha Kuasa bahwa kehamilan saya diberikan kelancaran. Tidak ada keluhan signifikan yang memerlukan perhatian khusus. Masih bisa ditinggal suami pulang pergi Serpong-Cilegon dan tidak mengidam yang aneh-aneh. Keluhan hanya berkisar antara pusing, mual, lemes, dan perubahan mood hehehe… tidak ada keluhan flek atau pendarahan atau sejenisnya meskipun pada bulan ke 6 didiagnosa placenta previa.

Saat pertama kali didiagnosa PP, si saya tertohok karena memang jujur ketakutan-ketakutan sejenis ini pernah mampir di kepala dan ternyata kejadian. Meskipun dokter saat itu menyatakan bahwa posibilitas bergeser masih ada tapi tetep harus menyiapkan diri buat operasi. Berderailah air mata habis periksa. Speerti biasa yang jadi korban adalah suami hehehe.. (kebingungan ini anak tiba2 nangis). Bulan ke7 periksa dan ternyata bergeser 2.4 cm. saat itu optimis bahwa masih bisa bergeser lagi karena seingat saya penambahan BBJ yang signifikan ada di perkembangan 3 bulan terakhir.

wp-1506105620439.jpg

Namun ternyata, periksa bulan ke 8, plasenta nya masih berada di sana. Kecewa luar biasa tapi masih optimis bisa geser sampe 5 cm (persyaratan minimal buat normal). Mengikhlaskan hati dan mencoba menkomunikasikan dengan keluarga baik keluarga saya maupun keluarga suami. Dari pihak keluarga saya shock berat karena g ada sejarahnya di keluarga kecil kami bahwa ada yang harus menjalani operasi besar sejenis sesar. Di keluarga suami yang inti, jelas belum ada tapi di keluarga besar ada teh Lina dan Teh Ison yang sudah pernah sesar, jadi shock nya ga separah di keluarga saya, meskipun tetap masih mengharap bisa lahiran normal. Meskipun didiagnosa PP (dari CPP/Complete Placenta Previa menjadi Low lying Placenta), Alhamdulillah saya masih bisa beraktifitas biasa, tidak ada pendarahan atau sejenisnya.

Bulan ke 8 sudah merencanakan akan lahiran di Cianjur dan berencana pulang akhir Agustus meskipun sempet ditentang karena dari pihak keluarga cianjur menghendaki pulang lebih awal. Namun kemudian mempertimbangkan bahwa 1 Sept teh iedul adha, pertimbangan dari dokter, dan fakta bahwa saya bisa menggabungkan cuti tahunan dan cuti bersalin akhirnya kami semua sepakat mau pulang k Cianjur tanggal 21 Agustus. Tapi sebelumnya kami akan melakukan periksa terakhir di Hermina Serpong pada tanggal 19 Agustus.

Yang terjadi adalah bahwa periksa terakhir itu meruntuhkan alam sadar bahwa si saya harus menjalani tindakan operasi sesar dalam waktu sesegera mungkin di Serpong. Sudah tidak ada kemungkinan bisa lahiran di Cianjur maupun Cilegon. Alasannya paling utama adalah bahwa saya terindikasi sudah mengalami PPROM yang bahasa keren nya “ketuban merembes”. Hal ini bermula dari laporan saya kepada dr. Nina bahwa hari senin di kantor saya seperti mengalami keluar cairan sedikit pasca pipis (ini terjadi 2 hari berturut-turut). Tapi da Cuma dikit makanya ga terlalu kawatir. Saya kira itu Cuma pipis aja karena pas hamil besar emang dikabarkan mudah banget air pipis keluar seperti itu, lagian katanya kalo itu ketuban pecah dini maka cairan akan keluar terus menerus. Namun ternyata bu dokter curiga itu ketuban dan akhirnya dilakukan periksa kertas lakmus. Dan bener lah itu ketuban. Kertas lakmus nya berubah dari pink menjadi ungu.

Saat itu juga dokter merekomendasikan saya masuk perawatan untuk dilakukan tindakan penyelamatan segera. Beliau kawatir bahwa rembesan ketuban  6 hari sejak senin akan berpengaruh tidak baik terhadap bayi di dalam kandungan saya. Ga ada opsi lahiran normal karena ternyata ada lilitan dan juga jarak ujung plasenta ke mulut  rahim (jalan lahir) hanya 3.3 cm.

Sang dokter bertanya apakah ada BPJS? Karena perawatan dll akan sangat mahal. Kami bilang kami g pake BPJS selama ini. Dan dokrternya menyarankan kami pake. Akhirnya ngurus dulu ke Klinik Rahma Medika sepulang dr Hermina, telpon kedua keluarga dan besoknya (hari ahad) ke IGD untuk menjalani perawatan.

Si saya juga suami degdegan karena usia kandungannya mepet banget dari preterm/premature ke full term. Menurut HPL, ini week ke 36 tapi semuanya ga tahu kondisi dede bayi apakah sudah siap sepenuhnya atau tidak.. (teringat kasus temen BPPT yang lahiran di UK37W dan paru2 dede bayinya belum mateng). Untuk memastikan dokter bilang akan dilakukan suntikan pematangan paru 2 atau 4 kali sebelum operasi.

Hari Minggu ke IGD dan ternyata hasil tes semuanya baik. Udah optimis bisa pulang tapi dr Nina kekeuh si saya harus masuk ruang rawat inap saat itu juga. Jam 2 siang bukannya mendapat info oke semua tes bagus saya bisa pulang, ternyata dokter bilangnya “besok dilakukan operasi jam 8 pagi ya”. Another surprise.. hahaha…

Mencoba ga galau, tapi ternyata sejam sebelum operasi galau akut. Suami yang menyemangati dan meyakinkan saya untuk dzikir terus kepada Allah.. berserah diri sepenuhnya…

Dan di hari ulang tahun BPPT itulah Allah memutuskan Naya lahir ke dunia. Saat itu mah belum ada namanya heheh.. suami pengen pemberian nama ada setelah beliau khatam Quran dan cukuran rambut.

Banyak pelajaran yang saya jalani di setiap saat hamil Naya maupun kini pas Naya sudah lahir. Allahu hafidz Allahu Waliy, Allahu Al Mushawwir… Allahu Sami’un Bashiir. Semua atas kehendak Allah. Sekali lagi yang namanya timing itu memang Allah selalu berikan yang pas. Karena lahir 4 pekan sebelum HPL (13 Sept), suami dan Naya memiliki waktu sebulan-an untuk bonding langsung sebelum suami harus berangkat ke Inggris. Dan karena posisi di tengah (serpong) kedua keluarga bisa dengan lebih mudah mengakses kami.. (2 jam dari Cilegon dan 2 jam dari Cipanas—kalo ga macet).

Yang lain yang juga utama adalah “HATI2 DENGAN LINTASAN PIKIRAN// SELALU LAH BERPIKIR POSITIF dan JAUHKAN DARI SEGALA MACAM PIKIRAN ATAU KEMUNGKINAN2 NEGATIF Yang mungkin terjadi pada diri kita”. Placenta previa dan ketuban merembes adalah 2 hal yang pernah mampir di kepala sebagai kemungkinan yang mungkin terjadi. Kalo bisa mah ga kelintas itu sebenarnya. But well, having said that doesn’t mean saya menyesali yang sudah ada. Memang takdirnya saya harus lahiran sesar..

Ibrah lain adalah terdapat kompleksitas yang luar biasa yang tak akan bisa dijelaskan secara logis oleh manusia bahwa kehadiran Naya adalah dari eksistensi saya dan suami yang juga merupakan eksistensi dari kekuasaan Allah atas orang-orang sebelum kami (leluhur dst). Allahu Akbar….